Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Test Ketiga


__ADS_3

Summer masih tetap duduk tenang memperhatikan Tantenya mengamuk sedari tadi.


“Kamu kira kamu sudah hebat karna duduk di kursi itu?!” Bentaknya lagi.


Summer tetap terdiam.


“Kelihatan ya setelah yatim piatu kau sudah tak punya sopan santun lagi.” Yura menyinggung sikap Summer.


Summer memoncongkang mulutnya dan menggerakkan bola matanya ke atas seperti berpikir.


“Begitu ya.” Sahutnya tersenyum.


“Kau tersenyum?!” Teriak Yuri makin gila.


“Ah pantas saja anak Tante tidak punya etika saat berbicara, aku bisa lihat dari mana asal sikap itu.” Serang Summer.


“Apa? Coba bilang sekali lagi!” Yura pitamnya melonjak tinggi.


“Kataku. Tante tidak punya etika masuk ke ruanganku tanpa ijin. Dan berbicara tak sopan. Itu yang di tiru Jenni.” Ujar Summer memperjelas.


“Beraninya!” Yura mengayunkan tangannya yang besar itu hendak menampar Summer.


Dengan sigap Pak Bagas menengahi dan akhirnya terkena tamparan Yura. Wajah Pak Bagas sampai terlempar dan badannya hampir jatuh.


“Maaf Bu Yura. Para karyawan berkumpul dan melihat.” Ujar Pak Bagas dengan sopan agar Yura menghentikan tingkahnya itu.


Summer sangat murka melihat Pak Bagas yang menerima tamparan itu. Dia berdiri dan berjalan dengan cepat. Dibukanya pintu ruangannya dengan kasar hingga orang-orang yang berkumpul disitu itu terkejut dan lari bubar terbirit-birit.


“Satpaaaaammmmm!!!!!!” Teriak Summer sangat kencang.


akhirnya salah satu dari karyawan yang diatas berlari ke bawah memanggil satpam.


“Sial! Saat-saat seperti inilah aku butuh bodyguard.” Ujarnya dengan wajahnya yang sudah memerah.


“Keluarkan wanita itu dari sini!!!!!” Perintahnya melihat 2 satpam yang lari menghampiri.


Yura membelalak karna Summer berani menyebutnya “wanita ini”. Dihampirinya Summer.


“Jalang!” Ujar Yura kemudian merapikan pakaiannya lalu meninggalkan ruangan Summer.


*****


Hari itu adalah hari dimana test ketiga dilaksanakan.


Kali ini testnya adalah Bela diri. Satu lawan satu. Mereka bebas memakai ilmu bela diri yang mereka kuasai masing-masing.


Pemenangnya hanya akan menjadi 2 orang untuk masuk ke final. Barang siapa tercepat menaklukkan lawannya adalah yang menang.


Mara melihat ke atas sekeliling kursi aula itu mencari Summer yang katanya akan hadir di hari terakhir.


Sudah 2 hari Mara didiamkan, kemaren dia masih mengirim 1 pesan, hari ini tidak sama sekali. Mood Mara sangat suram hari ini.


Lawan mereka akhirnya ditentukan.

__ADS_1


Mara melawan Barata, pria tertua yang menaktrirnya semalam. Ada rasa segan, namun rasa ingin menang yang lebih besar.


Mara membungkuk sebagai rasa hormatnya pada Barata.


Kemudian, Teng! Suara lonceng mereka memulai pertandingan.


Barata sendiri adalah pensiunan komandan pasukan khusus. Membuatnya terbiasa dengan Bela Diri, kelincahan dan gerakan mematikan.


Postur Barata terlihat membukkukkan badan bersiaga. Perlahan-lahan dia mendekati Mara dan tiba-tiba melakukan cobaan pukulan. Mara menghindar sangat cepat sehingga membuat pukulan itu mengenai udara.


Beberapa kali Mara membiarkan Barata menyerang tanpa menyerang balik.


Pria itu mulai jengkel. “Ayo sini lawan!” Ujarnya gemas karna merasa lelah sendiri.


Kaki Barata mulai menendang karna semua pukulannya tak kena.


Mara dengan cepat menangkap kaki itu, lalu melemparkan pria paruh baya yang mungkin memiliki berat 90 kg. Dia melemparkan Barata hanya dengan satu kaki yang ditangkapnya tadi. Alhasil Barata terpelanting keluar garis.


Dengan begitu Mara menang.


Mara menjadi peserta kedua tercepat yang menjatuhkan lawan.


Mereka istirahat sebentar setelah mendapat dua kandidat yang akan maju di final test.


Mara masih menatap pintu masuk memastikan Summer sudah tiba atau belum. Ternyata sampai mereka selesai istirahat pun Summer tak terlihat.


Test Final akan segera di mulai.


Yang menang selain Mara adalah seorang pria dengan tinggi 190cm seperti Mara, namun badan besar super kekar. Pria ini terkenal sebagai juara atlet MMA kelas berat.


Peserta yang tadi tidak lolos, belum meninggalkan aula. Mereka penasaran siapa yang akan menang.


“Aku bertaruh Mara yang menang.” Ujar Barata setelah merasakan kekuatan Mara.


“Bapak gak tau atlet MMA itu bahkan punya julukan Ox saking berbahayanya?” Ujar mereka.


“Baiklah ayo bertaruh!” Tantang Pria paruh baya itu.


Dari porsi badan memang Mara terlihat lebih ringan dibanding lawannya.


“Aku bertaruh pada atlet MMA karna aku atlet juga.” Ujar salah seorang dari mereka.


“Aku juga.”


“Aku juga” Ujar yang lainnya.


“100 ribu di lantai.” Perintah Pria tertua itu.


Mereka pun akhirnya mengeluarkan uang dan mengumpulkannya di atas lantai.


Ting!


Lonceng pertanding dimulai.

__ADS_1


Ox mengambil posisi siaga. Matanya langsung berubah seperti mata predator hendak memangsa. Pelan-pelan dia bergerak mencari momen yang tepat memberi serangan.


Tiba-tiba pintu aula terbuka dan terlihat Summer memasuki ruangan.


“Summer!” Teriak Mara ceria meloncat-loncat sambil melambaikan tangan.


Semua orang yang ada di dalam melotot satu sama lain karna Mara memanggil Ketua dengan nama.


Ox merasa Mara sedang lengah, itu adalah saat yang tepat untuknya memberi pukulan.


Dikepalnya tangannya yang besar itu lalu menyiapkan tinju yang sangat kuat menargetkan ulu hati Mara. Dia berniat akan memberi pukulan sekali telak seperti dia menang di test sebelumnya.


Belum juga sampai tinju itu, Mara langsung memukul lengan atas Ox dengan lengannya berniat menepis dan menggagalkan serangan.


Namun tepisan lengannya itu membuat lawannya terpelanting jauh hingga punggungnya menubruk dinding.


Semua orang ternganga, Summer yang tadinya takut Mara terkena pukulan karna menolehnya, berganti menjdi kaget karna lawan Mara terlempar jauh.


“Lumayan menang taruhan.” Ujar Barata terkekeh mengambil uang yang ada di lantai.


Mara tadi sangat kaget karna serangan tiba-tiba itu, sehingga dia menggunakan kekuatannya tanpa sengaja. Mara langsung berlari menghampiri lawannya itu dengan rasa bersalah.


“Maaf. Aku minta maaf.” Ujar Mara dengan wajah sedih.


“Sendi bahumu pasti bergeser.” Ujar Mara dengan alis menurun.


Semua orang yang di sana masih ternganga dengan kejadian barusan. Bagaimana mungkin dengan pukulan lengan saja bisa membuat orang terpelanting jauh. Begitu pun lawan Mara yang menyadari kalau Mara ternyata adalah monster.


“Aku akan membayar biaya perobatanmu. Aku minta maaf sekali.” Ujarnya berkali-kali.


“Tak apa. Ini memang pertandingan. Tapi kau memang harus membayar pengobatanku.” Jawab Ox memegangi bahunya yang terasa sangat sakit


Dengan begitu pemenangnya adalah Mara.


Baru sebentar Summer sampai disitu pertandingannya sudah selesai saja.


“Kau terlambat.” Bisik Mara.


Summer yang di sampingnya tak menyahut.


Akhirnya tuntas sudah Test hari itu, semuanya bubar kecuali Ox yang dibawa ambulan ke Rumah Sakit.


Mara dilema antara mau ikut mengantar Ox atau mengikuti Summer seperti keinginan nalurinya.


“Samara Apna. Selamat telah bergabung di perusahaan kami. Anda bisa mulai bekerja besok pagi. Hal-hal yang perlu dilengkapi kami akan kirim ke e-mail.” Ujar Pak Bagas menjabat tangan Mara.


Mara kecewa karna kata-kata itu bukan Summer yang mengucapkan. Summer kemudian menjabat tangan Mara juga selaku CEO. Singkat begitu saja, lalu Summer beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun.


“Bahkan hari ini pun dia sama kelihatan marah.” Ujar Mara murung.


Akhirnya dia memutuskan mengikuti Ox yang masuk ke ambulans.


Berita satu-satunya bodyguard yang menang pun tersebar di media. Banyak orang yang menyayangkan anggota keluarganya tidak lulus. Namun hal yang paling membuat gempar adalah ketampanan bodyguard yang menang itu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2