
Pagi hari seperti biasa Mara akan bersiap siap membuka restoran.
Setiap pagi adalah hal yang paling sibuk. Dimulai dari melap perkakas dan melap meja kursi. Menyapu dan mengepel lantai. Keluar bertemu nelayan dan membeli ikan yang menurutnya paling segar.
“Mara! Ada lobster lagi nih! Ambil gak?” Teriak seorang nelayan saat melihat Mara berjalan kearah mereka.
“Iya mau!” Sahut Mara mendekat.
Kini orang-orang di pantai sudah akrab dengan Mara termasuk ibu judes penjual ikan yang pertama kali menyapa Mara saat baru sampai di daratan.
“Ini makanlah! Tadi aku bikin kebanyakan.” Ujar ibu itu memberi Mara sebuah plastik berisi gorengan.
“Wahh seperti biasa, Bu Nining emang paling baik dan perhatian.” Ujar Mara sambil menerima pemberian wanita paruh baya itu.
“Makanya jadi menantuku.” Ketus ibu itu sambil memindah-mindahkan ikan ke ember.
“Carilah yang lebih keren dariku.” Sahut Mara tertawa.
“Ah dasar! Sudah sana sana!” Usir ibu itu sambil melambaikan tangannya.
Mara berjalan tertawa sambil melahap gorengan itu.
“Makanan manusia memang kaya rasa.” Ujarnya menikmati.
Sesampainya di restoran Mara berniat akan membersihkan ikan-ikan yang dia beli. Namun sepertinya ada bumbu pelengkap yang sudah akan habis.
Dia bergegas mengambil handphonenya di lantai dua untuk mengabari Wawan agar bisa nanti dibelikan saat mereka di perjalanan menuju restoran.
Mara kemudian menuruni tangga sambil melihat handphonenya.
“Arrrrghhhhh!!” Teriaknya kaget sampai handphonenya terlepas dan terpelanting jatuh ke lantai karna tangannya bergetar.
Saat itu ternyata Wawan dan istrinya sudah sampai di restoran.
Mendengar teriakan dari dalam restoran, mereka kalut langsung masuk tanpa membuka helm dan meninggalkan motornya sampai terjatuh.
Setelah di dalam mereka melihat Mara masih terpaku di tangga dengan wajah menganga dan tangan kaku tanpa memegang apapun.
“Apa kenapa ada apa???!!” Ujar Bu Rani melotot mendekati Mara.
Perlahan Mara menggerakkan kepalanya yang kaku, menoleh ke Bu Rani.
“Ada pesan dari Summer.” Sahut Mara melotot.
Wawan dan Bu Rani langsung lemas. Jantung mereka tadi hampir copot karna mereka kira Mara kenapa-napa. Ya memang chat dari Summer adalah hal yang mengejutkan, tapi tetap saja.
Wawan langsung keluar membenarkan motornya yang terjatuh karna tak sempat di-standart.
Bu Rani kemudian membuka helm dan jaketnya untuk bersiap ke dapur.
Namun Mara sedari tadi tak bergerak di tangga.
__ADS_1
“Sudah balas pesannya?” Ujar Bu Rani menghela nafas mencoba sabar.
“Oh iya.” Mara langsung sadar dan berlari mengambil handphonenya.
Namun ketika dia ambil handphone itu, layarnya sudah retak parah dan ketika dinyalakan layarnya bergaris-garis.
Mara sekali lagi teriak histeris.
“Aku gak bisa balas.” Rintihnya menggaruk kepalanya dengan kasar.
Sekali lagi pasangan suami istri itu saling bertatapan dan menghela nafas secara bersamaan.
Sepanjang pagi Mara menyendiri di pojokan menangisi handphonenya yang rusak.
“Mara cepat bekerja. Hari ini kita punya tamu istimewa. Restoran kita di-booking siang nanti. Mari persiapkan sekarang.” Ujar Bu Rani.
Mara tetap tang menghiraukan dan tak bergerak seinci pun dari posisinya.
“Kamu bisa login akunmu di handphoneku nanti!” Teriak Bu Rani mengomel dari dapur.
Mara langsung instan berdiri dan mendatangi Bu Rani.
“Benarkah? Bisa begitu?” Tanya Mara menatap langsung mata Bu Rani dengan matanya yang bengkak.
“Bisa. Yang penting kamu inget passwordnya.” Sahut Bu Rani.
Mara langsung bergerak bekerja dan membantu memotongi ikan. Bu Rani tahu saja membuat anak satu ini menurut.
Ketika Wawan akan ke kamar mandi, di lantai pojokan tempat Mara tadi megambek banyak mutiara bertebaran.
Pagi itu restoran tak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang datang ke pasar dan pedagang-pedagang yang makan.
Baru pukul satu siang Bu Rani menggantungkan tulisan “Closed” di pintu.
“Bukannya tadi ada yang mau datang?” Tanya Mara.
“Iya. Dia ingin kita mengosongkan Restoran.” Sahut Bu Rani.
“Sana berganti baju.” Suruh bu Rani pada Mara.
“Kenapa?” Tanya Mara.
“Karna yang datang ini orang kaya. Kamu harus kelihatan tampan dan rapi.”
“Oh begitu. Baiklah.”
Mara kemudian naik ke kamarnya diikuti Wawan karna diperintahkan istrinya.
“Kenapa ikut?” Tanya Mara pada Wawan.
“Iya. Mau gak mau aku harus memeriksa pakaian yang cocok untukmu.” Sahut Wawan dengan memutar matanya dan memalingkan wajahnya karna malas.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Mara turun dengan memakai kemeja putih dan celana formal berwarna abu-abu.
Rambutnya diikat setengah dan memakai sepatu kets berwarna putih.
“Ini tidak berlebihan?” Tanya Mara.
“Kau tampan.” Sahut Bu Rani.
“Kalian gak ganti baju?” Mara heran hanya dia yang berdandan.
“Kami di dapur. Kamu yang di depan melayani seperti biasa.” Sahut Bu Rani.
“Ah orangnya pasti kaya sekali. Apa di restoran kita sering begini?”
“Ya sesekali.” Sahut Bu Rani.
Tak lama kemudian tibalah sebuah mobil sedan berwarna hitam dan berhenti di depan restoran.
Bu Rani mendorong Mara hingga hampir terjatuh, agar dia menyambut tamu yang datang. Mara kemudian keluar dan membuka pintu.
Dari mobil itu terlihat dua kaki mengenakan heels berwarna hijau yang mewah lalu menginjak tanah. Perlahan tubuhnya keluar dan sedikit demi sedikit sosoknya semakin terlihat. Mara baru bisa yakin wanita itu berambut hitam pendek sebahu. Setelah tubuhnya semua di luar wanita itu berdiri tegak sehingga Mara bisa melihatnya dengan jelas.
Mara tertegun berdiri di depan pintu restoran itu melihat sosok yang dia sambut.
Wanita yang terlihat lebih tinggi dari yang dia bayangkan. Dengan wajah bermake-up tipis dan lipstik nude. Mata bulat, hidung kecil dan bibir yang tersenyum ke arahnya. Wanita itu mengenakan pakaian formal blouse hijau dipadukan dengan celana panjang hitam dan jas hitam.
Mereka bertatapan cukup lama.
“Summer.” Ujar Mara dengan lembut.
*****
Pagi tadi saat Bu Rani dan Wawan akan bersiap berangkat ke restoran, mereka mendapat sebuah pesan di akun toko mereka.
“Halo. Boleh saya booking restoran untuk dua jam siang ini?” Begitu tulisannya.
Itu jenis pesan yang biasa dia terima. Yang tidak biasa itu adalah akun yang menghubunginya. Itu adalah akun Summer sendiri.
“Sayang. Lihat ini.” Bu Rani menyodorkan handphonenya pada suaminya.
Wawan tersenyum “Mara pasti sangat senang.” Responnya.
Karna itu Bu Rani dan Wawan buru-buru pergi ke restoran untuk memberi tahu kabar baik itu pada Mara.
Namun sesampainya di restoran mereka langsung panik mendengar teriakan Mara dari dalam restoran.
Yang ternyata hanya karna pesan yang dia dapat dari Summer.
Selagi Mara murung dan mendiam diri di pojokan pagi tadi, Bu Rani dan Wawan berdiskusi.
Dan akhirnya suami istri itu memutuskan untuk tak memberi tahu Mara Summer akan datang, bisa-bisa Mara akan meledak karna terkejut.
__ADS_1
Mereka memutuskan untuk memberinya kejutan dengan tibanya Summer nanti di restoran.
Bersambung…