
“Mas Mara!” Teriak Damar dari dalam mobil, menandakan mobil sudah siap dan Mara harus melarikan diri dari para reporter.
“Maaf saya harus pergi.” Ujar Mara meminta diberi jalan namun reporter tetap mengajukan pertanyaan tak menyerah.
“Geser dan beri jalan!” Bentak Mara karna jengkel. Mata Mara membuat mereka menjadi tercenung. Wajah Mara terlihat seperti seorang raja yang memerintah, dimana orang mau tak mau harus menurut. Para reporter itu merasakan aura yang mencekam lalu dengan segera memberi jalan untuk Mara lewat.
“Kenapa kau dikelilingi banyak reporter Mas?” Tanya Damar.
“Gak tau.” Sahut Mara singkat.
“Ternyata dia bodyguard.” Ujar Jenni membaca sebuah artikel tentangnya dan Mara. Reporter memang menyeramkan, mereka langsung menemukan dimana Mara bekerja.
“Aku bisa pakai ini untuk menganggu Summer.” Ujarnya tersenyum.
“Aku ingin pergi sekarang.” Ujarnya pada para krunya karna kebetulan pemotretannya sudah selesai saat itu.
“Kau mau kemana?” Tanya maneger Jenni.
“Bertemu pacar.” Sahutnya tersenyum lalu bercermin. Dioleskannya kembali lipstik dan makeupnya agar lebih sempurna.
Menejer Jenni sudah sangat lelah dengan tingkahnya yang semena-mena dan penuh sensasi.
“Jenni. Kau akan bertemu dimana?” Ujar Manegernya.
“Kok mau tau sih.” Sindir Jenni menafsirkan manegernya untuk tidak ikut campur.
Tentu Manegernya harus tau, karna dia yang akan membereskan semua yang dilakukan Jenni seperti biasanya. Jenni hanya bisa berulah, namun tak pernah bertanggung jawab.
Jenni mengendarai mobil sport keluaran terbarunya sambil bersenandung sepanjang jalan. Lalu berhenti di depan gedung Summer Sea.
Dia turun dengan sepatu heels mewah berwarna pink dan baju bekas pemotretan yang tak diganti begitupun dandanannya.
Begitu dia turun reporter sontak berkerubun dan menggila.
“Jenni. Jenni apa kamu datang menjenguk pacarmu atau menjenguk Wakil Direktur?”
“Apa kamu langsung datang setelah bekerja tanpa berganti pakaian komersialmu?” Ujar para reporter itu menyodorkan mic mereka masing-masing.
“Ah maaf. Tolong bantu saya, biarkan saya bertemu dengan tenang. Tolong jangan membuatnya tidak nyaman, dia tidak terbiasa dengan reporter.” Ujar Jenni dengan lembut sambil membungkuk.
“Wah pacar yang sangat perhatian.”
Ujar mereka.
“Pacarmu tadi bertanya Jenni itu siapa?” Ujar salah seorang reporter.
Mendengar itu Jenni langsung tersenyum masam lalu berjalan masuk gedung untuk menghindari pertanyaan itu.
__ADS_1
“Bisa-bisanya lupa aku.” Gumamnya kesal.
Jenni kemudian masuk dan langsung menuju ruangan ayahnya, Harith, Wakil Direktur perusahaan itu.
“Hei anak Papa. Ada apa tiba-tiba datang?” Ujar Harit menyambut anaknya yang masuk ke ruangannya.
“Papa. Kita gak sempat ketemu tadi pagi karna aku pergi subuh sekali.” Sahut Jenni manis. Jenni memang sangat dekat dengan Papanya, itu kenapa sikap Jenni sangat manis pada papanya.
“Ah betul. Cape ya kerjanya?” Tanya Harith.
“Begitulah bekerja Pa. Tapi Summer punya bodyguard sekarang?” Tanya Jenni.
“Sepertinya begitu. Dia cari bodyguard heboh sekali.” Ujar Harith.
“Hmm begitu ya.” Jenni mulai berpikir.
Jenni bingung apa harus ke atas melihat Mara atau tidak. Dia sangat tidak ingin berpapasan dengan Summer.
Jenni akhrinya memutuskan untuk pulang saja. Namun beruntungnya, dia bertemu dengan Mara yang baru masuk gedung juga. Mara memakai kemeja putih dan jas berwarna hitam berjalan tangguh dari pintu gedung. Jenni kembali lagi terpanah dengan rupawannya pria itu.
Mara tersenyum lebar ke arah Jenni dan mempercepat jalannya, Jenni tentu senang dan mempercepat jalannya juga. Sesaat mereka sudah berdekatan, Mara malah terus berjalan melewati Jenni dengan tetap tersenyum.
Jenni membalikkan badan dan dilihatnya Mara berjalan ke arah Summer yang berdiri bersama Pak Bagas. Jenni akhirnya sadar senyum itu bukan buatnya. Namun Jenni tak mau menyerah, dia mendekati Mara dan merasa harus menyapanya.
“Mara.” Panggilnya.
“Bu?” Jenni jengkel.
Summer menggigit bibirnya menahan tawa.
“Ketua kita harus jalan sekarang. Mereka sudah menunggu.” Ujar Pak Bagas.
“Ah baik. Ayo.” Ujar Summer berjalan yang tentunya Mara akan mengikut seperti biasa. Tidak ada dari mereka yang menganggap Jenni sedang berada di situ.
“Apa ini? Pertarungan mendapatkan pria?” Bisik para karyawan yang melihat.
Saat Mara keluar bersama dengan Summer dan Pak Bagas, reporter sempat ingin mendekat ke Mara. Namun mata Mara sudah menghentikan keinginan mereka itu. Mereka masih bisa merasakan ketakutan di setiap bulu kuduk mereka yang berdiri.
Hingga mereka hanya mendatangi Jenni saat dia keluar gedung.
“Bagaimana ini? Seharusnya kamu yang melindungiku, tapi kenapa kamu yang jadi perhatian?” Ujar Summer menyindir di dalam mobil.
“Maaf Ketua.” Ujar Mara menyesal.
Sesampainya di tempat pertemuan yang dijanjikan, Mara dan Pak Bagas memasuki sebuah ruangan di sebuah restoran jepang itu.
Saat Pak Bagas menggeser pintu, terlihat orang yang menunggu di dalam adalah salah seorang pengikut Praman, Direktur personalia, Bambang dan sekretarisnya Linn.
__ADS_1
Sepertinya obrolan mereka berjalan dengan lancar, kemudian Bambang dan sekretarisnya meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
“Mara.” Panggil Summer. Mara menoleh ke dalam.
“Sini makan siang dulu.” Ujar Summer.
Melihat banyak makanan di meja, hal pertama yang terpikirkan Summer adalah Mara akan suka. Summer sudah beberapa kali memperhatikan Mara sangat menyukai banyak jenis makanan manusia, dan porsinya makan juga banyak.
Mara mengenggak liurnya melihat banyaknya makanan. Dia masuk dan duduk sambil sumringah.
“Sudah waktunya makan siang ternyata.” Ujarnya ceria.
“Sudah jam segini. Kita langsung pulang saja.” Ujar Summer menganggap mereka sudah bisa pulang bekerja, tak perlu kembali ke kantor.
“Baik.” Sahut Pak Bagas.
“Damar akan mengantarkan Ketua sendiri?” Tanya Pak Bagas kemudian.
“Mara bersamaku. Dia akan tinggal di rumah. Karna rumah juga sudah tidak aman.” Sahut Summer kemudian minum air putih.
“Mereka sudah berani masuk ke rumah?” Tanya Pak Bagas kaget baru tahu kabar ini.
“Iya semalam Mara menangkap orang yang sepertinya mau masuk ke kamarku.”
“Dasar orang-orang brengsek.” Maki Pak Bagas membanting sumpitnya.
Summer hampir saja tersedak memdengar Pak Bagas memaki. Baru kali ini dia dengar bahasa itu dari mulut pak Bagas.
Sedangkan Mara yang lelah tak bisa memakai sumpit dan akhirnya mengambil sushi yang berjejer dengan tangannya. Gigitan pertama langsung membuat Mara terbelalak. Apa ini? Ikan tuna diapakan? Mara mengunyah dengan pelan dan menikmati setiap gigitannya.
“Kau suka?” Tanya Summer padahal sudah tau jawabannya.
Pak Bagas memutuskan untuk ikut pulang ke rumah Summer setelah mengetahui orang tersebut masih ditahan di ruang bawah tanah.
Tepat saat keluar dari ruangan mereka makan, ada Richard bersama temannya sedang menuju ruangan mereka.
“Apa ini?” Ujar Richard saat melihat wajah yang tak ingin dia lihat itu.
Summer mengangkat alisnya tak mengerti.
“Gak bisa cari restoran lain? Ah aku jadi gak selera makan sushi!” Ujar Richard mengeluh pada teman-temannya.
“Di sini udah paling enak.” Sahut teman Richard.
“Maksud gue ke lo.” Ujar Richard dengan mendorong bahu Summer memakai jari telunjuknya berkali-kali.
Mara langsung maju dan memblok Richard dari Summer.
__ADS_1
Bersambung…