
“Mekanik bilang ada yang mengutak atik remnya.” Ujar Pak Bagas memberi laporan pada Summer yang duduk di kursi kerjanya.
“Kita harus memperbanyak cctv. Dia bisa tau spot yang gak kena cctv.” Summer ingin mengantisipasi kejadian yang mungkin bisa terjadi lagi kedepannya.
“Aku akan tugaskan hari ini.” Pak Bagas sigap.
Itu akhir dari laporan Pak Bagas lalu meninggalkan ruangan itu dengan Summer yang masih berpikir keras menerka siapa dalangnya.
“Saya harap proyek ini segera dilanjutkan. Tolong yang bertugas mempercepat gerakannya. Kita manfaatkan suasana ini.” Ujar Summer sebagai pemimpin meeting pagi itu.
Terlihat yang lain batuk seperti membersihkan kerongkongan. Lalu berbisik satu sama lain. Sedang Praman sibuk melihat kukunya dan bersikap acuh tak acuh.
Para anggota itu kemudian menatap Praman, layaknya mereka butuh persetujuan. Menyadari itu Praman menganggukkan kepalanya sambil menyeringai, layaknya dia bos di meja rapat itu. Padahal jelas CEO di depan mereka.
Praman tak segan menunjukkan pengaruhnya yang tak tertandingi di perusahaan itu.
Sebulan penuh sudah Summer duduk di kursi CEO, dia paham betul sulitnya berada di posisi itu.
Praman yang tak henti-henti bersikap sarkas padanya, dan dukungan karyawan yang terang-terangan ditunjukkan pada Praman. Layaknya seperti Praman lah yang menjadi Ketua saat ini, pemilihan hanyalah basa-basi. Mereka dengan beranj menunjukkan rasa kurang hormat pada Summer.
Summer semakin yakin dengan kecurigaannya terhadap Praman. Jelas terlihat kalau Praman mengajaknya bertarung. Ah mungkin lebih rendah dari bahasa bertarung, yaitu menyepelekan.
Praman menunjukkan dia bisa melakukan apa saja saat ini. Dan Summer tidak bisa apa-apa. Tentu dia memandang Summer terlalu sepele.
Bulan selanjutnya Summer semakin merasakan banyak hal janggal dan membahayakan. Summer bahkan sudah tak mau menaiki mobilnya sendiri. Sudah ke tiga kalinya mobilnya diotak-atik oleh orang.
Bahkan orang tersebut pun tak peduli lagi jika tertangkap cctv. Pakaian hitam dan tertutup dari atas sampai bawah. Itulah yang terlihat.
“Kita harus memperketat keamanan rumah Ketua.” Ujar Pak Bagas.
Summer tetap diam dan melanjutkan membaca dokumen di depannya.
“Ketua. Aku tau kamu butuh privasi. Tapi rumahmu sudah tak aman lagi.” Pak Bagas menambahi, tingkah keusilan orang itu sudah berlebihan baginya.
“Aku harus sewa bodyguard?” Summer meletakkan penanya dan melihat Pak Bagas.
“Iya.” Sahut Pak Bagas.
“Ya sudah.” Sahut Summer kemudian melanjutkan pekerjaannya.
*****
Hari itu Mara, Bu Rani dan Wawan pergi ke sebuah Mall yang cukup besar.
Sedari tadi Bu Rani terus bersenandung dan tersenyum, moodnya sangat bagus.
__ADS_1
“Ternyata wanita begitu menyukai uang.” Pikir Wawan melihat tingkah istrinya. Sudah lama dia tak lihat sikap istrinya itu, mungkin dia harus sering-sering mengajak istrinya ke Mall. Dan membeli emas batangan?.
Bu Rani langsung mengajak mereka memasuki sebuah toko dengan Brand terkenal.
“Tolong rekomendasikan pakaian untuk ukuran anak muda ini.” Ujar Bu Rani pada penjaga toko itu.
Karyawan itu langsung memperhatikan Mara dari atas sampai bawah. Apa ini? Wajahnya sangat mahal padahal pakai baju murahan.
Mereka langsung semangat mencari baju dengan ukuran cukup besar.
Para karyawan di situ tentu semangat karna rasa penasaran mereka bagaimana jika pria tampan ini mengenakan baju yang ada di situ.
Mara pun mencoba sepasang pakaian yang dibawakan salah satu karyawan. Kemeja berwarna biru donker dan celana chino berwarna coklat gelap.
Mara kemudian ke ruang ganti mengganti bajunya. Kemudian dia keluar setelah mengenakan pakaian itu.
Seketika mereka semua melongo. Kemeja yang membentuk dadanya yang bidang dengan pinggang yang indah. Begitu oun lehernya yang panjang terlihat dari kerah kemeja tersebut. Celana yang terlihat pas dengan ukuran kakinya, kakinya sangat jenjang.
Begitu pun kepala toko yang baru sampai di toko itu ikut melongo sampai tas yang ada di tangannya jatuh.
Kepala toko tersebut mendekati Mara, memperhatikan setiap jengkal tubuh itu, depan belakang samping kanan kiri, tak ada setitik pun yang luput dari matanya.
“Ambil baju lain. Semua yang berukuran besar! Cepat!” Perintah Wanita paruh baya itu.
Para karyawannya pun langsung terbirit-birit.
“Siapa pria ini?” Pikirnya. Tapi entah siapapun itu, kesempatan ini harus dimanfaatkan.
“Tolong coba 10 baju, Mas akan aku kasih gratis sepasang pakaian. Bebas milih.” Ujar wanita itu.
Bu Rani langsung maju. “Sepasang?” Ujarnya menaikkan satu alisnya.
“Dua pasang!” Ujarnya bernego. “Enak saja. Itu udah seperti anak saya jadi model gratis. Kamu bisa nolak Mara kalo cuma dikasih sepasang.” Ujar Bu Rani menarik tangan Mara.
“Oh tentu tentu!!” Sahut wanita itu.
Bu Rani pun tersenyum. Mara ikut tersenyum dengan canggung. Manusia seram sekali tawar menawarnya. Tapi Bu Rani keren.
Begitu lah mereka sibuk belanja dan difoto. Di tengah mereka menikmati pengalaman berbelanja. Di sebrang toko itu Summer sedang menjenguk tokonya.
Summer sering langsung turun ke lapangan untuk tahu apa yang terjadi. Jarak yang begitu dekat. Namun mata tak saling memandang. Tak saling bertemu.
Sebentar Summer di tokonya itu, dia langsung turun dan pergi dari Mall besar itu.
Sedangkan Mara yang telah lelah sedari tadi berkeliling langsung terdiam melihat tulisan Brand yang dia baca. “Summer Sea.”
__ADS_1
Mara tersenyum dan langsung memasuki toko itu.
Bu Rani menepuk pundaknya. “Dia tak mungkin berada di sini.” Ujarnya.
Mood Mara langsung down.
“Tapi ayo masuk. Kamu bisa lihat selama ini apa yang dikerjakan Summer.” Ujar Bu Rani mencairkan suasana.
Ide itu membuat Mara kembali bersemangat dan langsung melangkah masuk ke toko tersebut.
Dia terharu bisa melihat apa yang di jual Summer selama ini. Baju baju bayi dan balita dengan warna cerah dan kain yang sangat lembut. Toko itu sangat besar, dengan semua peralatan bayi ada di dalamnya. Mara memperhatikan semuanya dengan rasa sangat terharu. Hampir dia menangis karna rasa rindunya, tapi dia harus kuat.
Ada satu baju setelan yang menarik perhatiannya. Dia membayangkan Summer masih bayi memakai itu pasti lucu sekali.
Warna merah muda yang lembut. Dengan sedikit renda di kerahnya. Celana baggy dan terlihat mungil. Ketika Mara mengambil itu, ditangannya pakaian bayi itu menjadi semakin kecil.
Mara pun pulang dengan paper bag Summer Sea di tangannya.
*****
“Aku ingin kita ke pantai?” Ujar Summer menyenderkan badannya yang lelah.
“Pantai Sawarma yang terdekat.” Sahut Pak Bagas.
“Sounds good.” Ujar Summer kemudian memejamkan matanya.
“Bagaimana jika makan siang dulu? Ada restoran seafood yang menurutku enak di dekat pantai.” Ujar Pak Bagas sambil menyetir.
“Baiklah.” Sahut Summer yang masih memejamkan mata.
Dari Mall ke pantai mungkin hanya butuh waktu sejam. Summer tau itu.
Sebenarnya menjenguk toko hanyalah alasan. Karna sibuknya dia sampai tak pernah bisa kemana-mana. Menjenguk toko bisa jadi alasan untuk dia sebentar mampir ke pantai di tengah kesibukannya itu.
“Tumben restorannya tutup.” Ujar Pak Bagas melewati restoran tersebut. Summer tak peduli dengan makan, dia hanya ingin cepat ke pantai.
“Wawan nama yang cukup unik, begitu pun masakannya. Aku belum pernah makan seafood segar selain di restoran itu.” Celoteh Pak Bagas.
“Makannya nanti saja. Langsung ke pantai saja.” Ujar Summer.
Mendengar itu Pak Bagas langsung melanjutkan perjalanan mereka ke pantai.
Sesampainya di Pantai Summer turun dan meninggalkan heelsnya di mobil. Dia bertelanjang kaki dan menyusuri pinggi pantai sambil melihat bias matahari di laut. Hari itu sangat panas, namun anginnya sangat kencang hingga beberapa kali menutupi wajah Summer.
Summer berharap dengan dia berada disitu beberapa jam, mungkin saja Mara bisa merasakan kehadirannya. Mungkin saja Mara melihat dari jauh. Rasa bersalah dengan janji yang belum bisa dia tepati.
__ADS_1
“Aku pasti akan menemuimu nanti.” Gumamnya sambil berdiri tegak di depan laut itu.
Bersambung…