
Rio yang dielus tersentak langsung terduduk, namun Nindi sudah tak terlihat.
"Harusnya dia bisa tuh jadi atlet lari." Ujarnya kesal sambil menyentuh bekas elusan Nindi.
Bibirnya menyungging sebelah, terasa aneh dan membingungkan. Bulu tangannya berdiri bereaksi dengan pikirannya.
"Apa ini yang dirasakan Mara?" Gumamnya mengingat Summer yang suka mengelus kepala Mara.
Namun dia menilai saat itu Mara terlihat seperti peliharaan yang menggoyangkan ekor. Kenapa rasanya begini saat hal itu terjadi padanya.
"Jam berapa ini?" Gumamnya sambil menilik jam tangan berwarna hitam yang melingkar di tangannya, Rio penasaran berapa jam lagi dia harus menunggu Nindi pulang.
Rio jadi merasa tak bisa bersantai, menonton tapi pikiran entah kemana. Canggung sendiri dan gelisah sendiri. Kadang dia duduk, kadang berdiri, berjalan mengelilingi ruangan kecil itu, lalu jongkok dan beratus kali melihat jam.
“Ah gak jelas banget gue.” Ujarnya.
Dari pukul 18 sampai kini pukul 22, Rio bergerak entah berapa kali. Mencari cara membunuh waktu yang berjalan seperti siput.
“Ah gak tau ah!” Ujarnya tak peduli lagi apa yang akan dilakukan.
Dia ambil jaket yang menggantung, dikenakannya lalu pergi dari ruangan itu.
Rio menyalakan motornya dan berakhir berhenti di depan swalayan tempat Nindi bekerja.
Dia membuka helmnya, bersender pada motornya menatap ke dalam swalayan. Terlihat Nindi yang tengah melayani customer dari balik meja kasir.
“Shit. Kenapa gue ke sini.” Ujarnya tak mengerti ada apa dengan dirinya. Matanya tak lepas dari sosok nindi yang berjarak 100 meter dari pandangannya.
Nindi yang menoleh ke luar dan menyadari adanya Rio, segera keluar saat toko kebetulan sepi.
“Kenapa?” Ujarnya menghampiri. Nindi takut terjadi apa-apa saat dia tidak di kosannya.
“Gak pa pa.” Sahut Rio.
“Belum jam pulang.” Ujar Nindi.
“Tau.” Sahut Rio singkat.
Nindi mengangkat alisnya dan langsung masuk kembali ke dalam setelah merasa tidak ada hal yang terjadi.
Rio terus menatap wajah Nindi yang selalu tersenyum berbicara dengan orang yang berada di depan meja kasirnya.
“Senyumnya lebih manis pas makan. Apalagi pas mulutnya lagi gembung.” Ujar Rio tersenyum geli.
__ADS_1
Rio kaget dengan sikapnya itu, sepertinya ada yang salah. Kenapa harus tersenyum membayangkan Nindi tersenyum.
“Well dia emang cukup lucu.” Gumamnya kemudian.
Rio menghabiskan 2 jam menunggu Nindi sampai dia menutup toko. Nindi berlari menghampiri dengan dua minuman dingin di tangannya.
“Padahal nunggu di kosan aja. Gak bosen apa di sini?” Ujar Nindi menenggak minumannya. Satunya dia berikan pada Rio.
“Gue lebih suka di sini. Makanya minta bos lu biar gue bisa kerja di sini.” Ujar Rio.
Nindi menjitjit dan meraih kepala Rio untuk mengelusnya mumpung dia sedang lengah.
Rio yang tadi menunduk berbicara langsung menatap Nindi.
“Udah gue bilang jangan gitu.” Ujarnya mengeluh.
Nindi terkekeh menjauh, dia jadi punya kebiasaan baru yang bisa dinikmati. Ekspresi kesal Rio meninggalkan kesan seru baginya. Dia akan terus mengulang untuk melihat ekspresi itu.
Rio langsung pulang setelah mengantarkan Nindi ke kosannya. Seperti biasa sampai di rumah dia akan bergerak sangat senyap agar tak mengganggu yang sudah tidur.
Saat dia menjinjit masuk ke rumahnya yang sudah gelap, “Abis dari mana?” Tiba-tiba ada suara dari ruang tamu.
“Haahhhh!!” Rio sontak kaget memegang mengangkat satu kakinya reflek. Dinyalakannya lampu dan terlihat Pak Bagas duduk di sofa.
“Paaa. Kenapa duduk gelap-gelapan?” Ujarnya mengelus dadanya.
“Pa aku gak abis minum.” Ujar Rio tak terima di curigai.
“Hmmm.” Pak Bagas memang tak mencium bau minuman.
'
”Terus abis dari mana akhir-akhir ini pulang malem terus?” Ujar Pak Bagas.
“Kerja.” Sahutnya refleks.
“Kerja? Untuk apa?”
“Ya… biar belajar aja cari duit.” Sahut Rio mencari alasan.
“Hmmm.” Pak Bagas menatap tajam Rio.
“Kerja dimana?”
__ADS_1
“Ada deh Pa. Udah ah mau tidur capek.” Ujar Rio melarikan diri ke kamarnya.
Pak Bagas masuk ke kamarnya, ada Bu Ayu yang terlihat terbangun dan bangkit.
“Dari mana Pa?” Ujarnya serak.
“Rio suka pulang malam akhir-akhir ini.”
“Oh iya. Dia udah pulang?”
“Udah. Katanya dia kerja.”
“Kerja? Tiba-tiba?” Bu Ayu tak percaya putranya yang pemalas itu kini bekerja.
“Katanya begitu.”
“Yah baguslah. Hal yang patut didukung. Nanti dia gajian aku mau minta traktir.” Ujar Bu Ayu tersenyum dan kembali berbaring untuk tidur.
*****
Sementara berita di semua media diributkan dengan Jenni yang dilarikan ke Rumah Sakit karena overdosis obat. Di tengah kerumunan para wartawan, Yura dan Harith dengan putus asa berteriak untuk memberinya jalan agar Jenni bisa dimasukkan ke dalam ambulance.
Sirene ambulance bertautan dengan cahaya kamera yang tak berhenti berkedip. Raut wajah Yura dan suaminya jelas terlihat sangat khawatir dengan kondisi putri mereka.
Di dalam ambulance, Harith dan Yura terus menitikkan air mata memegang tangan Jenni yang terbaring dan diberi CPR oleh petugas medis. Khawatir jika mereka terlambat menyelamatkan putrinya, bagaimana hidup mereka jika kehilangan Jenni.
Segala ketakutan dan rasa bersalah menyiksa, namun hanya tangis yang bisa dilakukan. Sementara melihat petugas medis yang berusaha menekan dada Jenni sepanjang perjalanan hingga masuk IGD.
*****
Sebelum memutuskan ingin mengakhiri hidup, Jenni berpikir apa dia masih punya kesempatan. Selama sebulan mengurung diri di kamar hanya membaca artikel dan komentar yang menghina dan menyudutkannya. Dari situ dapat dilihat kesempatan untuk bisa memperbaiki ini semua sudah tidak ada.
Begitu pun orang tua yang terlihat kecewa dan kurang berbicara dengannya.
Jika keluar rumah, artinya dia akan jadi bahan serbuan semua reporter dan netizen. Jika harus bersembunyi di kamar selama hidupnya, apa artinya.
Dia tak punya tempat dimana pun. Kemana pun baik di dalam rumah atau di luar rumah, artinya membunuh diri. Semua hal yang dia usahakan setengah mati sampai mengorbankan dirinya, ternyata masih saja tak cukup.
Baru setahun dia merasakan hasil dari kerja kerasnya, namun itu hanya setahun tidak lebih. Rasa ini beratus kali lebih buruk dari pada saat dia baru memulai karirnya dari awal. Tidak akan ada yang bisa menerimanya, bahkan Papanya kini sudah tak seperti dulu.
Bagaimana rasanya melanjutkan hidup dengan keadaan runtuh begini? Tidak ada lagi yang bisa dia kerjakan, rasanya hidup pun sudah tidak pantas. Kemana pun pergi semua akan mencapnya sebagai aktris murahan. Dia berusaha jadi aktris tidak untuk sebutan itu.
Jenni terkulai lemah dengan pandangan kosong. Sudah tak ada tenaga untuk hidup, menyebut ini tidak khilaf, Jenni mengambil banyak obat dari mejanya dan memakan semua sekaligus tanpa air.
__ADS_1
Dia duduk dan membaringkan diri mempersilahkan obat untuk bekerja menghabisi nyawa. Menatap ke atas langit-langit dengan mata bergetar, mulut hendak muntah dan sulit bernafas. Mulutnya terus ternganga selagi sulit menghirup udara, rasanya ada yang mencekik. Buih putih mengalir di sisi bibirnya. Mata yang rabun perlahan tertutup.
Bersambung…