Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

“Ma. Lagi nonton.”


“Menurutmu?” Sahut Bu Ayu cuek.


“Ma…” Panggil Rio manja duduk di sebelah ibunya.


Tatapan Bu Ayu menyiratkan, ada apa dengan sikap anak ini?


“Ma aku butuh pendapat Mama.” Ujarnya dengan wajah murung.


“Pendapat apa? Tumben nanya Mama.”


“Ya kan. Kali ini aku memang butuh pendapat Mama.”


“Ada apa memang?” Bu Ayu penasaran apa yang ingin diceritakan Rio. Dan ada perasaan senang karena diperlukan.


“Ma. Kayaknya aku suka Nindi.” Ujar Rio langsung pada inti terberatnya.


“Apa? Suka Nindi? Anak dari Praman yang mencelakai Papamu? Mama tidak sudi kamu bersama dengan anak itu. Memangnya tidak ada wanita lain apa? Bisa-bisanya kamu suka anak seorang kriminal. Tidak! Mama tidak akan ijinkan. Sadar Rio. Sadar! Mama tak ingin berbesan dengan kriminal. Sampai mati pun mama tak ingin!” Begitu lah respon Bu Ayu dibayangan Rio. Dia menanti jawaban itu, dia butuh itu.


“Lalu kenapa?” Tapi itulah yang keluar dari bibir Bu Ayu. Enteng dan di luar ekspektasi.


“Hah?” Rio yang jadi bingung.


“Iya kalo kamu suka emang kenapa?”


“Mama gak akan larang gitu? Aku suka sama anak Praman Ma. Yang nyelakain Papa.”


“Kalo kamu minta ijin Mama. Ya Mama gak akan ngelarang kamu dekat sama Nindi.”


“Hah Ma??” Apa ini? Kenapa sikap Mama jadi begini? Di dalam hati Rio bertanya-tanya.


Bu Ayu dengan wajah bangga telah bersikap tenang dan baik pada putranya. Dia sadar terlalu banyak mengomel, hingga mereka sering cekcok. Bu Ayu sangat ingin berbicara dan bersikap bijak seperti ibu-ibu anggun yang disukai banyak anak. Agar kedepannya Rio tidak segan meminta pendapatnya, jika dia bersikap pengertian. Dan ini adalah saat yang tepat.


“Ma…!” Rengek Rio kesal.


Dipandangan Bu Ayu, Rio sedang terharu.


“Tak apa Rio. Mama gak ngelarang. Nindi baik bahkan tinggal sendiri karena tak mendukung Papanya. Dan ah… Mama denger dia ikut menyerahkan bukti pada polisi hingga Praman resmi ditangkap.” Bu Ayu menambahi kata bijaknya.


“Oh ya?” Sekarang Rio yang jadi tergiring.


“Iya. Jadi dia anak yang cukup baik.”


“Kasian juga dia.”


“Iya. Melaporkan ayah sendiri, ironis.”


“Terus gimana Ma?”


“Akhirnya kamu jatuh hati sama orang ya?” Ujar Bu Ayu berusaha manis. Dia sangat senang, Rio baru pertama kali ini membicarakan wanita, dan itu padanya bukan pada Papanya.


“Kalo dia menolakku gimana, Ma?”

__ADS_1


“Hah? Masa dia nolak anak Mama sih! Berani-beraninya.”


“Ya namanya juga perasaan gak bisa dipaksain.”


“Mama kalo suka orang harus mama dapetin! Kau pun harus begitu. Jangan kasih kendor!” Bu Ayu jadi tersulut semangat untuk mengajari trik pada putranya.


“Mama begitu ke Papa?” Tanya Rio bergidik takut.


“Haha.” Bu Ayu menyeringai sinis.


“Yaudah. Coba gimana caranya biar aku diterima?”


*****


Rio keluar mengendarai motor besarnya setelah menelpon Nindi bahwa dia akan datang ke kosannya.


Setelah mendapat trik dari Mamanya, Rio berniat langsung mengeksekusi saat ini juga.


Nindi akhirnya pamit pergi pada Summer, padahal tadinya dia berjanji menginap. Masalah dengan Rio lebih penting, dia buru-buru memesan ojek online. Sesampainya di kosan dia berlari menaiki anak tangga dan menemukan Rio masih memakai maskernya sudah berdiri di depan pintu kosannya.


“Udah lama nunggu?” Nindi tergesa-gesa memasukkan kunci ke lobang. Nafasnya masih terengah-engah, kunci pun tak masuk-masuk.


Rio menghela nafas, “Sini.” Pintanya mengulurkan tangan.


Nindi menyerah, mengambil nafas berdecak pinggang. Diberikannya kunci itu agar Rio yang membuka pintu. Benar pintu bisa dibuka hanya sekali mencoba.


Mereka masuk, Nindi berlari mengumpulkan pakaiannya yang bertebaran di lantai dan kasur. Tidak ada lagi yang mampir ke kosannya, Nindi jadi tak peduli jika kamarnya berantakan. Sekarang dia kalang kabut membereskan karena malu.


“Ah Rio, tolong berdiri bentar.” Pinta Nindi malu-malu.


Rio akhirnya berdiri, melihat ke bawah. Ada bantal yang tadi sedikit kena duduki. Nindi mengangkat bantal itu lalu menarik sesuatu dengan cepat agar tak terlihat, lalu meluncur ke kamar mandi. Sekilas Rio melihat itu adalah bra. Dia menutup mulutnya dengan tangan, menelan liurnya sulit.


Setelah kembali dari kamar mandi, Nindi berdiri canggung. Menggosok tangannya ke paha sembari tersenyum kikuk.


“Kau boleh duduk lagi.” Ujarnya mempersilahkan.


Rio pun duduk canggung, masih melihat sekitarnya, kalau-kalau ada hal seperti tadi lagi dia duduki.


“Sudah gak ada.” Ujar Nindi mengerti.


“Ah iya.”


“Umm bagaimana kabarmu?” Tanya Nindi. Atmosfer di kamar itu terasa sangat canggung. Nindi pun berhati-hati dalam bicara. Siapa tahu mereka bisa memperbaiki hubungan mereka. Siapa tahu.


“Begitu saja. Kau terlihat kurusan.” Akhirnya Rio mengungkapkan pikirannya secara langsung. Cukup melegakan dari pada uring-uringan gak jelas bertanya-tanya sendiri.


“Oh ya? Baguslah.”


“Kau harus mau jadi pacarku.” Titah Rio meluncurkan aksinya.


“Hah?” Pertanyaan itu mengejutkan Nindi. Setelah berpikir beberapa detik, Nindi jadi tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa tertawa?”

__ADS_1


“Ber… bercandamu lucu juga. Terima kasih karena aku jadi lebih rileks.” Nindi masih terus terbahak-bahak.


“Aku gak bercanda.” Rio dengan wajah yang sangat serius membungkam mulut Nindi yang tadi tertawa lebar.


“Hah?”


“Aku serius.”


“Baiklah.”


“Kau harus jadi pacarku jika merasa bersalah. Papamu telah berbuat begitu pada Papaku. Kau harus tanggung jawab dengan menjadi pacarku.” Ternyata itulah trik yang diberikan Bu Ayu pada putranya. Rio mengatakan mengumpulkan segala keberanian yang dia punya setelah berlatih sepanjang jalan dari rumahnya ke kosan Nindi.


Nindi mengulum tawa, ancaman dan manipulasi macam apa ini? Sepertinya tidak ada orang yang mengungkapkan perasaan seperti itu.


“Jadi aku harus bertanggung jawab?” Nindi mengikuti permainan Rio.


“Ya! Kau merasa bersalah?”


“Tentu aku merasa bersalah. Bagaimana pun Praman adalah Papaku.”


“Ck!” Rio jadi merasa bersalah. Dia sudah tau trik dari ibunya itu aneh mencurigakan. Jadinya seperti menyalahkan Nindi atas semua yang terjadi.


Rio berdiri. Tak sanggup melanjutkan misinya. Tak apalah dianggap gagal. “Lupakan saja. Ngapain juga aku ngomong kasar begitu ke kamu.” Ujarnya hendak keluar pergi.


Nindi meraih, memegang tangan Rio, menahannya agar tak pergi.


“Baiklah aku akan bertanggung jawab. Karena itu kau harus maafkan aku ya.” Ujarnya menatap punggung Rio.


Jantung Rio langsung berdegup kencang, entah ini benar atau tidak, dia telah memanfaatkan rasa bersalah Nindi untuk kepentingannya.


“Baiklah. Aku janji akan bikin kamu seneng.” Ucapnya sebagai penebus dosa.


“Bukannya aku harus menuruti semua perkataanmu? Kan aku harus tanggung jawab. Kalau bikin aku seneng, berarti kamu yang tanggung jawab dong.” Nindi sumringah menatap wajah Rio yang kini berhadapan dengannya.


“Entahlah…” Jawab Rio tak yakin mana yang benar.


*****


“Kau harus berpacaran denganku jika mau nilai bagus di mata kuliah ini!” Ancam Bu Ayu saat masih muda pada Pak Bagas yang satu tim dengannya. Saat itu umur mereka baru 23 tahun di semester akhir.


Mereka dijadikan satu kelompok untuk salah satu tugas.


Pak Bagas tersenyum lucu melihat sikap Bu Ayu. Cara yang unik untuk mengungkapkan perasaan. Sebenarnya tanpa bantuannya pun Pak Bagas bisa dapat nilai sempurna. Tinggal mengerjakan sendiri dan membuat gadis ini tak mendapat nilai.


“Baiklah. Kau yakin nilaiku akan bagus kan?”


“Tentu!”


“Oke. Hari ini hari pertama kita jadian.”


“Yes! Aku akan sering bawa masakan enak untukmu!” Sahut Bu Ayu sumringah.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2