
“Ya. Appa… aku ingin bertemu dengan seorang manusia yang aku kenal.” Ujar Mara sambil berbisik.
Appa melotot. “Manusia?!” Teriaknya.
“Appa! Pelan-pelan.” Ujar Mara
Appa langsung memukuli punggung Mara.
“Siapa manusia yang udah melihat kamu? Berapa banyak?!”
Appa marah mendengar kata manusia. Karna tidak ada yang boleh tau keberadaan mereka. Mereka sudah susah payah mencari rumah tempat paranmermaid untuk berlindung setelah beberapa kali berpindah-pindah.
“Hanya satu.” Ujar Mara.
Appa langsung menjauh dan menaruh tangan di pinggangnya lalu menghela nafas.
“Appa. Sepertinya aku jatuh cinta.” Ujar Mara memelas.
Appa makin melotot.
“Dia baik?” Tanya Appa yang akhirnya penasaran.
“Dia kuat dan keren.” Ujar Mara
“Dan… sangat cantik.” Tambahnya lagi.
“Ezzz… Kamu memang anakku, kita memang lemah terhadap wanita cantik.” Ujar Appa tersenyum sambil menepuk punggung anaknya itu.
“Tapi tetap saja berbahaya namanya manusia. Apa kamu percaya padanya?” Tanya Appa dengan nada khawatir.
“Tentu saja. Percaya saja dengan penilaianku. Seperti Appa, aku juga bisa memilih wanita yang baik.” Ujar Mara menyelipkan pujiam tak langsung pada Appanya.
*****
“Summer… Hei bangun.”
Bahu Summer ditepuk pelan, suara itu adalah suara wanita.
“Sebentar lagi ma.” Ujar Summer mengigau.
Mendengar itu, Nindi yang membangunkannya menjadi ingin menangis.
“Summer…” Ujarnya lagi membangunkan.
Summer seperti terbangun dari mimpi. Dia akhirnya bergerak dari posisinya, sejak semalaman meringkuk memeluk bingkai foto.
“Summer.” Ujar Nindi sambil mengelus kepalanya.
Summer menengadah melihat Nindi yang berdiri disamping kasurnya.
Dia tersenyum tipis untuk merespon Nindi.
Setelah Summer melepas bingkai foto itu, Nindi mengambil dan menaruhnya di atas buffet.
“Ayo ganti bajumu, biar kita sarapan.” Ujar Nindi.
“Ah… Aku tidak selera makan.” Sahut Summer dengan malas.
“Ayolah. Kamu belum makan dari kemaren. Hmmm?” Bujuk Nindi.
Summer menunduk, dia merasa perutnya tidak akan bisa menerima makanan apapun.
__ADS_1
“Please…” Bujuk Nindi lagi.
“Hmm. Aku akan mandi dulu.” Sahut Summer turun dari kasur.
“Ada yang kira-kira pengen kamu makan?” Tanya Nindi.
Summer berpikir sejenak lalu menjawab “Ikan bakar.”
“Ah baiklah.” Sahut Nindi langsung bergegas membuka handphonenya lalu mencari di aplikasi, restoran yang menjual ikan bakar dan melayani jasa antar makanan.
Summer akhirnya muncul di dapur, Nindi sudah menunggu sedari tadi.
Asisten rumah langsung menyiapkan air minum dan peralatan makan. Summer duduk dan melihat ikan bakar yang ditaruh di depan piringnya.
“Maksudku bukan ikan bakar mewah begini.” Ujar Summer.
“Aku kira kamu ingin makan ikan bakar, jadi aku cari restoran dengan rating terbaik. Dan ikan bakar itu gak mewah. Ah… Sorry.” Ujar Nindi dengan nada ragu.
“Kedepannya aku ingin makan ikan bakar yang dibakar sendiri dengan arang tanpa garam atau apapun.” Ujar Summer dingin dan menyendok sedikit nasi ke piringnya.
“Ahhh bahkan kucing aja bisa makan lebih banyak dari itu.” Ujar Nindi dalam hati.
Setelah sarapan pagi itu, mereka duduk di sofa. Nindi berniat mengajak Summer ngobrol dan mendengarkan apa yang terjadi dengannya saat menghilang.
Nindi dapat merasakan kecanggungan di antara mereka. Summer menjadi dingin dan jarang berbicara. Wanita yang ceria dan selalu tertawa itu kini jadi wanita yang kaku dan sulit didekati.
“Summer. Boleh aku nanya kemaren pas kamu hilang apa yang terjadi?” Ujar Nindi dengan sangat hati-hati.
“Aku… benar-benar lupa apa yang terjadi. Aku cuma ingat, ketika buka mata sudah terdampar di batu.” Jawab Summer.
Summer berencana tidak akan menceritakan pada siapapun apa yang terjadi dengannya. Meskipun dia tidak curiga dengan anggota keluarga besarnya, tetap saja dia harus berhati-hati dengan kicauan mulut ke mulut nantinya.
“Ohhh… iya gapapa. Yang penting kamu selamat dan sehat sekarang.” Ujar Nindi memegang tangan Summer sambil tersenyum lega.
“Aku mau urus ini dan itu.” Ujar Summer pada Nindi.
“Oh ya sure.” Ujar Nindi melepas genggaman tangannya dari tangan Summer.
Summer berdiri menghampiri Pak Bagas yang sedari tadi berdiri menunggu.
“Summer. Kalo ada apa apa kasih tau ya. Hubungi aku ya.” Seru Nindi lagi menunjukkan perhatiannya.
“Thank you Nindi.” Sahut Summer.
Dan dia berlalu bersama Pak Bagas.
Kali ini mereka akan membahas banyak hal. Summer sudah sangat tidak sabar menunggu langkah apa yang harus dia lakukan saat ini.
“Apa kamu akan menggantikan Rudi menjadi CEO?” Tanya Pak Bagas.
“Apa itu yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Summer Sea?” Ujar Summer menjawab dengan pertanyaan.
“Ya.” Sahut Pak Bagas.
“Ada apa dengan om Praman? Bukannya lebih cocok dia jadi ketua? Dia seharusnya bisa menjaga Summer Sea.” Ujar Summer bingung.
“Besok akan diadakan rapat dewan direksi. Disitu akan dipilih siapa yang menggantikan Rudi. Memang Praman adalah kandidat yang pasti.”
“Lalu kenapa?” Tanya Summer belum paham kenapa dia harus mengambil posisi CEO.
“Kau bisa menyaksikannya sendiri besok. Tapi saran saya, kamu yang harus menggantikan posisi Rudi.” Ujar Pak Bagas.
__ADS_1
“Aku akan belajar manajemen? Apa cukup belajar setahun?” Tanya Summer.
Tentu saja Summer khawatir, karna sebelumnya dia sama sekali tidak belajar manajemen. Dia dibebaskan memilih apa yang dia mau. Karna itu dia ingin sungguh-sungguh belajar seni. Dia sangat menggemari seni sculpture. Meskipun usianya masih muda, karya seninya sudah banyak dipajang, bahkan pameran seni tunggal pun pernah diselenggarakan.
Namun semua itu sudah tidak penting sekarang. Hal yang penting adalah bagaimana caranya masuk ke perusahaan, di posisi tertinggi dan usia yang masih belia itu.
“Jika kamu sangat serius, maka bisa. Jadi kita bisa katakan kamu mendukung Direktur (Praman) sementara kamu belajar manajemen selama setahun. Setelah setahun kamu bisa mengambil posisi itu.” Ujar Pak Bagas menyusun strategi.
“Baiklah. Aku harus bisa.” Ujar Summer bertekad.
“Jika ingin terlibat. Kamu harus bisa masuk ke dalam perusahaan untuk liat sendiri, mencium sendiri apa yang terjadi.” Ujar Pak Bagas.
Summer mengangguk, dia sudah memutuskan apa yang akan dia lakukan.
“Summer. Hal yang perlu kamu ingat. Jangan percaya siapapun. Baik itu keluarga terdekat, bahkan terhadapku.” Ujar Pak Bagas menyambung.
Kata-kata itu terdengar pahit sekali, nalar Summer langsung berjalan. Apa mungkin anggota keluarga besarnya yang merencanakan kematian orang tuanya? Membayangkannya saja sangat sakit rasanya.
Tiba keesokan harinya.
Para pemegang Summer Sea mengadakan rapat menentukan kandidat atau calon Ketua. Yang kemudian besok akan dilakukan pemilihan suara.
Summer pun tampak hadir mengenakan setelan formal dan mengikat rambut panjangnya dengan rapi.
Rapat diawali dengan baik, semua orang memberikan pendapat. Summer sangat memperhatikan suasana dan sikap semua orang yang ada di rapat tersebut.
Disitulah dia lihat sendiri seperti yang disarankan Pak Bagas.
Suasana yang tak pernah terbayangkan. Meskipun hanya pertama kali ikut rapat seperti itu, dia bisa menilai kalau senyum-senyum itu adalah politik dan licik, cara mereka berbicara sungguh memuakkan.
“Karna itu kami berharap Pak Direktur akan mencalonkan diri.” Ujar Harit memberi suara dan dukungannya.
Memang tak ada kandidat yang lebih baik dari pada Praman. Dia jelas cocok dan memadai dari segala aspek. Mendengar namanya disebut, Praman menyengir dan terlihat percaya diri.
Sedari tadi tak ada yang menganggap Summer, meskipun dia disana tapi sama sekali tak ada yang menyinggung atau menanyakan pendapatnya. Apa mungkin karna Summer masih terlalu muda atau memang tak dianggap.
“Summer akan belajar manajemen. Kita bisa memilih kandidat ketua sementara sampai tahun depan.” Ujar Pak Bagas buka suara. Dia sengaja mengatakan itu agar Summer dapat perhatian, dan kedepannya bisa dipertimbangkan. Bagaimana pun juga, orang yang tadinya mendukung Rudi memiliki peluang akan mendukung Summer kedepannya.
Suara bisik langsung riuh. Ekspresi Praman tak bisa ditutupi. Tentu saja semua orang berpikir, Summer bisa apa? Berani-beraninya masih muda begitu mau duduk di kursi CEO.
“Seperti yang kita tahu. CEO terdahulu memiliki saham terbanyak di Summer Sea. Begitu pun Summer sekarang. Karna semua sudah diwariskan padanya.” Ujar Pak Bagas dengan berani.
Kata-kata itu membuat mereka menjadi terdiam.
Menjadi kandidat CEO untuk usia Summer memang mustahil, namun punya hak mendapatkan posisi itu.
Ini akan menjadi pertarungan berat buat Summer. Pendukung Praman lebih dari setengah di perusahaan itu.
Tapi tidak ada yang tidak mungkin.
Rapat berakhir dengan suasana mencekam. Tak disangka-sangka Summer yang tadinya tak peduli dengan perusahaan malah menginginkan posisi CEO. Praman bisa dibilang tidak terlalu khawatir, hanya terkejut. Baginya meski saham Summer sebanyak itu, tidak akan menandingi saham gabungan orang-orang yang mendukungnya.
Rapat berakhir dengan Praman sebagai pengganti Rudi tanpa pemilihan, karna kandidat yang mengajukan hanya dia saja.
“Wah Summer, om gak nyangka ternyata kamu punya ambisi juga. Bagus bagus.” Ujar Praman.
“Begitulah om.” Ujar Summer lalu pergi keluar dari ruangan rapat bersama Pak Bagas.
“Apa sih yang bisa dilakukan anak kecil.” Gerutu Praman sambil menyengir
“Bisa-bisanya mereka menyebut posisi sementara. Haha kurang ajar.” Sambung Praman dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
Bersambung…