
“Kak Mara. Boleh foto bersama?” Tanya satu grup pelanggan.
Mereka terlihat mengenakan pakaian seragam SMA. Seperti alasan kebanyakan yang datang ke Seafood Wawan, adalah melihat wajah Mara.
Baru juga Mara mengantarkan pesanan mereka sudah harus berfoto lagi. Mara bersyukur punya wajah yang bisa membantu perekonomian saudaranya.
“Baiklah. Tapi nanti bawa teman yang banyak kesini ya.” Sahut Mara dengan ramah.
Baik mermaid baik manusia, tidak ada yang kuat dengan senyuman Mara.
“Hidupku sudah berbahagia.” Ujar salah satu gadis setelah melihat senyum Mara sambil menggenggam sendok dan menutup matanya sambil sumringah.
Dengan cepat mereka langsung posting wajah Mara, dengan begitu orang-orang yang melihat postingan itu kemudian penasaran lalu datang ke restoran. Hari-hari yang ramai itu sudah biasa dijalani oleh Mara.
Kini dia wajib berada di depan sebagai yang melayani pembeli. Wawan kesal jika dia yang mengantar pesanan, pembeli suka celingak-celinguk mencari Mara.
Karna itu lebih baik Wawan di dapur mencuci piring.
Setiap hari restoran jadi ramai, hingga rasanya lelah sekali. Mara masih harus menutup restoran dan bersih-bersih.
“Ini hadiah buat kamu.” Ujar Bu Rani tiba-tiba datang saat Mara sedang mencuci piring. Bu Rani menyodorkan sebuah foto berukuran 10x10, cukup besar.
Mara melap tangannya lalu menerima foto tersebut. Seketika sudut mulutnya naik. Bu Rani tahu saja apa yang membuat Mara semangat.
“Dia cantik sekali di sini. Terima kasih Bu Rani.” Mara mengelus foto itu dengan bibir tak berhenti tersenyum.
“Tolong selesaikan dulu ya kerjaannya.” Goda Bu Rani.
“Ah iya.” Mara kemudian mencari tempat yang kering untuknya menaruh foto berharga itu. Lalu dilanjutkannya pekerjaannya agar nanti dia bisa melihat foto itu sepuasnya.
Mara kerap meminjam handphone Bu Rani hanya untuk melihat foto Summer. Rasanya seperti mengisi ulang energi. Dia akan tersenyum dan kembali bekerja dengan ceria.
Karna itu Bu Rani memutuskan mencetak salah satu foto untuk diberi pada Mara. Dan benar saja, itu membuat Mara berbahagia. Sederhana sekali.
“Ini gaji kamu. Beli lah apa saja dengan ini.” Ujar Bu Rani sambil memberi sebuah amplop putih.
“Kamu sangat kerja keras sebulanan ini. Terima Kasih.” Puji Wawan.
“Gaji kamu dilebihin loh. Karna wajah kamu banyak bawa pelanggan.” Ujar Bu Rani sambil menunjuk wajah Mara.
“Please, kamu jangan ikutan juga.” Ujar Wawan pada istrinya dengan muka cemburu.
“Terima kasih.” Mara sumringah. Begini rasanya bekerja dan digaji, sangat seru.
“Oh iya. Malam ini aku harus kembali dulu ke laut.” Ujar Mara.
Jadwalnya harus kembali sekali dalam dua minggu karna paru-parunya belum kuat lama di daratan.
Setelah dia tinggal di daratan, malam ini kedua kalinya dia kembali ke habitatnya. Untuk kemudiannya dia akan kembali sekali sebulan hingga nanti dia bisa terbiasa tanpa kembali lagi ke laut, seperti Wawan dan Agus.
Sesampainya di habitatnya seperti biasa dia akan disambut oleh penduduk suku Kulum. Terlebih ibunya yang sudah menyediakan ikan terenak yang ada di lautan untuk Mara.
“Uma. Terima kasih.” Ujar Mara sambil tersenyum ketika disuguhkan ikan yang ditaruh di dalam kendi.
Mara kemudian merogoh kendi tersebut dan mengeluarkan tangannya dengan ikan yang sudah tertancap dikukunya.
Mara memakai waktunya untuk berkumpul dan mengobrol dengan keluarganya semalaman.
Bagaimanapun dia pasti merindukan keluarganya.
“Sepatuku?” Ketus Sara.
“Hei aku sudah terima imbalan pertama. Manusia menyebutnya uang.” Pamer Mara.
“Wahhh??? Kau punya uang??” Sara langsung antusias. Daripada Mara, Sara lebih banyak tau tentang manusia.
“Iya. Aku dapat lumayan banyak. Wawan memberi lebih karna aku bawa banyak pelanggan ke restorannya.” Ujar Mara.
“Wahhh. Aku benar-benar tak sabar mau ke daratan.” Ujar Sara sambil menatap ke atas.
__ADS_1
“Aku bawa sesuatu untukmu.” Ujar Mara memberi sebuah plastik. Di dalamnya ada Paper bag yang tertutup rapat di dalam plastik agar tidak basah.
“Apa itu?” Tanya Sara penasaran.
“Coba buka di atas sana.” Sahut Mara menunjuk atas air agar isinya tak basah.
Sara dengan lincah langsung berenang ke atas air untuk melihat apa isinya.
Di sebuah batu dia mengangkat badannya dan duduk. Dibukanya perlahan-lahan plastik itu.
“Wahhhhhh tasnya dari kertas.” Ujar Sara semakin penasaran.
Diintipnya isi paperbag tersebut. Terlihat kain berwarna putih dan flanel berwarna biru muda. Dikeluarkannya untuk melihat lebih jelas.
Seketika Sara menitikkan air mata. Isinya adalah seragam sekolah. Kemeja putih dengan kerah flanel berwarna biru. Dan rok mini kembang berwarna biru flanel.
“Dasar…” ujarnya menyapu air matanya yang berubah menjadi mutiara dan terjatuh ke batu. Sara terus tersenyum lebar sambil memeluk seragam SMA itu.
“Kau sudah bertemu wanita itu?” Appa menanyakan ke Mara.
“Belum.” Sahutnya.
“Kenapa? Kau kurang berusaha ya?” Tanya Appa.
“Aku harus mengumpulkan uang dulu.” Sahut Mara.
“Ah uang? Kau kan tinggal menangis saja.” Sahut Appa enteng.
Mara langsung menoleh Appanya dengan wajah kurang mengerti.
“Air matamu akan jadi mutiara di daratan.” Sambung Appa dengan menarik keningnya sehingga matanya tampak lebih besar dan mulutnya meruncing.
“Appa!” Teriak Mara hingga mengagetkan Appa.
“Kenapa baru bilang sekarang?!” Celetuk Mara.
“Tapi pelankan suaramu. Di belakang kita masih ada orang sakit.” Ujar Appa sambil menoleh ke belakang mereka.
Mereka sedari tadi mengobrol di depan rumah Buni. Tepat di depan jendela yang membuat mereka dapat melihat dengan jelas sesosok mermaid yang sudah setahun sebulan masih terbaring di tempat yang sama.
Mara ingat ketika dia mencuri ramuan Buna, itu pertama kalinya dia melihat mermaid yang terbaring itu.
“Dia belum juga sadar ya.” Mara memperhatikan wajah itu dari kejauhan. Rambut lurus putih seperti seseorang yang dia kenal.
“Lukanya cukup parah.” Sahut Appa dengan wajah prihatin.
“Ayo ikuti Appa.” Ujar Appa kemudian berenang diikuti Mara.
Mereka berenang cukup jauh dan berhenti di sebuah teluk.
Mereka berenang terus ke dalam lalu berhenti di dasarnya.
Mara langsung membelalak, ternyata Appa memiliki tempat penyimpanan tersendiri.
Dan barangnya bukan main-main. Seperti menemukan harta karun. Mata Mara memantulkan emas berkilauan yang dia lihat di tempat itu.
“Waahhh Appa. Apa-apaan ini!” Mara masih terbengong, mulutnya terbuka lebar.
Mara mendekati barang-barang berharga itu pelan-pelan. Banyak perhiasan, emas batangan dan koin emas. Barang-barang antik dan cantik bentuknya.
“Seharusnya kamu bisa jual ini di daratan jika ingin punya uang.” Ujar Appa mencari sesuatu dengan harga yang kira-kira akan mahal.
Kemudian Appa mengambil sebuah emas batangan. Ukurannya cukup besar dan banyak jumlahnya.
“Mau ambil berapa?” Tanya Appa.
“Aku akan ambil 5.” Ujar Mara.
“Baiklah.” Ujar Appa mengambil 5 emas batangan itu dan menaruhnya di sebuah kain.
__ADS_1
Keesokan harinya, subuh yang masih gelap Mara sudah sampai di restoran. Saat itulah dia memutuskan akan menemui Summer.
“Kenapa mau libur?” Tanya Wawan sambil melap meja.
“Aku akan menemui Summer.” Sahut Mara dengan percaya diri.
“Kamu tau dimana?” Tanya Wawan.
“Tentu saja. Kan aku sudah bisa membaca.” Sahutnya bangga.
“Tempatnya jauh banget Mara. Kamu bisa naik bus sendiri?” Ujar Bu Rani khawatir.
“Memangnya kenapa?”
“Mungkin kamu harus transit berkali-kali.”
“Apa harus naik bus?” Tanya Mara.
“Bisa saja naik taxi. Tapi pasti sangat mahal.”
“Aku punya uang.”
“Iya tahu kamu baru gajian. Tapi dalam sehari kamu akan langsung menghabiskan gajimu.” Ujar Bu Rani menasehati.
Kemudian Mara berjalan ke dapur dan membawa sebuah kain yang terikat. Lalu melempar kain itu ke meja.
Suara benturan itu membuat Wawan kaget dan mendekati Mara, begitupun Bu Rani.
Summer membuka ikatan itu lalu,
“apa ini cukup untuk bayar taxi?” Ujarnya.
Bu Rani dan Wawan langsung membelalak. Mereka berdua sedari melihat isinya sampai beberapa detik sampai lupa bernafas.
Mulutnya masih ternganga dan matanya tak lekang dari emas yang berkilauan itu.
Mereka kemudian melihat ke Mara, Mara memanyunkan bibirnya dengan percaya diri.
“Aku baru tahu kalau airmata merman bisa jadi mutiara di daratan, tapi tidak ada yang memberi tahuku. Tapi sepertinya aku tak perlu menangis untuk punya uang.” Sindir Mara
“Hehe, maaf aku mengerjaimu. Ini baru anaknya Appa.” Ujar Wawan kemudian.
“Aku belum pernah lihat emas batangan sebesar ini. Ujar Bu Rani masih terheran-heran.
“Oh ya?? Bu Rani boleh ambil satu.” Ujar Mara dengan enteng. Mereka pun semakin melotot.
“Bener?” Tanya Bu Rani tak percaya.
Mara mengangguk. Bu Rani langsung teriak dan menutup mulutnya.
Wawan memperhatikan istrinya yang gila emas itu.
“Aku juga bisa cari emas begitu di lautan.” Ujar Wawan dalam hati.
Bu Rani kemudian menyadarkan diri. Dia menepuk pipinya lalu memperbaiki posisi berdirinya yang tadi hampir seperti orang mau kayang.
Kemudian dia memperhatikan Mara dari atas sampai bawah. Kaos dan celana yang menggantung, Bu Rani menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu gak boleh ketemu Summer dengan penampilan seperti itu.” Ujar Bu Rani menggeleng gelengkan kepala.
“Aku harus bagaimana? Bukannya aku sudah tampan?” Tanya Mara polos.
Kepolosannya membuat Wawan sangat kesal sehingga matanya seperti segaris saja.
“Tentu kita harus belanja. Let’s go!” Ujar Bu Rani. Langsung mengambil tasnya.
“Ayo. Toko libur hari ini!” Ujar Bu Rani semangat menarik Wawan keluar.
Bersambung…
__ADS_1