Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Hairdryer Di Kasur


__ADS_3

“Boleh bertemu?” Tanya Summer mendengar omongan Mara yang membahas meminta ijin pada orang tuanya untuk mempertemukan Summer dan Mamanya .


“Boleh.” Sahut Mara tersenyum.


Summer langsung memeluk pria berbadan besar itu.


“Terima kasih Mara. Sejak dahulu pun kamu selalu jadi penyelamat. Sekarang pun begitu. Terima kasih telah muncul di hidupku. Aku bersyukur mengenalmu.” Ujar Summer sambil memeluk erat Mara.


Namu Mara malah jadi tak tenang, bukan karena omongannya namun karna dekatnya mereka. Eratnya Summer memeluk Mara, tentu membuat jantung Mara seperti biasa, memulai untuk rusuh.


“Ah ya. Umm tentu.” Sahut Mara yang tak tahu harus menaruh kedua tangannya dimana.


Summer kemudian melepas pelukannya itu, dia menghapus air matanya sambil tersenyum. Summer kemudian membaringkan kepalanya di atas paha Mara.


“Ah sial jantung ini! Jantung rongsokan!” Teriak Mara dalam hati.


“Tapi jantungmu selalu terdengar kencang.” Ujar Summer kemudian menyentuh dada Mara untuk dapat merasakan detak jantung itu di telapak tangannya. Jantung Mara semakin menggila.


“Mara aku ingin tidur lagi.” Ujar Summer menutup mata dan menarik tangan Mara dan menuntun untuk mengusap kepala Summer.


Mara kemudian mengusap kepala Summer seperti permintaannya. Mara senang kini Summer terlihat tenang dan lebih rileks dari biasanya. Mara terus mengelus rambut Summer yang lembut itu sampai Summer tertidur pulas.


Hingga siang harinya Summer terbangun, kepalanya masih di paha Mara, dan Mara tertidur dalam posisi duduk.


Summer duduk perlahan lalu berusaha membaringkan Mara. Namun Pria itu berat sekali.


“Hm?” Gumam Mara akhirnya membuka mata dengan berat.


“Sst ssst. Ayo tidur lagi.” Ujar Summer membantu Mara berbaring.


Sepertinya Mara masih sangat mengantuk. Dia kembali tidur dengan pulas.


“Lucu banget.” Ujar Summer menyentil hidung Mara.


“Ah bajunya juga sampai kering lagi, semalam kan dia basah kuyup.”


Summer akhirnya ingat semalam Mara mengurusnya namun dia lupa memperhatikan Mara yang lebih basah kuyup.


Summer merasa bersalah lalu mengelus rambut ikal pria yang tertidur seperti bayi itu.


Hari itu dijalani Summer tanpa rasa beban setelah dia dapat kabar ibunya masih hidup. Cuaca di luar juga sangat cerah. Summer membiarkan Mara tidur di kasurnya dan dia bersiap untuk mandi.


Mara membuka matanya dan sadar dia masih di kamar Summer. Diangkatnya badannya untuk meninggalkan kasur empuk itu. Di luar sudah sangat cerah mungkin kini sudah siang. Hari mulai terasa panas, kerongkongan Mara serasa kering. Dia berjalan ke dapur mencari sesuatu yang dingin untuk diminum.


“Oh sudah bangun?” Tanya Mara yang sedang memeriksa berkas di ruang tamu.


“Ah kenapa aku tak dibangunin?” Tanya Mara canggung.

__ADS_1


“Hari ini kan hari libur.”


“Tapi kamu bekerja.”


“Ah ini cuma perlu meriksa sedikit.”


Mara berjalan ke arah kulkas dan menenggak air dingin. Kesejukan itu menyiram langsung kerongkongannya yang kerontang.


“Ahhh.” Sebut Mara puas setelah minum.


Saat dia menatap Summer, tiba-tiba Summer memalingkan tatapannya ke dokumen.


“Ah hampir saja.” Gumam Summer takut ketahuan memperhatikan jakun Mara yang naik turun karena menenggak minuman.


Mara mendekati Summer dan duduk di sebelahnya.


“Kamu wangi.” Ujar Mara.


“Ah ya aku kan sudah mandi.” Sahut Summer.


Mara kemudian mengendus badannya. Dia baru ingat sejak semalam dia pergi ke laut dan pulang ke rumah dia belum mandi. Summer ikut mengendus dan semakin mendekat. Mara jadi terpaku melihat Summer yang mendekat.


Summer akhirnya menatap ke wajah Mara kemudian menarik badannya kembali lalu melihat dokumennya. Summer mengaitkan rambutnya yang menutupi pipinya ke telinganya.


“Kau tak bau.” Ujar Summer canggung.


Mara mengedipkan matanya dengan cepat. Refleks dia berdiri, “Aku akan mandi.” Ujarnya berjalan ke kamarnya.


*****


“Ketua punya hobi baru?”Suara Pak Bagas dari telpon.


“Begitu lah. Sudah transaksi?” Ujar Summer sambil membolak-balik majalah Summer Sea yang baru rilis.


“Sudah. Sore ini akan diantar ke pelabuhan.”


“Ah…dan yang akan mengajari aku?”


“Sudah. Aku sudah minta dia datang ke pelabuhan sore ini.”


“Terima kasih, Pak Bagas.”


Summer kemudian mematikan telponnya.


Mara keluar dari kamarnya, rambutnya masih basah dan terurai.


“Nanti sore kita ke pelabuhan.” Ujar Summer.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Aku kan harus belajar mengemudi kapal.”


“Kamu harus cepat belajar. Aku akan bantu belajar juga.” Mara berjalan dan ikut duduk di sofa.


Summer tanpa sadar mendekat dan mengendus. “Bau bunga.” Ujarnya.


“Mungkin sabunnya.” Mara mencoba mengendus kulit tangannya.


Summer berdiri, “Sini.” Ujarnya mengajak Mara ke kamarnya.


Mara menyahut dengan tetap diam dan terlihat canggung. Summer tersenyum dan memukul pahanya.


“Aku cuma ingin mengeringkan rambutmu.” Ujar Summer menjelaskan.


“He he.” Tawa Mara canggung, apa yang tadi ada di pikirannya.


Summer mengambil hairdryer dari laci buffetnya. Dicolokkan ke terminal listrik, lalu dia tekan tombol power. Muncul suara hairdryer yang lumayan lembut. Mara sempat kaget dan melotot ke hairdryer yang mengeluarkan angin. Responnya seperti kucing yang berdiri tegang karna kaget. Ditatapnya mata Summer berharap akan diyakinkan itu bukan benda berbahaya.


“Ini aman.” Ujar Summer tersenyum.


Bermodalkan kepercayaan, Mara merelakan benda berisik itu meniupi rambutnya.


Mara duduk di lantai membelakangi sedangkan Summer duduk di kasurnya.


Hairdryer itu meniup rambut Mara dengan hawa yang sedikit panas. Pelan-pelan jari Summer menyisir rambut ikal itu. Rambut yang terlalu halus untuk seorang pria. Mara semakin menikmati kepalanya disentuh, suara hairdryer juga sudah tak menakutinya.


Saat Summer akan mengeringkan rambut bagian depan, dia menarik kepala Mara dan ditidurkan ke kasur diantara kedua kakinya.


Kini Summer dapat melihat wajah Mara, matanya yang tertutup, hidung yang tinggi, bibir yang penuh, dagu yang tegas, jakun yang terlihat menonjol, leher yang jenjang.


Tanpa sadar, satu persatu yang dilihatnya, ternyata juga disentuhnya dengan jarinya. Kini jari itu sudah berada di leher Mara.


Mara membuka matanya sejak hidungnya di sentuh, diperhatikannya mata Summer yang satu persatu menelisik wajah sampe lehernya.


Sentuhan jari telunjuk Summer, dari hidung ke mulut ke dagu dan ke lehernya, membuat semua badan Mara menjadi panas. Dia menikmati mata Summer yang seperti ingin menelan wajahnya.


Sesaat setelah mata Summer di leher Mara, dia menoleh ke mata Mara yang sudah terbuka, mereka cukup lama bertatapan.


Mata Summer berpindah kembali melihat jakun yang bergerak karena menelan liur. Didekatkannya wajahnya ke benda kecil itu, sehingga rambut dan leher Summer menutupi wajah Mara. Tanpa aba-aba Summer mengecup jakun itu.


Suara hairdyer yang sudah diletakkan di kasur, wangi leher Summer yang menempel di hidungnya, rambut lurus hitam yang menggelitik telinga, dan bibir Summer yang menempel di jakunnya, itu semua dirasakan Mara secara bersamaan.


Summer mengangkat kepalanya duduk tegak dan terdiam sejenak.


“Sudah kering.” Ujar Summer kemudian mematikan tombol daya.

__ADS_1


Mara yang mendengar suara hairdryer sudah mati langsung bergerak maju, agar kaki Summer tidak menempel lagi di punggungnya.


Bersambung…


__ADS_2