
"Hahhhhph!" Summer menangkap nafasnya sontak terduduk dari tidurnya. Keringat berbulir di keningnya. Nafasnya terengah engah, wajahnya pucat.
"Sudah bangun?" Ujar Tapa yang baru masuk ke kamar Summer untuk memeriksa. Akhirnya Summer bangun setelah tertidur dari semalam hingga di luar sudah siang terang.
Summer menatap sekelilingnya, dia berada di kamar, infus menempel di punggung tangannya.
"Tapa. Mara?" Ujar Summer masih terengah-engah.
Demi Tuhan dia berharap yang tadi dia mimpikan hanya mimpi buruk belaka, rasa sakit itu masih perih tapi dia berharap itu karena mimpi buruk tadi.
"Aku masih belum ke laut menanyakan. Aku harus menemanimu untuk sementara waktu. Itu juga yang pasti diharapkan Mara."
Seketika badan Summer melemah, matanya meredup bibirnya yang masih terluka kembali digigitnya lagi.
Itu kenyataan, semua itu benar terjadi. Wajah lesu Mara yang tak sadarkan diri. Berlalu di laut, dibawah sinar bulan yang tak terlalu terang. Wajah pilu Sara meninggalkan bekas kuat di ingatannya.
"Tapa…" Suara Summer terdengar rapuh, matanya penuh rasa bersalah. Air mata Summer kembali mengalir di pipi dan bibirnya yang pucat.
"…maafkan aku." Sambungnya meledakkan tangis menengadah menatap Tapa meminta pengampunan.
Tapa pun sama berusaha menenangkan diri, jika ingin marah, pikiran bijaknya berkata Praman lah yang sepatutnya dihancurkan. Tapi dengan adanya ikut campur mereka di dunia manusia, menyebabkan semua itu bisa terjadi.
Mara mencintai seorang wanita yang problematik.
Kebungkaman Tapa itu semakin mencemaskan Summer.
"Tapa… Mara pasti akan baik-baik saja kan?"
"Entahlah."
Jawaban yang tidak dipoles dengan harapan, mematahkan semua semangat hidup Summer.
"… Pak Bagas tadi mampir sebentar lalu pergi bekerja." Sambungnya lalu keluar kamar meninggalkan Summer yang terus menunduk depresi.
Summer melepas infusnya dengan kasar, meninggalkan percikan darah di punggung tangan, lalu berjalan ke luar kamar. Dengan masih mengenakan baju tidurnya, Summer ke belakang rumah menemui Damar.
"Non…" Sapa Damar yang tengah duduk di teras rumah kecilnya.
__ADS_1
"Kunci mobil." Perintah Summer lemah.
"Non mau kemana?!" Damar berdiri kaget melihat kondisi buruk Summer namun ingin mengemudi.
"Berikan saja." Summer bersikeras, wajahnya meskipun lesu, menyiratkan Damar akan kena masalah besar jika tak segera memberikan kunci mobil itu.
"Baik, Non. Saya antar ya. Kemana saja saya antar." Damar sembari manggut manggut cemas.
Summer menghela nafas, segera membalikkan badannya berjalan ke parkiran mobilnya. Damar buru-buru mengambil kunci mobil dan mengikuti Summer.
"Kemana?" Tanya Tapa melihat mereka ingin memasuki mobil.
"Gak tau Mas Tapa. Saya hanya akan mengantarkan Non Summer kemana saja, daripada dia bawa mobil sendiri." Sahut Damar kemudian duduk di kursi kemudi setelah Summer masuk ke mobil tanpa berkata apapun. Tapa segera ikut masuk sebelum mobil itu berjalan.
"Kau tak perlu ikut. Aku tak perlu dilindungi." Ujar Summer dengan suara lemah dan mata sayu.
"Aku harus memastikan kau tak bikin masalah." Sahut Tapa memasang sabuk pengaman.
Summer berkelu, menatap jendela mobil berpangku tangan. Bibirnya yang pucat terkunci rapat, namun matanya mengikuti garis aspal dengan pikiran kosong.
"Kemana Non?"
Setelah sampai di dekat pantai, Damar menghentikan mobilnya diikuti Summer yang langsung membuka pintu mobil untuk keluar. Tubuh lemah itu berjalan, tercenung menatap ke arah pantai, tujuannya.
Langkah kaki telanjang menyeret terbenam di pasir, sesekali pasir berhamburan setiap kaki itu terangkat. Mata sayu mencari bekas kehadiran pria terkasih di atas pasir yang semalam bernoda merah.
Matahari sebentar lagi akan pulang, Summer menelisik setiap butir pasir yang menyimpan kenangan tubuh Mara. Tidak ada, tidak ada, semua telah tersapu tercuci ombak, pasir bersih berwarna putih. Laut membawa pergi bekas darah, tanpa sisa.
Air mata Summer menetes, kakinya tak akan berhenti, matanya menatap jauh ke laut. Perlahan kaki itu tersapu ombak, membasahi celana piyamanya. Warna pasir dan laut bersamaan menjingga, angin mulai berhembus dingin, semilir menerbang rambut menutup wajah.
Summer mengulurkan tangan mencari dimana dia harus menemukan pria yang membawa pergi hatinya.
Perlahan kaki itu menapak di dasar laut membenamkan dada hingga ke lehernya. Menutup mata mencari dimana kehadiran itu ada, namun air mata menetes karena dunia serasa hampa.
Summer membenamkan dirinya ke dalam laut, membelalakkan matanya siapa tahu dia bisa melihat kekasihnya di sana. Tangannya bergerak bebas mencari tanpa arah, berenang putus asa.
"Dimana aku bisa melihatmu, sayang?" Teriaknya dalam hati.
__ADS_1
Belum puas dia mencari, Damar menangkapnya, menyeret keluar air.
Summer marah, berontak dipisahkan dengan laut. Berteriak putus asa, air mata menyatu dengan air laut yang menetes dari kepalanya.
"Non. Sadar, Non." Ujar Damar memicingkan mata kemasukan air.
Tapa memijat keningnya, wanita ini sudah kehilangan kewarasannya. Langit baru saja berubah jadi hitam, masih banyak orang yang lalu lalang di pantai. Beruntung ada Damar yang bisa menyelamatkan Summer, karena Tapa akan berubah berekor jika berenang ke lautan.
"Dimana aku bisa menemukan Mara?" Summer menatap harap Tapa menengadah, dia masih terduduk lemah basah di pasir.
Tapa mengelakkan pandangan, berdecak pinggang.
Summer tahu, tidak akan ada jawaban yang bisa Tapa berikan. Namun siapa tahu, siapa tahu?
"Aku bisa berenang sedalam apapun, Tapa."
"… Beri tahu saja dimana aku bisa menemukannya."
"Kau tak akan menemukannya!!" Teriak Tapa pada akhirnya, kesabarannya sudah habis.
Seharusnya dia ada di samping Sara yang sama terguncangnya. Tapi dia memilih menemani Summer, karena tahu temannya itu akan sangat sedih dan khawatir jika wanitanya sendirian. Setidaknya Sara bersama Uma dan Appa.
Teriakan Tapa meninju kencang jantung Summer. Menunduk membenamkan wajahnya ke pasir terpuruk.
"Ayo pulang, Non." Ajak Damar mengangkat lengan Summer membantunya berdiri.
Malam itu mereka berhasil membawa pulang Summer, tidak tahu jika besok dia kembali menggila lagi.
Bagaimana tidak. Mara adalah sebuah harapan dan kebahagiaan yang sangat dihartakan Summer. Cinta pertama dan tempat ternyaman. Jika mungkin dia pergi karena ingin meninggalkannya dalam keadaan sehat, ceritanya bisa berbeda. Namun kekhawatiran antara dia bisa bertahan hidup atau tidak menyiksa Summer.
Perasaan ini terus terulang, dahulu orang tuanya, kini Mara. Semua orang penting dalam hidupnya berakhir tragis. “Apa hidupku membawa sial?” Begitu caranya menyiksa diri.
Sedikit pun dia lupa, penyebab dari semua ini adalab Praman. Rasa menyalahkan diri membuatnya buta.
Sungguh jika bisa mengorbankan diri untuk menyembuhkan kekasihnya, Summer bisa dengan bahagia memberikan hidupnya. Toh sedari awal hidupnya adalah milik Mara. Jika mereka tak bertemu dua tahun yang lalu, Summer pasti sama tak bernyawa.
Pertemuan itu sedikit disesalinya, tidak sedikit mungkin banyak. Awal dari hidup Mara terjalin dengan hidupnya. Dan bahaya hidupnya jadi bagian Mara juga. Jika seandainya dia bisa berbagi kebahagiaan saja.
__ADS_1
Bersambung…