
“Cantik sekali.” Gumamnya dengan mata terhipnotis.
Summer mencoba menoleh ke arah pintu masuk dan menemukan Mara yang sudah berdiri di sana. Summer langsung melambaikan tangan dan membuat Mara tersadar lalu berjalan menghampiri.
“Ah aku sangat berkeringat. Aku ingin mandi dulu tapi tak ingin buat kamu menunggu.” Mara bingung.
“Kamu tetap tampan.” Ucapan Summer itu terdengar tulus ditambah senyum manisnya.
“Ayo duduk.” Ajak Summer.
“Baiklah. Aku senang aku terlahir tampan.” Ujar Mara dengan polos.
Mendengar ucapan itu lantas Summer tertawa terbahak-bahak sampai memukul meja. Mara pun senyum malu-malu.
Makan malam mereka berjalan sangat mulus. Mara bercerita bagaimana pengalaman pertandingannya tadi siang. Begitu pun Summer bercerita banyaknya pekerjaannya.
Rasa ini hanya bisa dirasakan Summer saat berada di dekat Mara. Rasa tenang dan nyaman. Summer merasa aman sehingga dia bisa mengeluarkan semua ekspresi yang dia punya.
Saat mereka telah selesai makan malam dan akan beranjak pergi, tak disangka mereka bertemu dengan Jenni di lobi.
Jenni sontak kaget, melihat Summer dekat dengan pria yang diincarnya. Jenni lantas menghampiri ingin tahu apa hubungan mereka.
“Hai.” Ujarnya pada Mara.
Summer kaget, karna yang disapa Jenni Mara bukan dirinya.
“Kamu kenal?” Tanya Summer pada Mara.
“Aku tak tahu namanya.” Sahut Mara. Mendengar itu Summer mengulum tawanya.
“Aku Jenni! Masa lupa?” Ujar Jenni mendekat dan ingin menggenggam lengan Mara. Dengan sigap Summer menepis tangan itu hingga terlempar.
“Elo! Berani beraninya!” Teriak Jenni pada Summer.
Summer memberi Jenni tatapan dingin.
“Ayo.” Ujar Summer menarik tangan Mara.
Mara tak bisa melepaskan pandangannya dari tangan Summer yang menggenggamnya. Mulutnya tak berhenti tersenyum. Jantungnya pun berdegup tak beraturan dan berisik.
Sedangkan Jenni sangat jengkel, amarahnya membuat dia panas sampai ke ubun-ubun.
Dia benci dengan Summer yang selalu memiliki apa yang dia mau. Begitu pun pria yang ingin dia dekati. Tanpa berpikir panjang Jenni berlari dan mengikuti mereka ke luar. Jenni tau di luar pasti ada paparazzi yang selalu mengikutinya.
Sesaat Mara mengantar Summer masuk ke dalam mobil. Jenni menghampiri dan merangkul tangan Mara.
Summer melihat dari spion mobil tingkah Jenni itu. Mobilnya baru berjalan 100 meter.
“Putar mobilnya.” Ujar Summer pada Pak Bagas.
“Jangan ikut campur dengan Jenni.” Ujar Pak Bagas karna dia tahu Jenni orang yang suka cari masalah.
“Ah seharusnya dia cari masalah denganku, jangan pada Mara.” Ujarnya.
“Pak Bagas!” Ujar Summer dingin menafsirkan dia harus turun.
Akhirnya mobil tersebut berhenti. Summer turun dan berjalan seperti akan memangsa Jenni.
“Kau sedang apa?!” Mara kaget tiba-tiba digandeng Jenni. Refleks dia melepaskan tangan Jenni yang melingkar di lengannya.
“Aku cuma mau naik bersama.” Goda Jenni.
Summer berjalan menghampiri namun melewati mereka berdua dan masuk ke hotel.
__ADS_1
Melihat Summer berjalan Mara langsung mengikuti seperti anak bebek mengikuti Ibunya. Mara tahu, wajah Summer berbeda. Sepertinya dia sedang marah. Jenni pun ikut masuk, dia siap untuk bertarung dengan sepupu yang berumur dibawahnya itu.
Mereka bertiga masuk lift.
“Mara keluar.” Ujar Summer.
Mara pun menurut namun bingung.
Saat lift naik, Jenni siap untuk mengeluarkan kata-kata menyulut perang.
“Mau kemana?” Ujarnya dengan nada meledek.
Summer yang berdiri tegak tanpa melirik Jenni dengan dingin menjawab, “Ke kamarmu.”
“Ah kenapa gak di sini aja kalo mau ngomong.” Tantang Jenni. Summer tak menghiraukan pancingannya itu.
“Emang dia pacar lo?” Sentil Jenni.
Summer yang dari tadi menahan amarahnya akhirnya menatap Jenni dengan tajam. Summer yang memiliki badan lebih tinggi dari Jenni, menatap ke bawah dengan tatapan membunuh.
Perlahan-lahan Summer melangkah mendekatinya, melangkah dan melangkah sampai Jenni terpojok.
“Jenni! Kamu masih saja terlihat murahan, aku masih ingat saat SMP kamu dengan Guru BP di gudang.” Ujar Summer dengan nada merendahkan.
Mendengar itu Jenni langsung membelalak dan mendorong Summer.
“Kurang ajar!” Teriaknya.
“Kepala lu kebentur ya pas hampir mati kemarin? Lu udah berani ngomong sekarang.” Jenni membusungkan dada melawan.
“Ah. Sedih ya aku selamat?” Summer menyeringai.
“Hah. Untuk apa. Lu kan sudah tidak punya siapa siapa juga. Lo yang sedih.” Jenni menyebutkan kata yang seharusnya tidak dia katakan.
Dia tahu yang di depannya ini hanya gadis kecil yang dia lihat hanya bisa haha hihi dengan orang tuanya dulu. Bahkan seburuk apapun yang dia lakukan, Summer tidak pernah berani melawan. Tapi dia lupa jika yang dihadapannya sekarang adalah orang yang sudah mengalami pengalaman hampir mati, dia bukan orang yang takut apapun lagi.
Summer merasa sumbu bom di dalam jantungnya sudah dinyalakan. Berani-beraninya dia menyebut Mamanya telah tiada.
“Plak!!!!” Suara tamparan keras di pipi Jenni.
“Lo…”
“Plaaak!!!!” Sekali lagi suara tamparan itu menutup mulut Jenni yang tadinya ingin memaki.
Tangan Summer sudah akan mengayun sekali lagi, Jenni langsung membungkuk ketakutan sambil menutupi pipinya yang kebas.
Summer menurunkan tangannya melihat nyali lawannya sudah ciut.
“Berhati-hati lah membahas orang tuaku.” Ujar Summer kemudian mengelap tangannya.
“Summer!!” Teriak Jenni rasanya ingin mengancam namun tak tahu mengancam pakai apa.
“Berpikir keraslah akan membalasku dengan apa. Aku punya banyak kartu yang bisa kumainkan denganmu.” Ujar Summer kemudian memencet tombol turun saat pintu terbuka.
Jenni langsung menutup wajahnya dan keluar dengan cepat.
“Aaarrrgggghhhhhhhhhh!!!!!!” Teriak Jenni melempar semua yang ada di meja riasnya.
“Summer sialan!” Teriaknya.
Keesokan harinya media dipenuhi oleh wajah Jenni yang merangkul pria tinggi yang diburami wajahnya. Terlebih foto itu berlokasi di depan hotel membuat topik ini semakin panas.
“Apakah Jenni Sudah Menemukan Tambatan Hatinya?” Begitu Headline-nya.
__ADS_1
Summer yang melihat berita itu langsung berpaling mengerjakan pekerjaannya.
Setidaknya wajah Mara diburamkan.
Sulit sekali fokus dengan pikiran yang runyam. Beberapa kali pun dia memelototi berkasnya, matanya tak bisa membaca karna pikirannya kemana-mana. Rasanya masih sangat jengkel saat ditanya apa Mara pacarnya. Tentu tidak, tapi dia siapa mau mengambil Mara darinya.
*****
“Ada apa, lu gak biasa ngajak ketemu.” Ujar Richard menelisik kukunya terlihat tidak tertarik.
“Gaya lu gak usah gitu. Gue tau kelemahan Summer.” Pamer Jenni yang merasa dendam.
Richard langsung menyeringai, telinganya siap dan tentu sangat antusias mendengarkan.
“Ada cowo yang dia suka.” Ujarnya.
“ Tapi lu jangan nyentuh cowonya. Gue suka tuh cowo. Tapi si ****** Summer nempel mulu.” Jenni memberi peringatan.
“Trus mau lo apa!”
“Ya lu urus si Summer.”
“Emang gue babu lu.” Sahut Richard menohok.
“Kan bisa dengan cara mancing Summer pake pria itu.” Ujar Jenni.
“Argh. Gak jelas lo. Atur dulu baru ngajak gue ketemu.” Ujar Richard kesal buang-buang waktu. Dia kemudian pergi meninggalkan Jenni.
Jenni mulai berpikir keras rencana apa yang harus dia lakukan untuk menjatuhkan wanita itu. Dia tahu dengan kejatuhan Summer, keluarganya akan bahagia. Ibu, ayah, om tantenya akan bangga juga padanya.
Hari itu hari kedua test pemilihan bodyguard akan berlangsung.
Hari yang suram untuk Mara karna dari semalam Summer tidak membalas pesannya.
Semalam pun ketika Summer keluar dari lobi, Summer tidak mengucapkan apa-apa kecuali, “Aku pergi dulu.”
Dia juga mengucapkannya dengan singkat dan dingin lalu masuk mobil dan berlalu.
Pertama kalinya Mara merasakan Summer dingin padanya. Sangat menganggu dan membuatnya tidak selera melakukan apapun. Gundah sekali rasanya.
“Test kali ini adalah pertarungan menembak.” Ujar pembawa acara.
Mara langsung memecah lamunnya, dia belum pernah ikut menembak. Dia terlalu percaya diri sampai lupa senjata manusia itu banyak. Dan itu pasti diperlukan oleh semua bodyguard.
Satu-satunya solusi adalah belajar saat itu juga. Lalu dia meminta pada panitia untuk di giliran paling belakang.
Dia merasa bersalah karna terlalu menganggap sepele. Dia kemudian membuka aplikasi iTube di handphone-nya. Dicarinya bagaimana menggunakam pistol.
Ditatapnya dengan sangat fokus sambil dia lihat para peserta yang mulai menembak.
Suara pertama tembakan membuat Mara kaget meskipun dia berada di liar ruangan tembak.
“Harus terbiasa.” Gumamnya.
Mara merasa mereka semua sangat keren, semuanya sangat mahir. Kali ini Mara harus sangat hati-hati dan fokus.
Dia meniru gerakan yang dia tonton, ditutupnya sebelah matanya mempelajari bagaimana membidik.
4 batch peserta sudah selesai. Kini giliran kelompok mara dan 4 orang lainnya.
Mara mengambil pistol tersebut, mengenakan penutup telinga. Di rabanya perlahan pistol itu dan dilihatnya target dengan seksama.
“Harus menembak yang di tengah.” Gumamnya.
__ADS_1
Bersambung…