
"Tolong jangan pukul wajahku. Adikkku akan datang menjenguk minggu depan. Kalian bebas memukul badanku, tapi jangan di tempat yang terlihat." Richard memohon pada pria besar yang satu sel dengannya.
"Karena itu harusnya kau mencuci dengan benar. Sudah kubilang semalam, pagi aku akan memakai ****** ***** ini." Ujar pria itu menendang perut Richard, lalu melemparkan ****** ***** basah ke wajahnya.
"Apa kau pernah melihat adiknya?" Tanya pria itu pada teman yang menontonnya menggebuki Richard.
"Sekilas."
"Cantik?"
"Ya dia imut."
"Hahhh pria sampah sepertimu bisa punya adik cantik?"
Mereka tertawa terbahak-bahak. Richard hanya duduk menunduk, meringis kesakitan.
"Kenalkan adikmu padaku ya nanti. Haha."
"Padaku juga."
"Padaku juga."
Richard mengepal kencang tangannya. Separah apapun dia direndahkan dan dipukuli, dia bisa menerimanya. Tapi saat adiknya disebut, darah langung naik ke kepalanya. Dia sangat ingin berubah agar tak jadi orang brengsek lagi. Sulit sekali.
"Kau berani melotot?" Pria itu menampar-nampar pipi Richard.
"Wah berani ya? Berani?" Kali ini kepala yang ditoyor.
Richard terus melotot tak berkedip.
"Ahh apa karna adikmu? Kau jadi berani karna kami membahas adikmu? Apa dia sexy?"
Richard langsung mendaratkan bogem yang ditahannya dari tadi. Pria itu terjatuh, menyeringai menatap. Richard berdiri dan melayangkan pukulan lagi dan lagi dengan mata melotot.
"Tahanan 1304. Keluar." Suara petugas terdegar.
Namun tak dihiraukan dua orang yang beradu sengit. Yang lainnya tak berusaha melerai, mereka malah tertawa menikmati.
Akhirnya petugas masuk dan menarik paksa Richard yang duduk diatas tubuh pria. Mereka berdua terluka parah, tapi Richard masih tetap tangguh bergerak seperti tak merasa sakit. Sedang lawannya terkapar dengan wajah berdarah.
Seringnya Richard dipukuli membuatnya sudah tak peduli dengan rasa sakit, bahkan mati rasa.
Diludahinya wajah pria yang telentang itu.
"Jangan mengucapkan adikku dengan mulut kotormu itu, bangsat!" Teriaknya. Petugas menyeret paksa Richard dan membawanya pergi.
Selang sejam Richard kembali ke selnya untuk mengumpulkan barangnya, dimasukkannya ke dalam keranjang kecil.
Barang yang menghalangi kakinya, ia ditendang. Begitupun barang lain yang mengenai tangannya dia lempar. ****** ***** yang pernah dilempar ke wajahnya, dia ambil lalu dibuang ke toilet dan disiram.
"Nikmati dah tuh tidur sama tai lu." Ujarnya kemudian pergi.
Pria yang ada di sel itu menatap toilet yang pasti kini telah mampet.
__ADS_1
"Bajingaannn!!!" Teriak mereka. Namun Richard sudah keluar membawa menenteng keranjang berisi barangnya.
*****
"Dia sudah tak disini. Sudah pindah seminggu yang lalu." Ujar Petugas Lapas pada Nindi yang datang menjenguk kakaknya.
"Huh? Kenapa tiba-tiba pindah?"
"Entahlah. Itu perintah langsung dari atasan."
"Dipindahkan kemana?"
Nindi pergi menuju lapas tempat Richard dipindahkan. Malah lebih dekat dari ibu kota, dia bisa lebih sering berkunjung.
"Semoga masih enak." Gumamnya menatap totebag ditangannya.
Nindi berjalan ke petugas tahanan, menyerahkan ktpnya lalu duduk mengantri. Sepertinya yang datang menjenguk cukup banyak, dia sudah menghabiskan 2 jam untuk menanti gilirannya hingga akhirnya dipanggil.
Nindi memasuki ruang jenguk. Ruang dengan pembatas bening dan berjejer. Lagi-lagi Nindi harus memulai dari awal agar mereka bisa ke ruangan bebas tanpa pembatas agar bisa makan bersama.
Nindi duduk, tak lama kemudian kakaknya muncul. Matanya melotot kaget melihat kondisi kakaknya. Bekas lebam memenuhi wajahnya bahkan di tangannya.
"Kak. Kau kenapa bisa begini?"
"Ahh… ini cuma luka kecil."
"Kakak berantem ya makanya dipindahin?"
"Entahlah. Aku juga gak tau apa karna itu."
"Maaf Nindi." Richard terus menunduk takut melihat wajah adiknya yang kecewa.
"Daripada itu. Coba ceritakan apa yang terjadi."
"Aku tak bisa menceritakannya."
"Kalau begitu siapa yang memulai?"
"Mereka."
"Mereka?”
"Iya."
"Berapa orang?"
"Tiga orang."
"Ngeroyok kakak?"
"Iya."
"Bajing*n, breng*s*k, Anak B*bi! Kurang ajar!" Nindi memaki habis-habisan tak peduli semua orang yang ada di situ menatapnya.
__ADS_1
Richard tertegun. Adiknya yang dia anggap malaikat bisa memaki juga ternyata.
"Argh biad*b, ***************!" Semua sumpah serapah masih terus dia ucapkan.
Sudut bibir Richard naik hingga akhirnya dia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.
Nindi menatap sinis kakaknya.
"Kau lucu sekali."
"Apanya yang lucu?"
"Tenang saja. Paling mereka sedang menikmati bau taik mereka sekarang."
"Huh?"
"Aku menyumbat toilet di kamar sel itu. Hahahah."
Nindi melotot tersenyum tak percaya. Richard manggut-manggut meyakinkan. Tawa mereka pecah bersamaan.
"Tapi kita jadi tak bisa makan bersama. Padahal aku masak sendiri loh ini."
"Oh ya? Kau beneran bisa masak?"
"Aku udah belajar tau!"
"Sebentar." Richard berjalan ke arah petugas. Tak terdengar apa yang dikatakan, hanya terlihat memohon.
Dia kembali ke kursinya menyengir.
"Yakin aku gak akan mati makan masakanmu, kan?"
"Yaudah kalo gak yakin. Gak usah."
"Haha. Nanti titip ke penjaga yang itu ya." Richard menunjuk seorang penjaga berbadan besar yang duduk di ruangan itu.
"Boleh ya?"
"Aku sudah minta tolong tadi." Sahutnya menyengir semakin lebar.
*****
"Bagi dong bang." Ujar seorang pria seumuran Richard.
Setelah masuk ke sel, dia langsung membuka kotak makanan. Dari wajahnya terlihat bahagia menikmati masakan adiknya itu.
"Enak aja. Adek gue ini yang masak!" Tak rela berbagi, dia memalingkan muka menyembunikan kotak makanannya.
"Pelit amat bang."
Richard tak peduli. Setiap suapan dia nikmati dan resapi, kepalanya bergoyang-goyang bibirnya terus tersenyum.
"Tau tidak? Adikku galak. Dia bisa memakimu habis-habisan jika menggangguku." Ujarnya lagi sambil menyengir dengan mulut penuh.
__ADS_1
Mereka menatap Richard bergidik geli. "Gila kau ya bang?"
Bersambung…