
Wanita yang terlihat lebih tinggi dari yang dia bayangkan. Dengan wajah bermake-up tipis dan lipstik nude. Mata bulat, hidung kecil dan bibir yang tersenyum ke arahnya.
Wanita itu mengenakan pakaian formal blouse hijau dipadukan dengan celana panjang hitam dan jas hitam.
“Summer.” Ujar Mara dengan lembut.
Mereka berdua sempat terpaku saling menatap di depan restoran kecil itu.
Mara dengan matanya yang mulai membendung air saking bahagianya. Tiba-tiba merasakan badannya lemah hingga dia hampir tersungkur.
Beruntung kakinya masih kuat sehingga dia terjongkok lalu membenamkan wajahnya diantara dua lengannya.
Lantas mereka semua yang ada di situ kaget. Bu Rani langsung keluar untuk melihat keadaan Mara, belum sempat dia meraih badan Mara, Summer sudah menyentuh bahu Mara terlebih dahulu.
“Ada apa?” Tanya Summer menyentuh dengan lembut.
Mara hanya menyahut dengan suara isakan tangis yang mendengung karna tertutupi lengannya.
“Ahhhh kenapa? Maaf.” Ujar Summer panik mendengar nafas lirih Mara. Dia masih bingung kenapa Mara tiba-tiba menangis begitu.
Mara kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Summer yang berdiri membungkuk menanyakan keadaannya. Wajahnya terlihat berlinang air mata yang berkilauan.
“A..aa..ku cu..cu…umm..ma bahagiaaaaaaaa!” Mara berusaha bicara sambil sesenggukan dengan diakhir kata berteriak.
“Wahhh dasar anak ini.” Ketus Wawan langsung mendekati Mara.
“Ayo masuk masuk.” Ajak Wawan.
Akan menjadi hal ribet jika mutiara bertebaran di teras depan restoran. Dia akan bingung menjelaskan pada orang yang melihat mutiara itu nantinya.
Melihat tingkah Mara itu Summer akhirnya tersenyum sekaligus merasa bersalah.
“Ayo masuk.” Pinta Summer menarik lengan Mara untuk membantunya berdiri.
“Ah ya ampun, kalung mutiaraku bisa rusak begini.” Pekik Bu Rani sambil memukul suaminya.
Berackting sebelum orang menanyakan apa yang mereka lakukan saat mengumpulkan air mata Mara yang bertebaran di teras dan di tanah.
“Ah maaf Bu Rani.” Lirih Mara karna sadar sudah merepotkan.
“Hei lihat matamu, membengkak.” Goda Summer.
“Maaf.” Sahut Mara menyesal.
“Wah kau benar benar jadi manusia sekarang. Kakimu bahkan sangat panjang.” Summer kembali menelisik tubuh Mara yang ajaibnya kini menjadi manusia.
“Bagaimana luka di pahamu waktu itu?” Tanya Mara. Sepertinya dia sudah tenang, nadanya sudah tak bergetar.
“Silahkan masuk.” Ujar Bu Rani dari luar pada Pak Bagas yang sudah kembali dari memarkirkan mobil. Lalu mereka masuk dengan bersamaan.
“Mau makan apa, Pak?” Tanya Wawan pada Pak Bagas.
“Ah aku ingin cumi saos padang dan tumis kangkung. Ketua mau apa?” Pak Bagas sepertinya sudah lapar.
“Aku nanti saja.” Sahut Summer. Dia masih ingin bercengkrama dengan Mara.
“Pahaku?” Sambungnya menoleh Mara.
“Sudah sembuh. Bahkan bekasnya tak ada. Obat yang kamu beri sangat manjur. Kalo gak salah warnanya hijau ya? Obat apa namanya?” Summer mencoba mengingat kejadian lama itu.
Mendengar pertanyaan Summer, Mara langsung kalang kabut menuruhnya berhenti. Sebelum Summer mengerti maksud Mara, Wawan sudah memelototi Mara dengan tajam.
Melihat sikap suaminya, Bu Rani langsung menepuk punggungnya dan mengajaknya ke dapur.
“Ah itu. Syukurlah.” Mara sedikit kaku.
Ditambah mata pria paruh baya yang duduk di meja lain itu, sangat mengganggu. Sedari masuk matanya seperti menghakimi semua sikap dan penampilan Mara.
“Ahhh aku ingin mencoba makan ikan bakar buatan kamu yang enak itu.” Goda Summer tersenyum.
“Ah aku bisa buatkan sekarang.” Mara langsung berdiri, namun sekali lagi lengannya ditahan. Summer tersenyum dengan sikap pria itu.
“Tidak sekarang.” Ujarnya menyuruh Mara kembali duduk.
__ADS_1
“Nanti. Setelah kamu menang jadi Bodyguard.” Mata Summer menatap intens mata sembab itu, dari pandangan matanya terlihat Summer menantang Mara.
“Kamu ikut melamar kan?” Tanya Summer.
“Tentu saja.” Pekik Mara.
“Apa kau yakin akan menang?”
“Tentu saja!” Suara Mara semakin besar. Wajahnya seperti seorang tentara yang menjawab pertanyaan atasannya.
“Hahahahahahahahaha.” Tawa Summer meledak. Summer memegang perutnya sambil memukul-mukul meja.
“Haaahhhhhh kamu masih tetap lucu.” Summer menyapu air mata yang keluar karna tawanya yang lepas sekali.
Mara sedikit malu namun banyak senang melihat gadis cantik di depannya itu tertawa. Semakin dia tertawa lebar semakin matanya mengkerut rapat.
“Kamu cantik sekali.” Terucap dari bibir Mara tanpa sadar, matanya seperti berada di khayangan.
Summer tersenyum menutup mulutnya.
“Apa ini, rasanya seperti dipuji seorang anak yang baru bisa bicara.”
“Aku kurang besar ya?” Protes Mara karna disebut anak kecil.
“Hahahaah.” Sekali lagi Summer terbahak-bahak.
Entahlah. Apapun itu, jika bisa melihat Summer tertawa begitu, Mara rasanya sangat puas dan bahagia.
“Kamu tidak makan?” Tanya Mara.
“Hmm baiklah. Ayo kita makan bersama.”
Akhirnya Summer meraih daftar menu kemudian berpikir ingin pesan apa.
“Kamu ingin makan apa? Mara?” Summer berusaha memulai mengucapkan nama yang belum lama dia ketahui itu.
Pertanyaan itu membuat Mara seketika merasa seperti konsumen yang datang makan, bukan pramusaji yang bekerja di restoran itu.
“Hmm?” Tanya Summer lagi.
“Baiklah. Ayo makan itu.”
Mara berdiri ingin menyampaikan pesanan Summer ke dapur.
“Kemana lagi?” Wajah Summer langsung cemberut. Mara yang tengah berdiri itu jadi salah tingkah.
“Aku sudah bilang kamu gak boleh kemana-mana.” Wajah Summer seperti orang mau marah.
Seketika Mara duduk tanpa basa basi.
“Hahahhahaha” Summer kemudian tertawa lagi. Sepertinya memang respon-respon Mara sangat lucu dan dinantikan bagi Summer. Hingga dia tak berhenti tertawa.
“Kamu sih jangan pergi-pergi. Duduk di sini aja. Aku gak punya banyak waktu.” Pinta Summer akhirnya dengan baik-baik tanpa menggoda.
Mara akhirnya mengerti, jika Summer ingin waktu luangnya itu dipenuhi dengan obrolan bersama.
Tak lama Bu Rani kemudian datang mengantarkan pesanan Summer dan Mara.
“Wahhhh kamu sudah pintar pakai sendok. Kamu memang dari dulu pintar atau baru belajar?” Summer tertarik dengan bagaimana merman bersikap layaknya manusia.
“Aku belajar. Semuanya baru aku pelajari.” Mara langsung membanggakan diri.
“Wahhh. Aku salut.”
Makan bersama seperti ini mengingatkan bagaimana mereka makan di laut. Summer makan ikan bakar sedang Mara makan ikan hidup. Itu adalah makan bersama terakhir mereka sebelum berpisah.
Waktu rasanya tidak adil. 2 jam itu rasanya hanya dua detik saat bersama. Kenapa waktu rasanya berlari sangat cepat ketika sedang bahagia?
“Berjanjilah kamu harus menang.” Ujar Summer memberi salam perpisahan.
Saat ingin masuk ke mobil, tiba-tiba Summer merasa ada yang terlupakan.
“Ahhhh berikan handphonemu.” Ujarnya berbalik pada Mara.
__ADS_1
“Handphoneku rusak.” Sahut Mara murung.
“Ah begitu.” Summer kemudian merogoh tasnya mencari sesuatu tapi sepertinya tak bisa ditemukannya.
Summer membungkukkan badannya ke arah jendela mobil depan.
“Pak Bagas punya pulpen?” Ujarnya pada Pak Bagas yang sudah siap di bangku pengemudi. Pak Bagas kemudian menekan laci dashboard dan merogohnya.
“Ini” Pak Bagas memberikan sebuah pulpen hitam.
“Ah thank you.” Sahut Summer.
Summer kembali menghampiri Mara lalu menarik tangannya. Dia kemudian mulai menulis di telapak tangan Mara yang besar itu.
“Ini nomorku ya.” Ujar Summer ceria.
“Hubungi aku kalau ku sudah punya handphone.”
“Saat ini juga aku akan beli handphone!” Pekik Mara refleks.
“Hahhhahah dasar.” Summer masih tetap dibuat tertawa saja di detik terakhir dia ingin pergi.
Summer masuk ke mobil dan mulai melambaikan tangannya pada Mara sambil tersenyum.
Mara pun tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis cantik itu sampai mobilnya tak terlihat lagi.
Gerunjulan batu-batu di dekat restoran itu membuat badan Summer yang masih menoleh ke belakang itu ikut bergoyang.
“Kau menyukainya?” Pak Bagas memecah suasana.
“Kenapa?”
“Kau tak lihat tadi tawamu sampai lebar sekali, rahangmu tak sakit? Matamu bahkan sampai berbintang bintang.” Dumel Pak Bagas.
“Apa aku begitu?”
“Ya.”
“Dia cukup lucu. Responnya selalu terlihat lucu. Aku harap dia yang menang nanti.” Sahut Summer melempar pandangan ke luar.
“Kamu cocok begitu. Kamu cocok ceria.”
Kata terakhir itu menciptakan keheningan di mobil itu. Summer tersadar bagaimana dia selama ini jarang tertawa dan bekerja sangat keras.
Mereka terus terdiam di perjalanan hingga sampai di gedung perusahaan.
Sedang Mara, sesaat Summer meninggalkan restoran, dia langsung berlari kencang.
Lagi-lagi bu Rani dan Wawan kaget dengan tingkahnya itu, sering terjadi namun mereka masih tetap tak terbiasa . Namun mereka mencoba mengerti dan saling tersenyum saja.
Baru beberapa detik Mara berlari pergi, dia sudah terlihat berlari kembali.
“Aku lupa dompet.” Ujarnya tertawa.
Dia menyelonong secepat kilat ke kamarnya lalu berlari lagi ke luar. Karna kakinya sangat panjang dan cepat, jarak 2km rasanya hanya sebentar dia tempuh.
Kemejanya sampai berkeluaran dari celananya. Rambutnya yang tadinya terikat sudah terlepas. Dia melompat masuk ke dalam konter handphone sambil tersenyum.
Para wanita dan pria yang bekerja di konter itu menganga menikmati pemandangan pria tinggi berkeringat dengan kemeja putih yang sudah kusut.
“Aku ingin beli handphone!” Ujarnya mengatur nafas karna sedikit ngosngosan.
Para karyawan konter itu masih saja terdiam meneguk liur.
“Aku mau beli handphone.” Ulang Mara menatap seorang wanita yang duduk di balik etalase.
Akhirnya mereka kembali ke alam sadar, segera menggelengkan kepala dan tersenyum ramah.
“Ah maaf. Mau handphone apa?” Tanya wanita itu melayani.
”Ini!” Maara menunjuk handphone yang mirip dengan miliknya yang rusak.
Begitu handphone itu dinyalakan. Mara dengan cepat mengetik dan menyimpan nomor Summer yang sudah dia hapal sedari tadi.
__ADS_1
Bersambung…