
“Weiii. Punya bodyguard. Hahaha.” Richard tertawa sangat sinis.
Mara melihat ke bawah karna dia lebih tinggi dari Richard. Tatapan Mara membuat Richard kembali tertawa.
“Jago deh loh. Iya jago.”Sarkas Richard.
Richard kemudian menoleh ke belakang Mara untuk melihat langsung Summer.
“Ah sepertinya aku harus ke hotel lagi sekarang. Eh coy, cari lagi wanita yang persis seperti dia. Hahahaah.” Ujar Richard pada temannya namun sambil menatap terus mata Summer.
Teman-teman Richard tentu jadi canggung meskipun mereka yang biasa mencari wanita untuk Richard, namun mengatakan itu tepat di depan Summer, membuat mereka jadi was-was juga.
“Hahahha-“ Belum selesai Richard tertawa, Mara menyekik lehernya dan mengangkatnya.
Kaki Richard sampai sudah tak menapak lagi ke lantai, tangannya menepuk-nepuk tangan Mara yang kokoh menampakkan urat, wajah Richard kini memerah dan urat dikeningnya keluar, dia tak bisa bernafas.
“Mara lepas.” Ujar Summer.
Mau tidak mau Mara melepas pria hina itu dengan melemparnya ke lantai.
Teman-teman Richard yang di sana semua melotot takut dan lari terbirit-birit karna takut mereka yang selanjutnya akan dicekik.
Summer maju mendekati Richard yang terbatuk-batuk di lantai. Didekatkannya wajahnya pada Richard, lalu “Plakk!!!” Tamparan mendarat ke pipi Richard.
“Matamu sangat mengganggu. Apa kau sesuka itu padaku?” Tanya Summer dengan dingin.
“Cuih.” Richard meludah.
“Lu tunggu aja ada waktunya lu yang mohon-mohon. Hahahhaa.” Sambung Richard.
Summer berdiri dan berjalan menginggalkan diikuti Mara dan Pak Bagas.
Mara berjalan lalu menyempatkan diri duduk di sebelah Richard. Diambilnya telunjuk tangan kanan Richard lalu ditekan untuk mematahkan jari telunjuk Richard yang tadi dipakai mendorong bahu Summer.
“Aaaarrrrggghhhh An***g!!!!” Teriak Richard memaki.
“Jalang!!!” Teriaknya lagi.
Summer tau kebiasaan sepupunya itu, hingga kini pun kebiasannya masih sama. Mencari wanita yang mirip dirinya lalu disiksa dan disetubuhi.
“Manusia hina.” Gumamnya.
Mungkin dulu Summer takut pada sepupunya itu, siapa yang tidak takut pada pria yang kurang waras dan menjijikkan begitu. Namun kini Summer sudah tidak takut apa pun lagi, dia bisa menatap mata Richard dengan tenang. Terlebih ada Mara yang sangat bisa diandalkan.
“Ketua silahkan masuk duluan.” Ujar Pak Bagas karna dia perlu bicara dengan Mara. Summer kemudian masuk ke dalam mobil.
“Hei kau, jaga Summer baik-baik ya.” Ujar Pak Bagas.
“Tentu.”
“Dan satu lagi.”
“Iya?” Mara menunggu pak Bagas melanjutkan omongannya.
__ADS_1
“Jangan pernah berani masuk ke kamarnya.” Ujar Pak Bagas dengan tegas seperti ayah yang melindungi putrinya.
“Astaga!” Sahut Mara kaget.
“Astaga. Memangnya aku pria apaan?” Ujar Mara menutup mulutnya tak percaya dengan perkataan Pak Bagas.
“Good.” Ujar Pak Bagas dengan perasaan lebih tenang, lalu masuk ke mobil.
Setelah Pak Bagas bicara sendiri dengan pria yang hendak membunuh Summer tadi malam, mereka memutuskan untuk melepaskannya dengan catatan bekerja sama dengan mereka.
Pria itu bernama Sebastian, seorang pembunuh bayaran. Dari ceritanya, Sebastian disuruh untuk membuat pembunuhan itu terlihat seperti perampokan dan dia siap untuk dipenjara, uang yang ditawarkan juga lumayan banyak.
Summer memberikan sebuah perekam suara kecil untuk Sebastian pakai bertemu bosnya. Kini Sebastian menjadi mata-mata untuk Summer.
“Ingat perkataanku tadi.” Ujar pak Bagas pada Mara saat dia akan pergi pulang dari rumah itu.
“Astaga!” Ujar Mara masih malu dicurigai.
Pak Bagas menekuk jarinya lalu menunjuk matanya lalu mata Mara. Kemudian pergi setelah membuat gerakan itu.
“Apa itu? Memangnya dia ayahnya?” Ujar Mara heran karna Rio dan Pak Bagas punya gerakan yang sama.
“Ya memang Pak Bagas ayahnya Rio.” Ujar Summer tiba-tiba dari belakang Mara.
“Hah!” Mara kaget mendengar suara Summer.
Summer terkekeh lalu masuk ke kamarnya untuk mandi.
Summer yang keluar dari kamarnya melihat Mara duduk di sofa tanpa melakukan apa-apa seperti anjing yang menunggu tuannya.
“Baru jam 7 malam ya.” Sambung Summer melihat jam dinding bermodel vintage di sebelah TV.
“Apa tanganmu masih sakit?” Tanya Mara melihat lengan atas Summer masih diperban.
“Lumayan. Tapi gak separah itu kok.” Sahut Summer menyalakan TV.
“Boleh aku lihat?” Tanya Mara.
“Ah iya, perbannya harus diganti karna kena basah.” Ujar Summer baru ingat.
“Perban barunya di mana?” Tanya Mara.
“Di laci situ.” Sahut Summer menunjuk lemari TV.
Mara kemudian mengambil ke tempat yang ditunjuk Summer dan kembali dengan membawa kontainer kecil berisi obat P3K.
Summer dengan pelan memegang tangan Summer dan memotong perban yang menempel di lengannya itu. Mara jadi salah fokus melihat jari-jari Summer yang sangat kecil. Summer yang tadinya fokus menonton jadi menoleh karna Mara cekikikan.
“Kenapa?” Tanya Summer.
“Tanganmu lucu sekali. Kecil.” Mara kembali ketawa.
“Tanganmu saja yang terlalu besar. Badanku cukup besar untuk seorang wanita tau.” Sahut Summer tak terima ditertawakan.
__ADS_1
“So cute.” Ujar Mara sambil menatap mata Summer.
Summer menggerakkan alisnya, anak ini ternyata sudah bisa memakai kata-kata bahasa inggris.
Mara kemudian melanjutkan membuka perban itu dengan hati-hati. Lalu dia mengerutkan kening melihat lukanya cukup besar.
“Tidak parah apanya?!” Ujarnya mengomel.
Summer mengedipkan matanya perlahan-lahan dan menatap wajah Mara yang dekat dengannya itu. Mara kemudian meniup luka itu sembari mengoleskan obatnya.
“Perih?” Tanya Mara kemudian menatap Summer namun kini wajah mereka menjadi terlalu dekat.
Summer terlihat tenang dan baik-baik saja menatap mata Mara, namun Mara tidak begitu. Dia hampir lupa bernafas, jantungnya sangat kencang dan mungkin terdengar ke telinga Summer.
“Perbannya.” Ujar Summer. Nafasnya menghembus ke wajah Mara sakit dekatnya wajah mereka.
“Huh?” Mara masih belum sadar.
“Kamu sudah bisa kasih perbannya.” Ujar Summer kemudian.
“Ah perban. Iya perban.” Mara kembali sadar dia sedang mengobati Summer. Sikapnya yang salah tingkah itu membuat Summer
tersenyum.
“So cute.” Ujar Summer. Kini giliran Summer yang mengatakan kata itu.
Mara tersipu malu sambil tertunduk dan fokus memberi perban ke lengan Summer.
“Itu ummm… sudah. Aku.. aku akan ke kamar.” Ujar Mara berdiri lalu berjalan hendak ke kamarnya, namun kembali lagi karna lupa belum menyimpan kotak P3K. Disimpannya kotak itu lalu berjalan cepat menuju kamarnya.
“Mara.” Panggil Summer.
Seketika Mara terdiam dan menoleh.
“Besok pagi sebaiknya pakai baju ya.” Ujar Summer.
Muka Mara semakin memerah mengingat kejadian tadi pagi. Mara berjalan terbirit-birit tanpa menjawab. Dia perlu ke kamar untuk menenangkan jantungnya yang rusuh sedari tadi.
“Aku tak tahu manusia bisa secantik itu.” Ujar Mara mengingat saat wajah mereka berdekatan tadi. Mara masih bisa merasakan lembutnya kulit tangan Mara tadi. Dia sampai sangat hati-hati menyentuh tangan itu karna takut tangan itu bisa remuk saat dipegang.
“Ah dasar jantung. Tidak bisa komproni sendikit pun.” Ujarnya menepuk dadanya.
Padahal dia masih sangat ingin ngobrol berdua dengan Summer. Namun jantungnya yang langsung meloncat-loncat, begitu pun tangannya yang jadi berkeringat membuatnya malu.
Keesokan harinya tingkah Mara tetap begitu, hingga Dua minggu berlalu.
Saat ada orang yang datang untuk mencelakai Summer, Mara akan menangkapnya lalu menaruh di ruang bawah tanah kemudian akan langsung masuk ke kamarnya. Mara akan menemani Summer saat bekerja, atau jika ada orang lain bersama mereka. Saat mereka berdua, Mara akan terlihat sangat gelisah lalu pergi ke kamarnya.
Summer jadi jengkel karna merasa Mara jadi berbeda. Dia merasa biasanya Mara selalu senang jika bersamanya. Tapi kenapa begitu kini?
“Bukannya dia menyukaiku?” Ujar Summer merasa tertipu. Dia tertawa sinis menidurkan kepalanya ke sandaran sofa.
Bersambung…
__ADS_1