Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Mimpi Indah


__ADS_3

Perusahaan Summer Sea jadi perusahaan paling stabil, paling sehat setelah dirombak habis oleh Summer. Pilihan terbaik untuk para investor mengucurkan uangnya, kepercayaan didapat dari Summer yang memberantas habis para koruptor. Summer terpilih menjadi pengusaha paling berani dan paling sukses di tahun itu.


Mereka tak tahu, bakat itu tak didapat semua orang tentunya. Selain itu bagaimana gilanya Summer bekerja, mencurahkan seluruh dirinya untuk memperbaiki Perusahaan yang sempat acak-acakan.


Dia mengalami masa terendah, dicap sebagai Perusahaan paling bermasalah. Banyak investor menarik uang mereka karena turunnya saham terus menerus selama 6 bulan setelah kejadian Praman.


Semua itu dilewati Summer berdarah, bernanah, habis-habisan. Gadis muda ini mampu membalikkan keadaan. Jika membahas ketekunan dan kegigihan, itu adalah bakat Summer, belum membahas encer otaknya.


Terlebih dia akan turun tangan sendiri jika pekerjaan itu penting. Bukan tak percaya bawahannya, dia ingin semuanya sempurna.


Orang melihat Perusahaan Summer Sea menjadi semakin besar, tapi isinya adalah karyawan yang diperas habis otaknya, sampai-sampai mereka pun tak habis pikir bisa mengerjakan pekerjaan sehebat itu.


Beberapa kali dia dipanggil ke kampus dalam dan luar negri sebagai contoh orang sukses. Dia terkenal dengan julukan ‘Miss Push the Limit’. “Kau akan tau sehebat apa dirimu jika bekerja di bawah CEO Summer Sea”.


Perkataan positif, semangat yang akan terlontar, berlagak seperti motivator, Summer adalah orang yang hancur. Menyibukkan diri karena rindu yang sangat dalam pada seorang pria yang tak kunjung pulang.


6 Bulan terakhir Summer beberapa kali diving di tempat dia janjian dengan Ibunya Rita, berharap dia bisa menemukan Mara yang siapa tahu sedang melintas. Seandainya dia tahu dimana tepatnya penduduk Kulum tinggal, Summer akan nekat berenang ke dasar laut yang lebih dalam.


Tak bisa terlalu sering karena laut cukup jauh dari ibu kota, Summer hanya akan menyempatkan diri berenang sembari bertemu dengan ibunya. Dia senang bisa menjemput ibunya dari dalam air, dan bersama naik ke kapal.


"Kamu bener-bener gak takut ya ke laut sendirian terus begini."


"Aku sudah biasa Ma. Malah aku sudah merasa akrab dengan laut."


"Mara belum pulang." Ujar Rita langsung memberi kabar yang pasti akan ditanyakan Summer.


"Begitu." Summer berusahan tegar.


"… Tak apa. Aku bisa menunggu selama apapun itu." Sambungnya tersenyum teguh.


*****


Summer pulang lagi-lagi dengan tangan kosong. Masuk ke kamar Mara, mandi lalu memakai pakaiannya dan tidur di kasur Mara.


Berdoa dalam hati, menunggu tak apa. Dia bisa menunggu selama apapun itu. Yang pasti Mara suatu saat akan kembali. Kamar yang dia tiduri setiap malam ini pun, tidak akan diubah. Semua masih sama seperti saat Mara ada.


Akhirnya tertidur lelap memeluk selimut putih, dan Kaos putih gombrang milik Mara.


Tangan besar dengan jari yang panjang mengelus wajah lelap. Membelai rambutnya agar tak menutupi wajah. Rambut hitamnya kini telah panjang mungkin sepunggung.


Pria itu menidurkan wajahnya di depan wajah Summer. Nafasnya yang berhembus menyentuh lembut wajah Summer. Mata tertutup itu tergerak, perlahan terbuka.

__ADS_1


Summer menatap wajah familiar yang ada di hadapannya. Air matanya langsung menetes tak percaya.


Disentuhnya wajah itu, tangannya gemetar ragu. Rambut putih dan mata kuning terang menatapnya dalam tapi. Dia terlihat sangat sedih.


Dipegangnya tangan lembut Summer yang menempel di wajahnya, diciumnya telapak tangan itu.


"Mara." Panggil Summer lirih. Menarik wajah yang dirindukannya itu dan memeluknya erat.


Summer terbangun karena suara alarm terus berdenging. Air mata masih ada di pipinya, dia sontak menelisik seluruh kamar dan meraba kasurnya. "Mimpi?" Ujarnya lirih.


Menyesal sekali terbangun dari mimpi indah. Mimpi itu terasa sangat nyata, Nafas Mara, suhu tangan yang menyentuh tangannya, Wajah sedihnya, semuanya sangat jelas. Apa karena Summer sangat merindukannya?


Pedih sekali, itu hanya mimpi. Jika dibilang tak apa yang penting bisa melihat wajah Mara, tetap saja sakit sekali rasanya.


*****


Keesokan harinya Summer mengalami mimpi yang sama lagi. Mara datang membelai wajahnya, dia terbangun langsung memeluk erat Mara. Wajah pria itu masih sama, terlihat sangat sedih.


"Tolong kali ini aku tak ingin terbangun." Pintanya.


Tapi dia kembali bangun dengan kamar yang kosong.


*****


"Rambutmu sudah sangat panjang." Ujar Summer menyentuh rambut tebal Mara yang ikal berwarna putih. Bola mata kuning terang namun selalu terlihat sedih.


"Rambutmu juga."


"Kau suka?"


"Ya. Kau selalu terlihat cantik."


"Kau selalu terlihat sedih."


"Aku sangat merindukanmu, Summer."


Kembali Summer tersentak dari tidurnya karena alarmnya berbunyi. Aneh sekali, perasaan dia mematikan alarm semalam agar tak mengganggu.


Dia baru sadar malam kemarin laginya pun dia mematikan alarmnya.


Kali ini dia sangat yakin, ada yang aneh. Apa Mara datang bukanlah mimpi?

__ADS_1


Seharian Summer berpikir keras, mencari tahu di internet jenis mimpi yang dia alami. Ada beberapa jenis mimpi seperti berjalan sesuai kemauan orang yang bermimpi. Tapi apa memang begitu?


Summer belum berani mengecek cctv, takut jika semua itu adalah mimpi dan dialah yang gila.


Malamnya, Summer dengan segala kecurigaannya mencabut baterai jam dan menyembunyikannya. Jika pagi masih berbunyi, artinya itu bukan mimpi. Dia berniat berpura-pura tidur, sudah menenggak dua gelas kopi agar tak tertidur.


Terus menanti dengan menutup mata tapi menajamkan telinga.


Setelah lama tenggelam dalam banyak kecurigaan dan kemungkinan yang dia pikirkan, dia bisa mendengar suara kode pintu depan yang berbunyi diikuti pintu yang terbuka. Jantung Summer berdegup kencang, badannya panas dingin. Entah karena kafein atau bahagia.


Perlahan pintu kamar terbuka, Summer semakin berkeringat. Dia menanti agar orang itu mendekat. Anehnya orang itu hanya berdiri menatap dari depan pintu. Bagaimana jika orang itu bukan Mara tapi perampok atau semacamnya?


Tak ingin kehilangan kesempatan, Summer memberanikan diri pura-pura terbangun. Seorang pria tinggi berdiri dengan wajah yang kurang jelas namun matanya menyala, dia menyalakan lampu tidur.


Yang dia saksikan adalah wajah Mara tertegun.


"Mara." Panggil Summer duduk.


Mara tak menyahut. Summer turun dari kasur menghampirinya.


"Kau tak tidur?"


Summer berhenti, apa dia yang tak tidur mengecewakan Mara. Jantung Summer terus berdegup kencang, itu semua bukan mimpi.


"Mara… kukira ini semua mimpi." Summer mendekat pelan lalu memeluk erat Mara.


Mara hanya diam tak membalas pelukan itu. Summer menatap ke atas. Mata kuning terang itu meneteskan mutiara.


"Maafkan aku. Maafkan aku. Jangan menangis. Maafkan aku, Mara." Summer berlutut memeluk kaki Mara.


Mutiara semakin banyak berjatuhan. Summer semakin panik.


"Semua karena aku. Maafkan aku, Mara." Summer berdiri. "… Dadamu sakit? Huh?" Tangannya ragu menyentuh dada bidang tertutupi pakaian. Summer menggigit bibirnya, bingung harus bagaimana. Dia akhirnya menangis menunduk menutupi wajah dengan tangannya.


"Aku harus bagaimana? Beri tahu aku, Mara. Aku akan lakukan apapun."


"Aku ingin menciummu."


Summer langsung menyambar meraih bibir itu, menjinjit kaki, menarik leher pria itu agar menunduk. Air mata masih terus menetes selagi Summer mencium erat. Mara maju, menggenggam leher kecil di tangannya yang besar. Berjalan maju menyeret, tak mengijinkan bibir itu terlepas. Karena gemas, Mara mengangkat dan menggendong tubuh itu. Mereka berciuman setelah sekian lama tak bertemu namun tampak sedih, seperti ini adalah hari terakhir untuk mereka.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2