
“Kamu sudah bekerja keras.” Ejek Summer. Richard sampai membawanya jauh sekali untuk mencelakainya.
“Plak!” Suara tamparan keras di pipi Summer.
Wajah Summer kini merah berbekas tangan.
“Cuhh!” Summer membuang ludah dan menatap tajam Richard.
Tanpa belas kasih, Richard menendang perut Summer dengan kencang sehingga badan Summer terlempar.
“Arghh!” Summer merintih kesakitan, badannya meringkuk menekan perutnya yang sakit.
“Hahahhah. Dasar pengecut. Lawanmu selalu orang lemah!” Bukannya takut, Summer malah menertawainya.
“Tutup mulut lo!!!” Teriak Richard kembali menampar Pipi Summer sampai bibirnya berdarah.
Rambut Summer kini acak-acakan. Matanya membendung air nafasnya putus-putus, mulutnya lebam.
Masa ini adalah masa yang paling ditunggu Richard. Masa dimana dia bisa menyiksa Summer dengan tangan sendiri. Persis seperti ayahnya menyiksanya.
“Ambil tongkat golf di mobil.” Perintah Richard. Salah satu dari tiga pria yang di situ langsung berlari ke mobil dan kembali dengan tongkat golf.
“Lo pasti tak tahu menahu rasanya dipukul dengan ini. Gue bertahun-tahun hidup dengan bekas pukulan dari tongkat ini. Saat bekas itu hilang, Praman akan kembali mukulin gue dan bekas itu akan bertahan lama sampai 3 minggu? Tak pernah sehari pun di badan gue tanpa bekas pukulan!!!!!” Teriak Richard sekuat tenaga, matanya membelalak hingga bola matanya hampir keluar.
Richard jongkok untuk melihat wajah Summer. Ditariknya wajah itu.
“Wahhh lu cocok banget begini, Summer. Wajah ini yang pengen banget gue lihat. Gue sering mimpiin wajah lu yang babak belur begini. Tau lah, mukulin wanita yang mirip lo itu gak ada apa-apanya dibandingkan langsung mukulin lo. Rasanya gue bahagia banget sekarang.” Ujarnya tertawa senang.
“Kau dan Papamu sama menyedihkannya.” Ujar Summer dengan tatapannya yang masih kuat meskipun wajahnya remuk.
““Kalian ngelakuin itu untuk menutupi Inferiority Complex dalam diri kalian. ” Sambung Summer lagi sambil tertawa, air mata Summer menetes.
“Menangis saja ******! Jangan sok kuat!” Teriak Richard lalu melempar wajah Summer ke lantai.
“Memohon lah. Siapa tau aku akan berbaik hati untuk tidak membunuhmu.” Ujar Richard merasa berkuasa.
“Papa dan anak sama saja. Papamu juga mencelakai Papaku.” Ujar Summer.
“Lo udah tau itu? Hahahah.” Richard malah tertawa ceria.
“Seharusnya lu mati saja saat gue tabrak dengan truk! Pergi bersama nyokap dan bokap lu.” Sambungnya membelalak dan tertawa sinis.
“Ah kamu orangnya.” Ujar Summer tertawa kecil.
“Kalian benar-benar Ayah dan anak. Persis sama.”
__ADS_1
Richard menyahut dengan tertawa.
“Inferiority Complex.” Hina Summer.
“Apa katamu?” Richard rasanya sangat kesal disebut tidak percaya diri.
“Iya. Kalian tau kalian kecil dan tak kompeten. Karna itu kalian ingin menyingkirkan orang yang mungkin nanti akan menyingkirkan kalian.” Summer tertawa matanya melotot menantang.
Richard langsung mengayunkan tongkat golf dan memukul punggung Summer hingga tawanya terhenti menjadi erangan sakit.
Dia mengayunkan lagi tongkat itu namun tiba-tiba Ricard terjatuh terlempar karna ditendang.
Mara sangat cepat berlari hingga tak sempat dicegat 3 pria besar yang berjaga di belakang Richard.
Mara menatap Summer di lantai yang sedang mengerang kesakitan. 3 pria itu berlari dan membawa tongkat lalu mengayunkannya ke kepala Mara. Dengan sigap Mara menepis dan memukul mereka satu persatu, tak perlu banyak pukulan, cukup memukul ulu hati mereka seperti jurus Ox yang pernah dia lihat. Mereka langsung terkapar dengan rasa sakit yang luar biasa.
Damar berlari ingin membantu Summer berdiri. Dia membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Summer.
Mara segera menggendong Summer, namun Richard dari sisi sana berdiri dan memukul punggung Mara dengan tongkat golf.
“Aku akan membawa Non Summer ke mobil.” Ujar Damar.
Mara menurunkan Summer, kini Damar membantu Summer berdiri.
Mara meloncat menendang kepala Richard, kepala itu langsung melayang bersama tubuhnya. Darah bercucuran dari mulut Richard, kepalanya seperti geger, matanya sudah layu.
Richard mengerang di lantai, Mara kemudian menendang perutnya hingga Richard kembali terpelanting. Dari wajah Mara bisa ditebak dia akan membunuh Richard saat ini juga.
Summer berlari tertatih dibantu Damar. Di peluknya tubuh Mara dari belakang.
“Sudah. Nanti dia bisa mati.” Ujar Summer menenangkan binatang buas itu.
“Aku tak ingin kamu masuk penjara. Aku tak ingin ditinggal sendiri.” Ujar Summer menangis hingga air matanya membasahi baju Mara.
Mara membalikkan badannya dan memeluk Summer. Badan itu ringkih dan gemetar, bibirnya masih berdarah.
Mara menitikkan air mata hingga menjatuhkan beberapa mutiara di lantai. Dia memeluk Summer sangat lembut agar tak menyakitinya.
“Maafkan aku.” Ujar Mara menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi pada Summer.
“Maaf aku datang terlamb… argh!” Tiba-tiba Mara mengernyit.
Summer melihat ke bawah, Richard yang habis merangkak membacok betis Mara dengan pisau kecil. Darah langsung bercucuran ke lantai.
Wajah Summer langsung berubah, Mukanya seperti kehilangan kesadarannya. Dia lngsung melepas peluknya dan menginjak tangan Richard yang di lantai. Diinjaknya berkali-kali tangan sekuat tenaga. Tak puas, Summer langsung duduk di atas badan Richard dan memukuli wajahnya seperti orang gila.
__ADS_1
“Brengseeeeekkkkkkk!!!!!! Berani beraninya kau melukai kakinyaaa!!! Bangsaaaat!!!!!!!! Kau tak tau kaki itu berhargaaaaaaaa!!!!!” Teriak Summer sekuat tenaga sambil meninju bertubi-tubi wajah Richard yang sudah pingsan.
Summer telah kehilangan kendali, itu pertama kalinya dalam hidup Summer semengamuk itu. Dia tak peduli wajah Richard yang sudah berdarah-darah, begitu pun tangannya.
“Aaaaarrrrgggghhhhhh!” Teriak Summer memukul dengan cepat.
Mara semoat tertegun melihat sikap Summer, segera dia mengangkat badan Summer.
Summer meronta-ronta merasa belum puas.
“Aku harus membunuhnya!!!!!” Teriak Summer agresif. Badannya bergerak terus ingin meloloskan diri agar bisa menghabisi Richard hingga terkuras nyawanya.
“Summer. Summer. Aku tidak apa-apa.” Ujar Mara mendekapnya.
Mara mendudukkan Summer diam di atas box kayu.
“Lihat. Lihat kakiku.” Ujar Mara menunjukkan lukanya yang tertutupi darah. Mara melap darah tersebut dengan tangannya, dan terlihat sudah tidak ada luka. Sembuh dalam sekejap.
Summer melihat itu, nafasnya masih cepat tak karuan. Pelan-pelan wajah Summer berubah, dan dia pun akhirnya menangis.
Menangis sangat kencang diikuti dengan suara sirene polisi yang datang bersama dengan Pak Bagas.
Polisi dan Pak Bagas segera berlari masuk dan menemukan Richard terkapar bersama 3 pria lainnya. Damar pun ada di sana menemani.
“Ketua.” Pak Bagas berlari menghampiri dengan wajah sangat khawatir.
“Kau harus dibawa ke Rumah sakit.” Ujar Pak Bagas pada Summer yang masih terus menangis.
Saat Summer di tendang, dipukul dan dihina, tak sekalipun dia sedih dan menangis, tak ada rasa takut sedikit pun.
Namun ketika Mara disakiti, Summer rasanya ingin membunuh orang itu berkali-kali, rasa takut akan kehilangan menguasai tubuhnya.
Mara menggendong Summer ke mobil dan memberinya selimut. Di mobil Summer terus menyender ke bahu Mara dengan mata tertutup.
Mara menemani Summer terbaring di Rumah Sakit. Summer akhirnya tertidur setelah diperiksa oleh dokter. Rasanya sangat sakit melihat Summer terbaring lemah dengan wajah dan bibir yang lebam. Dia ingat kembali pertama kalinya mereka bertemu, keadaan Summer juga sama parahnya.
“Kenapa kau terluka lagi.” Gumam Mara mengelus kepala Summer.
Berita malam itu dihebohkan dengan Richard yang akan ditahan. Namun karena kondisi Richard yang sangat parah, dia harus di rawat dahulu di Rumah Sakit sebelum dia diinterogasi. Di depan kamarnya ada 4 polisi berjaga menunggu Richard siuman.
Clara di rumah gelisah setelah dapat kabar putranya tersebar di segala berita TV. Praman marah dan membanting-banting barang di ruangannya. Setiap suara lemparan barang terdengar, Clara ikut terkejut dan ketakutan.
Dengan kondisi seperti ini, tentu mereka tidak akan keluar rumah apalagi pergi menjenguk putranya di Rumah Sakit. Sebisa mungkin mereka akan menghindari wartawan dan pertanyaan polisi.
Bersambung…
__ADS_1