Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Rekaman (2)


__ADS_3

“Kamu baik-baik aja?” Tanya Mara selanjutnya setelah dibujuk dan akhirnya duduk di sofa.


“Kenapa memang?” Summer tak mengerti apa yang dibahas.


“Kau bertemu dengan orang yang mencelakai Papamu, dan membicarakan itu pula. Sementara selama ini kamu bersikap tegar seperti tak tahu apa-apa tentang mereka yang mencelakai Papamu.”


Summer bungkam terpatung, entah kenapa bibirnya berat bergetar. Matanya sontak melihat ke bawah menyembunyikan ekspresi.


Setelah ditanya langsung begini, bagaimana Summer bisa berlagak baik-baik saja? Semua kemarahan, keresahan yang dipendam tertumpuk di balik wajah dinginnya, harusnya tak terkuak. Harusnya dia terlihat biasa saja agar terlihat tak lemah.


“Summer?” Kebungkaman gadis ini menghancurkan hatinya, ternyata ini sangat berat bagi Summer.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Mara memeluk bahu kecil itu dengan erat.


Perlahan air mata Summer berjatuhan tanpa suara menangis. Hanya wajah kaku yang berusaha tegar namun air mata tak kompromi.


Perasaannya yang paling terdalam ternyata bisa ditelisik pria ini. Yang bahkan Sara saja bisa tak menyadari, Summer berusaha sangat keras meyakinkan dirinya baik-baik saja selama ini, dan orang seharusnya melihatnya begitu.


Saat Richard menculiknya, dia tak menyangkal ditanya apa Praman yang mencelakai orang tuanya, sejak itu Summer tak pernah sekali pun merasa tenang.


Terlebih jika harus berpapasan dengan Om yang dia benci itu. Rasanya dia ingin sekali mencabik-cabik wajah tamak itu dengan tangannya sendiri.


Tapi semua ditahannya sekuat tenaga, demi mempertahankan perusahaan yang dibangun Papanya.


Dia tau tak bisa semena-mena menurunkan orang dari jabatannya dengan bukti yang kurang kuat, dia bisa kalah juga jika tergesa-gesa dan tak hati-hati.


Summer bisa menilai hal yang paling berharga bagi Praman adalah kedudukannya. Menyiksanya dengan kehilangan jabatan secara telak adalah balas dendam terbaik.


Jika ditanya apa berat bertemu Harith? Tentu saja. Karena itu Summer tak ingin berlama-lama. Jika tidak, pertanyaan “Kenapa kalian membunuh orang tuaku?” Akan terselip dari bibirnya. Jika kata itu sudah keluar, dia akan menjadi orang yang lemah dan merengek.


Sebisa mungkin dia berlagak tangguh, dingin, agar tidak tertebak.


“Gak apa apa.” Mantra Mara menenangkan sambil menepuk lembut pundak Summer yang bergetar.


“… Kamu terlihat kuat dan tangguh kok.” Sambungnya.


Summer jadi curiga.


“Ya… yakin kamu gak bisa baca pikiran?”


Ujarnya menyapu air mata sesenggukan.


“Kayaknya aku terlalu mengenalmu aja.” Mara menyahut bangga.

__ADS_1


“Iya. Kamu terlalu kenal aku. Jadi serem.” Summer jadi tersenyum.


“Aku seram?” Mara membelalak.


“Iya. Gak ada yang bisa aku sembunyiin dari kamu.” Summer merasa dirinya transparan di depan Mara.


“Ada yang ingin kamu sembunyikan?” Tanya Mara khawatir.


“Hmmm… kalo gitu aku gak boleh kasih tau dong. Kan pengen aku sembunyiin.”


“Iya juga.” Mara berharap dia bisa bebas menembus baca semua pikiran Summer. Kekhawatiran, kesenangan, kesedihan semuanya jika bisa.


“… Sudah malam. Kamu harus istirahat.” Sambung Mara sambil berdiri.


Summer menoleh jam tangannya mengangguk kecil.


“Iya. Aku belum mandi lagi.”


“Sudah malam, harus mandi?”


“Aku keringetan banget.”


“Ya sudah. Goodnight Summer.” Mara mulai melangkah setelah memberi salam untuk berpisah ke kamar masing-masing.


*****


Seminggu setelah pertemuannya dengan Harith, rekaman saat Summer diculik Richard dipublikasikan di internet. Semenit rekaman itu ter-copy beratus ribu hingga jadi headline di berbagai stasiun TV dan semua media online.


“Berikut rekaman yang beredar malam ini. Belum ada komentar dari Direktur Praman dan CEO Summer Sea sendiri. Hal tersebut membuat kasus kecelakaan Rudi Wicaksono kembali dibuka untuk diselidiki…” Terdengar narator dari acara berita yang ditonton oleh Nindi di kosannya.


Nindi sadar suatu saat rahasia Papanya akan terungkap. Namun dia tak menyangka kematian Rudi Wicaksono adalah ulah papanya juga.


Bagaimana rasanya jadi putri seorang Pria seperti itu? Tentu saja Nindi merasa dosa Papanya menurun padanya, dia merasa sama beratnya. Bagaimana pun dia orang yang lari tanpa berusaha memperbaiki orang tuanya.


Tapi jika ingin memperbaiki, apakah bisa? Mengenal karakter ayah dan ibunya, dia mungkin tidak punya kesempatan untuk bicara apalagi didengar.


Sudah sebulan Nindi tak bertemu Summer karena sibuknya kuliah dan pekerjaannya. Kali ini apa yang harus dia katakan pada Summer? Dia bingung harus bersikap apa.


Tiba-tiba sebuah notif masuk ke ponselnya.


“Nindi, jangan dipikirkan. Kau akan tetap jadi temanku. Tak peduli ayahmu bagaimana.” Pesan dari Summer cukup memuntahkan air mata. Nindi yang seharusnya menenangkan namun dapat penenangan dari Summer.


Dibenamkannya wajahnya di kedua lengan, ingin berteriak tapi tentu tak ingin orang mengetuk kamarnya karena dia berisik. Maka Nindi hanya bisa menangis menahan suara karena dinding kosannya amat tipis.

__ADS_1


Rasanya tidak adil lahir dari orang tua seperti itu. Bahkan kenapa dia harus dilahirkan. Jika bisa memilih dia lebih ingin tidak lahir sama sekali. Dibanding duduk menangis di kamar kecil yang dingin dan hampa. Tak ada tempat pulang yang namanya keluarga. Tak tahu apa itu kasih sayang dari orang tua, tak tahu apa itu diajarkan bagaimana cara bertahan hidup.


Seharusnya Nindi langsung tidur setelah pulang dari bekerja karena lelah dan sudah malam. Di ponselnya tertulis sudah pukul 03.00 dini hari, Namun gadis itu masih berkutat dengan tangisnya.


*****


Seperti yang diharapkan, dini hari setelah publikasi rekaman yang di dapat dari gelang Summer saat diculik, reporter menyerbu kediaman Praman. Berharap pagi saat buruan mereka keluar rumah, mereka bisa mendapatkan komentar untuk ditulis.


Praman yang menilik dari tirainya, di luar gerbang reporter memadati jalan. Dia mendecak kesal namun tidak berniat mengurung diri di rumah. Seperti biasa, dia akan bersikap seperti biasa saja, tak tahu apa-apa dan tak berdosa.


“Apa sebaiknya jangan kerja hari ini Pa?” Tanya Clara setelah melihat situasi di depan gerbang rumahnya.


“Tau apa kamu.” Sahut Praman ketus.


Clara akhirnya menutup rapat mulutnya, dibanding mendengar amukan suaminya jika terlontar sepatah kata lagi.


“Halo.” Ujar Praman menyahut telpon dari wakil direktur, Harith.


“Direktur, saya akan jemput anda.” Ujar Harith berinisiatif seperti perhatian di kesusahan Praman.


Praman berdehem. “Secepatnya.” Perintahnya dengan nada Bos Besar, lalu menutup telpon.


*****


Seorang pria paruh baya memasuki ruangan Praman, dia adalah salah satu pengikutnya yang juga memiliki prran penting di Perusahaan. Orang yang mengenal para pemilik Perusahaan media, dan yang berhubungan langsung dengan mereka.


“Tidak becus.” Maki Praman begitu batang hidung pria itu muncul di ruangannya.


“Maaf Direktur, saya sudah mengurusnya dari semalam. Tapi memang terlalu marak seperti jamur sehingga sulit.” Sahutnya menunduk.


Kata-kata yang tak diharapkan Praman, membuatnya melempar tag nama di mejanya ke Pria yang menunduk itu. Benda berat yang mendarat di kepala pria itu menyebabkan darah menetes ke lantai karena dia masih tetap menunduk.


“Keluar!” Perintah Praman.


Pria itu berdiri hingga darah kini menetes ke wajahnya, namun penampakan itu tak menumbuhkan rasa bersalah bagi Praman. Di pandangannya adalah orang ini tidak berguna.


Pria itu melangkah keluar ruangan meninggalkan Praman yang membusungkan dada bernafas masih murka.


“Langsung ke Rumah Sakit saja.” Ujar Harith yang berpapasan dengan pria terluka itu karena hendak masuk ruangan Praman.


Pria itu tetap diam dan melanjutkan langkahnya. Dia adalah salah satu Pria yang memberikan dokumen bukti penggelapan dana Praman pada Summer.


“Aku akan melemparmu juga dengan tag namaku saat kau ditangkap polisi nanti.” Gumamnya menyeringai.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2