Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Kemeja Putih


__ADS_3

“Ketua. Maaf tadi ada kecelakaan.”


“Aku dengar tadi. Lalu pak Bagas bagaimana keadaannya?”


“Tak terlalu parah.”


“Aku sedang ke sana. Tolong segera ke rumah sakit.”


“Iya sudah di rumah sakit. Tak terluka parah, jangan khawatir.”


“Di rumah sakit mana?”


“Rumah sakit X, Ketua. Kau tak perlu datang.”


“Baik.” Ujar Summer lalu mematian telpon.


Perjalanan di pesawat akan memakan waktu 5 jam hingga mereka sampai di tujuan.


“Ah iya ini pertama kalinya kau naik pesawat ya.” Summer melihat Mara yang sedikit tegang, memegang pembatas kursinya. Dipegangnya tangan yang kaku itu agar lebih rileks.


“Setelah ini kamu akan terbiasa. Aku akan sering-sering membawamu naik pesawat.”


“Iya.” Mara hanya menjawab singkat, menenangkan jantungnya yang serasa melayang setiap kali pesawat turun dan naik lagi.


Sesampainya di kota tujuan mereka, Summer dan Mara langsung memesan taxi menuju Rumah Sakit. Summer berlari-lari ke ruangan tempat Pak Bagas, diikuti dengan larian kecil Mara.


Saat pintu ruangan bertuliskan 17F tersebut dibuka, terlihat Pak Bagas sedang menelpon. Kepalanya dibaluti perban, begitupun tangan sebelah kanannya diberi gips, menggantung perban dilehernya untuk sebagai gendongan tangan itu.


“Aku telpon nanti lagi ya.” Ujar Pak Bagas menutup telpon setelah melihat Summer tiba.


“Bu Ayu?” Tanya Summer menebak siapa yang menelpon.


“Iya.”


Sementara Summer duduk di kursi yang disediakan Mara untuknya, di sebelah kasur Pak Bagas.


“Bagaimana keadaanmu, Pak Bagas?”


“Yahhh begitu saja. Kepalaku terbentur ke kaca samping mobil, tanganku kananku patah. Beruntung kakiku gak perlu digantung seperti ini.” Ujar Pak Bagas menatap tangannya yang di gipsy.


“Maaf Pak Bagas.”


“Kok malah Ketua yang minta maaf. Orang mabuk yang menabrak.” Ujar Pak Bagas sambil menyengir.


“Tetap saja aku minta maaf.”


“Untuk apa?”


“Karena aku, pak Bagas jadi ikut dicelakai.”


“Ketua. Menurutmu aku sengaja dicelakai?”


“Iya.”


“Hmmm. Ini bukan salahmu, Summer.” Akhirnya Pak Bagas memanggil Summer dengan nama.


“Aku ingin pulang saja.”


“Pak Bagas yakin kuat di jalan dengan kondisi begini?”

__ADS_1


“Ini tak seberapa. Paling bagus kalo aku dirawat di ibu kota, agar istriku bisa bolak balik Rumah Sakit.”


“Baiklah. Aku akan sewa jet pribadi saja.”


“Ah jangan Summer! Buang-buang uang aja kamu.”


“Tapi keadaan Pak Bagas tuh…”


“Bisa. Percaya aja. Kau pikir aku lemah karena sudah tua?” Canda Pak Bagas.


“Iya.” Sahut Summer tegas.


“Ck dasar.” Pak Bagas jadi tersenyum karena memang 57 tahun itu dia sudah lumayan tua.


“Karena itu carilah sekretaris baru. Aku sudah tua, aku akan pensiun.” Sambung Pak Bagas.


“Iya iya Pak Bagas. Kalau ingin pensiun boleh. Asalkan sembuh saja dulu.”


“Ck. Aku tetap gak bisa tenang. Tak ada sekretaris sekompeten aku. Hah…”


Summer tertawa, ucapan itu memang benar. Dia adalah kunci Summer bisa melangkah sejauh ini.


“Untuk hari ini istirahat saja dulu, besok kita akan pulang bareng.” Ujar Summer.


“Aku dan Mara akan mencari hotel terdekat.” Sambungnya.


“Pisah kamar!”


“Hah! Apa sih Pak Bagas.” Mara nyeletuk.


“Awas saja jika kalian tak pisah kamar.”


“Kami tidak akan pisah kamar tuh.” Sahut Summer seperti anak yang sedang berontak pada orang tua.


Pak Bagas dan Mara langsung menganga dengan keberanian gadis 21 tahun ini.


“Wah, bersyukur lah tanganku dibungkus begini. Kalau gak, pasti sudah kujitak.”


“Hahaha. Aku sangat bersyukur. Kalau begitu kami pamit dulu ya Pak Bagas.” Ujarnya berdiri memberi salam, setelah bercanda.


“Pisah kamar!” Teriak Pak Bagas tak menyerah padahal mereka sudah keluar ruangan.


“Ck dasar orang tua yang gak ngikutin jaman.” Gerutu Summer.


Mara hanya senyam senyum melihat sikap Summer seperti tak ingin mereka dipisahkan kasur. Begitu pemikirannya.


Namun…


“Aku akan tidur di kamar ini, kamu di kamar yang satunya ya.” Ujar Summer menunjuk kasur.


“Bukannya kita satu kamar?”


“Wahhh haha aku gak nyangka pikiranmu begitu, Mara.”


“Pikiranku begitu gimana?”


“Ah sudahlah. Aku mau mandi. Tolong ke kamarmu.” Summer mengusir pria yang berwajah murung itu.


Summer akhirnya hanya mengenakan jubah handuknya karena pakaiannya sedang diserahkan ke laundry ekspress. Saat dia mondar mandir pun, Mara terlihat tak keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Summer penasaran apa Mara sudah tidur padahal mereka belum makan.


Dibukanya kamar Mara, seperti biasa tak pernah mengunci kamar. Terlihat Mara tidur terlelap bertelanjang dada dan hanya memakai boxernya.


Dia menggantung kemeja dan celananya mungkin supaya tak lecek jika dipakai lagi besok. Mereka bahkan tak sempat membawa baju karena terburu-baru langsung dari kantor ke bandara. Tak ada membawa apapun kecuali handphone dan dompet.


Ingin pergi membeli pun sudah terlalu malam, tidak akan ada toko yang masih buka.


Summer perlahan mendekati Mara yang tidur pulas.


“Tumben kamu tidur belum makan.” Bisik Summer pelan agar tak mengganggu tidurnya.


Dia sudah memesan layanan hotel untuk makan malam mereka, namun pria besar ini sudah tumbang duluan. Summer jadi penasaran bagaimana suara perut Mara yang tertidur meskipun lapar.


Perlahan dia menempelkan telinganya ke perut Mara. Otot perut Mara masih tetap kelihatan meskipun dia tertidur. Namun entah kenapa kulitnya halus padahal terlihat kekar. Tak cukup menempelkan telinga, jari Summer bergerak nakal menyentuh kulit perut.


“Hmmm?” Mara jadi terbangun dan menemukan Summer menidurkan kepala di perutnya.


“Summer?” Ujarnya serak.


Summer langsung berdiri tegak dan tersenyum. “Maaf, kamu jadi kebangun ya.”


“Umm tapi… kau habis mandi?” Mara melihat Summer hanya mengenakan handuk kimono.


“Iya aku sedang melaundry pakaianku. Nanti juga diantar. Kamu gak laper?”


“Laper.”


“Iya perutmu tadi kedengeran kerucukan.”


“Ah kamu tadi lagi dengerin perutku?” Mara jadi tersenyum malu.


“Makanannya belum dateng, tadi sudah aku pesan.”


“Ohhh… umm sebaiknya kamu memakai kemejaku dulu.” Ujar Mara mengalihkan pandangannya tak kuat melihat Summer hanya memakai handuk.


“Ah begitu. Sebentar.” Summer kemudian mengambil kemeja yang tergantung lalu ke kamarnya.


Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.


“Mara tolong ambilkan.” Teriak Summer dari kamarnya.


Mara langsung bergerak turun dari kasurnya. Dibukanya pintu, dan bersembunyi di balik pintu karena dia hanya mengenakan boxer, ada petugas hotel yang sedang mengantarkan makan malam mereka.


“Bajuku atau makanan?” Ujar Summer tiba-tiba muncul.


Mara melotot melihat penampilan Summer yang baru keluar dari kamar, dia segera menarik makanan itu dari pramusaji dan buru-buru menutup pintu.


“Trolinya.” Tunjuk Summer.


Karena terburu-buru tanpa sadar jadi memasukkan semuanya bersama troli-trolinya.


Dia kemudian menindahkan makanan ke meja lalu buru2 mengeluarkan troli dan meminta maaf dengan posisi menyembunyikan badan di balik pintu lagi.


“Wahhh aku sudah lapar.” Ujar Summer sangat santai menghampiri meja.


“Itu… umm… argh!” Teriak Mara akhirnya.


Summer jadi kaget dan bingung apa maksud Mara bersikap begitu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2