
Summer memutuskan untuk minum wine, karna moodnya sangat buruk malam itu. Kebetulan besok adalah weekend, tidak akan bekerja. Malam yang cocok untuk minum alkohol.
Dia turun ke ruangan bawah tanah, tiba-tiba Mara muncul dari belakang menemani.
“Ck. Kamu bisa dengar ya aku mau turun.” Ujar Summer dengan wajah sinis.
“Iya.” Sahut Mara.
“Baguslah. Kamu bisa temani aku minum, tapi kalau gak mau ya udah.” Summer berbicara dengan nada rada kesal.
Mara tetap diam dan mengikuti Summer dari ruangan bawah tanah sampai ke ruang tengah dan duduk si sofa.
“Huh?” Summer memoncongkan mulutnya dan alisnya naik.
“Tumben mau nemenin.” Sambungnya.
Mara tetap diam karna bingung dengan sikap Summer.
Summer membuka botol wine itu lalu menaruhnya di gelas.
“Mau minum?” Tanya Summer menyodorkan gelas wine.
“Tidak.” Sahut Mara.
“Ah ya sudah.” Ujar Summer lalu menenggak alkohol berwarna merah.
“Kau. Apa kau punya pacar?” Tanya Summer.
“Pacar?”
“Iya pacar. Hubungan dimana kamu dan wanita sama-sama suka.” Ujar Summer menjelaskan.
“Ah.” Mara berpikir.
“Apa kita pacar?” Ujar Mara kemudian.
“Tentu tidak.” Sahut Summer menggeleng-gelengkan kepala.
“Begitu. Berarti tidak ada.” Ujar Mara.
Summer menenggak lagi alkoholnya.
“Kau suka sesorang?” Tanya Summer.
“Iya. Kamu.” Sahut Mara enteng.
“Wah! Dasar!” Muka Summer jadi merah, entah karna alkohol atau karna tersipu malu.
“Lalu kenapa kamu selalu ngejauh? Pulang kerja langsung ke kamar. Apa-apa ke kamar. Apa gunanya kita berdua di rumah tapi aku selalu sendiri?” Ujar Summer mendumel seperti melindur dengan mata yang mulai sayu. Sepertinya alkohol sudah menyerang kesadarannya.
Mara yang mendengar itu merasa bersalah. Ternyata itu yang dirasakan Summer selama ini. Sedangkan Mara selama ini terlalu sibuk mengendalikan dirinya.
__ADS_1
“Belum lama ini ulang tahun mama, besok ulang tahun papaku.” Ujar Summer.
Tiba-tiba air matanya menetes. Bibir dan dagunya mengkerut. Nafasnya sudah bercampur dengan suara hidung yang menarik ingus.
Mara langsung memeluk wajah yang menangis itu. Diusapnya kepala Summer dan ditepuknya pelan-pelan punggung Summer. Kepala Summer yang kini nyaman di atas bahu Mara, jadi tempat yang tenang untuk melepas lara. Dia hanya menangis dan menangis. Perlahan-lahan suara Summer memelan hingga tak terdengar lagi, dia sudah tertidur di bahu Mara yang bidang.
Mara kemudian mengangkat tubuh kecil itu dan berniat akan menaruhnya di tempat tidur.
Saat akan membuka kamar Summer, Mara sempat ragu karna dia telah berjanji tak akan masuk ke kamar Summer.
“Terus tidur di mana?” Pikir Mara.
Jika di kamarnya, takutnya Summer bangun merasa tak nyaman. Akhirnya Mara memberanikan diri membuka kamar Summer dengan sebagian dalam dirinya penasaran juga.
Ditaruhnya Summer di kasurnya yang besar itu. Jelas terlihat kamar utama paling beda dari kamarnya. Kamar itu besar dan semua furniture yang ada di dalam situ terlihat berkualitas dan seperti selera orang tua.
Setelah menaruh Summer dan menyelimutinya, Mara berniat akan langsung pergi ke kamarnya.
“Lampu.” Ujar Summer berbicara mengerutkan matanya yang tertutup kesilauan.
Mara kemudian berjalan pelan dan mematikan lampu. Mara ingin melihat Summer sekali lagi sebelum dia pergi ke kamarnya. Wajah Summer terlihat berubah-ubah seperti orang khawatir, keningnya mengkerut. Mara mengelus kening itu agar lebih luwes.
Kemudian Mara berdiri namun Summer tiba-tiba menarik tangannya.
“Mau kemana?” Tanya Summer berusaha membuka matanya yang berat.
“Aku akan kembali ke kamarku.” Sahut Mara berbisik.
“Hah?”
“Tidur di sini aja!” Summer mengeraskan suaranya karna kesal.
Dengan instan Mara duduk di kasur itu sebelum Summer marah. Mara pelan-pelan membaringkan badannya di sebelah Summer yang masih menggenggam tangannya. Dengan posisi tidur miring agar tak memakan banyak ruang, Mara memperbantal lengannya.
Summer tidak tahu menahu bagaimana rasanya jantung yang terus berdegup kencang hingga kadang mau meledak seperti sekarang.
Summer mendekatkan badannya pada Mara dan memeluk pinggang Mara.
“Hah!!” Mara menarik nafas dan menahan nafas selama mungkin. Jantungnya siap meledak.
“Bernafas.” Perintah Summer yang tau Mara menahan nafas dari tadi.
“Hufft.” Mara bernafas kembali dan berusaha bersikap normal.
“Jantungmu kencang sekali. Apa merman memang begitu?” Tanya Summer masih berbicara tanpa membuka mata.
Mara tidak tahu menaruh tangannya dimana. Jadi dari tadi tangannya diangkatnya terus dan akhirnya dia merasa lelah.
Mara kemudian memperbaiki posisinya memilih terlentang. Dia tahu malam itu dia tidak akan bisa tidur sama sekali.
Mara kemudian membalikkan pandangannya ke pinggi kasur. Dilihatnya sebuah foto di atas buffet. Mara tentu penasaran dengan foto anak kecil yang sepertinya itu adalah Summer.
__ADS_1
Mara mengambil foto itu dan menaruh di bawah lampu tidur. Summer kecil sangat lucu, matanya lebih bulat dan besar, rambutnya panjang lurus, tawanya riang sekali. Mata Mara perpindah pada wajah wanita di sebelah Summer, itu pasti ibunya. Wajah ibunya terasa tidak asing. Mara mencoba mengingat wajah itu, wajahnya mirip Summer, persis seperti karbon copy. sedangkan ayahnya terlihat sudah rada tua.
Tiba-tiba Mara terhentak, dia tahu dimana dia lihat wanita itu.
Hujan deras tiba-tiba turun bersamaan dengan petir. Summer tampak nyenyak tertidur sambil memeluk Mara.
Mara merasa dia harus memastikan sesuatu. Dia pelan-pelan memindahkan tangan Summer yang diatas perutnya. Berjalan keluar kamar itu menjingkat-jingkat.
Dia kemudian ke rumah belakang dan membangunkan Damar untuk menggantikannya menjaga Summer.
Damar pun terbangun dan pergi ke rumah Summer lalu berjaga di ruang tamu.
Mara berlari ke pinggir jalan mencari taxi. Kilat di atas langit beberapa kali berkelip terang bersama dengan urat langit dan amukan suara petir. Mara sudah basah kuyup.
Karna itu sudah tengah malam, cukup sulit menemukannya. Mara berlari ke tempat yang lebih ramai agar bisa mendapatkan taxi.
Saat taxi lewat, Mara langsung masuk dengan cepat. Dia meminta Supir taxi untuk buru-buru karna dia ingin mengejar waktu untuk sampai sebelum Summer bangun tidur.
Ketika sampai di pantai Mara segera berlari mencari tempat untuk dia meloncat ke laut dalam. Ditelisiknya dari kejauhan sebuah tebing batu, Mara berlari sekuat tenaga dan membuka seluruh bajunya lalu menyemplungkan diri ke laut.
Sesaat setelah di dalam air Mara kaki Mara perlahan-lahan berubah menjadi ekor bersisik berwarna putih, rambut hitamnya kini berubah menjadi putih, bola mata mara berubah menjadi kuning terang dan jari-jarinya berselaput.
Secepat yang dia bisa, Mara berenang sekuat tenaga agar sampai di habitatnya. Ekornya mengepak sangat cepat. Selagi berharap dan berharap, dia terus berenang ke dalam hingga menemukan palung yang familiar itu. Mara kemudian berenang cepat melewati semua binatang laut yang berenang.
Saat dia sampai di habitatnya. Dia berenang cepat sampai tak sempat menjawab salam dari sesama sukunya. Mara langsung menuju rumah Buni.
Dilihatnya di ruangan itu seekor mermaid sudah terduduk dan melamun.
Mara langsung mendekatinya. Mermaid itu menatap merman yang baru pertama kali ini dia lihat.
“Apa kau ibu Summer?” Tanyanya langsung.
Mermaid yang bernama Rita itu langsung menatap Mara, netranya membesar, dia bergerak menghampiri namun terjatuh karna tak bisa berenang. Mara membantunya kembali bangkit dan duduk di batu tempat dia tadi duduk.
“Iya. Iya aku ibunya.” Sahut Rita membelalak. Air matanya langsung berjatuhan bercampur dengan air laut dan kabar baik ini.
“Apa kau bertemu Summer?” Tanya Rita memegang lengan Mara dengan mata penuh harapan.
“Mara.” Panggil Uma yang mendatangi Mara yang katanya ada di rumah Buni. Uma kepikiran kenapa Mara tidak ke rumah dulu.
“Aku bersamanya selama ini. Belum lama, baru tiga minggu.” Sahut Mara.
“Bagaimana putriku? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Rita tak sabar.
“Dia baik-baik saja. Dan merindukanmu.” Sahut Mara.
Sontak Rita langsung menangis kencang mengucap rasa syukur.
“S…suamiku?”
Bersambung…
__ADS_1