Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Obsesi


__ADS_3

Di hari weekend Summer pergi menjenguk makam ayahnya ditemani oleh Mara. Setahun lebih berlalu, baru ini Summer berani datang.


Summer dan Mara berdiri di sebuah makam yang bertuliskan “Rudi Wicaksono”. Hanya nama yang membedakan makam itu, karena semua warna dan bentuknya sama berjejer rapi.


“Hai Pa. Maaf baru bisa menjenguk. Semoga Papa gak marah karna aku datangnya telat. Banyak yang ingin aku ceritakan. Namun singkat ceritanya aku menggantikan posisi Papa sebagai CEO di Summer Sea. Papa pasti bangga. Dan aku akan mencabut akar-akar busuk di perusahaan, hal itu belum sempat Papa lakuin, jadi aku yang akan lakuin. Tenang saja, aku punya algojo di sampingku.” Ujar Summer melihat Mara yang di sampingnya.


“Halo Pak Rudi.” Sapa Mara canggung.


“Tenang saja dan perhatikan aku dari atas sana ya.” Ujar Summer tersenyum dan menaruh bucket bunga di atas makam Papanya.


“Karena aku orang sibuk, jadi aku mau pulang dulu sekarang. Aku akan sering mampir Pa.” Ujar Summer ijin pulang.


Perlahan-lahan luka dan ketakutan yang dulu dialami Summer berangsur hilang. Dia tak bisa menyesali luka itu, karna luka lah yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat.


Orang-orang yang setia di sampingnya banyak mengajarinya untuk tetap bertahan hidup.


Kini Summer sudah berdamai dengan ketakutannya. Seperti takut berekspresi karena takut disepelekan, atau takut mudah jatuh karena tak ada papa dan mamanya. Semua berangsur berubah, dia sudah berkembang sangat pesat menjadi pribadi yang lebih besar.


Mereka kembali ke mobil dengan Damar yang menunggu.


“Besok lusa adalah janji aku ketemu Mama.” Ujar Summer.


“Iya. Aku akan temani.”


“Apa Uma dan Appa akan datang?”


“Entahlah. Mereka akan datang jika kangen aku.”


“Pasti mereka kangen kamu.” Ujar Summer.


“Tapi sedari tadi, kita diikuti terus.” Ujar Mara bersikap tenang.


“Oh ya?”


“Iya, mereka berada 200 meter di belakang kita.”


“Hmm biarkan saja. Paling mereka gak dapat apa-apa.”


“Ini artinya kau tak bisa kemana-mana sendiri.” Ujar Mara mengingatkan bahaya bisa saja datang kapan saja.


“Baiklaah. Kalau perlu besok aku akan beli gelang pelacak yang ada alarmnya.” Ujar Summer sambil tersenyum.


“Gak perlu sih, yang penting kamu sama aku terus.”


Summer memalingkan muka melempar pandangan ke jalan raya. Kata Mara itu membuatnya entah kenapa jadi malu.


*****


Namun tetap saja keesokan harinya Summer duduk dengan 2 gelang yang baru dia beli, ada di meja. Dia tahu tak mungkin setiap detik dia bersama Mara, dia bukan bayi.


Dicobanya benda itu, dipakai di pergelangan tangan. Cukup gampang digunakan dan mudah diraih jari. Jika dipencet tombolnya suara alarm di gelang satunya akan menyala.


“Kamu beneran beli?” Ujar Mara.


“Iya. Kan aku butuh waktu sendiri juga.”


“Sendiri ke mana?”


“Ya kemana aja, seperti olahraga dan lain-lain.”


Mara cemberut, padahal dia bisa menemani Summer olahraga. Sepertinya Mara mengikut Summer bukan karna masalah keselamatan saja, namun karna Mara yang selalu ingin bersama.


Rio tiba-tiba muncul di rumah Summer.


“Ada makanan apa?” Ujarnya langsung jalan ke kulkas.


“Gak tau.” Sahut Summer.


Wajah Mara langsung berubah, kenapa pria ini muncul di rumah Summer seperti di rumah neneknya.


*“Ah ada cake*!” Seru Rio langsung mengambil cake itu.


Mara langsung berlari merebut cake tersebut.


“Ini aku beli buat Summer.” Ketusnya.

__ADS_1


Rio mengenggak liur melihat kue itu pasti enak banget.


“Bagi dong Summer.” Rio meminta ijin pada Summer karna kue itu miliknya. Padahal seharusnya dia minta ijin pada Mara.


“Ah yaudah deh gak usah. Aku pesen makanan aja.” Ujar Rio bete dengan sikap Mara.


Rio duduk di sebelah Summer dan ikut memperhatikan gelang baru yang dibelinya.


“Gelang alarm?” Tanya Rio berdempetan pada Summer.


Mara langsung mendekat dan menggeser Rio agar dia duduk di tengah. Rio tahu Mara akan kesal, karna itu dia semakin terus mengerjainya. Kali ini dia ingin mengerjai dengan meminum minuman Summer yang ada di meja. Seperti tebakannya, Mara langsung merebut minuman itu.


Rio kemudian ingin masuk ke kamar Summer, “Gue pinjem charger lu ya.” Katanya.


Mara langsung menghalau tak mengijinkan Rio masuk kamar Summer.


Summer yang melihat tingkah mereka lama-lama jadi gerah.


“Rio!” Ujarnya kesal. Dia tahu sikap Rio begitu sengaja untuk mengerjai Mara.


Rio tersenyum jail. “Mara mau pergi nongkrong gak?” Ujarnya.


“Gak mau.” Sahut Mara.


“Manusia dewasa itu semuanya nongkrong.”


“Kemana?”


“Ke bar lah.”


“Rio. Jangan ajak Mara minum.” Ujar Summer.


“Ah ya. Kalo udah dewasa tapi gak pernah minum alkohol itu cupu.”


“Cupu?” Mara baru dengar kata itu.


“Pengecut.” Rio mengartikan.


Mara langsung merasa tertantang.


“Aku gak cupu.” Ujarnya.


“Ya udah gak usah kalo gak mau. Aku pergi sendiri.” Ujar Rio keluar rumah.


Mara tak terima dianggap pengecut, dia juga bisa dan jago minum. Mara mengikut di belakang Rio seperti anak bebek, sampai ke dalam mobil.


Rio tersenyum puas, “Gitu dong bro.” Ujarnya.


Mara sampai di tempat yang disebut Rio, Bar. Mara celingak-celinguk, lampu sorot banyak warna bergerak-gerak memutar di ruangan itu. Dari luar sudah terdengar suara musik jedag jedug.


Saat masuk ke ruangan suara musik langsung memekakkan telinga. Terlihat semua orang berjoget tanpa rasa malu. Mereka hanyut ke dalam musik dan minuman yang mereka tenggak berkali-kali.


Rio berjalan ke meja bartender sambil menoleh wanita di sekitarnya.


“Mau minum apa?” Teriak Rio pada Mara, orang awam di tempat itu.


“Apa saja.” Teriak Mara agar terdengar.


Rio memesan wiski, minuman dengan kadar alkohol yang kuat. Rio berniat mengerjai, sekuat apa Mara minum.


Rio mengenggak alkoholnya, Mara mengikuti. Rio menenggak lagi, Mara mengikuti.


Mara ingin membuktikan, alkohol bukan hal yang akan membuat dirinya disebut seorang pengecut.


Mereka terus begitu beradu satu sama lain, sampai 3 botol wiski habis diminum berdua. Mara masih terlihat baik-baik saja namun Rio sudah tumbang tertidur di meja.


“Hei. Sendiri?” Sapa seorang wanita berpakaian sexy dan berambut panjang.


Mara menunjuk Rio yang sudah tepar, bermaksud kalau dia tidak sendiri.


Wanita tersebut bicara mendekat ke telinga Mara, jinjit meskipun sudah pakai heels.


“Pulang dari sini mau bareng?”


Summer karena khawatir akhirnya datang menjemput Rio dan Mara. Tempat itu sangat padat dan berisik sehingga dia sulit mencari dimana ke dua pria itu. Mau tidak mau Summer harus menjalani setiap sudut. Dia berusaha berjalan diantara dempetan orang.

__ADS_1


“Kenapa orang suka di tempat sempit begini sih.” Dumel Summer.


Mara hanya diam melihat gadis itu terus menggodanya. Di tangannya ada rokok, baunya menyengat sekali membuat hidung Mara terganggu.


“Hei bangun.” Diguncangnya badan Rio agar sadar, Mara ingin segera pulang. Namun Rio seperti orang mati.


“Pulang denganku saja. Nanti juga dia sadar.” Ujar wanita itu mendempetkan badannya pada Mara dan menyembur asap rokok dari mulutnya ke wajah Mara.


Tak sampai di situ, wanita sexy itu dibuat penasaran dengan tubuh Mara, sehingga dia berniat ingin menyentuh dada Mara yang bidang itu. Tiba-tiba Summer menarik rambut wanita itu dari belakang sehingga kepalanya jadi menjauh dari Mara.


“Aaa…aww!” Teriak wanita itu kesakitan dijambak. Akhirnya kini badannya tak menempel lagi pada Mara.


Wanita itu langsung membalikkan badan ingin memurka siapa yang menjambaknya.


“Summer!” Teriak Mara.


“Maksud lo apa jambak gue?” Wanita itu terlihat marah.


“Maksud lo apa dempetin badan ke cowo gue?” Jawab Summer dengan nada yang sama seperti wanita itu untuk mengejeknya.


Wanita itu menelisik Summer dari atas rambut sampe kaki. Mara dengan wajah yang langsung ceria menarik tangan Summer agar mendekat.


Wanita itu akhirnya tau tidak ada ruang untuknya, lalu dia pergi.


“Angkat Rio.” Ujar Summer dingin.


Mara langsung mengangkat Rio seperti mengangkat seorang putri. Lalu di taruhnya di kursi belakang mobil. Mara duduk di depan bersama Summer yang jadi supir.


“Maafkan aku.” Ujar Mara dengan wajah cemberut.


“Hmm.” Sahut Summer.


“Kamu marah banget ya?”


“Hmm.”


Mara akhirnya mingkem karna takut. Sesampainya di rumah dia menaruh Rio buru-buru di sofa lalu menghampiri Summer ke kamarnya yang terbuka.


“Summer. Jangan marah.” Ujarnya membujuk sambil memegang kedua tangan Summer. Mara jongkok di lantai sedangkan Summer duduk di pinggir kasurnya.


“Ya sudah. Tidur sana.” Sahut Summer.


“Kau masih marah.” Mara cemberut, telapak tangan Summer di taruhnya di kedua pipinya. Lalu diciumnya telapan tangan itu.


“Jangan marah lagi ya.” Bujuk Mara semakin sedih.


Mara menaruh kepalanya di paha Summer seperti ingin dimanja. Karna pengaruh alkohol, Mara jadi bersikap lebih jujur. Saat sadar dia tak mungkin mencium atau pun menaruh kepalanya di pangkuan Summer.


“Yaaa? Hmm?” Mara masih terus membujuk. Tangan Summer masih ditahan di pipinya sedang matanya menoleh ke wajah Summer.


“Apa kamu bakal bersikap begini juga jika pulang dengan wanita tadi?” Ujar Summer kesal.


“Wanita mana?”


“Ah yaudah lah lupakan. Jangan pernah minum alkohol lagi sama orang selain sama aku.” Summer akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.


“Baik Miss Summer.” Mara memberi hormat.


“Yasudah. Tidur sana.”


“Sudah tak marah?” Tanya Mara lagi, dia lihat ekspresi Summer sudah berubah.


“Iya. Udah gak marah.” Sahut Summer tulus.


Mara tiba-tiba berdiri, lalu membungkuk. Dia menarik wajah Summer lalu mengecup bibir kecil itu lalu tersenyum.


Summer kaget sampai tertegun.


“Hehe. Aku lihat di drama jika mereka saling suka, mereka akan berbaikan seperti itu.” Mara cengengesan dan langsung pergi dengan santainya.


Tinggal lah Summer yang masih syok sendiri di kamarnya, masih tak percaya Mara telah menciumnya. Malam Itu pertama kalinya Mara menciumnya, setelah menciup telapak tangannya, lalu bibirnya.


Jantung Summer langsung beradu kencang, wajahnya memerah dan badannya panas.


“Hah! Dasar!” Summer memukul kepalanya agar kembali sadar, namun setelah itu dia menyentuh bibirnya dan teringat lagi.

__ADS_1


Sedangkan Mara di kamarnya tidur nyenyak terlentang tak karuan, tak memikirkan apa-apa.


Bersambung…


__ADS_2