Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Sara (3)


__ADS_3

Sara menganga menikmati penampilan pria tampan itu sampai videonya habis. Sara langsung menatap Tapa dengan isyarat agar dia memutar video itu kembali.


Tapa dengan segala kemalasan dalam tubuhnya mau gak mau menuruti. Saat video mulai lagi, Sara langsung fokus mencari pria yang membuatnya tertarik tadi.


Tidak bosan-bosannya Sara menonton video yang sama berulang-ulang sampai Tapa saja sudah menyerah. Dia pergi masuk ke kamarnya meninggalkan Sara menonton dengan fokus.


Sara melihat ke belakang ingin meminta video itu di ulang lagi, namun Tapa sudah tak ada di sofa. Dia kemudian mengambil remot dan mencoba memencet-mencet semua tombol yang ada di remot.


“Harusnya tadi aku perhatiin dulu Tapa mencet yang mana.” Ujarnya lirih.


Tak sadar ternyata hari sudah gelap, ternyata Sara menghabiskan waktu menonton video yang sama entah berapa kali dari pagi sampai malam. Itu pun tak membuatnya puas, dia masih butuh menonton lagi.


Saat kerusuhan hatinya menjerit ingin menonton lagi namun tak tahu harus bagaimana, tepat sekali Mara dan Summer sampai di rumah.


Sara langsung berlari ke mobil menjumpai Summer.


“Summer! Aku tak tahu cara memutar video.” Ujarnya langsung memegang tangan Summer yang ingin keluar dari mobil.


“Baik. Baik tunggu.” Ujar Summer berniat ingin turun dulu baru bicara.


Namun Sara terlihat sangat tak sabar, tingkahnya itu membuat Mara jengkel.


“Sara. Jangan begitu.” Ujar Mara.


“Tak apa. Kenapa kenapa?” Summer kini sudah turun dan ingin mendengarkan masalah Sara yang terlihat darurat seperti orang ingin ke kamar mandi.


“Video! Aku tak mengerti memutarnya.”


“Sebentar aku lihat.”


Summer masuk dan melihat video yang sepertinya baru saja habis. Dia mengambil remot dan memencet tombol play.


“Ah kamu menonton Boyband.” Ujar Summer.


“Boyband?”


“Iya ini grup boyband!”


“Ohhh begitu!”


“Namanya VTS”


“VTS?”


“Nama grupnya!”


“Ohhhh.”


Lalu Summer mencoba mengganti video lain dari grupband yang sama.


“Wah dia pakai baju lain!!!” Ujar Sara sangat bersemangat.


“Kau suka yang mana?”

__ADS_1


“Aku suka Pria itu!” Sahut Sara menunjuk pria berambut hitam.


“Ah “Y”.”


“Wai?”


“Tulisannya Y. Kalo diinggris dibacanya Why.”


“Ahhh!! Aku tau huruf, tadi sudah nonton.”


“Iya. Sebutannya “Y” dia memang paling tampan di situ.”


“Ya kan!!! Benar kan?! Aku juga merasa begitu.” Sahut Sara sangat setuju.


“Bukannya aku lebih tampan?” Tanya Mara seperti biasa nyelonong gabung dalam pembicaraan.


Summer dan Sara menatap Mara bersamaan, terlihat wajah Sara yang menafsirkan dia kesal sedangkan Summer tersenyum lucu.


Mara merasa kesal dengan sikap para wanita yang menyukai pria tak nyata yang ada di TV. Seperti Tapa, dia akhirnya masuk ke kamar karena bete.


“Nanti dia mau datang loh ke indonesia. Bulan maret kayaknya.” Ujar Summer.


“Dia bukannya di indonesia?”


“Bukan. Dengar aja bahasanya.”


“Iya. Bahasanya bukan bahasa indonesia.”


“Grup itu dari negara korea.”


“Boleh boleh. Bagaimana tinggal di sini? Nyaman kan?”


“Nyaman sekali! Besok aku akan pergi belanja bersama Tapa.”


“Belanja yang banyak ya.”


“Hihi.”


“Aku mau mandi dulu ya.”


“Oh iya aku juga belum!” Ujarnya baru sadar setelah seharian penuh berdiri di depan layar TV.


Malam itu Sara berniat akan berjalan-jalan di pekarangan rumah karena dia sangat penasaran dengan tumbuhan dan bunga yang bermekaran. Sepanjang taman ada lampu yang menyala, menambahi keindahan bunga-bunga yang kuncup.


Di tengah santainya dia berjalan, Sara mendengar suara langkah perlahan mendekatinya. Dia terdiam membiarkan orang tersebut menghampirinya, jaraknya semakin dekat, namun Sara berpura-pura tak tahu.


Tiba-tiba pria itu mencekik Sara dengan lengannya dari belakang.


Mara dan Tapa yang mendengar gerakan itu dari kamarnya, segera keluar untuk menghampiri. Namun saat sudah di luar, terlihat Sara dengan tangannya yang sudah berlumuran darah, dan seorang pria yang berteriak sekuat tenaga.


Summer berlari dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimononya. Dia terkejut mendengar seseorang teriak dan ingin memastikan itu siapa.


Saat dia membuka jendela kamarnya karena menebak suara itu dari samping, dia melihat Sara yang berdiri kaku dengan mata menyala dan nafas yang tak beraturan.

__ADS_1


Terlihat Tapa dan Mara berlari menghampiri.


Summer akhirnya keluar tak peduli dia hanya menggunakan handuk, dia ingin lihat dengan jelas apa yang terjadi.


Saat sudah lihat dari dekat, wajah Sara penuh bercakan darah begitupun pakaian dan tangannya. Tapa memegang tangan itu dan memeluk Sara untuk menenangkannya.


Mara pun mengangkat pria dengan pergelangan tangan yang sudah terputus, pria itu akhirnya pingsan karena kehilangan banyak darah.


Summer menarik Sara untuk membawanya ke dalam rumah. Sara masih terdiam kaku dan bungkam.


“Tak apa! Maafkan aku! Aku sempat lupa bahwa rumah ini berbahaya.” Ujar Summer merasa bersalah sambil menyiram tangan Sara di kamar mandi.


Kini handuk yang dipakai Summer memerah kena noda darah juga.


“Dia mencekikku dan memegang perutku. Tangan hina.” Ujarnya masih emosi. Sara adalah orang yang sangat tidak suka disentuh sembarangan. Karena itu dia langsung reflek memutus tangan pria itu dengan kuku panjangnya yang muncul saat dia ingin bertarung.


“Maaf Sara.” Summer memeluknya untuk menenangkannya.


Namun dia tak menyangka Sara bisa seekstrim itu dalam menyakiti orang. Karena sejauh ini Mara tak pernah sampai memotong tangan manusia.


“Besok akan aku carikan rumah ya untukmu tinggal. Maaf ya Sara.”


“Apa kau terus diganggu orang begitu?”


“Iya. Itu kenapa ada Mara sebagai bodyguardku.”


“Manusia sangat aneh. Kenapa bisa saling menyakiti.” Ujar Sara yang baru menghadapi kenyataan di daratan itu sifat manusia seperti apa.


“Iya. Manusia memang aneh.” Ujar Summer.


Sara melihat handuk Summer yang jadi ikut kotor memerah, dan perhatian yang dia berikan saat mencoba membersihkan tangannya.


“Aku akan mandi sendiri.” Ujar Sara.


“Baiklah. Kau bisa mandi di sini. Aku akan taruh pakaian bersih di kasur nanti.” Ujar Summer segera keluar dari kamar mandi.


Summer yang melihat handuknya yang ikut kotor, merasa harus mandi kembali. Dia akhirnya mengambil pakaian dan pergi ke kamar Mara.


“Itu. Sara mandi di kamarku, boleh aku mandi di kamarmu?” Tanya Summer pada Mara.


“Boleh.” Sahut Mara yang menunggu adiknya di ruang tengah.


Malam itu menjadi malam yang senyap, karena kejadian yang tak disangka. Terlebih itu hari kedua Sara ada di daratan. Dia jadi menimbangi, apa dunia itu cocok untuknya atau tidak. Dia sangat benci disakiti, karena itu dia pun tak akan segan menyakiti bahkan membunuh orang yang berani menyentuhnya.


“Besok aku akan mencari rumah untuk Sara da Tapa. Seperti yang kita tahu, di rumah ini cukup berbahaya.” Ujar Summer.


“Tak perlu. Aku bisa tetap disini. Jika masih tetap ada yang datang berniat buruk, aku akan membunuhnya.” Ujar Sara dengan nada dingin.


“Sara. Kau tak boleh asal membunuh manusia.” Ujar Mara mengingatkan adiknya.


Sara memalingkan wajah menyahut omongan kakaknya dengan diam. Baginya yang terbiasa dengan laut dan habitatnya yang damai, hal seperti ini sangatlah hina. Masih tak bisa dipahami, kenapa bisa menyakiti orang lain dengan enteng.


“Kenapa mereka ingin menyakiti Summer?” Tanya Sara tegas.

__ADS_1


“Sara. Jaga omonganmu.” Ujar Mara kesal.


Bersambung…


__ADS_2