
"Aku akan merasakan naik kapal pesiar untuk ketemu Uma dan Appa!" Ujar Sara antusias, duduk bersisi dengan Summer.
"Ah iya kamu belum pernah ikut ya pas kami datang bertemu Uma?" Sahut Summer.
"Iya. Aku sebenernya penasaran."
”Seandainya kamu datang, aku pasti gak akan salah sangka waktu itu. (Saat Summer mengira Mara menolong gadis lain dan membuatnya cemburu.)
”Hahaha. Maaf, Summer. Aku bener-bener manikmati respon kamu saat itu.”
"Sudah sampai Ketua." Ujar Damar menghentikan mobil di dekat restoran Wawan. Karena jalan terlalu kecil, mobil tidak akan muat jika harus sampai ke bibir pantai, mereka akan berjalan.
“Beneran Appa suka sushi?” Ujar Sara melihat Summer menenteng makanan.
“Appa lebih suka daging.” Summer tersenyum jika mengingat pria yang mirip Mara itu.
Seraya berjalan ke arah pelabuhan di dekat pantai, Mara merasakan kehadiran banyak orang secara tiba-tiba. Sara dan Tapa ikut saling bertatapan, merasakan juga gerakan mencurigakan.
Malam ketika mereka tiba sudah larut sekitar pukul 11 malam yang sengaja mereka pilih agar keadaan lebih sunyi dan aman.
Tentu suara derap kaki banyak orang itu memunculkan kecurigaan bagi mereka yang bertelinga sensitif.
"Summer." Panggil Mara sambil menarik gadis itu ke belakangnya.
Terlihat muncul dari kegelapan gang sempit, banyak pria besar dengan tongkat besi di tangannya, mereka sekitar 30 orang berjalan bersamaan memasang muka sangar mengintimidasi. Mendekat mengerumuni 4 orang yang tak punya senjata apa-apa.
Bukan hal sulit bagi 3 manusia duyung menghabisi mereka, hanya saja identitas mereka bisa terungkap. Warna mata mereka akan refleks berubah menjadi kuning terang saat mengeluarkan kekuatan.
Summer panik panas dingin, banyaknya gangster yang terus mendekat menghampiri membuat tangannya lemas hingga makanan yang dia tenteng tadi merosot jatuh ke atas pasir, segera dia telpn Pak Bagas untuk meminta bantuan.
Tentu bantuan itu akan sangat terlambat, para gangster sudah siap untuk menghabisi mereka berempat, untuk saat ini mau tak mau mereka harus menghadapi.
__ADS_1
Serempak gangster itu berlari menyerang, mengangkat senjata. Mara melompat maju menghalau mereka agar tak mendekati Summer.
Tangan Sara berubah menjadi selaput, berkuku panjang runcing tajam, matanya sudah terang mengancam. Tapa ikut berlari untuk menyelesaikan dari sisinya.
Summer takut tak karuan menutup telinga dan matanya. Perhitungannya salah, dia harusnya tahu seberapa psikotik Praman, hingga terang-terangan menyakiti begini tak perlu pikir panjang. Entah kenapa semua jadi seberantakan ini, identitas orang tersayangnya akan terungkap jika memutuskan bertarung.
Belum sempat pria bersenjaga itu memberi serangan, Sara langsung menusuk leher pria pertama yang mendekati dengan kuku tajamnya, darah bercucuran memandikan tangan. Mata mereka kuning menyala seperti monster yang haus darah. Setelah melihat mata itu dan leher yang menggantung di jari Sara, para gangster sempat terdiam perlahan mundur.
Mara dengan kekuatan matanya menghentikan gerakan mereka hingga Sara dan Tapa leluasa menghabisi satu persatu. Mereka mematung dengan gerakan bola mata ketakutan kematian bergilir.
Pasir putih itu kini berubah menjadi ladang merah karena tumpahan darah manusia. Sara sudah tak peduli jika dia memang harus menikam jantung semua manusia yang ada di situ, muak dan lelah, kesabarannya sudah habis.
Dua orang dari mereka ada yang lari, sadar itu bukan tandingannya, sebaiknya menyelamatkan nyawa. Mara lantas mengejar ke jalan kecil gelap. Mereka harus dihabisi tak bersisa, sebab sudah kepalang jadi saksi. Namun tiba-tiba…
Dor!!
Terdengar suara tembakan yang mengejutkan telinga. Summer melotot mencari suara tembakan itu dari mana. Tapa dan Sara melotot tajam ke arah Mara yang kini badannya merosot dan terjatuh di kegelapan.
"Maraaa!!!!!!!" Teriak Sara berlari menangis mengulurkan kedua tangannya meninggalkan mutiara berjatuhan di pasir.
"Mara!!!!" Teriak Sara kencang dengan suara serak kerongkongannya menengadahkan kepalanya kelangit sambil memeluk kakaknya yang terkulai di tanah.
Praman dengan senapan di tangannya terkekeh, dia tak sadar Tapa sudah ada di sampingnya.
"Sialan! Mereka semua bukan manusia. Dari mana Summer menemukan makhluk begini?" Cerocosnya sambil membidik Sara lengah yang histeris memeluk kakaknya.
Tapa dengan segala kekuatannya menampar kepala pria paruh baya itu hingga dia terlempar jauh ke dan senapannya terjatuh.
Praman yang baru sadar akan kehadiran manusia bermata terang itu, menggerakkan tangannya mundur menjauh. Berharap bisa meloloskan diri, wajahnya kaku menatap mata Tapa. Berusaha sadar berbalik badan, berdiri bertaruh nyawa demi apapun harus berlari.
Tapa memungut senapan itu, berderap mendekati Praman yang kalang kabut berlari. Dipukulnya kepala itu dengan pangkal senapan.
__ADS_1
"Prak!!"
Suara benda yang instan membocorkan kepala, mengucurkan darah seperti keran terbuka. Praman mematung, lututnya melemah. Badannya beringsut jatuh hingga terkapar ke tanah.
"Mara!!!" Teriak Summer merangkak mendekati. Tangannya bergetar ingin menyentuh pria yang menutup mata itu, namun segera ditampik Sara dengan tatapan matanya yang menakutkan seakan-akan menyalahkan Summer dengan apa yang terjadi.
Summer menenggak liursetengah mati, tubuhnya langsung lemas, tangan yang ditampik itu terkulai lemah di agas pasir. Matanya membesar dan bergetar, lehernya kaku memunculkan segala urat. Digenggam pasir sekuat tenaga, rasanya sangat marah dengan semua yang terjadi.
Menyentuh pun mungkin memang sudah tidak pantas, tatapan Sara dia tak salah. Dia terdiam membungkuk sambil menangis.
“Ayo bawa ke Rumah Sakit!” Teriak Summer mendekat namun tak berani menyentuh.
"Segera bawa Mara ke laut!" Perintah Tapa menyadarkan Sara.
Sara langsung tersentak dari tangisnya, diangkatnya segera tubuh besar itu. Summer menawarkan tangannya untuk membantu, namun diacuhkan. Summer terus menatap pilu, ditinggalkan dengan tangan masih terulur sepi.
Sara menyeretnya dengan air mata yang terus mengalir. Saat setelah sampai di air, Sara menoleh ke belakang menatap Summer dengan wajah sangat sedih tak terucapkan, penyesalan datang ke daratan tersirat di tatapan itu.
Sara berbalik lalu melompat menyelam membawa pergi Mara.
"Mara." Panggil Summer lirih, mengigit bibirnya hingga berdarah. Kepergian pria yang dicintainya, serasa mencekik nafasnya.
Tangannyan dan tubuhnya perlahan merosot dia hancur bukan kepalang.
Sementara Tapa sibuk menghabisi sisa orang yang ada, Summer bersungkur menangis memukul dadanya yang sesak.
"Arggghhhh!!!!" Teriaknya memecah gelapnya malam. Dia terus menangis mengadu pada bulan, membayangkan kepergian kekasihnya tanpa salam namun dada yang terluka karena peluru besar menembus bersarang di dadanya.
Jejak darahnya yang berjatuhan saat diangkat oleh Sara perlahan diikutinya dan dipeluknya. Tetesan merah yang baginya berharga karena itu milik Mara.
Sampai tak sadar kini dia sudah di air, membenamkan dada menangis histeris.
__ADS_1
"Summer!" Panggil Tapa mengeluarkan gadis itu dari dalam air.
Bersambung…