
“Sekarang malah jadi ramai sekali.” Pak Bagas kecewa.
Setelah kembali dari pantai dia berharap bisa makan di restoran dekat pantai itu sebelum pulang.
Tadinya tutup namun sekarang ketika buka malah jadi ramai sekali.
Summer melirik restoran tersebut dari bangku penumpang dengan berpangku tangan.
“Seenak itu ya?” Summer jadi penasaran.
“Memang enak banget. Tapi next time saja.” Nada bicaranya kecewa.
“Minta dibungkus saja. Aku tunggu.” Ujar Summer.
“Nanti malah menarik perhatian. Terlalu banyak orang yang sudah kenal Ketua.” Ujar Pak Bagas menjalankan mobilnya yang sempat terparkir beberapa menit tadi di depan restoran seafood itu.
“Kita bisa kembali next time.” Summer merebahkan punggungnya dan menutup matanya.
Sedang Mara sedang di dalam taxi tak bisa menenangkan jantungnya yang berdegup terus karna akan bertemu Summer.
Padahal perjalanan masih panjang, namun kekhawatiran tak meninggalkannya.
Tangannya menjadi dingin, otaknya terus berputar-putar.
Sepatu pantofel yang dia kenakan itu rasanya kurang nyaman, karna ini pertama kalinya dia memakai sepatu.
Berkali kali dia bercermin ke layar androidnya dan membenarkan rambutnya yang sebahu itu. Di bukanya ikatan rambutnya kemudian di ikatnya kembali seluruhnya, dia bercermin kemudian, namun melepas lagi ikatannya dan mengikat lagi setengah rambutnya.
Ahhh Mara benar-benar tak bisa tenang.
Mungkin perjalanan itu menghabiskan waktu tiga jam dari pantai ke ibu kota tempat perusahaan Summer Sea berpusat.
Dia turun dan meraih bunga yang sedari tadi ditaruh disebelahnya. Bunga tulip merah muda bercampur dengan bunga baby breath.
“Terima kasih.” Ujarnya pada supir.
Kemudian dia memeriksa apa pakaiannya sudah cukup rapi, dia menyerah rambutnya harus diapakan akhirnya dibiarkan terurai.
Mara memantapkan langkahnya memasuki gedung pencakar langit yang merusak matanya saat ingin melihat setinggi apa gedung itu.
Belum juga memasuki kawasannya, Mara sudah dihalau dua orang satpam yang menjaga gerbang perusahaan itu.
“Ingin bertemu siapa pak?” Tanya mereka.
“Ingin bertemu Summer.” Sahut Mara tegang.
__ADS_1
“Apa kalian teman? Kenapa bisa menyebut Ketua dengan nama?” Celetuk satpam itu.
“Apa bapak sudah buat janji?” Lanjut satpam itu.
“Ah aku tak bisa buat janji, karna tak bisa menghubunginya.” Sahut Mara berusaha percaya diri.
“Ohh percuma. Di dalam pun bapak pasti disuruh pulang. Karna bertemu Ketua tidak boleh sembarangan tanpa janji. Begitu. Silahkan pulang saja.” Ujar mereka ketus.
Mara kecewa, dinding perbatasannya dengan Summer ternyata sangat tebal.
Mara langsung menunduk sedih.
“Kau bisa meninggalkan bungamu. Nanti akan aku berikan pada Ketua.” Ujar satpam itu berbelas kasihan.
Sedari awal mereka berpikir itu mungkin pria yang menyukai Summer. Jelas terlihat dari penampilannya yang sangat berusaha.
Selain dari Mara ada beberapa fans Summer yang sering menitipkan hadiah untuk Summer di satpam. Hal itu sudah biasa bagi mereka.
“Benarkah?” Mara langsung terobati.
“Ya berikan padaku.” Ujar satpam itu menengadahkan tangannya.
Mara kemudian menyerahkan bunga itu dengan harapan setidaknya Summer bisa menerimanya nanti.
“Silahkan pulang dan buat janji dulu yaaa.”
Dia kemudian berjalan menyusuri pinggir jalan raya itu. Ramai sekali kendaraan yang lewat dengan berbagai jenisnya. Dia baru sadar pusat kota sangat keren. Semua gedung pencakar langit berkumpul di situ. Jalanan yang bersih dan rapi. Beberapa tumbuhan dan pohon yang cukup tinggi membuatnya rindang meskipun cuaca sangat panas.
Tak ingin pulang sia-sia, Mara kemudia berjalan kaki menyusuri ibu kota sambil beberapa kali terpukau.
Jelas banyak sekali perbedaan daerah restorannya dengan pusat kota. Orang-orang yang lewat pun semua terlihat rapi. Dia kemudian melihat sebuah cafe yang cukup besar dan berencana akan membeli minuman dingin saking panasnya hawa di situ.
Selang sejam Mara berlalu, Mobil Summer muncul memasuki gerbang. Satpam dengan lincah mengangkat palang gerbang lalu memberi salam pada Summer. Salah satu satpam menyerahkan bunga yang tadi Mara berikan pada Pak Bagas. Satpam tersebut dan pak Bagas sempat berdialog sebentar.
“Ada apa?” Tanya Summer.
“Seorang pria tampan dan tinggi dengan rambut hitam sebahu meninggalkan bunga untuk Ketua. Katanya pria itu menyebut Ketua dengan nama.” Ujar Pak Bagas menaruh bunga di bangku sebelahnya.
“Berikan padaku.” Ujar Summer.
Pak Bagas kemudian menyerahkan bunga itu sambil terus menjalankan mobil ke parkiran.
“Kalau M jadi manusia, mungkin dia akan berpenampilan seperti yang satpam bilang.” Terlintas di pikiran Summer.
“Ah aku pasti sudah gila.” Gumam Summer sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ketua bilang sesuatu?” Pak Bagas merespon gumaman Summer.
“Tidak.” Sahut Summer
“Warna bunganya bagus.” Ujar Summer dalam hati sambil menyentuh satu persatu ujung bunga itu.
*****
“Lalu kamu tak sempat bertemu?” Nada tinggi Bu Rani tertuju pada Mara yang baru tiba di restoran.
“Iya. Aku harus membuat janji.” Sahut Mara cemberut.
Bu Rani pun ikut cemberut dan merasa kasihan dengan perjuangan Mara yang menghabiskan waktu 6 jam diperjalanan. Belum lagi uang yang dihabiskan. Meskipun dia anak Merman kaya tetap saja uang itu sayang dihabiskan untuk ongkos.
Wawan kemudian menepuk punggung Mara.
“Nanti coba lagi.” Ujarnya menyemangati.
”Iya tak apa. Aku tadi mencoba nongkrong di cafe. Kopinya sangat enak. Makanannya juga. Pusat kota memang keren sekali.” Ujar Mara dengan wajah terkagum.
Sebulan di daratan membuat Mara sudah bisa menikmati makanan manusia.
“Wuuu kamu sudah bisa bilang kata nongkrong ya.” Goda Bu Rani. Wawan sontak tersenyum dengan perkembangan bahasa anak kepala suku itu.
“Ngomong-ngomong. Kamu tulis apa tadi di bunga yang kamu tinggalkan?” Tanya Bu Rani tiba-tiba teringat.
“Emang harusnya ditulis?” Mara menjawab dengan pertanyaan.
Bu Rani sontak mengerutkan dahi.
“Bagaimana dia tahu itu dari kamu.” Ujar Bu Rani gemas. Memang Bu Rani yang menyarankan Mara membawa bunga, tapi masa harus diberitahu juga menulis surat.
“Ah iya. Lupa.” Sahut Mara menggaruk kepala.
“Ah percuma tampan. Dia bodoh.” Ujar Wawan dalam hati dan langsung membalikkan badan mencari kesibukan sementara matanya jadi terlihat hanya segaris.
Bagi Mara itu bukan hal yang sia-sia dia lakukan meskipun tak bisa bertemu dengan Summer. Begitulah usaha diperlukan. Mara bertekad akan pergi ke sana setiap dia punya libur sekali seminggu.
“Apa aku pindah ke pusat kota saja?” Gumam Mara. Karna tingkat bertemu pasti lebih tinggi jika pindah ke kota.
Mara membalikan tubuhnya dan tidur menghadap foto Summer yang sudah dibingkainya dan ditaruhnya di atas meja di sebelah kasur kecilnya.
Kalo Uma tau Mara memajang foto Summer di sebelah kasurnya, pasti uma akan ngedumel. “Dimana-mana orang menaruh foto keluarganya di situ.” Pikiran itu langsung membuat Mara cekikikan.
“Aku sedang berusaha Uma. Menjadikan Summer keluarga.” Gumam Mara kemudian memejamkan matanya dengan badan yang meringkuk karna kakinya yang panjang tidak muat di kasur. Malam itu malam yang tenang, usaha memang hal yang perlu dilakukan. Mau berhasil atau tidak, tetap ada perasaan lega.
__ADS_1
Bersambung…