Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Hari Pertama


__ADS_3

Keesokan harinya tiba.


Itu adalah hari pertama Summer ke kantor dengan posisi yang baru dia raih.


Summer berjalan memasuki perusahan bersama dengan Pak Bagas. Sedangkan dari pintu timur masuk Praman dengan beberapa pengikutnya.


Berpapasan membuat mereka mau tak mau harus saling menyapa.


“Selamat keponakanku. Kamu cukup hebat.” Ujar Praman sambil tersenyum.


“Terima kasih Direktur.” Ujar Summer dengan sopan.


Namun ternyata kesopanannya itu membuat Praman jengkel karna ada kata “direktur”.


“Baiklah selamat bekerja.” Ujar Praman dan berlalu diikuti beberapa pria di belakangnya.


“Direktur juga.” Sahut Summer.


Ketika Summer memasuki ruangan khususnya dan melihat name tag dia yang bertuliskan. “CEO. Summer Wicaksono”


Hatinya tergugah. Dia berjalan menuju kursi yang membawa beban berat itu. Ketika dia duduk, perasaan yang sangat pasti dia rasakan adalah kesedihan.


Dulu ketika dia memasuki ruangan itu, dia akan berlari sambil tersenyum menyapa Papanya. Namun kini ketika dia duduk di kursi milik ayahnya itu, rasanya sangat dingin dan kejam.


Setelah setahun tak pernah menangis lagi, kali itu dia tak sanggup menahannya. Kabar dari ibunya yang belum juga ada membuatnya semakin hancur.


Ditenggelamkannya wajahnya di kedua tangannya yang menyilang di meja. Dia tak bisa berhenti menangis.


*****


Sedangkan Mara dengan hari pertamanya memiliki kaki.


Semalaman dia menemani ibunya yang menangis melulu karna Mara akan pergi.


“Uma. Aku akan baik-baik saja.” Ujarnya berkali-kali.


Pagi itu mereka tidak bisa mengantarkan Mara ke daratan karna takut menarik perhatian manusia yang tak sengaja lewat.


Sehingga Mara berpamitan dan pergi sendiri. Orang-orang juga berkumpul melihat kepergian anak kepala suku itu.


Pagi-pagi sekali sebelum matahari muncul, Mara diam di pantai menunggu ekornya berubah.


Dan lalu kemudian dia menyaksikan sendiri ekornya menjadi kaki yang kekar dan panjang.


Segera dia memakai celana dan baju yang dia siapkan di dalam cangkang kerang yang tadi dia bawa.


Dia perlahan-lahan berdiri. Lalu berjalan. Karna terlalu girang dia berlari.


“Wohooooo. Aku punya kaki.” Ujarnya.


Namun dia lebih kaget lagi dengan suaranya yang berbahasa manusia. Ditutupnya mulutnya kaget dengan mata membelalak.


“Wah aku bisa bicara seperti manusia.” Ujarnya riang sekali sambil meloncat-loncat.


“Summer.” Ujarnya lembut sambil tersenyum malu.

__ADS_1


Wah begitu rasanya bisa mengucapkan nama wanita yang dia suka. Dia sangat senang sekali, berkali-kali dia berlari melompat dan teriak lalu tertawa-tawa.


Dia merasa dalam waktu dekat dia bisa bertemu Summer.


Dengan pede dia berjalan sambil menenteng cangkang kerang di pinggangnya. Ternyata sendal yang diberikan Uma kekecilan, begitu pun celana training yang menggantung. Untung kaos putih yang dia pakai cukup besar.


Itu tentu lebih baik dari pada tak memakai apa-apa.


Dia sampai di kerumunan pasar. Banyak orang yang jualan yang berteriak-teriak memanggil orang untuk membeli jualannya.


“Hei anak muda. Ini murah dan segar lihat saja. Cuma 25 ribu sekilo.” Ujar ibu penjual menawarkan dagangannya pada Mara.


“Hmmm gak segar.” Jawab Mara enteng. Karna baginya yang segar ya ikan yang masih menggelepar.


Ibu penjual ikan itu tentunya merasa tersinggung. “Silahkan pergi. Jangan nyusahin usaha orang.” Ujarnya marah.


“Manusia apa memang galak begitu? Summer padahal tak begitu.” Gumam Mara.


Mara lalu berjalan sambil melihat-lihat. Lalu ditemukannya lah sebuah restoran, dilihatnya nama restoran yang tertulis diatas pintu masuk.


“Seafood Bang Wawan” begitu tulisannya.


Dibukanya cangkang kerangnya. Dan dilihatnya tulisan yang ada di sebuah kayu kecil itu. Dibandingkannya tulisan itu dengan nama restoran tersebut.


“Selamat datang. Mau pesan apa?” Ujar seorang pria berusia 40an. Mara melihatnya dan mereka sempat bertatap mata.


Pria tersebut pun menyadari dari pakaian, dan rambut hitam pekat begitupun mata yang hitam pekat. Namun badan yang sangat tinggi.


“Ahhhhh keturunan Appa.” Pikirnya.


“Masuklah Mara.” Ujar Pria pemilik restoran itu.


“Bima.” Seru Mara langsung memeluknya.


“Kau besar sekali. Tinggimu ada kali 190cm. Anak Appa emang berbeda.” Ujarnya menepuk punggung Mara yang bidang itu.


Bima adalah sebutan para petarung suku Kulum. Pada masanya suku Kulum berjuang untuk mempertahankan keturunan mermaid dari predator buas atau ancaman manusia. Meskipun ukuran mereka tak sebesar Appa, mereka semua prajurit tangguh dan bisa diandalkan.


“Disini aku dipanggil Wawan. Tapi di dunia manusia itu ada tata krama memanggil yang lebih tua. Karna aku teman Appa kau bisa panggil aku Om Wawan.” Ujar pria bernama Wawan itu.


“Wahhh kau punya nama manusia.” Ujar Mara terkagum.


“Kau juga akan punya. Eh iya ini istriku. Rani.” Ujar Pak Wawan mengenalkan istrinya yang kebetulan keluar dari dapur.


Bau manusia, itu yang pertama Mara sadari. Wanita yang mungkin berumuran 30an. Dengan wajah dan senyuman yang tulus.


“Halo. Jadi kamu juga satu suku dengan Wawan?” Ujar Rani sambil ambil posisi duduk disebelah suaminya.


“Iya.” Ujarnya senang. Karna di depan matanya jelas terlihat kalau mermaid dan manusia itu bisa bersama.


Semua mermaid atau merman yang memutuskan untuk hidup di daratan, awalnya akan bersama dengan Wawan jika tak ada tempat, sdan tujuan. Agar lebih mudah mereka menjalani hidup di dunia manusia.


Service itu sendiri Wawan yang menawarkan pada Appa, karna dia tau betul sulitnya beradaptasi tanpa tahu apa-apa, hidup sendiri dan tak ada yang mengajari.


“Mohon bantuannya Om Wawan.” Ujar Mara dengan tangan dikepal. Itu adalah cara suku mereka menghormati para Bima.

__ADS_1


“Tentu tentu. Aku harus bersikap baik pada anak Appa.” Sahutnya.


“Sudah makan?” Sambungnya.


“Tadi pagi sih aku sudah makan 3 ikan.” Sahut Mara.


“Kamu harus membiasakan makan makanan manusia jika mau beradaptasi dengan cepat.”


“Ahh begitu. Ummm aku boleh minta ikan bakar?” Ujar Mara bersemangat.


“Boleh boleh.” Sahut Wawan. Diikuti dengan istrinya yang langsung bergerak ke dapur.


“Kamu nanti akan dibuatkan ktp.” Ujar Wawan.


“Apa itu KTP?” Tanya Mara.


“Seperti ini.” Wawan sambil merogoh saku dan membuka dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu.


“Lihat. Ada foto dan namaku . Identitas manusia.” Wawan menjelaskan.


“Ohh begitu. Itu namanya foto. Dimana aku mengambilnya?”


“Besok aku akan bawa kamu untuk berfoto.” Ujar Wawan.


“Wah aku tidak sabar?” Mara bersemangat sekali melakukan hal yang biasa manusia lakukan.


Bu Rani kemudian datang dengan membawa ikan bakar di piring yang lumayan besar.


“Cobalah.” Ujar Wawan


Mara kemudian mengangkat satu ikan besar itu dan ingin memakan utuh seperti dia memakan ikan biasanya.


Wawan refleks memukul tangannya saat ikan itu hampir bersentuhan dengan bibir Mara.


“Tidak begitu caranya makan.” Ujar Wawan menyuruh Mara meletakkan ikan itu kembali ke piring.


Lalu dia mengambil sendok dan garpu. Menjelaskan dengan memberi contoh mengambil daging ikan lalu memisahkan durinya dengan garpu dan sendok, kemudian memasukkan ke mulutnya dengan rapi.


Mara memperhatikan dengan seksama, dicobanya memegang sendok dengan menggenggam ujung sendok seperti anak bayi. Ternyata sangat sulit menirunya.


Akhirnya Wawan mengajari dengan mencubit daging ikan dengan tiga jarinya lalu memakannya. Sepertinya itu lebih gampang untuk ditiru Mara.


“Wahhh kamu berbakat.” Puji Wawan melihat Mara yang meniru dengan kaku.


“Ikan hidup memang lebih enak.” Ujar Mara setelah mencicipi ikan bakar itu.


Tapi dia merasakan ada rasa yang berbeda dari ikan bakar ini dengan yang dia makan dahulu bersama Summer. Tentu saja, ikan bakar di restoran tentu lebih enak krna pakai bumbu dan penambah rasa.


Saat mereka sibuk belajar makan, TV di restoran itu menayangkan berita tentang kemenangan Summer.


“Summer Sea akhirnya sudah memilih penerus perusahaan yang memenangkan pemilihan kemaren pagi, dan yang terpilih adalah Summer Wicaksono, putri Rudi Wicaksono sendiri. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, membuat Summer sangat populer karna pencapaian yang dia peroleh…” Ujar pembawa berita sambil menampilkan video Summer keluar dari aula pemilihan kemaren pagi.


Mara lantas mendekati tv yang ditaruh menempel di dinding. Jantungnya berdegup kencang, perlahan-lahan dia berjalan ke arah wajah Summer yang ada di layar TV. Dia senang bisa bertemu dengan Summer di hari pertamanya menginjak daratan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2