Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Para Pengkhianat


__ADS_3

Di sebuah restoran dengan ruangan privat, Summer, Sara duduk bersampingan. Duduk bersebrangan dengan salah satu pengikut Praman. Kali ini pembicaraan juga lancar, satu-persatu dari mereka mulai mengalihkan pandangan memilih mengikuti Summer.


Kedepannya bahkan jadi lebih mudah, yang mengajak bukan lagi Summer, melainkan ajakan dari mulut ke mulut yang berada dalam satu kelompok. Mereka akan berlomba-lomba mendatangi dengan sendirinya seperti penjilat.


Semua itu terjadi tanpa sepengetahuan Praman. Summer ingin omnya yang angkuh itu tetap merasa tenang dan superior. Padahal satu persatu bobroknya mulai terungkap dari pengakuan para pengikutnya yang berkhianat.


Mereka tentu hanya akan diterima dengan syarat membawa satu bukti yang bisa menjatuhkan posisi Praman.


Bagai karma, banyak dari mereka yang dengan suka rela mengorek bukti kebusukan Praman demi posisi aman di Perusahaan. Pria yang paling dihormati dan berkuasa kini jadi bahan bualan dan alat. Mereka yang dahulu orang setia dan tunduk, kini bisa merasakan sensasi superior dibandingkan Praman.


“Manusia bisa seseram itu ya?” Ujar Sara bersantai di sofa.


Hari minggu yang seharusnya santai setelah kesibukan beberapa pertemuan dengan para pengikut Praman yang memutuskan berkhianat. Namun tidak dengan Summer yang masih bergulat dengan dokumen dan rencana-rencananya.


Netranya terfokus memandang huruf-huruf kecil secara runtut. Satu persatu dia membaca dokumen bukti penggelapan dana yang diperoleh mudah dari manusia-manusia serakah.


“Iya. Aku juga malu sebagai manusia.”


Sahut Summer memeluk bantal sambil berkutat membaca dokumen bukti yang menunjukkan bahwa Praman memiliki beberapa perusahaan bodong untuk pencucian uang.


“Aku tak mengerti orang yang tadinya setia, tunduk, bisa dengan enteng berbalik menjatuhkan orang yang dia hormati.”


Summer meletakkan dokumen yang tadi dia pegang, pertanyaan menyentil dari seorang duyung terhadap sifat manusia daratan.


“Mereka memang dasar orang yang hanya memikirkan diri sendiri. Mengikuti Praman juga demi posisi mereka sendiri, agar aman. Umumnya manusia itu ingin merasa superior. Pasti rasanya senang bisa berada di atas orang yang selalu mereka agung-agungkan dan hormati. Ah ya dan lagi, Praman bukan orang yang menghargai para pengikutnya. Untung juga dia punya sifat begitu, jadi tidak sulit mengajak orang-orangnya. Sejak kejadian Om Harith dan Jenni, sudah cukup jelas menyadarkan mereka kalau mereka hanya dijadikan alat.”


“Rumit sekali.”


“Maaf ya, daratan itu memang seperti ini Sara. Manusia dan manusia malah yang sering saling menyakiti.”


“Itulah yang aku lihat.”


“Ngomong-ngomong, aku gak liat Tapa dari pagi.”


“Iya, dia mau pergi refreshing katanya.”


“Tumben banget dia pergi gak sama kamu.”


“Iya. Dia pasti butuh me-time.”


“Eh kamu udah ngerti istilah-istilah begitu?”


“Hah! Ngerti dong. Merepeople itu cepat belajar tau!” Sahut Sara bangga. Sikapnya persis seperti Mara yang dulu selalu bangga saat di puji.


Summer kembali fokus membaca dokumennya lagi.

__ADS_1


Ting!


Mengejutkannya ternyata bukti itu masih terus berdatangan hingga sekarang, file kali ini dikirim lewat pesan. Rasanya seperti panen bukti. Jika ditumpuk, kertas yang bertuliskan dosa Praman itu bisa menggunung tinggi.


Mara keluar dari kamarnya dengan memicingkan sebelah mata. Dia baru bangun tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi. Jalannya linglung sembari mengucek mata.


Dia berjalan ke ruang tamu dan melihat Summer ada di sofa, langsung dia hampiri. Lalu duduk di sebelahnya, memeluknya dengan mata terpejam, memangkukan dagu ke bahu kecil wanita yang sedang fokus membaca itu.


“Tidur nyenyak?” Tanya Summer sambil mengelus kepala Mara.


Mara menyahut dengan mengangguk menggelitik bahu dengan dagunya.


Sara langsung bergidik geli melihat tingkah kakaknya. Seberapa kali pun menyaksikan, rasanya tak akan terbiasa. Dia selalu merasa geli melihat kakaknya yang bersikap manja dan berbicara lembut pada Summer.


Lebih baik Sara masuk kamar agar tak menyaksikan dua sejoli bermesraan di depan mata. Dia tak berniat jadi nyamuk diantara mereka berdua.


“Aku mau ke kamar.” Ujar Sara langsung melengos.


Mara kemudian memindahkan posisi kepalanya yang tadi di bahu Summer kini di paha Summer.


“Masih mau tidur lagi?” Tanya Summer menatap ke bawah, bantal yang tadi dia peluk kini jadi guling terapit di kedua kaki Mara.


Mara melingkarkan tangan kirinya dj pinggang kecil Summer, menyingsingkan kaos lalu memasukkan kepalanya ke dalam.


“Hei Mara!” Teriak Summer refleks.


“Aku mau fokus dulu, Mara!” Keluh Summer.


Kini Mara duduk, mungkin dikira menurut berhenti, nyatanya tiba-tiba mengulur tangan, mengangkat, memikul Summer. Dibawanya ke kamar.


Summer berteriak sambil tertawa namun tak dipedulikan oleh Pria besar yang menaruhnya di bahu, membiarkan kakinya menghentak-hentak protes.


Setelah masuk kamar dan menutup pintu, Sara keluar dari kamarnya dengan menghadang tas seperti orang mau lari.


“Sialan. Begini kadang makanya aku gak suka bisa mendengarkan pikiran manusia.” Gerutunya buru-buru mengenakan sepatu kets-nya agar bisa segera keluar rumah dan meninggalkan dua sejoli itu berprivasi.


Sara berderap jengkel sambil menepuk-nepuk kedua telinganya, tak ingin sama sekali mendengar mereka yang di dalam kamar.


Dia mempercepat langkahnya dan akhirnya sampai di luar. Memang tadinya dia tak berencana ingin pergi kemana. Kemana saja asal tak di rumah. Tapi ‘kemana saja’ itu membuatnya terdiam bingung.


Dia mencari sejenak di ponsel. Mungkin menghabiskan waktu 15 menit berdiri di pinggi jalan mencari tempat yang sekiranya asik.


“Hari yang indah buat merawat diri.” Ujarnya membuat keputusan.


Merawat diri sudah, belanja pakaian dan sepatu sudah, makan makanan enak sudah.

__ADS_1


Saat melihat jam tangan ternyata sudah pukul 10 malam. Seharian penuh dia diluar.


Menurut dengan treatment apapun yang di tawarkan oleh klinik kecantikan dan salon. Membeli semua pakaian yang dipuji oleh karyawan toko pakaian. Kini dia berdiri dengan beberapa tas belanja yang menggantung di tangannya.


“Ah cape banget. Padahal ini ringan-ringan tapi cape banget. Biasanya Tapa yang bawain. Huft.” Ujarnya sambil scroll ponselnya untuk memesan taxi.


Ramainya pengendara menghasilkan macet yang luar biasa, itu hal lumrah yang terjadi di ibu kota. Namun tidak akan ada yang terbiasa dengan membuang-buang waktu di jalan. Sara beberapa kali menghela nafas dan berdecak. Entah jam berapa dia akan sampai di rumah.


Setelah akhirnya sampai di rumah, Sara melepas sepatunya asal-asalan karena sudah lelah. Dia berjalan sambil celingak-celinguk.


“Tapa!” Panggilnya.


Dilemparkannya semua tas belanja di sofa dan berjalan ke kamar Tapa.


“Tapa!” Panggilnya menekan gagang pintu.


Namun ternyata kamar itu kosong.


Kini Sara merasa kesal, segera diambilnya ponsel menelpon Tapa.


Saat Tapa mengangkat, terdengar suara bising seperti musik dan orang-orang yang berteriak. Sontak Sara menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


“Dimana?” Tanya Sara, namun telponnya langsung dimatikan Tapa.


Sara kini semakin jengkel.


Ting! Suara pesan masuk dari Tapa.


“Gak kedengeran kalo di telpon. Aku lagi di bar.” Isi pesannya.


“Bar mana?” Sara mengetik dengan segala emosi meluap dalam dirinya. Jika bisa disalurkan ke setiap huruf yang dia ketik, Tapa akan langsung terbakar saat membacanya.


“Yang di dekat universitas AA.”


Tanpa berganti pakaian, Sara langsung memesan taxi dan segera meluncur.


Entah kenapa rasanya dia bertambah marah setiap menilik jam tangannya.


“Udah tengah malam begini!” Gerutunya.


Sara sendiri masih bingung penyebab dia merasa sangat kesal, entah karena dia yang datang menjemput padahal tak diminta, atau Tapa yang tidak ada di rumah seharian.


Sesampainya di bar yang di maksud, Sara cengo melihat sekelilingnya, jenis tempat yang baru pertama kali dia kunjungi. Dari luar saja sudah membuat telinga Sara bergidik seram.


“Telingaku bisa berdarah kalau masuk ke dalam.” Gerutunya bermonolog.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2