Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Aku Akan Hidup


__ADS_3

“Summer, anak itu. Kebetulan sekali ikut menghilang.” Ujar Yura sambil menyentuh gelang berliannya yang baru saja dia beli kemarin siang.


Yura termasuk orang yang sangat mewah. Baik dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia juga terkenal dengan wajahnya dan senyum dinginnya.


Di tengah pembicaraan mereka ada seorang gadis sedang menguping di dekat ruang tamu sambil tersenyum.


Dia adalah Jenni. Jenni lebih tua dari Summer karna ibunya lebih dulu menikah 4 tahun dari orang tua Summer.


Kini Jenni sendiri berumur 22 tahun. Terkenal sangat tidak akrab dengan Summer. Banyak alasan yang baik bagi Jenni untuk tersenyum saat itu.


“Akhirnya.” Pikirnya menyeringai.


Setelah membuka cangkang kerang, satu persatu isinya dikeluarkan Mara. Ada dua baju dan dua celana. Tapi karna dasarnya habitat Sara di air, baju-baju itu basah.


Tapi beruntung roti itu masih di dalam plastik. Mara sebenarnya sangat benci dengan plastik, karna sangat mencemari laut, tapi untuk kali itu dia berterima kasih dengan plastik.


Summer mengambil roti itu dan membuka plastik rotinya. Dia melihat roti itu sedikit basah karna air yang masuk. Tapi tak apa, hanya akan menambah asin sedikit pikirnya.


Summer memakan roti itu, itu makanan pertamanya dari kemarin siang. Dan sekarang matahari sudah hampir ditengah, menandakan sudah siang.


Mara senang akhirnya Summer makan. Ada dua roti itu, dimakan Summer keduanya.


Mara menunjukkan pemantik, namun tak berfungsi karna basah. Summer tersenyum dan mendirikan pemantik itu terbalik.


Mara kemudian kembali mengobati paha Summer. Kali itu sudah tak terlalu sakit saat Mara menetesken ramuan itu kembali. Dan sepertinya ramuan itu memang mujarab. Luka Summer sudah hampir mengering.


Mara memperhatikan ada yang beda dari Summer selain dia mau makan. Lehernya semakin terlihat jelas. Dan itu karna rambutnya sudah digulung.


“Apa wajah manusia semua sekecil ini?” Pikir Mara.


Di mata Mara, Summer semakin cantik. Entah karna rambutnya yang digulung atau karna dia sudah tidak menangis lagi, atau karna Summer sedang makan.


Sembari memperhatikan Summer, Mara tiba-tiba memasukkan tangannya ke air dan menarik tangannya dengan ikan sudah menancap di kuku jarinya.


Summer kaget tapi berusaha tenang.


“Ah itu gunanya kuku yang tajam itu.” Ujarnya dalam hati.


Tak sampai di situ, Mara langsung melahap ikan tapi pandangannya masih lengket di wajah Summer.

__ADS_1


“Hah!” Refleks Summer kaget mendengar suara ikan yang dikunyah hidup-hidup oleh Mara.


Mara tersenyum, sekarang mereka jadi terlihat makan bersama.


“Selera makan manusia memang berbeda.” Ujar Mara dalam hati sambil mengangguk anggukan kepalanya.


Baju yang basah itu dijemur Mara di batu, dan di dahan. Akhirnya mereka terdiam sebentar selesai makan.


Summer masih penasaran dengan perubahan warna rambut Mara ketika terkena cahaya matahari. Kali ini dia memberanikan diri menyentuh rambut Mara.


Ternyata benar rambut itu halus sekali. Rambutnya ikal sebahu, meskipun selalu basah kena air laut, rambut itu tetap rapi.


Melihat rambutnya disentuh, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke tangan Summer dan menggesekkan wajahnya ke telapak tangan Summer.


“Kamu kayak kucing.” Ujar Summer tersenyum.


“Kemarin malam aku dapet kabar kalo orang tuaku kecelakaan. Katanya Papaku tak terselamatkan. Mamaku belum ditemukan. Dan aku juga pasti sedang dicari sekarang. Tapi aku belum tau harus apa sekarang. Jelas banget ada yang mau bunuh aku dari cara truk itu menabrak mobilku. Aku bingung kenapa, apa alasan mereka membunuhku. Setauku, aku dan orang tuaku tidak punya musuh, ataupun pernah menyakiti orang.” Ujar Summer yang akhirnya menceritakan semuanya.


Mara terlihat marah bercampur sedih. Dia bersyukur mengerti bahasa manusia. Jadu dia bisa mengerti apa yang terjadi terhadap Summer.


Summer tidak menangis ketika menceritakannya. Air matanya sudah mengering. Hanya kebingungan harus apa yang terbaca dari raut wajahnya.


Itu yang dilakukan Uma ketika Mara dan Sara menangis. Itulah yang sepertinya dia harus lakukan untuk Summer.


Summer akhirnya tak bisa menahan untuk tidak emosional. Dia akhirnya menangis lagi, entah dari mana air mata itu muncul lagi. Dia sekali lagi menangis tersedu-sedu.


Mara masih terus memeluknya sampai akhirnya Summer tenang dan berhenti menangis.


Mara memegang tangan Summer dan menaikkan tangannya memberi tanda untuk semangat. Entah itu tanda untuk semangat atau tanda untuk berjuang.


Summer tersenyum, dan dia bersyukur bisa tersenyum dengan ada Mara di sisinya.


Kemudian Summer mengambil pemantik yang tadi ditaruhnya terbalik. Dicobanya memantikkan dan bisa menyala.


Mara melotot sangat bersemangat, seperti biasa dia akan berenang mengelilingi Summer.


Summer berusaha berdiri, cukup sulit namun harus dicoba. Pahanya masih sakit padahal.


Summer terus berusaha sampai dia bisa berdiri dan meraih dahan kering di dekatnya. Dipatahkannya dahan itu.

__ADS_1


Melihat itu Mara berenang dan mencari dahan di pinggir bukit itu. Dan kembali membawa beberapa dahan.


Makan malam itu akhirnya ikan bakar. Mara akhirnya mengerti begitu cara memasak ikan.


Summer mencoba mencubit ikan itu dan menyuapi ke mulut Mara. Mara sempat ragu melihat warna ikan itu sekarang jadi hitam-hitam. Namun tidak ada salahnya mencoba.


Dimakannya ikan matang itu dan terdiam. Lalu dengan sigap tangannya masuk ke air.


Sekali lagi pemandangan ikan tertancap di kuku Mara masih membuat Summer kaget.


Ternyata ikan segar lebih enak bagi Mara.


Summer menyuruh Mara berbalik karna dia harus mengganti bajunya. Akhirnya dia bisa mengganti baju setelah memakai baju yang sama selama dua hari. Baju itu cukup besar. Dan begitupun celananya. Tapi lebih baik daripada memakai baju yang sama berhari hari.


Malam itu bulan tak terlalu penuh tapi tetap terang. Cahayanya terpantul ke laut. “Indah sekali.” Ujar Summer.


Rambut dan mata Mara kini berubah menjadi putih. Cahaya bahkan memantul ke sosoknya dan membuat wajah Mara terlihat tetap jelas karna warna rambutnya.


“Indah sekali.” Ujar Summer dalam hati.


Malam itu Mara tidak meninggalkan Summer. Dia tertidur di sebelah Summer dengan dadanya di batu ekornya di air.


Malam itu Summer tidak bisa tidur. Dia menutup wajahnya dengan lengannya. Sedang Mara sedang tertidur pulas.


Summer mengambil satu bajunya dan menyelimuti punggung Mara.


Summer terus menatap Bulan dan berpikir.


“Apa kubunuh saja semua orang yang ingin membunuhku? Apa jangan-jangan Mama dan Papa juga dicelakai orang.”


Wajah Summer menjadi dingin dan matanya tajam. Ini patut untuk dia cari tahu. Jika saja hanya dia yang dilukai, mungkin Summer tak akan semarah itu. Namun jika memang ada yang merencanakan membunuh orang tuanya, Summer akan benar-benar membunuh orang tersebut.


Malam itu dia memutuskan untuk jadi wanita kuat. Dia akan hidup dan berjuang. Dia akan hidup untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan hidupnya.


Dilihatnya Mara yang tertidur, sangat lelap seperti bayi.


“Aku harap kamu selalu bahagia. Orang tuamu selalu sehat dan kamu juga.” Ujar Summer sambil mengelus kepala Mara.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2