
Mara sampai di ibu kota. Dia memutuskan menginap di hotel untuk beberapa hari selama masa test-nya.
Dia memilih hotel terdekat dengan gedung Summer Sea. Hotel itu adalah salah satu hotel terbesar di kota itu.
Sejak memasuki lobi hotel, Mara tak berhenti memutar pandangannya melihat setiap sisi di hotel itu. Semua tampak berkilau mewah dan sangat bersih.
“Mau bermalam berapa hari pak?” Tanya karyawan bagian resepsionis hotel tersebut.
“Seminggu.” Sahutnya.
“Mau jenis kamar yang bagaimana?” Tanya wanita berpakaian rapi itu.
“Apa saja adanya?” Tanya Mara.
Mara kurang mengerti fasilitas apa yang dia perlukan karna itu pertama kalinya dia akan bermalam di hotel.
“Ada standard room, ada superior room, ada deluxe.” Ujar pegawai itu dengan sopan.
“Ahhh aku ingin coba kamar paling atas.” Sahut Mara karna penasaran rasanya berada di ujung gedung hotel tersebut.
“Penthouse.” Ujar wanita itu tersenyum.
Mala membalas dengan senyuman juga.
Terlihat pegawai itu mengetik sambil memperhatikan monitornya.
“Total 35 juta. Mau cash atau debit pak?” Tanya wanita itu.
“Cash saja.” Kemudian Mara membuka tasnya dan menaruh tumpukan uang berkali-kali di meja resepsionis itu.
Pegawai itu tercenung. Baru kali ini dia melayani orang membayar dengan cash sebanyak itu. Saking banyaknya, uang itu sampai terjatuh-jatuh.
“Ah baik akan saya hitung ya.” Ujarnya memasukkan tumpukan uang itu ke mesin penghitung.
Setelah dihitung uang itu ternyata lebih sejuta. Lantas pegawai itu mengembalikan uang lebih itu dengan sopan.
“Ah ini tips buat mu.” Ujar Mara tersenyum.
Dia sudah belajar saat jadi pramusaji, tips itu sangat berharga.
Wajah pegawai itu langsung ceria.
“Terima kasih.” Ujarnya.
“Ini pak access card-nya.” Ujar pegawai itu dengan sopan memberikan pada Mara.
Lalu wanita itu memberi salam.
Mara berterima kasih, namun kini dia bingung harus jalan kemana.
“Lift di pojok sebelah kanan Pak.” Pegawai itu menunjuk dengan kedua tangannya sambil menunduk.
“Ah baik.” Sahut Mara menggaruk kepalanya.
Melihat Mara bingung pegawai itu memanggil pegawai lainnya untuk menjaga meja resepsionis menggantikannya.
“Mari saya antar Pak.” Ujarnya menghampiri Mara.
“Ah terima kasih.” Sahut Mara.
Wanita itu kemudian memencet tombol lift dan masuk saat terbuka.
“Silahkan Pak.” Ujarnya pada Mara yang terdiam.
__ADS_1
Mara kemudian ikut masuk. Saat pintu lift tertutup, lift kemudian naik dan gerakan lift itu membuat Mara kaget.
“Huahhh!” Teriaknya tanpa sadar.
Pegawai itu kemudian menoleh.
“Bapak baik-baik saja? Ini pertama kalinya naik lift pak?” Tanya nya.
“Iya.” Sahut Mara tersenyum malu.
Mara mencoba mulai membiasakan diri di dalam lift itu. Dia menghirup lalu mengeluarkan nafas berkali kali untuk menenangkan diri.
“Jika Bapak Samara ingin turun nanti, boleh pencet ini, jika ingin naik Bapak bisa pencet ini. Bapak bisa tekan mau ke lantai berapa menurut angkanya.” Ujarnya menjelaskan dengan menunjuk tombol yang ada di situ.
“Baik terima kasih.”
“Jika Bapak mengalami kesulitan boleh hubungi kami di angka satu di telpon di ruangan bapak.” Sambung wanita itu.
Di sebuah ruangan berbeda di hotel yang sama itu, ada Jenni sepupu Summer baru keluar dari sebuah kamar yang cukup besar.
“Ah sialan, kalo bukan untuk peranku di film baru itu, aku tidak akan meniduri sutradara tua bangka itu.” Ujarnya mendumel. Setelah keluar dari ruangan itu.
Dia memastikan pakaian dan rambutnya sudah rapi.
Wanita cantik itu kemudian berjalan melenggokan badannya. Karna dressnya yang ketat itu, membuat bentuk badannya jelas mencolok.
“Aaaarrgghhhhhhh maaf! Maaf!” Ada suara teriakan dari sebuah kamar.
Jennie yang tengah berjalan sontak kaget mendengar suara itu.
Kemudian suara itu terdengar makin jelas dan kini benturan pintu pun terdengar.
Mata jenni membelalak, di dekatinya pintu itu untuk mendengar lebih jelas lagi.
Setelah pintu terbuka terlihat seorang wanita dengan rambut hitam acak-acakan di lempar keluar.
Wanita itu memakai kemeja putih yang sudah porak-poranda dan bekas pukulan di kakinya yang tak mengenakan celana.
Wanita itu menangis sampai nafasnya putus-putus, wajahnya sudah berantakan karna darah.
Perlahan-lahan kepala Jenni menoleh ke arah pintu melihat orang yang melempar wanita itu keluar. Masalah besar menyaksikan seorang psikopat menghabisi seorang wanita.
Tubuhnya masih membungkuk kaku dan ketakutan.
Ditelisiknya dari bawah ke atas pelan-pelan.
Seorang pria yang hanya memakai boxer dan bertelanjang dada. Perlahan matanya naik melihat wajah pria itu.
setelah dia memperjelas pandangannya,
“Elo!” Jenni mengenali orang itu.
Kemudian dia langsung menghela nafas lega dan berdiri tegak sambil nyengir.
“Lu masih begini aja, Richard.” Sindir Jenni pada pria yang ternyata sepupunya itu.
“Urus urusan lo aja.” Ujar pria itu dingin lalu membanting pintu.
Wanita yang terkapar di lantai itu berusaha bangun ingin segera meninggalkan neraka itu.
“Cihhh dasar.” Ujar Jenni melihat sikap sepupunya itu.
Kemudian dia melenggang berjalan melewati wanita yang babak belur dan menyeret badannya di lantai.
__ADS_1
Jenni bahkan tak peduli, dia dengan santai berlalu.
Tak lama kemudian beberapa pria datang dan mengamankan korban Richard itu.
Di kamar yang remang-remang, hanya ada cahaya lampu tidur, Richard duduk di sebuah sofa dan menunduk. Dia membayangkan perlakuan ayahnya padanya.
“Kamu lihat Summer! Sedikit pun kau tidak punya kemampuan! Sepersepuluh kemampuannya pun tak kamu miliki!” Ujar Praman memukuli anaknya dengan tongkat golf.
Setiap Praman merasa kesal karna masalah perusahaan, dia akan melampiaskan kemarahannya pada anak laki-lakinya itu.
Terlebih semenjak Summer duduk di kursi Ketua menggantikannya, siksaan Praman pada anaknya semakin menjadi-jadi.
“Dasar tidak berguna. Kenapa kau harus lahir jika jadi manusia tidak berguna seperti ini? Mati saja mati!” Teriaknya sambil memukuli anaknya itu.
Setelah amarahnya terlampiaskan, Praman melempar tongkat golf itu dan membiarkan anaknya mengerang kesakitan di lantai.
Saat itu lah Clara istri Praman akan datang dan membantu Richard.
“Makanya kamu jaga sikap. Kamu tau ayahmu seperti itu.” Ujar Clara membantu anaknya berdiri.
Mendengar kata-kata yang bahkan tak sedikitpun menenangkannya itu, membuat Richard sangat marah.
“Aarggghhh!!! Brengsek!” Teriaknya sampai liurnya yang bercampur darah menggantung di dagunya.
Seperti biasa dia akan berdiri terhuyung-huyung dan meninggalkan rumah dengan luka-luka lebam di badannya.
Dia akan menyuruh orang mencari wanita penghibur yang mirip dengan Summer lalu menunggunya di hotel.
Sesampainya di hotel, wanita itu akan dia siksa sebagai pelampiasannya.
Entah berapa wanita yang sudah dia siksa, dan tingkahnya itu sering sampai di kuping Praman . Praman tak peduli, namun jika itu sampai bocor ke media, Richard pasti akan mati di tangan ayahnya.
Richard sudah tak peduli. Rasa takut? Tentu. Tapi baginya ini tidak adil. Orang yang bertanggung jawab atas yang dia derita selama ini adalah Summer.
Setiap ayahnya menyebut nama itu sambil memukulinya, Richard akan punya keinginan menyiksa Summer.
Dia akan memukuli wanita penghibur yang dia bayar sambil membayangkan seperti dia sedang memukuli Summer.
Wanita-wanita tersebut pun akan dibayar sangat mahal setelah itu untuk menutup mulut.
Ketika masuk ke dalam lift, Jenni bertemu dengan Mara.
Matanya langsung terbelalak melihat ada pria tampan dan tinggi berdiri di dalam lift itu.
“Tolong basement.” Ujar Jenni pada pegawai yang ada di dalam lift itu.
Jenni beberapa kali menoleh Mara yang sibuk memperhatikan angka-angka di atas pintu lift.
“Huh? Naik lagi?” Pikir Jenni.
Dia penasaran di lantai berapa pria tampan bermalam.
“Ahh coba saja ada sutradara setampan pria yang di sebelahnya itu.” Ujarnya dalam hati.
Pakaiannya simpel tapi bermerk terkenal. Tanpa jam tangan dan aksesoris. Tasnya pun terlihat biasa saja. Dia belum pernah melihat teman aktornya setampan Mara.
“Ting!” Suara lift berbunyi.
“Silahkan Pak.” Ajak pegawai itu.
“Pent…house?” Jerit Jenni dalam hati.
Bersambung…
__ADS_1