Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Rekaman


__ADS_3

"Di rekaman yang beredar, putra anda tidak menyangkal keterlibatan anda atas kematian Rudi Wicaksono."


“Apa anda hanya terlibat atau memang tersangka?”


"Apa putra anda adalah kaki tangan?"


Praman yang tadinya ingin mengacuhkan para reporter yang menyerbunya, sontak terdiam murka. Dipandangnya takam pria yang melemparkan pertanyaan kelewat batas itu.


"Omong kosong! Kau bertanya-tanya seolah-olah aku yang membunuh kakak kandungku sendiri!" Praman sudah tak bisa memakai topeng memolesi wajah, sudah tak peduli jika mereka merekam dirinya saat marah.


"Ayo masuk ke mobil, Direktur." Ujar Harith mempersilahkan setelah memberi jalan.


"Tolong beri komentar!" Seru mereka dari luar mobil sembari menyalakan flash kamera memotret. Beberapa dari mereka masih berlari mengikuti mobil Praman yang berjalan meninggalkan Para wartawan yang tak puas dengan komentar Praman.


"Sialan!" Maki Praman menghentak dasi untuk dilepaskan. Kerutan dahinya bertambah mengguratkan kemarahan. Dipandangnya Harith dengan sinis.


"Kalian kerjanya gimana sih?" Bentaknya pada wakilnya yang duduk di sebelah supir.


"Maaf Direktur. Satu pun dari kita tidak tau kalau ada rekaman seperti itu." Harith menyahut tanpa menoleh ke belakang.


"Ck!"


"...Dasar anjing-anjing tak berguna." Sambungnya mencemoh para bawahannya yang tak becus.


Harith mengepal kencang tangannya, beruntung dia tak duduk bersebelahan dengan Praman. Jika tidak dia akan ketahuan karena tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya kini.


"Bagaimana kau akan mengurus ini?" Lontar Praman membebankan pada Harith seperti biasa.


"Aku sudah menelpon media, mereka sedang mengurusnya."


"Lamban." Desisnya.


"...Apa saja sih yang dilakukan dari semalam? Sampai pagi begini tak beres." Sambungnya.


Praman menyalahkan bawahannua yang tak beres bekerja, sehingga paginya menjadi rusak.


"Maaf Direktur."


Bukan maaf yang dibutuhkan Praman, tapi solusi. Dia mengacuhkan membuang pandangannya, nafasnya masih berat karena emosi yang tak bisa dipuaskan.


Dulu dia hanya akan memukuli Richard habis-habisan sebagai pelampiasan. Kini dia hanya bisa menahan atau menghancurkan barang-barang yang ada di rumah.


Sedang Harith akan tetap bersikap seperti biasa, penurut dan setia. Dia ingin Praman merasakakan apa yang dia rasakan, dikhianati oleh orang terdekat dan terpercaya.


Keadaan Harith yang sekarang membuatnya memandang dengan sisi yang berbeda, dia menyadari seburuk apa posisinya, dan seburuk apa perlakuan Praman terhadapnya selama ini.


Sebelumnya dia menganggap semua yang dia alami wajar karena dia adalah tangan kanan orang penting di Perusahaan. Tak taunya kesetiaan itu tak berarti apa-apa bagi Praman.


Tak mudah bagi Harith memutuskan untuk bekerja sama dengan Summer. Sedikit banyaknya dia adalah kaki tangan Praman, dia pun akan ikut terlibat. Banyak pertimbangan jika harus memilih langkah.


*****


Seminggu sebelumnya.


Summer mendapat telpon dari Harith.


"Halo, Wakil Direktur." Sapa Summer menyeringai menempelkan ponsel ke telinga.


"Besok malam di restoran AA." Ujar Harith langsung ke intinya.


"Pukul?"

__ADS_1


"20."


"Baik." Ujarnya menutup telepon.


Ternyata tak butuh waktu lama untuk membawa Harith ke sisinya.


*****


Besoknya di restoran AA.


"Apa kau bisa memperbaiki image Jenni?" Tanya Harith langsung ke intinya. Kalau memang harus bekerja sama, Harith harus mendapat timbal balik.


"Om. Bukan itu yang seharusnya Om tanya. Tapi apa Om bisa lolos jika bekerja sama menjatuhkan Praman?"


Harith terdiam, dia ingin menanyakan itu, tapi negosiasi bisa menjadi banyak. Yang terpenting saat ini adalah hidup putrinya.


"Apa rencanamu?"


"Aku punya semua bukti telak yang bisa menjatuhkan Praman. Hanya aku belum punya bukti kuat dia yang membunuh Papa."


"...Hal yang paling ingin aku ungkap adalah kematian Papa." Sambungnya.


Harith tahu betul, itu adalah hal pertama yang akan ditanyakan Summer, Kematian Rudi Wicaksono.


"Kau terlihat sangat tenang. Padahal bisa jadi aku orang yang ikut membunuh Papamu."


"Aku tahu."


"Lalu kenapa mengajakku bertemu? Bukannya kau ingin menjatuhkanku bersama Praman.”


“Hmmm itu memang benar.”


“Aku akan pikirkan memperbaiki image Jenni atau tidak.”


“Jadi kau juga akan menjatuhkanku.”


“Tentu saja. Tersangka harus dihukum. Tapi setidaknya kali ini Om bukan jadi kambing Hitam Om Praman. Om bisa bawa dia jatuh bersama.” Summer menyeringai.


“Aku akan bekerja sama. Tapi kau harus usahakan membantu Jenni.”


“Tergantung usaha Om Harith juga.”


“Kau tumbuh jadi orang yang mengerikan, Summer.”


Melihat sikap Summer senyum temang berbicara dengan orang yang kemungkinan membunuh Papanya, membuat bulu kuduk Harith berdiri.


“Tentu tidak. Aku tumbuh sangat baik. Kalian yang membuatku begini.”


“… Kalau aku mengerikan. Kalian apa dong Om?” Summer tertawa, baginya kata mengerikan adalah lelucon.


Summer bangkit menganggap pembicaraan sudah rangkum. Dia hanya memberi senyum salam lalu beranjak berlalu.


“Dia punya bukti itu.” Ujar Sara yang tadi ikut menemani namun duduk di meja lain.


“Sudah aku duga.” Sahut Summer memegang setir mobil bersiap melaju.


*****


“Aku jadi menyesal gak punya kekuatan bisa baca pikiran.” Ambek Mara yang tadi disuruh pulang duluan dan memilih pergi dengan Sara menemui Harith.


“Kenapa?” Summer yang baru saja sampai di rumah di sambut wajah masam pria besar.

__ADS_1


“Kau jadi lebih sering membawa Sara dari pada aku.” Ujarnya lirih.


Summer paham seobsesif apa sifat Mara, bahkan jika itu adiknya sendiri sekali pun dia tetap cemburu.


“Apa sih, Kak?” Sara bergidik geli sambil menyipitkan mata.


“Baiklah. Maafkan aku.” Ujar Summer menenangkan Mara.


Sara memutar kesal matanya melihat lebaynya pasangan ini. Sebaiknya segera ke kamar untuk menghindari drama lebih.


“Hei, baru sampai?” Sapa Tapa tersenyum manis.


“Iya.” Sara langsung masuk ke kamarnya usai menjawab singkat.


Tapa mengikuti dengan santainya, membuat Sara mengernyit.


“Kenapa ikut masuk?”


“Tak boleh? Aku cuma mau meriksa keadaanmu.”


“Keadaanku gimana? Aku baik-baik aja.” Mungkin karena baru melihat asmara yang merusak mata, Sara jadi terbawa kesal, bahasanya jadi sedikit ketus.


“Kenapa kau marah? Aku salah apa?” Tanpa segan lagi dia menunjukkan mimik cemberutnya.


Seketika Sara mengulum senyum. Wajah Tapa ternyata lucu sekali saat cemberut. Setiap hari dia akan dikejutkan dengan beberapa mimik baru, Sara menikmatinya.


“Kau cemberut?” Ujar Sara mengangkat alis tersenyum.


“Apa keliatannya begitu?” Tapa tak yakin, itu mungkin refleks.


“Iya. Itu wajah cemberutmu.”


“Jelek?”


“Gak.”


“Baiklah.” Tapa tersenyum kikuk karena malu.


“Tapi, Tapa. Aku sangat mempertimbangkan bakal tinggal di daratan terus atau tidak.”


“Kenapa? Bukannya kamu suka?”


“Hmm suka dalam beberapa hal. Tapi lingkungannya, ck. Aku benar-benar gak suka.”


“Iya. Manusia itu menyeramkan. Aku akan ikuf kemana pun kamu tinggal.”


“Ck. Kau gak akan mungkin nyerah ya.”


Tapa hanya menyahut dengan senyum optimisnya.


”Tapi… kamu akan terus memakai ini?” Sara menyentuh perhiasan yang menempel di tindik bibir Tapa.


“Hm?”


Jemari Sara mengenai sedikit bibir Tapa saat menyentuh tindik. Padahal hanya sedikit dna tak sengaja. Namun sudah membuat Tapa menegak keras liurnya.


“Istirahatlah Sara.” Ujarnya kembali tersenyum tenang.


Sara mulai paham, saat pria ini tersenyum tenang pasti ada yang disembunyikan. Tapi entahlah, dia sudah cukup lelah seharian sampai pulang malam untuk mendengarkan pikiran busuk manusia.


“Aku rindu Uma.” Gumamnya langsung tertidur tanpa berganti pakaian.

__ADS_1


__ADS_2