
“Semuanya sudah ready?” Tanya Summer pada grup pemotretan yang sedang mempersiapkan peralatan dan properti untuk pengambilan foto beberapa menit lagi.
“Kita tinggal nunggu modelnya Ketua.” Sahut fotografer.
Seseorang wanita yang menyingkir ke sudut ruangan tampak bolak-balik mengetik dan mencoba menelpon, wajahnya pucat dan khawatir. Setelah telponnya tak diangkat-angkat, wanita berpakaian blouse pink dan rok span hitam itu kemudian berlari ke arah Summer dan fotografer yang sedang berbicara.
“Maaf Ketua. Bagaimana ini, modelnya tidak bisa dihubungi.” Ujarnya grogi dan ketakutan.
“Kok bisa sih?! Kamu gimana ngurusnya sih?! Tidak becus sekali.” Sutradara berbicara dengan ketus. Jam kerja itu sangat krusial baginya, dia benci hal tidak prodesional seperti terlambat.
“Maaf Pak. Maaf.” Ujarnya menunduk.
Summer mulai berpikir siapa temannya yang kira-kira bisa menggantikan. Di suruhnya Mara menunduk dan berbisik.
“Sara mau tidak ya jadi model?”
“Hmmm Yang aku tau dia sangat suka pakaian bagus.” Sahut Mara.
“Tolong jemput ya.” Ujar Summer menyelesaikan masalah.
Sutradara masih terlihat kesal, begitu pun staff yang lainnya. Padahal model yang mereka booking adalah model terkenal dan baru menandatangani kontrak dengan Summer Sea. Seumur mereka mengadakan foto untuk balita da bayi, model belum pernah terlambat. Baru ini mereka memakai model dewasa namun tak disangka bisa bersikap semena-mena dengan tak bisa dihubungi.
Suasana studi foto kini terlihat suram, seorang CEO saja sampai turun ikut bekerja. Mereka menyesal tak bisa menunjukkan performa yang baik, mestinya tidak ada masalah saat pemilik perusahaan ada melihat.
“Kalian boleh istirahat sebentar jika persiapannya sudah matang.” Ujar Summer berharap mereka tak perlu terlalu kaku.
Tapi tak mungkin mereka bisa santai di depan CEO. Semua orang yang di situ takut kehilangan pekerjaan mereka, apalagi wanita yang bertugas menghubungi model yang bersangkutan.
*****
“Dimana?” Ujar Mara dari dalam telpon.
“Di Mall B.” Sahut Tapa sambil memperhatikan Sara yang sedang memilih-milih pakaian.
“Tolong pesan taksi ke sini. Penting.”
Tapa kemudian berjalan dan memberikan telpon itu pada Sara agar dia bicara langsung dengan kakaknya.
“Apa kak?” Ujar Sara terganggu.
“Sini kalau mau dapat pekerjaan dan baju bagus gratis.”
“Kemana?”
“Ke perusahaan Summer.”
“Wah! Aku boleh masuk kantornya? Aku akan bekerja?”
“Hanya untuk beberapa jam kamu akan difoto.”
“Hmmm.”
“Ayolah…”
“Hmmm.”
“Baju gratis dan sepatu gratis.”
“Hmmm…”
__ADS_1
“Sara! Jalan sekarang!” Ujar Mara gedek dengan tingkah adiknya dan langsung menutup telpon.
“Hahaha dasar kak Mara.” Sara selalu senang mengerjai kakaknya.
“Mau?” Tanya Tapa.
“Ayo. Siapa yang gak mau pakaian gratis” Sahut Sara melenggang keluar dari toko pakaian tersebut.
*****
1 jam Mara pergi, dia sudah datang saja bersama Sara dan Tapa.
Perasaan lega langsung dirasakan semua orang yang ada di dalam studio.
“Loh cepet juga.” Ujar Summer.
Semua mata langsung melekat pada Sara yang tinggi gemulai dan cantik bak putri raja. Cara dia berjalan pun sangat anggun. Semua jadi bersyukur model yang seharusnya datang, tidak jadi datang. Karena itu mereka bisa melihat seorang model baru yang muncul entah dari mana.
Sosok Sara sangat memanjakan mata dan membuat semua gender pun akan terpukau.
Tidak cuma itu, ke empatnya mereka terlihat seperti perpaduan dewa dan dewi. Tapa yang terlihat pendiam dan tampan. Mara yang tinggi dan berwajah maskulin terlebih rambut gondrong sebahunya yang indah. Sara yang seperti bidadari khayangan. Stop! Tak perlu membahas Summer yang memiliki segalanya baik fisik, inteligent, kekayaan dan kharismatik. Mereka seperti superhero yang datang dari luar bumi.
Semua yang di studio setuju, jika mereka semua aktif di media sosial, pasti mereka akan terkenal dengan singkat.
“Tadi kebetulan mereka di mall deket sini.” Sahut Mara.
“Akhirnya kau memotong rambutmu ya?” Ujar Summer memperhatikan rambut Sara lebih pendek dari sebelumnya. Rambut itu kini ikal seperti habis dari hairstylist.
“Aku sampai meninggalkan waktu belanjaku loh. Sebaiknya kamu kasih aku baju yang bagus-bagus ya.” Ujar Sara meledek.
“Kau akan dapat pakaian bisa milih, dan fee-nya lumayan juga.”
“Fee?”
“Ahhh. Berapa?”
“100jt untuk satu sesi pemotretan.” Ujar Summer senyum.
“Woaaahhhhhh!!!!!! Angkat aku jadi karyawanmu kakak ipar.” Ujar Sara menyembah Summer.
“Apa tidak ada model pria?” Tanya Tapa yang juga ingin punya penghasilan.
“Sudah-sudah. Sana ganti baju.”
Ujar Summer sambil tertawa.
Para staff kemudian membawa Sara ke ruang ganti dan keluar dengan pakaian pertama.
Outer berwarna pink dengan bahan yang tak akan ditemukan di pasaran karena Summer Sea sendiri yang memproduksi bahan pokok kainnya. Dipadu dengan rok midi flare bercorak sama.
“Wahh aku akan minta baju ini!” Ujar Sara tersenyum melihat refleksinya di cermin.
Semua pakaian yang dia kenakan tampak indah dan modis.
Summer memilih konsep feminine untuk produk yang akan dia rilis nanti. Dan itu semua dihajar habis oleh Sara yang pantas memakai apapun.
Fotografer terus cengengesan bahagia karena dia tak perlu sulit mengambil foto dari sudut manapun Sara tetap indah. Tak perlu berekspresi, bernafas pun sudah indah.
Saat Sara mencoba tersenyum sedikit,
__ADS_1
“Haaahhhhhhhhh.” Semua staff serasa seperti menghirup angin surga.
“Kurang bagus ya kalau tersenyum?” Tanya Sara malu.
“Kamu bebas mau apa aja! Bagaimanapun angle nya, fotonya semua terlihat bagus. Aku akan bingung pilih yang mana nanti!” Ujar Fotografer bersemangat.
Seumur-umur dia menjadi fotografer, baru kali ini dia merasa paling bahagia dan enteng dalam memoto. Penilaian dari matanya yang tajam, dia bisa menebak kalau Sara akan dapat tawaran dari semua brand setelah majalah Summer Sea rilis.
“Sudah selesai.” Ujar staf yang membantu Sara berganti.
“Hah? Sudah beneran?” Ujar Sutradara heran. Karena pengambilan foto terasa sangat singkat dan waktunya juga tak terasa karena bersemangat.
Halnya juga staff Make Up Artist yang tak perlu usaha banyak dalam mendandani wajah Sara yang sudah sempurna. Hati itu adalah hari terindah seperti makan gaji buta.
“Terima kasih kak Sara.” Ujar mereka dengan ramah dan ceria.
“Sama-sama.” Sahut Sara sangat senang sambil membungkuk karena dia lebih tinggi dari semua staff yang ada.
“Terima kasih Sara. Kamu memang penolong!” Ujar Summer tersenyum hangat memegang tangannya.
“Ah makasih juga!” Sahut Sara merasa diuntungkan. Beruntungnya dia, sekali bekerja di daratan langsung kaya.
“Aku bisa langsung beli rumah dengan upah yang aku dapat.” Ujarnya cengengesan sambil main mata pada kakaknya.
Mara mendekat dan menjitak kepala adiknya.
“Kak!” Bentak Sara melotot pada Mara.
“Mara. Kok kamu mukul kepala Sara?” Kini Summer jadi mengomel membela sisi Sara.
Sara segera berlindung di belakang Summer.
“Hah.” Mara menghela nafas melihat kini Summer diekspoliasi okeh adiknya.
Fotografer bergerak setelah menyabut memory card dari kameranya. Dia memasukkan ke laptop untuk memilih mana foto yang akan dipakai. Summer mendekat dan ikut memilih beberapa foto yang paling bagus.
“Wahh! Bagus semua.” Fotografer semakin terpukau setelah melihat hasilnya.
Setelah menyelesaikan, Summer kembali bergabung dengan Tapa, Sara dan Mara.
“Aku lapar.” Ujar Tapa yang sedari tadi diam memperhatikan.
“Awww. Ayo makan aku traktir!” Ujar Sara langsung menggandeng tangan sahabatnya itu.
“Bentar.” Ujar Tapa melepas gandengan itu dan mendatangi fotografer. Terlihat mereka membahas satu hal dan mengangguk-angguk. Tapa kemudian memberikan ponselnya lalu kembali.
Saat mereka akan keluar gedung, naasnya bertemu dengan Praman yang berjalan dengan para pengikutnya.
“Lancar pemotretannya ketua?” Tanya Praman dengan muka ramah.
“Tentu lancar.” Sahut Summer senyum politik.
“Baiklah. Selamat makan siang.”
“Selamat makan siang.” Sahut Summer.
Sara mengernyit dahi sambil berpikir.
“Siapa Bagas.” Tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
“Huh? Kenapa?” Tanya Summer. Dia merasa belum mengenalkan Pak Bagas pada Sara. Apa dia mendengar nama Pak Bagas dari karyawan lain.
Bersambung…