Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Wajah Marah


__ADS_3

“Bisa ya manusia menikmati musik kenceng gak jelas gini sambil joget-joget gak jelas.” Kekesalan pada Tapa membawanya masuk.


Tempat itu sangat, sangat dibenci oleh Sara yang memiliki telinga sensitif. Dia menutup telinganya berharap suara yang masuk bisa berkurang. Berniat tak akan pulang sebelum menemukan Tapa.


Tiba-tiba Sara merasakan tangan seseorang menggenggam lengannya, Sara refleks mengayunkan tangannya kebelakang memukul tepat ke arah leher pria yang di belakangnya. Pria itu lantas terpelanting dan tak sadarkan diri.


“Berani-beraninya menyentuhku!”


Orang yang ada di dekat pria itu kena imbasnya ikut terjatuh. Kini semua orang akhirnya menatap Sara yang berdiri siaga. Musik pun ikut berhenti.


Meskipun masih bisa mendengar suara pikiran orang yang jengkel terhadapnya dan menyebutnya merusak suasana, setidaknya musik pemekak telinga sudah berhenti. Sara mencecar pandangannya mencari Tapa.


Seorang pria dengan aura Tapa mendekatinya, tapi penampilannya…


“Sara.” Ujarnya.


Sara bersiaga, menelisik setiap inci tubuh dan penampilan pria yang memanggil namanya. Sepatu boots hitam, celana jeans biru, kaos besar putih dengan jaket kulit berwarna hitam. Rambut pendek coklat dengan potongan bowl cut, pinggir menyamping. Kaca mata dan bibir yang ditindik di pinggir.


“Tapa?” Ujar Sara tak percaya.


Kemana pria kenal tenang dan berpenampilan dewasa, sederhana itu? Dari mana datangnya penampilan pria playboy ini?


Terlihat beberapa wanita di belakangnya berderap menyusul. “Kak kenapa kita ditinggal?” Ujar mereka dengan nada manja.


Mata Sara langsung berubah sinis seperti ingin mencabik wanita-wanita centil itu.


Akhirnya musik kembali dinyalakan dan orang-orang kembali berjoget, terlinga Sara seketika pengak. Matanya mengerut menutup telinga dengan menunduk.


Tapa segera menarik tangannya, menarik keluar dari ruangan itu. Dia tahu sesakit apa telinga Sara saat ink.


“Kenapa kau masuk ke tempat berisik begini?” Tanya Tapa mengomel sambil menutup telinga Sara setelah mereka berada diluar beberapa langkah dari bar.


“Apa yang dibibirmu?”


“Aku baru mencobanya tadi. Aku lihat kau suka pria yang begini.” Sahutnya tersenyum kikuk.


Kini Sara mengerti dengan perubahan drastis Tapa terinspirasi boy band yang sering ditonton olehnya. Dia mungkinmerubah penampilannya agar Sara menyukainya.

__ADS_1


“Lalu kenapa ke bar bukan ke rumah? Bukannya mau pamerin ke aku?”


“Ah. Aku lihat juga boy band itu disukai semua cewe, populer. Kamu suka karena dia populer kan?” Tanya Tapa menyimpulkan dengan kasar.


Tanpa pikir panjang, Sara langsung menarik tangan Tapa, mengangkat badan itu seperti menggendong belakang lalu membantingkannya ke tanah.


“Argh!” Teriak Tapa meringis sakit, tulang punggungnya seperti mau patah.


“Kau merman! Merman tak bersikap seperti itu!” Ujar Sara tersulut amarah sehingga menyindir Tapa yang tadi sepertinya bersama banyak wanita.


Tapa berdiri. “Iya kau benar! Merman tak seperti itu. Menurutmu itu adil? Kami hanya menyukai satu wanita itu pun kalau wanita itu balik menyukai. Sedangkan wanita bebas menyukai siapa pun. Bahkan pria yang hanya muncul di televisi pun bisa disukai!” Sahut Tapa mengernyit emosi.


Dia kemudian berjalan meninggalkan Sara yang berdiri mematung di pinggir jalan.


Setelah berjalan jauh, Tapa berdecak kembali menghampiri Sara dan menarik tangannya.


“Ayo pulang.” Perintah Tapa masih dengan ekspresi kesal sambil memegang punggungnya yang sakit.


Ada hal baru yang dirasakan Sara saat ini. Sejak dia mengenal Tapa dari kecil, baru ini dia melihat mimik wajah yang berbeda dari Tapa.


Ekspresi kesal, marah dan kesakitan. Sampai mati penasaran pun ingin tahu, dari dulu Tapa tak pernah menunjukkan ekspresi itu. Sara sampai mengira Tapa tercipta berbeda dari yang lain.


Ekspresi baru itu membuat Sara seperti mengeksplor hal baru dari Tapa, dan entah kenapa membuatnya berdebar. Dia seperti bebas menebak hanya dari ekspresi tanpa berusaha membaca isi pikiran Tapa. “Saat ini wajahnya terlihat marah”.


Sara gusar berkali-kali menoleh untuk melihat ekspresi yang membuatnya berdebar. Alis menyatu, guratan kesal di keningnya, dan mata yang dingin.


Rasanya dia bersama dengan orang nyata, bukan fiksi. Makhluk yang tidak pernah marah itu baginya adalah fiksi.


“Tapa.” Panggil Sara dengan tangan yang masih dipegang.


“Hm?” Sahut Tapa cuek sambil melihat ponselnya untuk tahu sudah berada dimana taxi yang mereka pesan.


“Tau gak? Baru kali ini aku melihat kamu seperti orang sungguhan.” Ujar Sara.


“Maksudnya?”


“Iya baru kali ini aku liat kamu kesal dan marah begitu.”

__ADS_1


“Ahh maaf telah mengecewakanmu. Aku tak selalu bisa lembut dan tenang.” Sahutnya tetap terlihat sibuk menatap ponsel.


“Baru kali ini juga aku berdebar.” Sahut Sara menatap inten wajah dingin itu.


Tapa tertegun menunduk masih menatap ponsel, namun percayalah pikirannya tak berada di situ.


Perlahan Tapa menggerakkan kepalanya menatap Sara dan ingin tahu ekspresi apa diwajahnya saat mengatakan hal tadi.


“Apa?” Tanya Tapa ingin diulangi.


“Aku bilang aku berdebar.” Sahut Sara beradu mata. Wajah itu sedikit tegang namun dia tetap menjadi Sara yang berani.


Tapa meloloskan nafas tersenyum.


Taxi kemudian tiba dan mereka memasukinya.


Sepanjang jalan Tapa terus tersenyum dan menatap keluar jendela. Tangan mereka masih terjalin sedari tadi. Sedikit berkeringat namun tak ingin dilepaskan.


Penantian panjang sepertinya akan membuahkan hasil. Meskipun disebut hanya debaran, tapi bagi Tapa itu adalah kemajuan besar. Semangatnya untuk memikat hati Sara terisi penuh.


“Tapi, kalau aku gak marah, apa gak menarik?” Tapa jadi sadar setelah dipikirkan hanya wajah marahnya yang menarik Sara. Masa harus marah terus?


“Aku suka kalau kau jujur dengan ekspresimu. Kalau marah, ya marah. Kalau sedih ya sedih. Jangan tersenyum terus.”


“Ahhh…” kini tapa mengerti maksud Sara.


Sedari kecil Tapa terbiasa bersikap tenang agar lingkungan sekitarnya nyaman. Baik itu keluarga atau orang lain. Hal itu menjadi kebiasaan. Dia akan tetap tenang dan senyum saat marah, begitu pun aaat sedih. Beberapa mimik yang terlihat di wajah tidak terlalu penting. Yang penting terlihat baik dan dewasa agar tak merepotkan orang.


Di usianya yang kini 27 tahun, seseorang malah menyuruhnya memperlihatkan semua. Baik itu mimik sedih, marah, kesal dan sebagainya.


Bukan tak pernah Tapa bermimik jujur, kadang memang tak bisa dihindari. Tapi dia hanya akan menunjukkan mimik itu saat sendirian. Marah sendirian, menangis sendirian. Ketika keluar kamar kembali lagi berwajah tenang dan dewasa.


Tidak sulit melakukannya, itu sudah jadi kebiasaan. Lebih sulit saat orang yang menganggapnya baik tiba-tiba akan kaget saat dia bisa marah juga. Dia tak ingin kehilangan siapapun. Terus tersenyum hal yang gampang untuk dilakukan. Tidak akan ada yang rugi.


Tapi wanita yang duduk bergandengan tangan dengannya di kursi penumpang saat ini, malah tertarik dengan jati diri sesungguhnya.


“Dia menyukai wajah marahku, ada dia juga akan menyukai wajah sedihku?” Gundahnya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2