Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Peringatan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mara sudah membereskan restoran. Dia cukup cepat belajar beres-beres restoran. Hanya saja tenaganya yang terlalu kuat itu membuat beberapa piring dan meja rusak.


“Prangggggh.” Lagi-lagi suara piring pecah.


“Tolong dikendalikan kekuatannya Mara.” Ujar Wawan menghela nafas. Harus tetap sabar meskipun itu piring kelima yang sudah pecah dibuat Mara.


“Ah ya. Selesai beres-beres kita akan keluar mengurus KTP-mu. Mandi dan bersiap siap kalo sudah selesai mencuci piring.” Ujar Wawan sambil membersihkan udang untuk dijual nanti.


“Baik.” Sahut Mara mempercepat gerakannya.


“Pelan-pelan saja. Please.” Ujar Wawan mengantisipasi agar tak ada lagi yang pecah.


“Ah iya.” Mara kemudian berhati-hati.


“Tapi apa itu plis?” Tanya Mara tiba-tiba.


“Itu bahas inggris dari kumohon.” Sahut Wawan bangga.


“Wah kau benar-benar sudah seperti manusia.” Mara menuji.


Setelah Mara selesai bersiap-siap. Mereka pergi dengan membawa sepeda motor.


“Wahh menyenangkan sekali. Bisa kena angin banyak.” Ujar Mara yang duduk di belakang.


Mara memakai helm bulat tanpa kaca. Bajunya cukup besar namun tak cukup panjang, sulit sekali mencari pakaian seukurannya di pasaran. Celananya pun sama menggantung.


Bagi Mara itu bukan masalah. Karna dia pun tak tahu seharusnya baju itu bagaimana, kalo sudah muat ya tak ada masalah lain.


Sesampainya di tempat yang seperti ruko kecil itu. Mereka turun.


Di kaca depan ruko itu bertuliskan “Jasa Cetak KTP, PASPOR, BUKU NIKAH…”


Mereka masuk dan disapa oleh seorang pria tegap dengan tinggi 170cm.


Mara langsung melotot mencium bau itu.


“Bima.” Ujarnya tersenyum lebar.


“Anak Appa.” Sahut Pria itu meraih tangan Mara dan men-tos tangannya.


Melihat gerakan itu, mara meminta mengulangi lagi, dengan mengepal tangannya seperti Pria itu tadi.


Lalu mereka tos lagi. Gerakannya cukup menarik bagi Mara.


“Begini cara manusia menyapa?” Tanya Mara tersenyum dengan mata merekah.


“Yaaa kebanyakan sih.” Sahut Pria itu.


“Ah ya, tolong buatkan KTP untuknya.” Ujar Wawan pada Pria itu.


“Siapa nama manusiamu?” Tanya Mara penasaran.


“Agus. Panggil Agus saja.” Sahutnya


“Om Agus?” Ujar Mara.


Mereka lalu tertawa terbahak-bahak.


“Boleh boleh.” Sahut Agus.


“Baiklah mari berfoto.” Ujar Agus mengajak mereka masuk ke ruangan foto.


Mara mengikuti sambil celingak-celinguk melihat foto dan properti yang ada di tempat itu.


“Ah baju mu kelihatan kecil sekali. Sebentar.” Ujarnya mencoba mencari sesuatu ke dalam lemari yang ada di situ.


“Cobalah ini.” Ujarnya memberi kemeja berwarna biru muda.


Mara kemudian menyarungkan ke badannya tapi sulit.

__ADS_1


“Sebentar-sebentar.” Ujar Agus menolongnya menarik baju dari lengannya yang sudah menyangkut di kemeja.


Kemudian Agus membuka satu persatu kancing kemeja itu dan memasangkannya ke Mara.


“Kancingnya harus dibuka dulu.” Agus sembari mengancingkan kemeja itu.


“Hmm rambutmu kita ikat saja.” Ujarnya kemudian mencari ikat rambut.


Diikatnya setengah rambut ikal berwarna hitam pekat itu.


“Waaahhh anak Appa memang gak main-main ya. Hidupmu seharusnya akan lebih mudah jika punya badan dan wajah begini.” Ujar Agus itu terpukau.


Mara senyum meskipun tak mengerti.


Kemudian dia disuruh duduk di sebuah tempat duduk berbentuk kubus.


Terlihat atasnya rapi namun bawahnya celana training, pemandangan unik.


Tapi yang terpenting adalah foto close-up-nya. Jadi tak apa-apa.


Ketika Agus mulai memoto, cahaya dari lampu mengedip terang, seketika Mara kaget dan menutup matanya dengan tangannya.


Ketika dia buka tangan itu, matanya yang hitam langsung berubah menjadi kuning terang.


“Heiii tenang tenang…” Ujar Agus dan Wawan.


“Itu hanya flash. Lampu biar foto kamu bagus.” Ujar Wawan menenangkan.


“Baiklah.” Sahut Mara menenangkan diri. Bola matanya pun kembali hitam.


Mereka mencoba lagi namun hal yang sama terjadi.


Mereka pun sempat terdiam karna ternyata cukup sulit buat Mara tenang.


“Ayo coba lagi. Aku harus terbiasa.” Ujarnya memecah keheningan.


Kemudian Agus pun mencoba sampai Mara bisa tenang dan terbiasa. Entah berapa kali dicoba namun akhirnya berhasil.


“Hasilnya besok sudah ada.” Ujar Agus sambil mengedit foto Mara yang ada di komputer.


“Wahh bahkan ketika kamu menutup wajahmu saja, kamu tetap kelihatan tampan.” Ujar Agus terpukau lagi.


Mara tersenyum dan melihat ke arah Wawan.


“Ya kamu sudah bekerja keras.” Sahut Wawan menyadari kalau tatapan Mara adalah mata meminta dipuji.


“Kamu mau pakai nama apa?” Tanya Agus.


“Nama? Tidak bisa Mara saja?” Sahut Mara. Karna di sukunya peraturannya hanya punya dua suku nama.


“Kamu kan di dunia manusia. Nama Mara saja itu jarang sekali, terlalu singkat.” Ujar Wawan.


“Bagaimana dengan Samara Apna?” Ujar Agus.


“Wah aku suka itu.” Sahut Mara.


“Okay deal.” Ujar Agus.


“Apa? Deal?” Tanya Mara tak mengerti.


“Ah itu bahasa inggris. Setuju? Itu artinya.” Sahut Agus.


“Oh ya. Deal!” Seru Mara sambil tertawa.


“Tapi bagaimana aku membayarnya?” Ujar Mara.


Sehari di daratan membuat Mara menyadari apa-apa harus dibayar. Terlebih dia bekerja di restoran yang jelas menunjukkan transaksi bayar membayar.


“Nanti beri tahu saja pada Appa aku sudah menolongmu. Itu juga cukup.” Sahut Agus tersenyum. Sungguh pria yang gampang tersenyum.

__ADS_1


“Tentu. Nanti aku akan membanggakanmu ke Appa.”


*****


Pagi itu Summer masuk ke mobilnya yang sudah ada Pak Bagas di dalamnya menunggu untuk berangkat bersama ke kantor.


“Tidur Ketua nyenyak?” Tanya Pak Bagas sambil memperbaiki kaca spion dalam untuk melihat wajah Summer.


“Iya.” Sahut Summer.


“Aku mau ikan bakar untuk makan siang.” Ujar Summer tiba-tiba.


“Baik.” Sahut Pak Bagas lalu menjalankan Mobil yang sedari tadi sudah di panaskan.


Namun baru saja jalan dan hendak membelok keluar gerbang rumah, mobil itu tak menuruti arah setirnya.


Sehingga tak terkontrol dan lurus terus lalu “Brupppppp!!!!” menabrak tembok gerbang.


Beruntung mereka sudah memakai sabuk pengaman. Namun karena goncangan yang cukup keras, badan mereka sempat terantuk ke depan. Tak terlalu parah dan mereka terlihat baik-baik saja. Kecuali mental mereka yang terguncang.


“Sialan. Apa lagi ini.” Ujar Summer marah sambil menyentuh keningnya yang terantuk ke kursi depan.


“ Ketua baik-baik saja?” Tanya Pak Bagas dengan sigap.


“Aku baik-baik saja.” Sahut Summer dengan muka kesal.


Mereka pun keluar dari mobil itu dengan perasaan geram.


Namun mereka harus tetap pergi bekerja. Karna itu mereka terpaksa pergi dengan taxi. Sedangkan mobil mereka akan diperiksa oleh montir nantinya.


“Sepertinya ada yang mulai bergerak. Itu pasti orang yang sama yang menginginkan posisi ini atau orang yang dulu mencelakai aku.” Ujar Summer.


“Sudah waktunya kita mencari tahu.” Sambung Summer lagi.


“Baik Ketua.” Sahut Pak Bagas.


Sesampainya di lobi kantor, lagi-lagi Summer bertemu dengan Praman yang bersama dengan para pengikutnya.


Kali ini Summer punya pemikiran yang mulai berbeda terhadap omnya itu. Karna jika memang itu tentang kursi CEO, tentu yang ingin mencelakainya adalah Praman, karna Pramanlah lawannya di pemilihan kemarin.


Summer diam saja tak ingin terlebih dahulu menyapa. Wajahnya dingin dan tatapannya tajam.


“Ah kamu datang naik taxi?” Ujar Praman tiba-tiba.


“Ah iya. Mobilku tiba-tiba rusak.” Sahut Summer.


“Padahal mobil baru.” Sahut Praman.


“Apa ini? Dia bahkan tahu mobilku mobil baru.” Gumam Summer dalam hati.


“Begitulah. Kalau begitu selamat bekerja.” Ujar Summer memotong pembicaraan.


“Tentu. Kamu juga.” Ujar Praman enggan memanggil Summer Ketua.


Selama berjalan ke ruangannya. Sampai duduk di kursinya, Summer terus berpikir.


“Ada apa Ketua?” Tanya Pak Bagas.


“Apa sebelumnya Direktur punya masalah terhadap Papa?” Tanya Summer dengan wajah menerka


“Hubungan mereka memang sempat tidak baik.” Sahut Pak Bagas.


“Kenapa?” Tanya Summer.


“Maaf akan aku cari tahu.” Sahut Pak Bagas menandakan dia tak tahu apa-apa.


Summer kemudian berpikir lagi, dia tahu kedepannya dia harus berhati-hati dimana pun. Sudah tidak ada tempat yang aman baginya.


Sementara di ruangan lain…

__ADS_1


“Seharusnya dia sudah paham peringatan itu.” Ujar Praman yang duduk di kursi Direktur. Dia menyeringai sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke meja.


Bersambung….


__ADS_2