Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Ponsel Tua


__ADS_3

Pak Bagas langsung menuju rumah Summer setelah pulang dari kantor. Tapa sudah mengabari Summer siuman sejak siang, tapi hingga hari gelap Summer belum membalas pesannya atau mengangkat telponnya.


"Di kamar?" Tanya Pak Bagas pada Tapa yang duduk di sofa ruang tamu.


"Iya."


Pak Bagas berjalan masuk ke kamar Summer. Terlihat gadis itu diam merenung terbaring menatap langit-langit.


"Ketua." Sapanya membuyar lamunan.


Summer bangkit untuk duduk sambil menghela nafas berat.


"Bagaimana perasaanmu?"


Summer hanya menyahut dengan diam dan wajah lelah.


"Di Perusahaan sangat kacau. Banyak dari mereka menanyakan keberadaanmu karena takut akan diseret bersama Praman."


"Pak Bagas. Carikan guru diving untukku."


Untuk saat ini hal itu lebih penting daripada Perusahaan.


"Kenapa tiba-tiba diving, Ketua?"


Summer tak menyahut.


"Tapi, Mara dibawa kemana?"


"Aku tak tahu." Lirih Summer, wajahnya yang kosong perlahan berubah.


"Ketua." Pak Bagas menyadari yang ditanyakannya adalah hal yang paling membuat gadis ini terguncang.


"Pak Bagas. Aku selalu jadi peyebab orang di sekitarku terluka. Papa dan Mama, Mara bahkan Pak Bagas sendiri. Jika aku tak ada mungkin kalian akan lebih bahagia..."


"… Bagaimana ini Pak Bagas??" Summer menutup wajahnya semakin menunduk.


"… Aku tak bisa melihat Mara. Aku tak tahu apa dia bisa bertahan hidup atau tidak. Membayangkannya saja aku takut. Aku harus gimana Pak Bagas?? Duniaku serasa hancur. Semuanya terasa kosong dan menyeramkan. Aku… aku sangat merindukanya..." Air mata Summer memeras air mata.


"… Aku sangat merindukannya." Kesah Summer. Berkali-kali dia mengucapkan kalimat itu, seperti mantra yang menyayat perih luka setiap kali diucapkan.


"Aku akan mencarinya, Ketua. Kemana pun dia, selama di dunia ini aku pasti akan menemukannya." Ujar Pak Bagas getir menenangkan gadis yang menenggelamkan wajah membasahi selimut.

__ADS_1


Nyatanya tidak akan semudah itu. Hingga kinipun Bagas tak tahu keberadaan Rita Wicaksono, yang anehnya Summer tidak pernah mancari tahu lagi, seperti sudah ikhlas.


Pak Bagad pun tak berani membahas, siapa tahu gadis ini memang sengaja ikhlas.


Dalam keadaan ini Summer tidak akan butuh disemangati apa pun, tidak akan ada hal yang membuatnya bahagia. Kata bahagia terlalu jauh, bagaimana dengan kata tenang? Tentu tidak.


Dia akan membuka galeri ponselnya, memandangi foto bersama mereka yang tak banyak.


Di tangannya satu lagi ada ponsel Mara yang ditemukannya di mobil sore tadi.


Galeri fotonya juga berisikan tak banyak foto bersama, namun berisi ribuan foto Summer. Sontak foto-foto itu mengiris kembali hati Summer. Menatap fotonya yang tersenyum ceria, dan banyak tak sadar difoto oleh paparazzi kesayangannya.


Tak ada satu pun foto Mara sendiri. Atau Summer juga tak pernah mengambil foto Mara. Summer bisa merasakan sedalam apa perasaan Mara padanya sambil menggeser-geser foto wajahnya di ponsel milik Mara. Seakan-akan hidup Mara didedikasikan untuknya.


"Dasar bodoh."


*****


Nindi dengan keputusannya membantu Summer, telah berdiri tegak di depan rumah yang dulu adalah rumahnya. Rumah besar yang mungkin saat ini hanya berisikan Clara di dalam.


Dibukanya pintu rumah itu dengan kode sandi yang semoga belum diganti. Rasanya sangat asing saat melangkah masuk, hawa yang menjalar di tubuhnya mengingatkan bagaimana perasaanya dulu tinggal di rumah dengan kedua orang tua yang tidak harmonis.


Sepertinya Clara sudah tidur, waktu yang aman untuk mengendap.


"Nindi?"


Suara itu menyentakkan, di tengah tangannya menarik laci. Nindi mengangkat kepalanya menatap wanita yang berdiri di depan pintu dengan wajah menyiratkan, 'apa yang sedang kau lakukan?'


"Ma."


"Kau tak bilang mau datang. Mama kira siapa."


Nindi menegakkan tubuhnya, menggesek tangannya ke paha lalu menaruh di belakang.


"Cari apa?"


"Huh?"


"Kamu cari apa langsung ke ruangan Papa? Tak mungkin mencari uang kan?"


"Ah… i… itu umm… ya aku butuh uang." Ujarnya jadi beralibi mengikuti apa yang dikatakan ibunya, sebab tak ada yang bisa dia pikirkan detik ini sebagai alasan yang tepat.

__ADS_1


"Hahhh. Nindi kau bisa minta ke Mama kalau begitu. Selama ini kau tak pernah menerima uang yang Mama berikan. Ternyata karena kau gengsi. Tapi apa lebih baik dari mencuri?"


Nindi menghela nafas lega, sepertinya alibi itu berjalan mulus. Memang alasan aneh, tapi ya sudahlah.


"Nindi. Sepertinya kita harus pindah ke luar negri. Baguslah kau datang, tadinya Mama pengen ngehubungin kamu."


"Luar negri? Kenapa?"


"Kau bisa lihat keadaan kita sedang tak baik."


"Lalu Mama ingin lari ke luar negri?"


"Mama gak yakin Papamu bisa ikut atau tidak. Yang pasti kita harus segera pergi dan bersiap."


"Tidak mau!" Dengan tegas Nindi menolak.


"Nindi. Kau tau kan ini cara mama menyelamatkanmu."


"Menyelamatkanku?"


"Tak perlu pulang lagi ke kosanmu. Bungkus barangmu yang ada di sini saja. Apa ada yang penting di kosanmu? Besok mama bisa pakai jasa angkut barang untuk mengambil barangmu di kosan."


Clara berjalan ingin mengajak Nindi segera bersiap.


"Ma. Aku bilang tidak mau!"


"Nindi! Bisa tolong nurut saja?"


"Mama tau gak? Ini bukan untuk menyelamatkanku. Tapi menyelamatkanmu. Kau ingin lari dan tak bertanggung jawab. Jika ingin pergi, pergi sendiri saja. Lagi pula aku tak mau meninggalkan Richard sendirian." Nindi geram. Berjalan menghentakkan kaki dengan cepat meninggalkan Clara yang berusaha menahannya.


"Setidaknya aku ingin membawamu!!" Teriak Clara putus asa, dari pandangannya, Nindi terlihat tak mengerti.


Nindi tetap melanjutkan langkahnya, keluar dari rumah itu dengan membanting pintu.


Di taxi Nindi merogoh saku belakang celana jeansnya yang tertutup jaket panjang. Ponsel tua milik Praman yang dia temukan tadi. Entah itu berguna atau tidak, tapi Clara telah merusak rencananya.


"Brengsek!"


Supir sontak menatap ke spion belakang, kaget bertanya-tanya apa dia melakukan kesalahan. Tapi penumpangnya ternyata tengah sibuk menunduk menatap ponsel.


Nindi tak karuan memaki Papanya dalam hati setelah melihat semua pesan teks yang ada di ponsel itu.

__ADS_1


"Kita ke Kantor Polisi." Perintahnya pada supir taxi.


Bersambung…


__ADS_2