Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Dewi


__ADS_3

“Kenapa dia gak jadi aktor aja?”


“Jadi bodyguardku juga dong mas, aku bayar pake hatiku.”


“Wah CEO Summer tau harus memilih siapa. Dia memilih orang yang bisa membersihkan matanya setiap hari hanya dengan melihat wajah tampan itu.”


“Segarnyaaa.”


“Aku kalo jadi CEO Summer Sea tanpa test ini itu aku akan pilih dia!”


“Bukannya dia Waiter di restoran seafood dekan pantai?”


Dan banyak lagi komen-komen para pengguna media sosial merespon berita dan foto Mara yang diposting di akun Summer Sea.


“Dia langsung terkenal.” Ujar Summer melihat komen-komen yang langsung membludak di akun perusahaannya itu.


“Untuk sementara karna media banyak menyorot kita akhir-akhir ini, gerakan orang yang ingin mencelakai Ketua jadi tertahan. Kemudiannya Ketua harus lebih hati-hati karna kita tak bisa pakai media selalu.” Ujar Pak Bagas.


Sedari awal memang itu cara mereka agar sementara tenang saat mereka sibuk mencari bodyguard yang bisa dipercaya.


Seandainya Summer lebih awal bertemu Mara, dia tidak akan memakai media untuk mencari bodyguard. Rasanya seperti jalan memutar. Untungnya Mara bisa menang seperti janjinya.


Mara sendiri sudah tidak sabar esok hari tiba. Dia harus sudah tiba di rumah Summer pukul 6 pagi karna itu jam Summer berangkat setiap pagi. Terlalu ketat padahal dia CEO perusahaan.


Banyak karyawan mengeluh dengan ketepatan waktu Summer hadir di kantor, karna karyawannya jadi merasa kurang leluasa, pagi buta sudah ada atasan saja di kantor.


Namun bagi Summer, dia sedang tak bisa bersantai melihat menumpuknya kerjaan yang harus dia urus. Summer termasuk orang yang mengerjakan sesuatu harus maksimal. Agar kedepannya dia tidak lagi mengulangi mengerjakan karna ada kesalahan. Tentu sikapnya itu membuat para karyawan jengah karna harus bekerja lebih keras lagi dari sebelumnya.


“Setidaknya senyum kek.” Komen salah seorang karyawan yang tengah membahas Summer, CEO mereka.


“Mungkin karna dia selalu serius bekerja, mukanya jadi terlihat serius terus.” Sahut karyawan lain.


Malam itu Summer memutuskan untuk pulang sendiri. Pak Bagas tentu akan menolak.


“Pasti masih aman seperti kemaren-kemaren.” Ujar Summer.


Pak Bagas tahu jika sudah maunya, Summer susah dilarang. Dia akan kekeh dengan maunya.


“Baik. Kabari saya jika ada apa-apa.” Ujar Pak Bagas.


Summer mengendarai mobil sendiri. Ini mobil ketiga yang dia ganti karna dua kali mobilnya dirusak.


Dia menyusuri jalan ibu kota yang penuh lampu-lampu jalan karna hari itu sudah gelap.


Summer ingin sekali pergi makan burger. Dia ingat dulu dia sering diajak makan burger oleh Mamanya. Dia akan pilih Cheese burger dengan French Fries, sedangkan ibunya akan pilih Cheese burger double meat karna ibunya sangat suka daging.


Lalu mereka akan makan dengan bibir belepotan dan saling mengejek. Jika diingat-ingat, Mama sudah seperti teman bagi Summer. Belum tentu semua orang bisa punya hubungan dengan ibunya seperti Summer dengan Mamanya. Itu hal yang sangat dia syukuri. Malam itu dia sangat merindukan momen kebersamaan mereka.


Summer turun dan memasuki sebuah Mall besar. Naik eskalator 3 kali kemudian dia sampai di restoran burger.


“Besok ibu akan berumur 43 tahun.” Gumamnya sambil mengunyah french fries di mejanya.

__ADS_1


Besok adalah hari ulang tahun mamanya, tapi kenyataan sampai sekarang dia tak dapat kabar tentang keberadaan Mamanya membuatnya jadi termenung di depan makanan.


Di meja itu ada dua burger, satu bagiannya satu untuk Mamanya.


“Baiklah aku akan bawa pulang.” Ujarnya karna tak berselera makan. Dia tau ketika dia mengigit burgernya, dia tidak akan tahan tidak menangis.


Akhirnya Summer keluar Mall untuk pulang dan menenteng paper bag berisi burger yang tidak dia makan tadi.


Summer turun ke basemant, belum dia menemukan mobilnya tiba-tiba seorang pria bertopi bucket kotor dan pakaian compang-camping melewatinya.


“Awh!” Pekik Summer melihat lengan bajunya robek dan darah menetes turun ke telapak tangannya.


Summer membalikkan badan dan melihat pria dengan rambut berantakan dan pakaian kotor sedang gemetaran dengan pisau kecil di tangannya.


“Berikan tasmu!” Bentaknya. Tapi seluruh badannya bergetar terlebih tangannya yang mencoba memegang pisau itu dengan erat.


Saat itu Summer langsung sadar, pria di depannya itu bukan pembunuh. Melainkan orang yang terpaksa merampok.


Summer perlahan maju mendekati pria tersebut.


“Jangan mendekat! Jika tak mau aku tusuk.” Perintah pria itu dengan wajah makin panik.


Summer terus mendekat tanpa rasa takut. Kini pria itu yang takut. Dia mulai menodongkan pisaunya yang ikut bergetar karna badannya gemetar.


Summer kemudian menyodorkan paper bag yang dia tenteng tadi. Pria itu kaget beserta bingung.


“Ini ambil.” Sodor Summer.


“Makanan?” Tanya Pria itu.


Summer dengan sigap menendang pisau itu jauh, pria itu sadar dan hendak berlari namun tamparan Summer ke kepalanya sudah mendarat.


Pakk!!


“Aduh!” Erang pria itu memegang kepalanya.


“Sakit? Tanganku lebih sakit.” Ujar Summer memberi pelajaran.


“Aku cuma butuh uang!” Ujarnya membungkukkan badan memeluk paper bag yang dia terima tadi.


“Bisa nyetir?” Tanya Summer.


“B…bisa. Saya biasa nyetir mobil pick up.” Sahutnya.


“Masuk mobil!” Perintah Summer.


“Kenapa? Kau akan membawaku ke kantor polisi?!” Pria itu langsung panik.


“Kau harus membawaku ke Rumah Sakit!” Teriak Summer.


Pria itu tersadar jika dia sudah melukai Summer cukup parah melihat darahnya yang menetes ke lantai.

__ADS_1


“B..baik!” Sahut pria itu kaget dan berjalan mengikuti Summer yang mencari mobilnya.


Saat pria itu akan memasuki mobil tiba-tiba dia terdiam dan dia mengelap tangan ke bajunya.


“Saya kotor sekali. Mobilnya nanti jadi bau.” Lirih pria itu dengan muka bersalah.


“Tak apa-apa. Ayo nanti aku kehabisan darah.” Ujar Summer memegangi tangannya yang terluka di kursi belakang.


Pria itu mengendarai cukup baik, beruntung rumah sakit tak jauh dari posisi mereka.


“Makan saja dengan tenang. Ini tidak akan lama. Kau harus mengantarku pulang nanti jika kamu mau bekerja sebagai supirku.” Ujar Summer turun dari mobil.


Pria yang tadi sudah keluar dari mobil itu pun tertegun. Dia seperti menerima wahyu dari kata-kata Summer.


“Terima kasih! Terima kasih.” Pria itu berkali-kali membungkuk sampai menangis. Dia sudah melamar entah kemana-mana, namun tak ada yang menerima.


Dia pun sudah 3 bulan gelandangan tak ada tujuan. Makan tak makan bahkan sampai mengorek tempat sampah.


“Dewi!” Gumamnya menggambarkan sifat Summer.


“Aku sedang di Rumah Sakit.” Ujar Summer menjawab sebuah telpon yang masuk dari Pak Bagas.


Sontak Pak Bagas kaget dan berlari ke mobilnya.


“Ah tak perlu ke sini. Ini cuma goresan kecil.” Summer yang sudah menebak Pak Bagas akan langsung mendatanginya.


Dokter yang sedang menjahit tangan Summer sampai melotot pada Summer saat dia bilang itu hanya goresan kecil. Padahal saat itu lengannya menerima 6 jahitan.


“Istirahat saja. Besok aku ceritakan. Sudah ya aku mau pulang.” Ujarnya kemudian menutup telpon.


Kemudian pesan dari Pak Bagas masuk.


“Kabari kalo Ketua sudah sampai di rumah.”


“Ck dasar Bapak yang bawel.” Summer tersenyum.


Ketika dia keluar dari Rumah Sakit, bertepatan sekali dengan Rio yang baru sampai dengan membayar taxi.


“Terluka parah?” Tanya Rio menghampiri Summer yang berdiri di samping mobilnya.


“Siapa?” Tanya Rio kemudian. Seorang pria entah dari mana bisa berdiri bersama Summer.


“Ah dia. Supir baruku.” Sahut Summer.


Rio tentu bingung, semua orang pasti tahu Summer memungut supir baru itu dari mana.


“Siapa yang menyerangmu tadi?” Tanya Rio menarik tangan Summer untuk melihat lukanya lebih jelas. Namun lengan Summer sudah dibaluti dengan perban bertitik darah itu.


Summer menjawab dengan matanya yang mengarah pada pria bertopi lusuh yang sedang menunduk yang kini jadi sopir barunya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2