
“Mau makan apa?” Tanya Summer langsung memecah suasana.
Rasanya seperti tadi tidak terjadi apa-apa. Padahal Mara sudah mau mati karna menahan diri. Mara langsung berdiri menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya.
“Aku akan ke kamar. Aku butuh ke kamar mandi.” Ujarnya langsung pergi.
Setelah Mara berlalu, Summer tiba-tiba memukul kepalanya.
“Aww!” Ujarnya kesakitan.
“Memangnya aku anak remaja apa?” Secara teknikal dia memang masih remaja. Usianya baru 20 tahun.
“Gila. Udah gila aku. Emangnya kenapa kalo dia tampan. Emang kenapa kalo jakunnya bagus. Bener-bener gak bisa nahan diri ini mulut. ” Ujarnya sambil melibas bibirnya dengan jari.
Setelah 2 jam berguling-guling di kasur karna menyesali perbuatannya. Kini Summer harus pergi dan mengajak Mara ikut. Summer menghela nafas menenangkan diri, mengganti pakaian dan bercermin.
“Mara.” Ujarnya mengetuk pintu kamar Mara.
Dengan cepat Mara membuka dan jadi saling bertatapan, saling canggung dan salah tingkah.
Summer dengan gayanya yang bersikap tetap tenang. “Kita harus pergi sekarang. Tolong panggil Pak Damar.” Suer berbicara sambil melipat tangan di dadanya, tanpa melihat wajah Mara.
“Baik Ketua.” Sahut Mara keluar dari kamarnya dan langsung pergi.
*****
Mereka sampai di pelabuhan, Pak Bagas telah mengirim sebuah foto kapal pesiar yang telah dibeli. Kapal pesiar putih bermodel Katamaran.
Pihak marketing kapal pesiar sudah menunggu kedatangan Summer. Mereka penasaran dengan orang yang membeli produk mereka tanpa basa-basi sejam langsung deal.
“Mari saya antar ke dalam Miss Summer.”
Ujar pria berpakaian polo dipadu celana olahraga dan topi putih.
Summer dan Mara mengikuti masuk.
“Katamaran ini memiliki desain akomodasi revolusioner dengan master suite mewah seluas 15m2 yang memberikan pemandangan indah dari jendela panoramanya, dan dilengkapi dengan tempat tidur queen pulau yang menghadap ke laut, televisi opsional yang dipasang di dinding, pencahayaan sekitar, ditambah kamar mandi dalam yang ramping. dapur sudah dilengkapi dengan lemari es berukuran penuh. Kokpit depan yang luas dengan kursi berjemur dan akses kabin, saloon kontemporer yang ditinggikan, dan kokpit murah hati yang terbuka dari dapur dan menawarkan pilihan platform renang buritan tetap atau hidrolik.” Pria itu menjelaskan sambil berjalan menunjuk beberapa bagian kapal.
Summer dan Mara mengangguk-angguk.
“Kau beli berapa harganya?” Biskl Mara.
“Sekitar $1,3 juta.” Sahut Summer.
“Dolar?” Mara berpikir.
__ADS_1
“Dikali 15.000 kalo ke rupiah?” Sambungnya.
“Uuuu sudah tau mata uang. Pinter.” Puji Summer menjinjit untuk meraih kepala Mara dan mengelusnya.
Setiap Summer melakukan itu, rasanya Mara langsung ingin mempelajari semua yang ada di dunia ini agar dipuji Summer terus.
Hari itu Summer memutuskan langsung kursus mengendarai kapal. Mara juga ikut mempelajari, dia sangat semangat.
Dari hari itu sampai setiap harinya Summer dan Mara akan pulang kerja lebih awal agar bisa kursus di sore harinya.
Hari untuk bertemu dengan mamanya sudah dekat. Summer sungguh tak sabar ingin langsung membawa kapal itu berlayar jauh ke tengah laut untuk menjumpai Mamanya.
Setiap memegang kokpit, Summer akan terus tersenyum.
Hari rabu tanggal 6 di awal bulan adalah hari yang dijanjikan untuk pertemuan Summer dan Mamanya. Appa dan Uma memilih hari itu karna tepat di bulan purnama. Hari dimana para Merman dan Mermaid lebih kuat dari biasanya, dan hari dimana para predator tidak muncul karna terangnya cahaya bulan yang masuk ke dalam air. Kebanyakan hewan laut akan bersembunyi di tempat yang lebih gelap. Di hari tersebut juga akan terjadi pasang, membuat ruang untuk mermaid berenang jadi lebih luas.
Di sore hari di tanggal tersebut, Summer dengan lemari pakaiannya yang sudah berantakan. Dia berkali-kali mencoba pakaian yang pas untuk dipakai. Akan ada orang tua Mara di sana adalah hal yang jadi bahan pertimbangan Summer dalam memilih pakaian.
“Terlalu sexy.” Saat dia memakai sebuah dress dengan pendek di atas lututnya.
“Terlalu formal.” Saat dia mencoba celana panjang.
“Terlalu biasa.” Ujarnya melempar pakaian itu kembali.
“Ah apa aku gak punya baju lain lagi? Keluhnya padahal baju yang dia coba sudah menumpuk seperti gunung himalaya di belakangnya.
Summer mendekat dan duduk di sebelahnya.
“Ummm itu… Ibu kamu bagaimana orangnya?” Tanya Summer hati-hati, raut wajahnya tampak khawatir.
“Uma?”
“Iya.”
“Yang aku tau dia tegas dan cantik. Sepertimu.” Sahut Mara tersenyum.
“Ah jangan bercanda begitu. Tapi… apa dia sangat cantik?” Tanya Summer makin khawatir.
“Uma memang sangat cantik dan galak.” Sahut Mara.
Summer jadi makin tegang. Bagaimana jika Uma tidak menyukainya.
“Apa sih yang aku pikirin. Memangnya aku mau meminta restu? Aku kan mau bertemu mama.” Ujar Summer dalam hati sambil menutup matanya malu.
“Kenapa Summer?”
“Gak apa-apa. Aku mau ke kamar lagi.” Sahut Summer kembali masuk ke kamarnya.
__ADS_1
“Tapi… Uma suka hal seperti apa?” Tanya Summer tiba-tiba keluar kamar lagi.
“Hmmm? Apa ya?” Mara berpikir.
“Sepertinya aku merasa tak enak jika tak bawa apa pun saat bertemu Uma.” Ujar Summer malu.
Mara langsung tertawa melihat sikap Summer. Baru kali ini dia lihat Summer yang berani dan tegas menjadi malu-malu. Dan lagi hal yang dikhawatirkan Summer adalah orang tuanya, Mara tentu bahagia.
“Bagaimana jika bawa sushi?” Ujar Mara memberi ide.
“Oh ya?” Summer langsung antusias.
“Tapi apa gak terlalu sederhana?” Sambungnya kemudian.
“Aku yakin Appa akan suka.” Ujar Mara.
“Ah baiklah. Aku akan pesan.” Ujar Summer langsung membuka handphone-nya.
*****
Malam tiba, Summer dan Mara diantarkan Damar ke pelabuhan. Seperti ucapan Uma, malam itu bulan sangat terang sehingga Summer dan Mara tidak akan kesulitan berlayar di lautan.
“Aku masih inget pertama melihatmu di bawah bulan yang seterang ini juga. Rambut putihmu sangat berkilau.” Ujar Summer yang berdiri di Kokpit bersama Mara.
“Kau suka rambut putihku?”
“Suka.”
“Apa aku harus ganti jadi putih sekarang?”
“Hahahahahaha.” Tawa Summer meledak.
“Rambutmu masih panjang waktu itu.” Ujar Mara mengingat.
“Terima kasih telah muncul di hidupku Mara.” Summer tersenyum hangat.
“Terima kasih untuk terus hidup.” Sahut Mara membelai kepala Summer.
Entah kenapa Summer jadi merasa malu dan canggung, padahal itu hanya belaian di kepala seperti yang biasa dia lakukan pada Mara.
Mereka terdiam cukup lama sambil menikmati air laut yang tenang. Udara malam yang sejuk, rambut Summer yang beberapa kali menutupi wajahnya.
Sesekali jika mereka bertatapan, mereka akan berbalas senyuman.
Mereka berlayar sekitar 3 jam ke tengah laut. Mara mengisyaratkan untuk berhenti dan menunggu di situ. Summer mulai tegang dan deg-deg-an karna akan melihat sosok ibunya sebentar lagi.
Bersambung…
__ADS_1