Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Cuaca Sedang Indah


__ADS_3

“Mereka ingin menyingkirkanku, demi sebuah jabatan di perusahaan.” Sahut Summer tak terganggu dengan pertanyaan Sara.


“Baiklah. Toh manusia tidaklah sulit untuk dikalahkan. Karena kau juga akan menjadi bagian keluarga Appa, kami memang seharusnya melindungimu.” Ujar Sara mencoba bijak.


Summer menatap lembut Sara, dan tersenyum. Dia senang diterima di keluarga Appa meskipun dia sendiri belum ada hubungan jelas dengan Mara.


Setelah selesai berdiskusi, mereka akhirnya bubar karena sudah cukup malam. Tapa dan Sara masuk ke kamarnya, sedangkan Mara mengikut masuk ke kamar Summer karena dia belum sempat bicara berdua, dia khawatir bagaimana perasaan Summer saat ini.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Mara memegang tangan Summer.


“Aku tak apa. Hanya sedikit tak enak pada Sara.”


“Maaf ya. Adik aku memang lebih berani dan kasar dari padaku. Dia sangat tegas dan gampang emosi. Tapi dia manis dan perhatian kok.” Ujar Mara menggambarkan sifat adiknya.


“Aku tau. Aku mengerti. Terima kasih Mara sudah menanyakan perasaanku.”


“Baiklah. Aku akan kembali ke kamarku.” Ujar Mara setelah yakin Summer tak apa. Dia mengelus kepala Summer kemudian mencium keningnya.


“Goodnight.”


“Goodnight Mara.” Summer tersenyum sambil melepaskan perlahan tangan Mara.


*****


“Gue dapet info restoran depan Swalayan tempat gue kerja lagi buka lowongan.” Ujar Nindi pada Rio yang tengah makan bersamanya siang itu. Seperti biasa, lauk yang mereka makan adalah masakan Bu Ayu yang dibawa oleh Rio yang sudah lama tak makan siang bersama ibu dan ayahnya. Dia dengan cepat akan langsung cabut dari rumahnya untuk bisa makan siang dengan Nindi.


“Oh ya? Mau mau! Ntar gue ke sana.” Ujar Rio, kebetulan sekali dia butuh pekerjaan.


“Btw kuliah lo gimana?”


“Aman aman aja.” Sahut Rio.


“Soalnya gue liat lu terlalu nyantai hidupnya hahah.”


“Yehhh. Gue ngampus tau!”


“Iya iya.”


Rio butuh bekerja karena dia sudah berjanji menambahi uang belanja pada ibunya. Tidak apa-apalah demi membantu teman yang makannya mie instan terus.


Kali ini dia harus berhasil mendapatkan pekerjaan biar tidak terkesan bohong pada orang tua terus .


Hari itu Nindi libur bekerja, kali ini dia yang menunggu Rio pulang dari melamar pekerjaan di restoran depan swalayan tempatnya bekerja. Bisa dirasakan sendiri oleh Nindi bagaimana rasanya menunggu seseorang pulang.


“Wah gila ya, Rio bisa nungguin gue ampe 8 jam.” Ujarnya menyadari menunggu baru 1 jam saja sudah sangat membosankan.


Tapi Nindi tak ingin besar kepala, bisa saja Rio tak menunggu tapi bersantai ria dan bebas di kosannya. Tak mungkin ada orang yang sabar hanya dengan tujuan menunggu saja.


Karena rasanya, semakin menunggu waktu semakin melambat. Nindi tak bisa tenang menonton TV yang jarang dia nyalakan. TV itu hanya akan menyala jika ada Rio. Beberapa snack yang dia sering bawa pulang untuk cemilan Rio, karena ngemil adalah kebiasaannya saat nonton TV.


“Apanya yang seru sih dengan nonton.” Nindi mengeluh sambil mengganti-ganti channel TV.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu, ketukan pintu pertanda Rio sudah pulang. Sangat penasaran bagaimana hasil wawancara kerjanya.


“Gimana?” Tanya Nindi pada Rio yang baru tiba di kosannya setelah mendatangi restoran tempat dia melamar.

__ADS_1


“Gue boleh kerja mulai besok katanya.” Sahut Rio yang masih di pintu sedang melepas sepatunya.


“Wahh! Selamat ya!” Ujar Nindi sambil mengelus kepala Rio.


Rio berkelu lantas menatap tajam wanita di depannya itu. Sudah berkali-kali diberitahu untuk tidak mengelus kepalanya masih saja tak peduli.


Nindi tersenyum mengejek, lalu ingin mengulangi lagi agar Rio tambah kesal.


Namun baru tangan itu terangkat, Rio langsung menangkapnya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Nindi.


Nindi sontak mendorong Rio, namun kini Rio jadi mendekap kencang dan tak membagi ruang untuk Nindi melepas diri.


Nindi memukul-mukul bahu Rio agar dilepaskannya ciuman itu. Namun usaha itu sia-sia. Rio mencium dan mendorong badan itu perlahan masuk ke kamar kosan itu, menutup pintu sembari terus ******* bibirnya.


Nindi kewalahan, pria ini benar-benar keras kepala, kini bahkan kepalanya tak bisa bergerak karena tangan Rio yang menahan untuk terus mendempetkan bibir Nindi ke bibirnya.


Setelah beberapa lama begitu, akhirnya Rio melepas ciuman itu secara perlahan.


“Udah gue bilang jangan lakuin itu lagi!” Ujar Rio menyalahkan Nindi dengan dingin, dia menganggap ciuman itu terjadi karena Nindi terus bengal diberitahu untuk tidak mengelus kepalanya.


Nindi jadi canggung dan bingung harus apa, dia beberapa kali menggerakkan tangannya hendak menyentuh wajah namun tak jadi, ingin menyentuh rambut namun tak jadi. Dia tak tahu harus apa dan berkata apa saat seperti ini.


Rio yang malah terlihat tenang dan dingin, memperhatikan Nindi yang salah tingkah.


Dia kemudian ke pintu langsung mengenakan sepatunya.


Sedangkan Nindi bingung harus berkata apa, jika menanyakan apa dia ingin pergi nanti kesannya tak memperbolehkan pergi, jika bersikap diam nanti seperti marah dan mengusir. Nindi bergelut dengan pikirannya sendiri.


“Besok gue masuk kerja jam 14, balik jam 23. Gue bisa nungguin lu dulu biar pulang bareng.” Ujar Rio dari depan pintu sudah siap untuk pergi.


Rio kemudian berlalu, suara sepatu bootsnya terdengar jelas menuruni anak tangga. Tak lama setelah itu, suara motor gedenya yang menggelegar memenuhi bangunan kosan yang berbentu U itu.


Setelah suara motor Rio tak terdengar lagi, Nindi segera berlari menutup pintu dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar sadar.


“Sinting.” Ujarnya.


*****


Rio juga sama tak tahu harus apa, di balik sikapnya yang terlihat tenang, di dalam hati dia menjerit karena berani menyosor temannya seperti itu. Ada rasa menyesal takut akan dijauhi namun rasa debaran lebih banyak. Sepanjang perjalanan, rasanya cuaca sedang indah dan udara sangat segar.


Sementara klakson terus berperang melihat macetnya ibu kota. Para pengendara terlihat kelelahan dan kesal. Polusi dari kendaraan yang padat membuat udara sepanjang jalan sangat suram.


Tapi tidak dengan Rio.


*****


“Summer.” Panggil Sara di dapur saat melihat Summer sedang membuka kulkas.


“Ya?”


“Aku ingin minta maaf perkara kemarin.”


“Kenapa? Kamu gak salah.”


“Tetap saja, kau pasti kaget melihat aku memotong tangan orang.”

__ADS_1


“Ya memang kaget.”


“Ya kan.”


“Tak apa. Aku juga terkadang ingin memotong tangan mereka, tapi tak punya kekuatan seperti itu.”


“Apa orangnya mati?”


“Ah gak kok. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit. Hanya saja, aku tak ingin kamu terseret. Apa dia melihat matamu kemarin?”


“Sepertinya iya.”


“Aduh! Kita bisa melupakan hal penting begitu.”


“Tak apa. Aku bisa menghapus ingatannya.”


“Oh ya?”


“Iya. Bawa saja aku padanya nanti.”


“Kamu punya kekuatan begitu?”


“Punya. Aku dan Uma punya. Hanya keturunan bangsawan yang punya.”


“Apa Mara juga bisa?”


“Kakak tidak bisa. Dia cuma terlalu kuat gak guna aja.”


“Hahahahah!” Tawa Summer meledak. Akhirnya tawa itupun menular dan membuat Sara ikut tertawa.


“Aku penasaran, kekurangan kamu apa ya?” Ujar Summer sangat kagum karna semua yang ada pada Sara adalah kelebihan.


“Entahlah.” Jawabnya bangga.


“Tapi apa kau bisa membaca pikiranku?”


“Umm ya.”


“Wah! Aku jadi malu.”


“Aku juga malu. Karna kau sering berpikiran mesum terhadap Kak Mara.”


“Hah?” Summer merasa kepergok dan kaget. Memalukan, sekarang semua keluarga Mara akan menganggapnya wanita mesum. Dimulai dari Appa dan Uma yang melihat langsung saat live, dan kini Sara yang dengan jelas membaca pikirannya.


“Maaf. Padahal aku tahu itu rahasia. Tapi kak Mara juga sama kok berpikiran begitu.”


“Astaga!” Summer jadi tak terlalu malu, karena Sara ternyata asik dan santai saat bercanda. Dia tidak kaku seperti seseorang yang dia kenal.


“Iya. Memang aku ini orangnya asik.” Sahut Sara menjawab isi pikiran Summer.


“Astaga. Tidak sopan tahu.”


“Upsss maaf.”


“Ssssstttt!!” Perinta Summer agar Sara merahasiakannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2