
“Periksa dia. Siapa tahu dia sudah beda tuan.” Ujar Praman pada Harith yang baru masuk ruangannya.
Pria itu adalah CIO (Chief Information Center) di Summer Sea bernama Ginanjar. Tentu Praman menemukan kejanggalan, dia merasa Ginanjar tak pernah selelet ini dalam bekerja. Antara dia memang sengaja tidak mengurusnya atau dia tak becus sama sekali.
Sedari dulu semua orang tau sehebat apa Ginanjar dalam mengurus media yang menyangkut pautkan Summer Sea. Hanya dalam hitungan jam dia akan membereskan dan membungkam semua media, baik dengan jabatan ataupun dengan uang.
Alasan rekaman Praman masih dibahas sampai detik ini menaruh kecurigaan.
“Cari pembunuh bayaran yang paling tangguh!” Ujar Praman gedek dengan semua orang yang dibayarnya tidak membuahkan hasil. Satu pun dari mereka tak ada yang berhasil menyakiti Summer. Tidak tersentuh, begitu kata pembunuh bayaran dan pekerjaan itu terkenal di kalangan pembunuh bayaran.
“Ah tidak. Aku ingin kalian memeriksa body guardnya saja.” Ujar Praman berganti pikiran.
“Baik Direktur.” Sahut Harith menunduk lalu keluar ruangan.
Setelah setengah hari berlalu, tampak media yang membahas bukti rekaman mulai surut. Ginanjar ke ruangan Praman untuk menyampaikan dia sudah mengurus semuanya. Terlihat seperti dia masih dipihak Praman karena sudah menyelesaikan masalah media.
Praman akhirnya mulai merasa tenang, kali ini dia yang akan berganti membalas Summer.
“Anak ini sudah tidak ada takutnya.” Gumam Praman menggesek menggaruk bibirnya yang menyeringai.
Belum juga ada sejam bernafas tenang, pihak perpajakan tiba-tiba datang dengan box ditangan mereka. Mendobrak masuk ke ruangan Praman tak menghiraukan hadangan sekretaris.
Praman membelalak saat pintu ruangannya terbuka paksa oleh sejumlah orang berjas berwajah dingin. Dia kalang kabut berdiri saat melihat logo perpajakan di box yang mereka bawa, mencari cara menghadang mereka untuk masuk, siapa alasan mereka tiba-tiba muncul.
”Silahkan keluar Pak Direktur.” Perintah orang di barisan terdepan.
“Kurang ajar!” Bentak Praman dengan nafas yang tergesa-gesa sembari menunjuk wajah pria yang berani bicara padanya.
“Semuanya kumpulkan semua dokumen yang ada!” Perintah orang tersebut, membuat semuanya bergerak memasuki ruangan, mengobrak-abrik semua laci dan meja memasukkan dokumen ke box yang mereka bawa.
Praman menghentakkan kaki berjalan ke ruangan Harith, membuka pintu ruangannya dengan membanting.
“Apa ada Direktur?” Ujar Harith sedikit kaget.
“Ada apa katamu?! Ada apa?” Bentaknya berderap mendekati Harith yang duduk di kursi kerjanya.
Tangannya mengayun ingin menampar keras wakil direktur yang tidak becus ini. Harith dengan cepat menampik dengan menangkap tangan itu sebelum mendarat di pipinya.
Mata Praman semakin membesar, netranya membulat. Apa ini? Apa yang terjadi? Sudah berani menangkis tamparannya.
Harith melempar tangan itu. “Ada apa Direktur?” Tanyanya sekali lagi.
“Kenapa bisa ada orang perpajakan di sini?!” Bentaknya dengan nafas yang tersisa.
Harith merespon dengan wajah kaget. Dia oun sepertinya sama tak tahu apa-apa.
“Perpajakan?” Tanyanya memastikan.
“Ah!” Gerang Praman berdecak pinggang seraya menenangkan nafasnya.
__ADS_1
“Saya akan cari tahu kenapa Direktur. Saya juga tak tau kabar ini sama sekali.”
Praman mengangkat satu alisnya, kembali mencurigai Harith. Memang dia tidak becus atau sengaja menghianatinya.
“Panggil Direktur keuangan ke sini!” Perintahnya.
“Pak Bambang sedang di luar kota, Direktur.”
“Di luar kota?!” Praman langsung menyuruh sekretaris yang menunggunya di luar ruangan untuk menelpon Bambang.
Sekretarisnya segera menyerahkan ponsel itu pada Praman setelah diangkat.
“Bambang!!!!!” Teriak Praman seketika menggema di ruangan.
“Halo Direktur. Orang perpajakannya ternyata sudah datang?” Sahut Bambang dengan nada enteng terkekeh.
“Kurang ajaaar!!!!” Teriak Praman sejadi-jadinya.
“Oh iya, kamu harus nonton TV juga Direktur.” Ujar Bambang mengingatkan.
Praman segera menutup telpon, mencali remot dan menyalakan TV.
“Betul. Kami menerima sebuah dokumen yang menyebutkan bahwa Praman diduga menggelapkan dana Perusahaan.” Ujar seorang narasumber berbicara pada reporter di berita sela.
Praman menggenggam erat lalu melempar remot ditangannya memecahkan layar TV. Belum sempat dia keluar ruangan, saat berbalik dia kembali dikejutkan oleh pihak berwajib beranggotakan 2 orang yang sudah berdiri di pintu.
“Praman Wicaksono, anda ditangkap terkait dugaan penggelapan dana.” Ujar Pria berpakaian polisi itu.
“Kenapa harus diborgol? Masih dugaan kan?!”
"… Hubungi pengacara terbaik!" Teriak Praman sembari di seret ke luar.
Praman merasa sial sekali, kenapa tepat saat dia di kantornya dihadapkan dengan situasi memalukan begini.
Saat Praman keluar dari lift di lobi, ada Summer dengan Mara dan Sara berdiri seperti sedang menunggu.
Summer menatap menyeringai mengikuti langkah Praman yang mendekatinya.
"Summer, kurasa ada kesalahpahaman…"
"Ketua." Sela Summer memerintah untuk tak memanggilnya dengan nama.
Praman kikuk dengan kemarahan yang belum mereda. Tersulut dendam di dadanya yang membusung, tak habis-habisnya dia dipermalukan. Sudah ada bayangan bagaimana dia akan membalas perlakuan gadis 21 tahun itu.
Mereka melanjutkan langkah dengan pandangan karyawan yang penuh tanda tanya, dan reporter yang seperti zombie siap menerkam di depan gedung.
"Apa yayasan X juga salah satu perusahaan untuk mencuci uang milik anda?"
"Tolong berikan komentar."
__ADS_1
"Apa rencana anda selanjutnya?"
"Bagaimana komentar anda terhadap anak yang mengakui anda sebagai pembunuh Rudi Wicaksono?"
Masing-masing reporter melontarkan pertanyaan sampai tak terdengar karena saking berebutannya.
Praman mengambil posisi percaya diri.
"Saya masih akan terus mencari tahu siapa yang memfitnah saya melakukan semua ini. Untuk perilaku anak saya, saya tidak tahu menahu kenapa dia menyahut seperti itu. Bisa jadi karena dia ingin menakuti Ketua. Untuk saat ini saya akan menjalani pemeriksaan, nanti juga kita akan tahu mana yang benar." Ujar Praman mengeles.
Segera setelah dia selesai berbicara, petugas mengarahkannya untuk masuk ke dalam mobil agar dibawa ke kantor menjalani pemeriksaan.
*****
"Apa ini sudah berakhir?" Tanya Mara yang beranggapan seharusnya semua sudah beres dengan Praman ditangkap.
"Tentu tidak." Sahut Summer memasuki lift diikuti kakak beradik itu.
Terdengar ponsel Summer berbunyi dengan nama Pak Bagas di panggilan masuk.
"Ketua. Sibuk sekali ya." Puji Pak Bagas.
"Iya. Bagaimana keadaan Pak Bagas?"
"Aku sudah bisa masuk kerja besok. Aku jamin perusahaan pasti sangat berantakan."
"Pak Bagas emang paling tahu." Summer sumringah.
"Sampai ketemu besok Ketua."
Summer menutup telpon meloloskan nafas lega.
*****
Praman yang hanya duduk diam di kursi interogasi didampingi oleh pengacara handal ternama.Dia menyerahkan segalanya untuk diselesaikan oleh pengacara tersebut.
Hanya sebentar proses itu, Praman sudah bisa berlenggang pulang karena alasan kurangnya bukti atas pembunuham Rudi, dan akan kembali diperiksa esok harinya masalah penggelapan dana.
Tepat saat pulang dari tempat memalukan itu. Praman memberi satu telpon dan satu perintah, yaitu harus menghabisi Summer saat itu juga.
Dia mendapat kabar bahwa Summer dan Mara bersama Sara dan Tapa sedang di pantai.
Segera Praman minta diantarkan ke tempat Summer berada. Jika memang harus hancur, dia akan membawa nyawa Summer bersamanya. Jika perlu, dia sendiri yang akan menghabisinya.
“Ini barangnya.” Ujar seorang penjual membawakan pesanan Praman.
“Buka.” Ujar Praman.
Orang tersebut membuka box yang berisi sebuah senapan dan peluru besar.
__ADS_1
“Gajah juga bisa mati jika kau tembak dengan ini.” Ujar pedagang itu menjelaskan.
Bersambung…