
Mara lantas mendekati tv yang ditaruh menempel di dinding. Jantungnya berdegup kencang, perlahan-lahan dia berjalan ke arah wajah Summer yang ada di layar TV.
Dia senang bisa bertemu dengan Summer di hari pertamanya menginjak daratan.
Disentuhnya tv itu, lalu dicabutnya dengan enteng dari dinding hingga kerangka penahan TV itu ikut tercabut dan membuat dinding rapuh dan semennya berjatuhan.
Diguncang-guncangnya TV itu.
Wawan kaget “Ehh jngan dicopot.” Ujarnya tapi sudah terlambat.
Mara memukul-mukul tv itu, dia bingung. Summer sudah berada tepat di depan matanya tapi dia tak bisa menyentuhnya. Dia merasa layar itu penghalang bagi mereka berdua untuk bertemu.
“Bagaimana cara masuk ke dalam ini?” Ujarnya kesal.
Wawan kemudian merebut tv itu.
“Ini TV. Bukan berarti dia nyata di depanmu. Huaahh TV ku masih belum lunas cicilannya.” Ujarnya mengelus TV-nya yang sudah mengalami pengalaman berat itu.
Mara down. Dia menunduk lalu berkata “Dimana aku bisa menemukan Summer?”
“Kamu mencari wanita itu? Kamu kenal?” Tanya Bu Rani, sedang Wawan masih sibuk memeriksa tv nya apa masih berfungsi.
“Iya. Dia alasan aku ke daratan.” Sahut Mara.
“Oh aku mengerti. Coba sini duduk dulu.” Ajak Bu Ayu.
Kemudian Mara duduk.
Bu Rani mengeluarkan handphonennya dari saku celemeknya. Mara melongo melihat benda baru dia lihat itu.
“Ah kamu pasti bakal lebih melongo kalo lihat benda ini bisa apa.” Ujar Bu Rani tersenyum.
Bu Rani kemudian membuka hp tersebut dengan pola. Kemudian ada suara yang menandakan handphone terbuka.
“Woahhh.” Ujar Mara kagum dengan suara notif itu. Matanya semakin dekat dengan handphone.
“Lihat. Summer Wicaksono itu sangat terkenal. Bahkan mungkin sudah seterkenal selebritas. Coba kita cari Instogrannya.” Bu Rani mengklik aplikasi berwarna merah itu.
Mara terkagum benda kecil itu bisa bergerak dan punya banyak warna di layarnya.
Ketika Bu Rani mengetik nama Summer di aplikasi itu, mereka langsung menemukan di pencarian paling atas ada akun Summer.
Kemudian dia klik nama tersebut. Muncullah Foto Summer berjejer tak cukup banyak.
Tak terlalu menunjukkan kegiatan sehari-hari. Hanya berisi dengan pekerjaan dan foto bersama dengan relasi kerjanya.
“Woah Summer.” Ujar Mara langsung merebut handphone itu. Dilihatnya terus feed itu dengan mata ceria.
“Ah kamu bisa memperbesar fotonya dengan klik foto yang kamu lihat.” Ujar Bu Rani sambil mengklik salah satu foto.
“Woahhh.” Ujar Mara makin kagum.
Dia bisa melihat dengan jelas wajah gadis yang dia rindukan itu.
__ADS_1
Di foto terakhirnya terlihat rambutnya sudah pendek sebahu. Persis seperti video yang dia lihat di TV.
“Dia kurusan. Dan satupun fotonya tak ada yang tersenyum.” Mara sambil mengklik foto itu satu-persatu.
“Boleh benda ini buat aku?” Tanya Mara menatap Bu Rani.
“Enak aja. Beli sendiri.” Sahut Wawan nyelonong pembicaraan setelah menaruh TV nya di meja untuk sementara. Karna tak bisa dipasang lagi saat ini.
“Bagaimana cara belinya?” Tanya Mara.
“Cari duit.” Sahut Wawan.
“Kamu bisa bekerja disini. Kita bisa bayar kamu 1 juta perbulan kalau kamu bekerja keras.” Ujar Bu Rani sambil senyum.
“Apa satu juta cukup beli itu?” Tunjuk Mara ke arah Handphone.
“Tentu tidak. Ah ya. Untuk menemui Summer itu cukup sulit. Kolongmerat itu sulit didekati. Hmmm.” Ujar Bu Rani berpikir dengan telunjuk di dagunya.
“Kamu bisa bekerja tiga bulan disini, lalu beli handphone. Kamu bisa coba hubungi ke akun instogrannya nanti.” Ujar Bu Rani.
“Bagaimana menghubunginya?” Ujar Mara belum mengerti.
“Itu disebutnya chattingan. Ahhh nanti juga kamu tau. Yang penting rajin belajar. Apalagi belajar membaca. Itu wajib kalo kamu mau bermain handphone.” Bu Rani menjelaskan.
“Chat…cha…? Ah apa namanya benda itu?”
“Handphone.” Sahut Bu Rani.
“Tak kusangka akan ada waktunya anak Appa yang agung bekerja sebagai karyawanku.” Ujar Wawan dalam hati sambil tersenyum dan bangga.
*****
Hari pertama itu dijalani Summer dengan menangis hampir dua jam. Namun ada yang lebih penting dari pada menghabiskan waktu murung.
Dia berjalan ke luar kantor dan berjalan ke arah meja Pak Bagas, sekretarisnya.
“Apa yang bisa kita kerjakan hari ini?” Ujar Summer.
“Banyak Ketua. Saya akan membawakannya ke meja anda.” Sahut Pak Bagas.
Pak Bagas membawa setumpukan dokumen yang harus diperiksa ke meja Summer.
Ada rasa jengkel ketika proyek yang seharusnya sudah selesai di urus malah banyak yang diundur dan tak dikerjakan.
Tapi tak apa. Itu kenapa dia ada disitu. Bekerja keras.
Summer mulai membuka dokumen satu persatu dan menandatangani dokumen yang baginya perlu untuk segera dijalankan.
Dia berkutat begitu terus sampai sore tanpa makan siang.
Dengan pena dijarinya dan tangan satunya menopang dahi membuatnya terlihat sudah lelah berpikir.
“Ketua. Ini sudah jam pulang.” Ujar Pak Bagas mengingatkan.
__ADS_1
“Aku akan pulang terakhir. Pak Bagas bisa pulang lebih awal.” Sahutnya dengan mata yang masih menempel di dokumen.
“Baiklah. Tapi setidaknya makan dan jaga kesehatan.” Ujar Pak Bagas menaruh bekal makan yang diantar oleh Bu Ayu ke kantor tadi.
Summer melirik bekal itu dan melanjutkan pekerjaannya.
Pak Bagas berjalan keluar dari ruangan itu.
“Pak Bagas. Terima kasih.” Ujar Summer saat Pak Bagas ingin membuka pintu.
“Tentu Ketua. Saya akan pulang duluan.” Ujarnya.
Summer langsung kembali fokus ke pekerjaannya tadi. Dia cukup mahir, beruntung dia punya otak jenius yang membuatnya cepat mengerti semua yang diajarkan Pak Bagas.
Meskipun keadaan perusahaan sepenuhnya dia belum kuasai, tapi itu akan bisa sambil menjalaninya.
Tak terasa diluar sudah gelap. Summer merasa dia sudah terlalu lelah. Di susunnya dokumen terakhir yang dia periksa itu.
Dengan begitu sudah selesai semua pekerjaannya yang menumpuk tadi di meja. Disamping merasa lelah, rasa lega lah yang paling banyak.
“Ahh.” Erangnya sambil menggerakkan kepalanya karna lehernya terasa sangat kaku.
Dia kemudian berdiri dan mengambil jasnya yang menggantung.
Diambilnya tasnya kemudian keluar kantornya dan menuju basement tempat dia memarkirkan mobilnya.
Kantor sudah sangat sunyi kecuali front liner yang masih bekerja.
“Hati-hati di jalan Bu.” Ujar mereka memberi salam.
“Terima kasih.” Sahut Summer tetap berjalan.
Summer kemudian masuk ke lift dan keluar setelah sampai di basement.
Di pencetnya kunci mobil yang sedari tadi dia pegang untuk mencari tahu dimana Pak Bagas memarkirkan mobilnya tadi pagi.
Terlihat mobil dengan model yang persis sama seperti mobil pertama Summer yang tenggelam di laut.
Untuk seorang Ketua, mobil itu sangat sederhana. Namun bagi Summer, mobil pertamanya dulu adalah mobil pertama yang dibelikan Papanya untuknya.
Sesampainya di rumah, Summer berendam di bathtubnya sambil memejamkan mata.
Rasanya sangat rileks berendam di air hangat. Wangi sabun yang dia pakai memenuhi kamar mandi.
Dia menghabiskan waktu 30 menit berendam. Cukup membuat semua otot-ototnya terasa lebih nyaman.
Dipakainya piyama dan seperti biasa dia akan duduk dulu di dekat jendela melihat bulan.
“Bulannya sembunyi.” Ujarnya lalu bergerak ke kasur. Diambilnya foto yang diatas buffet itu, dan dipeluknya lalu tertidur.
Malam itu ada suara-suara seperti mengerjakan sesuatu di parkiran Mobil Summer. Seseorang dengan penutup kepala dan baju serba hitam terlihat membuka katup mobil Summer.
Bersambung…
__ADS_1