
Suara langkah yang jelas terdengar karna heels yang dipakainya. Summer masuk dengan wajah dingin tak menangis. Dibelakangnya ada Pak Bagas dan Rio menemaninya.
Summer terus berjalan dan melewati semua barisan bangku. Lalu dia berhenti setelah sampai di peti mati Papanya.
Pandangannya melunak setelah melihat wajah itu, dia berjanji tidak akan menangis.
Disentuhnya wajah dan jas yang dikenakan Pria paruh baya yang sudah kaku badannya itu. Summer tidak mengatakan sepatah katapun. Dia mengelus rambut Papanya lalu wajah Summer kembali dingin. Dia berbalik badan dan berjalan ke bangku paling depan. Dan duduk disitu dengan tegak.
Orang-orang berbisik dengan kemunculan Summer disitu. Kehadiran dia yang tidak disangka-sangka membuat orang merasakan aura yang berbeda dari anak yang tadinya ceria.
Semua orang menyadari perubahan Summer, terlebih keluarga besarnya. Mereka berpikir Summer akan menangis mengantarkan Papanya pergi untuk selamanya. Namun yang mereka lihat, Summer hanya diam dengan ekspresi wajah datar.
Disitu berkumpul keluarga dekat Summer.
Omnya Praman Wicaksono bersama istri nya Clara dan anak-anak mereka, Nindi dan Richard.
Ricard sendiri 6 tahun diatas Summer, sedangkan Nindi setahun diatas Summer.
Ada juga Tantenya Yura Wicaksono bersama Suaminya Harit dan putrinya Jenni.
Sedari tadi Nindi terus melihat Summer, ingin rasanya dia memeluk Summer sejak melihatnya baru muncul. Nindi terkejut sekaligus lega melihat Summer memasuki gereja tadi. Coba saja mereka tidak sedang ibadah.
Ibadah pun berjalan dengan lancar. Disitu keluarga berdiri di dekat peti mati untuk mengucapkan salam perpisahan. Saat itu langsung Nindi memeluk Summer.
“Ya Tuhaan. Syukurlah kamu selamat Summer. Aku khawatir banget.” Ujar Nindi memeluk Summer erat sambil menangis. Nindi termasuk orang yang dekat dengan Summer. Mereka terbiasa pergi kemana mana bersama. Bahkan tidur bersama layaknya kakak adik.
“Iya Nin.” Sahut Summer singkat.
Tepat saat mereka keluar dari gereja, baru saja di depan pintu gereja, hujan rintik-rintik turun disusul dengan hujan deras kemudiannya.
Mereka sempat terdiam, begitu pun Summer yang berdiri di depan sambil memegang foto Papanya.
Dia terpaku, air hujan menetes menjatuhi foto pria kesayangannya itu. Begitupun Summer yang tak bergerak sedikit pun saat terkena hujan yang mulai deras.
Rio dengan sigap berlari ke sebelah Summer dan memayunginya.
Summer pun mulai berjalan membuat orang bingung karna hujan masih deras.
“Ayo kita lanjutkan. Aku sudah lelah.” Ujar Summer meminta orang-orang melanjutkan berjalan agar semuanya cepat selesai.
Itu kata kedua setelah “iya Nin.” yang dia katakan sejak sampai di gereja.
Orang yang mendengar omongan dari seorang anak yang ditinggal Papanya itu, akan merasa Summer sangat dingin dan tidak punya hati.
Bisa-bisanya dia mengeluh lelah padahal itu hari terakhir dia bertemu Papanya. Mereka pun meragukan, apa sebenarnya Summer sifatnya seperti ini? Karna nyaris sekali berbeda dengan Summer yang mereka kenal.
Ya pasti. Summer sudah bukan dirinya yang dulu lagi. Yang bahagia dan tak kekurangan apapun. Kini dia Summer yang sendiri, yang kehilangan segalanya, dan yang akan menghancurkan orang yang membuatnya berubah menjadi orang lain.
Mereka berjalan di tengah hujan deras, sebagian ada yang memakai payung, sebagian ada yang basah kuyup. Summer tak peduli. Dia terus berjalan hingga sampai di tempat Papanya akan dikuburkan.
__ADS_1
Selama proses penguburan Summer tetap diam tak berkutik. Namun matanya tak lekang dari peti mati papanya yang sudah tertutup dan tertindih tanah.
Setelah Penguburan itu selesai, Summer adalah orang pertama yang beranjak pergi, begitu pun Rio yang sibuk memayungi Summer.
Summer merasa tidak ada gunanya menghabiskan waktu lama-lama bersama orang-orang yang mungkin salah satu dari mereka lah yang mencelakai dia dan orang tuanya. Dia menjadi tidak mempercayai siapapun kecuali pak Bagas.
Sesampainya di rumahnya, sudah berapa hari ya dia tak menginjak rumah besar itu. Rumah dimana semua kenangan dia dan Mama Papanya. Baru saja dia menutup pintu setelah masuk. Dia tersungkur, dan mulai gemetar. Air mata terus mengalir dan mengalir. Suara tangisnya lama kelamaan semakin terdengar kencang. Dia berteriak sejadi-jadinya sambil memanggil Papanya.
Pak Bagas dan Rio yang saat itu hendak masuk ke rumah itu pun menahan langkahnya di depan pintu setelah mendengar isak tangis Summer yang meledak di balik pintu mereka berdiri.
Rio pun ikut menangis sambil memegang kepalanya, rasanya pening melihat Summer menderita.
Pak Bagas merasa Summer butuh waktu sendiri, akhirnya dia mengajak Rio untuk pulang.
Summer masih juga menangis entah sudah berapa jam di pintu sampai akhirnya dia tertidur dan terbangun ketika hari sudah gelap.
Di dalam rumah pun gelap. Dia kemudian berusaha berdiri sambil bertumpu pada pintu dan dinding lalu berjalan mencari kontak lampu.
Dinyalakannya lampu, lalu dia berjalan menuju kamarnya.
Hari itu sangat melelahkan, dia membaringkan tubuhnya di kasurnya. Bajunya masih basah lembab karna terkena hujan tadi siang.
Summer membenarkan posisi tidurnya dan mengenakan bantal. Ketika menoleh ke kanan, dilihatnya foto keluarga mereka di sebuah bingkai di atas buffet putih.
Diambilnya foto itu, dan dipeluknya sambil meringkuk. Dipeluknya erat sekali seakan-akan dia memeluk tubuh Mama dan Papanya.
Semalaman dia diposisi yang persis sama. Matanya terus tertutup membayangkan mereka ada di sisinya malam itu. Hanya bayangan saja yang tersisa.
Sebenarnya dia punya banyak video kebersamaan mereka, namun badannya sudah sangat lelah. Menggerakkan jari pun rasanya tak sanggup.
Sementara Mara yang terus berada di kamarnya menimbulkan kekhawatiran keluarganya.
Pagi tadi Uma marah besar karna Mara baru muncul setelah tiga hari tak tau kemana.
Biasanya ketika Mara diomeli ibu yang dia panggil Uma itu, Mara akan mencoba menggodai ibunya agar berhenti marah dengan sikap manjanya, hingga akhirnya Uma berhenti kesal dan jadi tersenyum.
Namun pagi tadi, ketika Uma marah, respon Mara hanya terdiam dan menunduk. “Maafkan aku Uma.” Ujarnya lalu langsung masuk ke kamarnya.
Bahkan sedari tadi pagi Uma yang terkenal bisa memakan 10 ikan sehari, saat itu belum mau memakan apa-apa.
“Aku penasaran apa yang membuat Kakak tak selera makan.” Ujar Sara mengobrol dengan Uma.
“Entahlah. Aku jadi khawatir. Memangnya dia habis dari mana sih?” Tanya Uma
“Mana aku tau Uma.” Sahut Sara.
Begitupun ayah Mara yang dipanggil dengan sebutan Appa, khawatir anaknya tidak makan sedari pagi.
__ADS_1
“Apa kamu terlalu galak mungkin. Kamu tau lah seusia Mara itu wajar melanglang buana. Aku juga dulu begitu saat muda.” Ujar Appa mengomentari sikap Uma.
Mendengar itu Uma langsung berwajah kesal dan menatap tajam Appa.
Appa jadi salah tingkah, ya baginya istrinya juga kadang menyeramkan.
Meskipun dia di habitatnya adalah kepala suku dengan badan paling besar diantara semua mermaid, terlihat buas dan kuat, tak kenal takut dengan apapun itu, ya… kecuali istrinya.
Appa mencari aman dengan pergi ke kamar anaknya.
“Mara, sudah seharian kamu tidak makan. Jika punya masalah coba coba kasih tau Appa. Appa bisa diandalkan!” Ujar Appa di depan kamar Mara.
Mara sama sekali tak menjawab.
Kemudian Appa berbalik, namun tiba tiba batu penutup kamar Rama digeser.
Karna rumah para Mermaid dan Merman di habitatnya berada di dalam goa-goa di dasar laut. Batu adalah pintu rumah baik kamar mereka. Untuk membuka pintu mereka akan menggeser batu berukuran lebih besar dari pintu kamarnya.
Dengan terbukanya pintu kamar Mara, Appa merasa diijinkan masuk. Appa berenang menghampiri Anak pertamanya yang kelihatan suntuk itu.
“Kenapa kenapa? Cerita coba.” Tanya Appa.
“Appa… tahun depan aku sudah bisa melakukan upacara pendewasaan kan?” Tanya Mara sambil menatap ayahnya.
Terlihat postur badan mereka sangat mirip, sama sama besar. Namun rambut dan mata Mara jelas meniru ibunya. Karna itu wajahnya tak terlalu menyeramkan seperti ayahnya.
Sekilas orang akan tahu kalau Appa adalah seorang pejuang dari luka yang ada di tubuh dan wajahnya. Rambutnya lurus hitam, lekukan matanya panjang dan tajam. Jenggot dan kumis yang lebat menjadikan perbedaan di wajahnya dan Putranya.
Namun biar pun terlihat menyeramkan, Appa adalah ayah yang sangat mengerti dan dekat dengan anak-anaknya. Hanya saja tidak bisa menjadi pembela jika ibunya marah. Appa sama saja takut dengan Uma.
“Ya. Kamu akan berumur 25 tahun, umur yang cukup dewasa.” Jawab Appa.
“Tapi, memangnya kamu ingin pergi ke daratan?” Tanya Appa kemudian.
Bagi suku Kulum, jika mereka sudah menginjak umur 25 tahun, mereka bisa melaksanakan upacara pendewasaan. Dengan menjalani upacara itu, mereka akan diberi kaki dan lidah yang bisa berbicara seperti manusia. Mereka akan tinggal berdampingan dengan manusia. Karna paru-parunya juga perlahan-lahan akan terbiasa di daratan.
Namun untuk tahun pertama dan kedua setelah tinggal di daratan, Mermaid atau Merman harus pulang ke laut sekali seminggu, kemudian sekali sebulan sampai mereka tidak lagi ketergantungan dengan air laut.
Keputusan mereka untuk tinggal bercampur dengan manusia harus dipikirkan matang-matang.
Namun di luar sana sudah banyak mermaid yang hidup di daratan. Bahkan ada yang menemukan pasangan hidupnya di daratan. Tapi tidak sedikit juga yang menyerah hingga kembali ke habitatnya di laut.
“Ya. Appa… aku ingin bertemu dengan seorang manusia yang aku kenal.” Ujar Mara sambil berbisik.
Appa melotot. “Manusia?!” Teriaknya.
Bersambung…
__ADS_1