
Mereka semua sampai di depan gedung Summer Sea. Summer, Mara dan pak Bagas ikut masuk ke dalam. Pagi yang indah karna tidak berpapasan dengan Praman.
“Tangan kamu kenapa?” Tanya Mara pada Summer saat mereka menaiki lift. Sedari tadi subuh dia sangat ingin menanyakan itu.
“Ehemm. Ketua.” Sindir Pak Bagas agar Mara memanggil Summer dengan jabatannya.
“Ah maaf. Tangan Ketua kenapa?” Mara mengulang perkataannya.
“Semalam aku ditusuk orang.” Sahut Summer.
“Siapa yang melukaimu?!” Wajah Mara langsung berubah menjadi ekspresi marah.
“Supir baruku.” Sahut Summer enteng.
Pak Bagas langsung menoleh, yang tadinya Pak bagas bersampingan kini jadi menghadap pada Summer. Tatapan Pak Bagas jelas tersiratkan kebingungan bercampur kekesalan.
“Dia cuma orang yang bertahan hidup.” Summer menyahut tatapan Pak Bagas dengan tegas.
Sedang Mara sudah bersiap akan mendatangi Damar setelah mengantar Summer ke atas.
“Tidak ada yang boleh menyakiti supirku.” Ujar Summer menatap mata Mara.
Mara jelas makin kesal, Supirku? Summer terdengar sangat dekat dengan supirnya.
Pak Bagas kembali berdiri menghadap pintu lift. Sedangkan Mara terlihat menahan amarah.
Setelah masuk ke ruangan, Summer mengajak Mara untuk ikut masuk.
“Kamu menginap di hotel berapa lama?” Tanya Summer.
“Seminggu.” Sahut Mara singkat.
“Setelah check out nanti tinggal di rumahku.” Ujar Summer dari kursi kerjanya.
Mara langsung ceria, segala kekesalan dan wajahnya yang tadi jelas terlihat terganggu kini berubah 180 derajat berubah menjadi wajah ceria. Bibirnya menyungging lebar.
“Dasar.” Ucap Summer jadi merasa lucu. Gampang sekali bikin anak ini berubah ekspresi.
“Tidak boleh pindah hari ini?” Tanya Mara tak sabar.
“Sisa berapa malam lagi harusnya?”
“3?”
“Ya sudah kalo kamu gak ngerasa rugi.” Ujar Summer mengingat uang yang Mara sudah masuk di hotel.
“Tentu tak rugi.”
“Ah sebentar. Kamu pernah mengirim foto dari kamar hotelmu. Kamarmu di lantai berapa itu?” Summer mengingat-ingat.
“Paling atas.” Sahut Mara.
“Paling atas?” Summer kaget.
“Iya.”
“Penthouse?!” Summer hampir tak percaya.
“Ah iya namanya itu.” Mara ingat kata-kata itu yang diucapkan karyawan hotel yang mengantarnya.
“Kamu bilang tak
akan rugi? Aku gak tau bodyguardku orang kaya.” Summer jadi merasa lucu.
__ADS_1
“Kaya?” Kata itu kata yang membingungkan bagi Mara karna dia tak pernah pakai kata itu di sukunya.
“Banyak uang.” Summer mendefenisikan kaya dengan artian kasar.
“Ah uangku memang cukup banyak.” Sahut Mara.
“Hahahhahaha apa semua merman kaya?”
Summer jadi tertarik.
“Sepertinya.”
“Kalian kan tidak bekerja, gimana caranya bisa kaya?”
“Kami bekerja.”
“Oh ya? Bekerja apa?”
“Mencari makanan.”
“Begitu. Aku jadi penasaran di bawah laut bagaimana, bagaimana kalian bekerja. Tapi tunggu…” Summer jadi terpikirkan hal lain.
“Merman ada banyak?” Sambung Summer.
“Ya kita banyak.” Sahut Mara.
“Banyak? Kamu punya keluarga?”
“Punya dong.”
“Dong. Hahhaha” Summer merasa lucu Mara menyebut kata dong.
“Aku jadi penasaran. Kamu berapa bersaudara? Kakak adik?”
“Aku punya satu adik.”
“Ya begitu aja.”
“Tapi aku paling penasaran bagaimana kamu punya kaki.”
Tiba-tiba Pak Bagas membuka pintu dan masuk dengan tumpulan dokumen di tangannya. Obrolan itu lantas terhenti karna itu obrolan sensitif dan samgat rahasia.
“Masih banyak pekerjaan Ketua.” Sindir pPak Bagas pada Summer yang terlihat tadi ngobrol melulu.
“Ah baik Pak Bagas.”
Mara yang sedari tadi berdiri di depan meja Summer tidak bergerak dan tetap di situ meskipun Summer sudah ingin bekerja.
“Kamu. Nunggu di luar.” Ujar Pak Bagas menunjuk dengan menggoyang kepalanya.
“Baik.” Sahut Mara. Sayang sekali padahal mereka sedang mengobrol seru.
Mara yang berdiri di depan pintu ruangan Summer persis seperti anjing penjaga rumah. Terlihat garang pada orang, namun berubah jadi anak anjing yang lucu saat menatap Summer. Sangat setia dan beberapa kali mengintip tuannya dari kaca karna merindukan tuannya.
“Kawasanku jadi bener-bener aman.” Gumam Summer senyum melihat tingkah Mara yang lucu.
Hari itu pekerjaan mereka lancar tanpa gangguan, Summer pun jadi makan tepat waktu karna Mara langsung menerobos masuk ke ruangan Summer untuk mengajaknya makan.
“Kau tak boleh menerobos. Ketuk pintu dulu.” Ujar Pak Bagas mengajarkan tata krama di kantor pada Mara.
“Ah baik, maaf.” Sahut Mara namun tetap masuk.
“Ayo makan, Ketua.” Ujar Mara seperti anak anjing yang mengajak main tuannya, seperti berkata : tuan ini giliran waktumu untukku.
__ADS_1
Summer tersenyum karna rasanya seperti memiliki peliharaan. “Tentu peliharaanku ini tidak boleh lapar.” Pikirnya.
Hal positif dimana Summer jadi makan teratur membuat Pak Bagas lebih tenang. Summer juga terlihat jadi lebih santai saat ada Mara, hanya saja masih banyak tata krama yang perlu diajarkan pada Mara.
Mereka pulang dan sampai di kediaman Summer pukul 7 malam hari. Pak Bagas dan Mara tentu belum menerima Damar, supir baru Summer. Namun mereka tak bisa mengusir pria itu, karna dia adalah orang yang langsung dipekerjakan Summer.
“Terima kasih Non. Saya akan parkirkan mobilnya, lalu ke rumah belakang.” Ujar Damar dengan sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya setiap berbicara, itu gestur bersikap sopan dari kebiasaan orang jawa.
“Iya.” Sahut Summer kemudian masuk.
Summer dan Mara masuk, namun di dalam masih ada Rio.
“Bodyguard loe tinggal disini?” Tanya Rio yang duduk santai di sofa sambil menonton TV.
“Pulang sana.” Usir Summer.
“Mentang-mentang udah punya temen.” Ujar Rio mengganti-ganti saluran TV.
“Mara kamu yakin akan pindah hari ini? Bagaimana jika besok aja? Kamu bisa pulang sebentar ambil barangmu lalu saat pulang bekerja kita pulang bersama.” Ujar Summer memberi pendapat.
Mara masih menatap tajam Rio yang berkelakuan seperti di rumah sendiri.
“Dia gak pulang?” Tanya Mara menunjuk Rio.
“Wei. Kenapa?” Tanya Rio langsung berdiri. Rio tak terlalu pendek, tingginya 175cm namun ketika berdiri di depan Mara dan harus berbicara menatap matanya, Rio jadi mendonagkkan kepalanya ke atas karna Mara lebih tinggi.
“Lu tinggal disini harus jaga sikap ya.” Mara menekukkan jari telunjuk dan jari tengahnya kemudian menempatkan di depan matanya lalu ke mata Mara.
“Apaan itu?” Tanya Mara karna tak mengerti.
Summer langsung tertawa.
“Gue perhatiin lo. Itu maksudnya.” Ujar Rio sambil mengunyah Chiki yang sedari tadi di tangan kirinya.
Kemudian dia kembali duduk selonjoran menonton Tv.
Summer mendekat pada Rio kemudian tiba-tiba menendang pantatnya.
“Balik sono!” Usir Summer.
Rio kaget lalu memelototi Summer.
“Ahhh di rumah tuh bosen banget. Besok deh gue balik, besok! Besok gue mau nongkrong ama temen.” Ujar Rio memperbaiki posisi duduknya dan kembali bersantai.
“Aku akan pulang nanti saja, rada maleman.” Ujar Mara karna kesal melihat Rio tak mau pulang.
“Ya udah. Coba kemari.” Ujar Summer mengantarkan Mara ke kamar yang nantinya tempat Mara tidur.
Rumah orang tua Summer itu besar sekali, Mara belum sempat menghitung ada berapa kamar di rumah itu.
Mereka kemudian sampai di kamar yang terlihat cukup sederhana untuk tamu. Ada buffet, kasur dan lemari pakaian, namun kamar mandinya ada di dalam. Kamarnya cukup jauh dari kamar utama yang kini Summer pakai. Kamar utama tadinya adalah kamar orang tua Summer.
“Baiklah.” Sahut Mara.
Mara kemudian duduk di ruang tamu masih menatap tajam Rio yang santai menonton.
“Apa liat-liat?” Tanya Rio menantang.
Mara diam saja dan tetap menatap Rio.
Saat itu sudah pukul 11, Summer sudah masuk ke kamarnya. Mara memutuskan untuk pulang.
Tiba-tiba Mara mendengar suara langkah grasak-grusuk tidak jauh dari rumah Summer. Dia kemudian berlari keluar mendekati sumbee suara itu dan berhenti di pekarangan samping rumah.
__ADS_1
Dari balik tumbuhan Mara bersembunyi dan matanya berubah menjadi kuning terang. Mata itu membuatnya melihat dengan jelas seseorang yang perlahan-lahan bergerak menuju jendela kamar Summer yang tertutup. Orang itu terlihat kurus, memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah berwarna hitam.
Bersambung…