
“Summer.” Ujar Mara lembut. Wajah Summer sedari tadi berpaling. Entah apa yang dipikirkannya.
“Kenapa tak beri tahu kalau Sara adikmu?” Ujarnya tanpa menoleh dan tangan masih berpangku menutup mulut.
“Aku sudah mau beri tahu tadi, tapi tak ada kesempatan.”
“Ah…” Summer akhirnya menoleh dan menatap Mara.
“Maaf kamu jadi cemburu.” Ujar Mara polos.
“Cem.. cemburu??” Summer jadi salah tingkah setelah dengar kata itu secara gamblang.
“Kamu marah bukan karena cemburu?” Tanya Mara dengan wajah polosnya.
“Siapa yang cemburu. Hah!” Sahut Summer tak terima.
“Baiklah.” Mara menyahut dengan cemberut, kepalanya langsung menunduk.
Summer merasa bersalah telah berkelakuan seperti anak kecil. Dia yang telah marah membabi buta tanpa mendengar penjelasan Mara sama sekali.
“Tapi bisa-bisanya aku tak mengenali padahal Sara mirip sekali dengan Uma.” Gerutu Summer dalam hati.
“Tapi apa semua mermaid secantik Sara?” Tanya Summer tiba-tiba.
“Hmm entahlah.” Sahut Mara tak yakin.
“Kalau semua mermaid secantik Sara, seram sekali.” Gumam Summer.
“Kenapa seram?”
“Aku akan sangat kepikiran ketika kamu kembali ke laut sendirian.”
“Kenapa?”
“Ah sudah lah.”
Mara menggaruk kepala tak mengerti apa maksud Summer dengan kata seram, setahunya laut tak seseram itu.
“Aku harus menyapa Sara.” Ujar Summer setelah menangkan kepalanya, lalu turun dari mobil.
“Summer.” Ujarnya mengajak Sara bersalaman.
Sara menatap tangan itu, Tapa kemudian mengambil tangan kanan Sara dan menerima salam tangan dari Summer. Saat itulah Sara paham.
“Hi kak Summer.” Ujar Sara tersenyum lebih ramah.
“Ah iya memang kamu umur berapa?”
“25.”
“Hah?? Kau lebih tua dariku. Jangan panggil kakak. Panggil dengan namaku, Summer.”
“Tapi kau akan jadi kakak iparku, bagi bangsa kami, jika kau menikahi kakakku, kau harus dipanggil kakak.”
“Astaga.” Summer jadi malu dan salah tingkah karena sekali lagi di panggil kakak ipar, dan kata pernikahan mungkin adalah hal wajar karena semua mermaid yang pernah bertemu Summer membahas itu dengan sangat santai.
“Tak perlu. Summer saja.” Ujarnya menyambung.
“Baiklah Summer.”
“Ah tadi maaf sikapku yang tidak sopan.”
“Aku yang minta maaf, aku memang sangat ingin mencoba hal barusan kalau kak Mara sudah punya pasangan.”
__ADS_1
“Ah bahkan kami saja belum pacaran.” Sahut Summer malu.
“Pacaran?”
“Pacaran itu bahasa pasangan di daratan.”
“Ohhh begitu.”
“Apa kau akan tinggal di sini? Seperti Mara dulu?”
“Entahlah. Mungkin aku akan tinggal bersama kak Mara.”
“Ah. Mara tinggal bersamaku.”
“Ya sudah, aku Mara dan Tapa bisa mencari rumah lain.”
“Aku tak bisa meninggalkan Summer.” Ujar Mara tiba-tiba ikut nimbrung bicara.
“Ya sudah, aku tinggal disini pun tak apa.” Ujarnya mengambek.
“Ya tinggal disini saja. Aku juga dulu begitu.” Ujar Mara tak terima jika adiknya dan Tapa tinggal bersamanya dan Summer. Dia sangat menikmati tinggal berdua saja dengan Summer.
“Kau bisa tinggal bersamaku. Rumahku cukup luas.” Ujar Summer.
“Benarkah kakak ipar?” Summer langsung antusias.
“Iya.”
“Wahhhhhh!!!” Sara melompat-lompat kegirangan. Mengejek kakaknya dengan menjulurkan lidah karena berhasil mengambil hati Summer.
Sara dikenal dengan orang yang pintar menggoda orang lain saat dia punya keinginan. Dengan paras cantik dan wajah yang pura-pura polos, membuat orang tak tega jika tak menuruti maunya.
*****
“Kau bisa tinggal di kamarku. Ayo aku antar.” Ujar Summer membawa Sara. Dia membawa Sara ke kamarnya yang tak dia tiduri karena sudah pindah ke kamar orang tuanya.
“Ini adalah kamarku sebelum aku pindah kamar. Semoga kamu suka. Karna hanya kamar ini yang didekorasi feminin.” Ujar Summer menunjukkan dalam kamarnya yang cukup luas dan rapi.
“Wahhhhhh… benar bisa tidur di sini?” Ujar Sara senang dan kagum.
“Suka?”
“Suka sekali!”
“Syukurlah.”
Sara langsung melonjat ke kasur dan membenamkan dirinya diantara bantal empuk berwarna merah muda itu.
“Kakak ipar! Eh maksudku Summer, itu fotomu waktu kecil?” Tanya Sara melihat banyak foto anak kecil hingga remaja di atas buffet.
“Iya.”
“Wah kamu lucu sekali. Ini apa?” Tanya Sara menunjuk benda yang dipegang Summer di foto.
“Ah. Itu piala, aku menang lomba kesenian saat aku SMP.”
“SMP?”
“Kau mengerti?”
“Tentu saja! Sekarang saja aku pakai baju SMA.”
“Hahaha! Kamu lucu banget, tingkahnya mirip Mara.”
__ADS_1
“Kami sama sekali tak mirip.”
“Tapi, apa semua mermaid secantik kamu?”
“Tentu saja tidak, semua mermaid juga tau aku yang paling cantik. Kamu sudah lihat ibuku kan?”
“Sudah. Kamu memang mirip Uma. Dengan kecantikan begitu kamu bisa jadi aktris saat ini juga.”
“Artis?”
“Iya. Ngomong-ngomong apa rencanamu setelah sampai di daratan?”
“Aku ingin belanja, perawatan diri dan menggunting rambutku.”
“Kamu bisa lakukan itu semua kok.”
“Ya kan.”
“Ah iya, kamu pasti belum makan. Mau makan apa?”
“Entahlah. Aku belum terbiasa dengan makanan manusia.”
“Tak apa. Aku bisa pesan ikan segar.”
“Wahhh kamu baik sekali dan juga kaya! Kak Mara sangat beruntung mendapatkanmu!”
“Ah biasa saja.”
“Apa kak Mara baik padamu?”
“Tentu. Dia sangat baik.”
“Dia jail kalo sama aku.”
“Hahahaha kalian bener-bener kakak adek kalo begitu.” Ujar Summer merasa iri.
Karena dia hanya anak semata wayang, terkadang merasa sepi bermain sendiri, tak bisa berantem dengan saudara seperti orang lain. Rasa itu dulu diharapkan oleh Summer, namun sepertinya niat Papanya untuk tidak memiliki anak lagi sudah bulat. Sayang sekali, kalau ada saudara pasti hidup Summer lebih seru.
“Apa kamu mau ganti pakaian?” Sambung Summer.
“Aku belum beli.”
“Kau bisa pakai punyaku dulu. Memang kita beda tingginya, tapi sepertinya ada yang muat untukmu, aku akan cari yang rada besar.”
“Terima kasih.”
Kini Mara, Sara dan Tapa akhirnya tinggal bersama dengan Summer. Rumah itu kini menjadi ramai dan hidup.
Pagi Summer dan Mara akan berangkat bekerja sedangkan Tapa dan Sara akan belajar di rumah melalui video yang mereka tonton.
Saat sedang menonton, Sara melihat rekomendasi video beberapa pria di panggung.
“Wah! Apa ini? Siapa ini?” Ujarnya kalut sambil menunjuk-nunjuk layar.
Tapa akhirnya mengklik video tersebut dan terlihat beberapa pria asia dari luar negri sedang bernyanyi dan menari.
“Wah! Manusia-manusia ini sangat tampan!” Ujarnya antusias menonton dengan jarak semakin dekat dengan layar.
Tapa yang mendengar perkataan Sara jadi keki dan cemburu.
“Wah ini siapa? Aku harus tau namanya! Dia sangat tampan!!” Ujarnya makin bersemangat melihat salah satu pria berambut hitam dengan badan indah dan pakaian yang keren.
Bersambung…
__ADS_1