
Hari masih gelap Summer sudah terbangun. Dia membuka jendela kamar dan udara pagi yang masuk sejuk sekali.
“Ahh sudah lama gak lari pagi.” Ujarnya sambil menghirup udara pagi.
Dia kemudian mencuci wajahnya, menggosok gigi lalu mengenakan pakaian olahraga dan sepatu lari.
Saat keluar kamar dia lihat Rio sudah tidak di atas sofa, dia sudah terkapar tidur di lantai. Summer masih kesal padanya karena semalam dia mengajak Mara ke bar.
“Rasain tuh tidur di lantai.” Ujar Summer memakukan muncung.
Diatas meja masih ada gelang yang dia coba kemaren. Summer mengenakan gelang itu, sementara satunya lagi dia biarkan di situ.
Summer kemudian pergi ke luar, namun kembali lagi. Dia ambil gelang satunya lalu pergi ke kamar Mara.
Mara tidur seperti orang mati, sepertinya ini pertama kali dia minum alkohol. Summer mengenakan gelang berwarna hitam itu ke lengan Mara.
“Makanya dengerin aku semalam.” Summer menyubit hidung Mara karna sebal.
Cubitan Summer tak berpengaruh sedikut pun, Mara tetap tidurnya nyenyak tanpa bergerak sedikit pun.
Summer kemudian pergi berlari dari depan rumahnya menuju jalan raya.
Summer berlari dari pukul 5.30 pagi hingga kini sudah pukul 7. Pria-pria di rumahnya pasti masih pada pingsan karna satu pun diantara mereka belum ada yang menghubunginya.
Summer kemudian masuk ke sebuah supermarket untuk mencari pereda pengar sekalian membeli bahan makanan untuk sarapan.
Di sisi lain Mara terbangun dan mengeluhkan kepalanya yang berat. Digencetnya kepalanya dengan kedua tangannya karena terasa sakit dan perutnya tak enak. Badannya juga sama terasa berat. Mara turun dari kasurnya menuju dapur sambil menggaruk badannya dan mata yang belum sepenuhnya terbuka, mulutnya menguap beberapa kali.
Saat dia mengambil minum, dia melihat Damar menuju parkiran. Mara membuka jendela dapur dan memanggil Damar.
“Mau kemana?” Tanya Mara dengan posisi kepalanya muncul di luar jendela.
“Non Summer mau minta dijemput.”
Teng! Mara langsung sadar sepenuhnya.
“Summer pergi?” Mara langsung bertanya.
“Iya. Non minta saya menjemputnya di Supermarket Fresh.”
“Sebentar aku ikut.” Mara minum tergesa-gesa lalu ke kamar mandi membasuh wajahnya.
Tiba-tiba tangannya terhenti, ingatan tentang tingkah mabuknya semalam muncul. Mara membelalak menatap kaca, hingga sabun yang diwajahnya masuk ke mata.
“Ah perih…” Ujarnya kalut menyiram wajahnya dengan air.
Mara akhirnya mengingat semua yang dia lakukan, dari beradu minum sampai meminta maaf pada Summer di kamarnya.
“Mampus aku!” Mara tahu dia sudah buat masalah karena telah mencium Summer semalam tanpa ijin.
“Drama apanya!” Ujarnya menampar pipinya.
Mengingat kata yang dia ucapkan, *“Aku lihat di drama mereka berbaikan seperti itu.”*
“Di drama itu mereka sudah pacaran!” Teriaknya lagi.
Mara sempat ragu ingin ikut, dia tak yakin bisa berhadapan dengan Summer saat ini.
Namun akhirnya keluar kamar dengan pakaian yang sudah di ganti.
“Apa jauh?” Tanya Mara di dalam mobil.
“Deket sini Mas.” Sahut Damar.
Mereka sampai di sebuah supermarket terdekat dari rumah. Mara turun karna Damar akan menunggu di pinggir jalan agar nanti langsung pergi.
__ADS_1
Mara masuk dan mencari Summer dimana, di lantai satu tak ada. Mara naik ke lantai dua, namun sama tak ada, di lantai 3 pun begitu.
Damar yang menunggu di pinggir jalan akhirnya memarkirkan mobil karena Summer dan Mara tak muncul-muncul, rasanya segan lama nengkreng di pinggir jalan.
Mara mulai kalut menelponi Summer, namun sama sekali tak diangkat.
Damar ikut masuk ke dalam setelah memarkirkan mobil, dari ekspresi Mara dia tahu jika Summer tak ada di dalam situ.
“Tak ada?” Tanya Damar.
“Iya. Dia tak mengangkat telponnya.” Ujar Mara panik.
“Toilet?”
Mara baru ingat dia belum cek toilet.
Dia langsung berlari ke arah toilet wanita. Mara sudah tak peduli dan hampir masuk.
Wanita yang di situ langsung marah dan protes, kenapa pria berani nyelonong masuk.
“Aku lagi mencari orang. Bisa tolong bantu jika ada yang bernama Summer di dalam?” Pinta Mara pada seorang wanita yang ada di luar toilet.
Wanita tersebut sempat tertegun karna ketampanan Mara, dia kemudian mengangguk dan masuk ke dalam toilet.
Wanita itu keluar, Mara langsung mendekat.
“Tidak ada.” Ujar wanita itu.
Summer sama sekali tak ada di Supermarket, segala sisi sudah dijajahi Mara.
Mereka kemudian keluar, Mara berlari mencari di sekitar kawasan Supermarket.
“Ayo Mas Mara.” Ujar Damar dengan mobil.
Mara masuk, dia masih mencoba menelpon Summer, namun hanya bunyi tut-tut yang terdengar. Mereka berkeliling dengan jarak dekat sampai jauh namun Summer tak terlihat.
Mara mulai tak tenang, dia tak tahu harus mencari ke mana.
Mara ingin menelpon Rio namun dia tidak tahu nomornya. Telpon Summer pun sama tak diangkat.
*****
Di sisi lain, Summer membuka mata namun wajahnya sudah ditutupi karung kain dan tangannya diikat ke belakang. Dia langsung tau dia sedang diculik dan saat ini sedang di mobil, dengan diapit dua pria di sisi kiri dan kanannya.
Setelah lumayan lama di mobil, mereka menurunkan Summer menuju sebuah gudang kosong tak terurus. Summer didudukkan di lantai lalu membuka karung yang ada di kepala Summer.
Mata Summer sempat kaget karna silau.
Di depannya ada tiga pria besar yang tidak dia kenal.
“Siapa yang nyuruh kalian?” Tanya Summer.
Mereka hanya menoleh dan tak menyahut.
Summer menghela nafas, dan melihat sekelilingnya.
Summer bersikap santai meskipun dia saat ini sedang di culik. Hanya saja tangannya yang diikat terasa kebas.
Kakinya pun tak bebas bergerak krna diikat juga, duduknya jadi terbatas harus menyamping. Dia jadi teringat mamanya yang duduk menyamping saat mereka bertemu kemarin.
“Meskipun begitu Mama masih tetap terlihat anggun.” Pikirnya.
“Hei! Kalian menunggu siapa?” Tanya Summer lagi.
“Tutup saja mulutmu.” Sahut mereka.
__ADS_1
Sia-sia saja bertanya. Summer menunduk dan iseng menggesek-gesekkan sepatunya, lalu dia teringat dia memakai gelang alarm.
Jari Summer langsung berusaha meraba gelangnya mencari tombol alarm. “Dapet.” Gumamnya.
*****
Suara alarm tiba-tiba terdengar di dalam mobil. Damar dan Mara bertatapan dan mengecek handphone mereka namun tak ada panggilan.
Mara bergerak mengecek suara itu dari mana, hingga sadar kalau alarm itu ada di tangannya. Dia baru sadar memakai gelang.
“Summer bilang ini berbunyi saat dia dalam bahanya.”
Damar menoleh melotot.
“Lalu gimana? Ada GPS-nya?” Tanya Damar menghentikan mobil.
“Ji Pi Es?”
*****
“Ah baru inget! Aku belum mengajari Mara cara pakainya.” Gumam Summer merasa bodoh.
Percuma jika gelang itu tak dihubungkan ke ponsel Mara, dia tidak akan pernah tau Summer berada di mana.
*****
“Iya itu agar kita tau posisi Non Summer.” Ujar Damar.
Mereka lalu bertatapan dan membuka ponsel. Mereka mencari tahu cara menghubungkan gelang itu ke ponsel.
Setelah mencoba-coba meniru video yang mereka tonton, mereka menunggu loading dengan tak sabar.
“Ting! Safety Bracelet kini terhubung di perangkat anda.”
Setelah notif itu muncul, aplikasi tersebut kemudian memunculkan posisi gelang yang satunya berada.
Damar memperhatikan dengan seksama, diambilnya ponsel itu, untuk melihat jelas dia memperbesar peta-nya.
“Waduh! Jauh banget.” Ujar Damar menatap Damar.
“Ayo.” Mara ketakutan bercampur marah.
Dia menggumam sepanjang jalan berharap Summer baik-baik saja.
“Telpon Pak Bagas.” Ujar Damar.
Mara langsung melakukan panggilan.
“Pak Bagas! Summer di culik. Kami akan mengirimkan posisi Summer sekarang.” Ujar Mara sambil mengirim lokasi Summer.
“Kami sedang menuju ke sana.”
“Pagi ini. Dia hilang pagi ini.”
“Baik.” Lalu Mara menutup telponnya.
“Masih sangat jauh?”
“Aku ngebut sebisa mungkin ya.” Sahut Damar mempercepat mobil.
*****
“Hahahahah!” Tawa Summer meledak melihat Richard kini berdiri di hadapannya.
Bersambung
__ADS_1