Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Relationship


__ADS_3

Jika Mara bersikap seperti itu, Summer jadi merasa sangat bersalah.


“Memangnya kenapa jika kamu suka tubuhku? Kau bisa memilikinya.” Ujar Mara menggesek wajahnya ke baru Summer.


Summer langsung berbalik badan dan menutup mulut Mara agar tak membahas tentang badan lagi. Dia sudah cukup malu.


Dengan tangan Summer yang masih di mulutnya, Mara memajukan wajahnya lalu menempelkannya ke wajah Summer, diciumnya telapak tangan itu bermaksud mencium apa yang dibaliknya, yaitu bibirnya.


Summer langsung menelan liurnya, dia tertegun dan tangannya masih menutup mulut Mara.


Mara menurunkan tangan itu perlahan. Namun Summer langsung menyelonong menarik wajah Mara lalu mengecup bibirnya. Setelah itu Summer langsung berlari secepat kilat ke kamarnya.


Mara tersenyum, makin hari sikap Summer semakin imut.


Di kamar Summer tersenyum tak dapat menutupi kebahagiannya. Di berguling-guling sambil sumringah. “Tidur ahhh!” Ujarnya memakai selimut lalu menendang-nendang di dalam selimut.


*****


Di suatu tempat di dasar laut.


“Tapa memangnya Kak Mara akan menikah?”tanya Sara pada Tapa.


“Hahahhaha!” Tawa Tapa meledak.


“Kenapa tertawa?”


“Karna menurutku lucu sekali.”


Muka Sara bingung tak mengerti maksud Tapa.


“Bisa iya bisa tidak.” Sahut Tapa akhirnya dengan serius


“Memangnya wanitanya tidak suka Kak Mara?”


“Kalau itu, aku yakin dia suka sekali pada Mara.” Mengingat Summer lah yah menyosor Mara dari yang mereka saksikan.


“Ya sudah. Mereka pasti akan menikah.” Sahut Sara.


Karna jika wanita suka dengan merman yang menyukainya, hubungan itu pasti akan berhasil.


”Iya ya. Kamu menyukaiku gak?” Ujar Tapa menatap wajah Sara dengan matanya yang tajam.


Sara sendiri termasuk menduduki jajaran mermaid tercantik di Kulum. Fisiknya mengikuti Uma. Rambut panjang lurus berwarna hitam. Tubuh ramping, sisik ekor putih dan sirip yang indah. Bentuk wajah yang mirip dengan Uma.


Sara sendiri mengerti perasaan Tapa padanya. Tanpa diberi tahu pun dia bisa mendengar isi pikiran Tapa. Semua mermaid keturunan kerajaan punya kemampuan bisa membaca isi pikiran. Namun terbatas sesama mermaid. Mereka bisa memblok agar sekawanannya tak bisa membaca pikirannya.


Karna itu Uma sendiri tak bisa membaca pikiran Sara meskipun mereka sama-sama punya kemampuan. Sara memblok orang lain agar tak bisa membaca pikirannya.


Tapi untuk semua merman yang ada di lautan, Sara bisa mendengarnya dengan bebas. Bahkan dia bisa mendengar isi pikiran ayahnya sendiri.


“Entahlah.” Sahut Sara menjawab pertanyaan Tapa akan perasaanya.


“Artinya hubungan ini belum tentu berhasil.” Ujar Tapa tersenyum kuat.


“Tapi apa wanita itu cantik?” Tanya Sara masih penasaran.


“Hmmm. Entahlah. Bagiku yang cantik itu kamu.” Sahut Tapa tersenyum menatap mata Sara terus.


Tapa tak berbohong. Bagi seorang merman yang hanya bisa jatuh cinta dengan satu wanita saja, membuat mereka tak terlalu mempedulikan wanita lain.


“Baiklah. Baiklah. Kalau baik? Apa dia baik?”

__ADS_1


“Kalau itu dia cukup baik dan sopan. Kau tahu kan Uma itu orangnya pemilih. Dan sepertinya dia tak masalah dengan pasangan Mara.”


“Betul. Betul.”


“Tapa. Kau tidak ada rencana untuk melakukan upacara pendewasaan? Kau tidak penasaran dengan daratan?” Tanya Sara.


“Aku hanya ingin tinggal dimana kau tinggal. Jika kau ke daratan maka aku akan ikut.” Ujar Tapa.


Sara tersenyum, Tapa menurutnya lumayan keren. Karena dia juga Bima. Semua Bima di suku Kulum terkenal sangat kuat dan bisa diandalkan. Dia juga bisa melihat, Uma dan Appa sering mengandalkan Tapa untuk melakukan beberapa hal. Dia jujur dan tangguh. Sara belum yakin dia menyukai Tapa atau belum. Karna Sara merasa dia belum menyukai siapa pun saat ini.


“Baiklah. Tahun baru aku akan mengadakan upacara pendewasaan. Kita bisa bersama ke daratan.” Ujar Sara tersenyum.


“Apa yang akan kau lakukan di daratan?”


“Banyak hal. Yang pertama aku akan mencoba semua pakaian yang bagus-bagus. Sepatu yang bagus. Dan aku akan memotong rambutku agar modelnya menjadi bagus. Aku dengar di daratan banyak tempat merawat diri.” Wajah Sara sangat antusias saat menceritakannya.


“Kemana pun itu aku akan menemanimu.” Sahut Tapa.


“Kalau kamu? Apa yang akan kamu lakukan di daratan?”


“Menemanimu.” Sahut Tapa singkat.


Sara tersenyum. Tapa selalu begitu saat berbicara dengannya. Seperti dunia Tapa terasa ada di sekeliling Sara. Semua tentang Sara dan Sara. Jika begini terus bisa dijamin wanita mana pun akan luluh.


*****


Ternyata salah satu penyebab Nindi tak muncul bukan karena kesibukan kampus semata. Ada Rio yang selalu mendatanginya dan mengajaknya pergi kemana-mana.


Seperti sikap Rio yang biasanya, dia selalu duduk nyaman di rumah orang. Saat ini Rio sedang tiduran di lantai hanya dengan satu bantal selonjoran sambil menonton TV tabung kecil yang ada di kosan Nindi.


“Lu beneran kayak di rumah nenek ya.” Sindir Nindi berhadapan dengan buku-buku di meja belajarnya.


“Lu gak punya kerjaan apa tiap hari gangguin gue mulu?” Tanya Nindi.


“Ini gue lagi kerja. Haha haha.” Sahut Rio sambil mengingat PS5 yang dijanjikan Mara padanya.


“Kerja apaan? Kayak ada orang yang gaji lu aja buat gangguin gue.”


Rio hampir tersedak, kok bisa Nindi menebak begitu. Semua orang harusnya tidak bisa berpikiran begitu, tapi Nindi bisa punya intuisi yang sangat tajam.


“Apa sih.” Sahut Rio agar tak ketahuan.


“Yaudah diem nonton.” Ujar Nindi.


“Yee. Lo yang gangguin gue nonton. Diem sana belajar.” Ujar Rio sambil tersenyum menonton.


“Lu nyaman apa nongkrong di sini? Di rumah Summer kan lebih enak. TV nya besar dan sofanya empuk.” Ujar Nindi akhirnya tetap mengajak bicara.


“Iya sih.” Sahut Rio sambil membayangkan rumah Summer.


“Terus?”


“Ya seru aja di sini. Lu baik mau masakin mie buat gue. Kayak sekarang gue laper, masakin mie dong!” Ujar Rio menatap Nindi penuh harapan.


“Lu gak liat gue sibuk?”


“Tapi lu gimana?” Tanya Rio penasaran


“Apanya?”


“Hidup sendiri begini dengan kamar seadanya.”

__ADS_1


“Aku belum pernah setenang ini dalam hidupku. Kadang memang sunyi tapi lebih baik dari pada di rumah orang tuaku.” Sahut Nindi.


Rio tetap menonton sambil mengunyah chikinya. Beberapa detik kemudian dia berdiri dan menuju dapur.


“Laper banget! Gue deh yang masak.” Ujarnya merasa simpati pada Nindi.


*****


Rio kembali ke rumahnya. Pak Bagas dan Bu Ayu sudah sangat mengenal anaknya yang tidak akan bisa betah di rumah. Namun jika ingin menginap pun mereka sudah kenal semua teman Rio. Atau paling-paling Rio akan menginap di rumah Summer untuk menemaninya agar tak sendiri di rumah besar itu.


“Maaaaaa aku lapar.” Ujar Rio berteriak begitu masuk ke rumah.


“Aku gak ngerti Nindi bisa kenyang hanya makan mie instan.” Gumamnya.


“Ya makan sana.” Sahut Bu Ayu dari kamar.


Rio langsung meluncur ke dapur, menilik di bawah tudung saji dan selalu terpukau melihat masakan ibunya.


Saat Rio makan dia teringat Nindi yang hanya makan mie instan. Dia kemudian berjalan ke kamar mamanya dengan piring di tangannya.


“Ma.” Panggilnya dari depan kamar.


“Rio makan jangan jalan jalan!” Ujar Bu Ayu.


Terlihat di kamar ada Pak Bagas juga sedang bermain handphone dan Bu Ayu sedang menonton sinetron di TV.


“Ma besok kalo masak banyakin dong. Aku pengen kasih temenku.” Ujar Rio tetap berdiri sambil makan.


“Siapa temenmu?” Tanya Bu Ayu karena kenal semua temennya.


“Ada deh temenku. Makan mie instan mulu, sebel liatnya.” Ujar Rio.


“Iya iya.” Sahut Bu Ayu.


“Pa!” Panggil Rio


“Ya?” Sahut Pak Bagas masih fokus pada ponselnya.


“Nanti kalo aku punya PS5 kita main ya.” Ujar Rio sambil mengunyah nasinya.


“Rio makan jangan berdiri!” Bentak Bu Ayu pada anaknya yang sudah berumur 20 tahun itu.


Rio akhirnya masuk dan duduk di pinggir kasur sambil makan.


“Punya uang beli PS5?” Tanya pak Bagas. Karena dia merasa tak memberi Rio jajan sebanyak itu untuk bisa membeli PS5.


“Gak beli. Hehehehhe.” Sahut Rio terkekeh dengan nasi masih di mulutnya.


Bu Ayu langsung memukul punggung anaknya dengan kencang. “Telen dulu baru ngomong!”


“Ahh Ma! Sakit.”


“Makan yang bener makanya.”


“Kalo gak beli terus dapet dari mana?” Pak Bagas kembali bertanya.


“Door prize.” Sahut Rio sambil senyum.


Bu Ayu menatap kembali Rio yang susah diomongin. Rio tersenyum canggung lalu langsung lari ke dapur sebelum Mamanya mengamuk.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2