Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Nindi Perebut Summer


__ADS_3

“Aku ingin mengajakmu menginap di sini, tapi kau pasti akan dicari.” Ujar Summer rindu masa-masa mereka akrab dulu.


“Aku sudah tidak tinggal di rumah.”


“Hah?”


“Aku minggat.” Ujar Nindi tersenyum masam.


“Lalu tinggal dimana?”


“Ngekos di deket kampus.”


“Really??” Summer tak percaya.


“Beneran. Aku udah siap memutus hubungan sama orang tuaku


“Pasti berat banget rasanya.” Ujar Summer prihatin.


“Gak seberat yang mereka lakuin ke kamu.”


“Aku tau kamu juga terluka. Sini peluk dulu.” Ujar Summer ingin berbagi energi positif.


“Berarti kamu bebas menginap ya!” Ujar Summer ceria.


“Kamu banyak berubah.” Ujar Nindi.


“Berubah apa?”


“Kau terlihat hidup dan ceria. Mungkin aku gak pantes bilang ini, tapi aku senang lihat kamu begini.” Ujar Nindi dengan tulus.


Dari situ mereka jadi sering bersama. Tidur bersama, kemana-mana bersama. Sabtu minggu saat Summer libur, dia akan pergi dengan Nindi seharian penuh, saat pulang mereka akan masuk ke kamar dan tak keluar lagi.


Mara merasa posisinya terancam, dia sudah tak diperhatikan lagi karena Summer sibuk bersama temannya. Di kantor pun Summer begitu, dia akan telponan lama dengan Nindi haha hihi. Mara heran mereka selalu punya bahan cerita dan candaan.


Mara tak punya ruang untuk bisa merebut Summer. Dia bingung bagaimana membalikkan keadaan seperti dulu saat dia dan Summer selalu bersama.


Malam ini saja Summer tak ada di rumah, hanya ada Rio yang selonjoran di sofa menonton TV. Rio jadi sering menemui Mara dan mengajaknya bermain. Namun kadang karena Mara menolak, mereka akan diam di rumah menonton TV.


“Rio. Kenapa kamu gak ajak Nindi aja pergi nongkrong.” Ujar Mara tiba-tiba punya ide.


“Nindi? Kenapa?”


“Summer gak punya waktu buat aku. Selalu sama Nindi.” Ujar Mara mendumel.


Rio tersenyum licik, dia suka hal-hal yang berbau mengatur strategi.


“Nindi ya. Entahlah. Umurnya di atas gue.” Ujar Rio seperti tak acuh.


“Kamu sukanya apa?” Akhirnya Mara bernegosiasi.


Rio langsung tersenyum ceria dan antusias mendekat pada Mara.


“Gue pengen… ummm PS5!” Ujar Rio.


Mara terbiasa dengan sikap ini, sikap yang mirip seperti adik perempuannya, Sara. Dia akan membantu jika dia punya keuntungan.


“Asik! Baiklah!” Ujar Rio berjoget.


“Sikapmu berbeda sekali dengan Pak Bagas.” Ujar Mara.


“Yeh belum tau aja.” Ujar Rio terkekeh.


Di luar memang Pak Bagas terlihat dingin dan kaku, namun jika di rumahnya… Pak Bagas aktif sekali seperti orang yang punya ADHD.


Dia akan mengajak istrinya menari tidak jelas, lalu mengerjai istrinya dan tertawa bebas. Dia hanya berusaha profesional jika di kantor.


*****


Sudah pukul 11 malam namun Summer dan Nindi tidak pulang juga. Mara menelpon Damar, saat diangkat Damar mengatakan dia sedang di jalan menjemput Summer.


Mara tidak akan tenang jika mereka belum sampai di rumah. Mara menunggu di depan rumah sambil celingak celinguk.


Saat Damar sampai, dia membukakan pintu dan turunlah Summer dan Nindi. Saat ingin turun dari mobil, Nindi terjatuh karna tak bisa berdiri tegak. Mereka berdua dalam keadaan mabuk parah.


Summer masuk ke rumah sambih terkekeh-kekeh melihat Nindi jatuh.


“Bahahahah. Bego banget jatoh!” Ujar Summer dengan nada suara seperti kaset rusak.


“Huaaaaa… aku jatoh!” Ujar Nindi menangis namun tiba-tiba tertawa.


Keadaannya gawat sekali.


Summer berjalan masuk ke dalam rumah dengan mengulurkan tangannya agar bisa berjalan lurus. Jalannya menggontai, matanya sayu bibirnya terus manyun. Mara datang membantu Summer berjalan. Namun tangan Mara dipukul.


“Jangan pegang aku!” Teriak Summer menepis tangan Mara.

__ADS_1


Sedangkan Nindi di belakang masih terduduk di lantai dan dibantu berdiri oleh Damar.


“Pak Damar boleh markirin mobil dulu. Nanti saya aja yang bantu mereka masuk.” Ujar Mara.


Akhirnya dia membantu Nindi berdiri karena dia lebih parah keadaannya.


“Huh? Cowok tampan? Kau bukannya bodyguard Summer?” Ujar Nindi seperti orang melindur sambil menunjuk-nunjuk Mara.


“Hei! Aku tak mau sama kamu meskipun kamu tampan!” Teriak Nindi.


Butuh usaha keras membawa Nindi ke kamar Summer, karna badannya yang tak bisa diam dan berat.


Setelah ditaruh di kasur, Mara kemudian keluar untuk membawa Summer masuk juga.


Namun tidak ada Summer di ruang tamu. Mara mencari ke belakang.


“Aw!” Terdengar suara teriakan Summer.


Ternyata kepala Summer kejedut ke pintu saat ingin masuk. Dan itu di depan pintu Mara.


Summer kemudian mengetuk pintu itu.


“Mara!!! Mara!!” Ujarnya berteriak.


Summer mengigit bibirnya karna kesal, dia berdiri dengan posisi gontai.


“Mara! Kalau gak nyahut aku masuk!” Teriaknya.


Mara yang ada di belakang memperhatikan, tertawa kecil melihat sikap lucu Summer.


“Satu. Dua. Tiga!” Ujar Summer sambil menghitung dengan jarinya. Di hitungan ketiga, dibukanya pintu kamar itu.


“Huh? Gak ada!” Ujarnya tetap masuk.


Summer menjatuhkan badannya ke kasur Mara. Dihirupnya bantal tersebut, “Hihi bau Mara.” Ujarnya senyum sambil terus mengendus.


Mara akhirnya mendekat.


“Huh!!! Itu Mara!!!” Ujarnya ceria langsung duduk.


“Maraaaaa!!!” Teriaknya memeluk perut Mara yang berdiri di depannya.


“Kamu habis dari mana??” Ujar Summer cemberut.


“Kamu yang habis dari mana? Pulang mabuk begini.” Ujar Mara.


“Liat! Liat baik-baik! Aku gak mabuk!” Ujarnya berdiri dengan tangan dipinggang namun badannya terus bergerak mengayun.


“Kamu kemaren marahin aku karna mabuk. Sekarang apa ini? Kamu pulang mabuk.”


“Sssttttt!” Mara menutup mulut Mara dengan jari telunjuknya.


“Sini sini.” Ujarnya ingin berbisik. Mara membungkukkan badannya dan memberi telinganya pada Summer.


“Tadi Nindi jatoh dari mobil! Hihihi!” Ujarnya berbisik dan tawanya pun berbisik.


“Iya tahu. Liat.” Sahut Mara.


“Sini sini.” Ujar Summer lagi ingin berbisik.


“Apa aku boleh lihat badanmu lagi? Waktu itu belum puas.” Ujarnya terkekeh.


Summer langsung menarik kaos Mara tanpa menunggu persetujuan. Mara akhirnya menuruti dan mangangkat tangannya dengan sedikit menunduk agar Summer bisa menarik kaosnya.


“Shit!” Ujar Summer terpukau.


Disentuhnya satu-satu otot Mara.


“Keras bangetttt!!!” Ujarnya sambil meloncat.


“Ah cape. Mau tidur saja.” Ujar Summer kemudian.


Mara tertawa melihat sikap lucu Summer saat mabuk.


“Hei pria berbadan bagus! Sini tidur denganku!” Ujar Summer menepuk nepuk kasur.


Mara menuruti perintah Summer, dia berbaring di sebelah Summer berhadapan.


“Kasurnya sempit, kita harus berdekatan.” Bisik Summer sambil tertawa.


“Kamu banyak tertawa ya.” Ujar Mara.


Summer tetap menjawab dengan tawa. Dia menatap mata Mara dan menyentuh mata itu.


“Coba jadi kuning.” Ujarnya.

__ADS_1


Mara mengubah warna matanya.


“Keren.” Ujar Summer terpukau.


Summer mengecup ke dua mata Mara.


“Aku suka hal-hal indah.” Ujar Summer tersenyum.


Summer kemudian mendekat seperti hendak mencium Mara, namun dia jatuh tertidur tiba-tiba.


“Wah hahahha haha!” Tawa Mara meledak seperti jantungnya.


Hawanya terasa sangat panas padahal dia tidak memakai baju. Baju Summer yang sedikit tersingkap membuat perutnya dan kulit Mara bersentuhan.


Rasanya Mara akan meledak, namun dia tak bisa meloloskan diri karena Summer memeluknya seperti memeluk bantal guling.


Mara mencoba memejamkan matanya sambil berhitung agar bisa menenangkan pikirannya. Dibayangkannya ada anak bebek 100 hilang satu tinggal 99. Hilang 1 tinggal 98 begitu seterusnya.


“Argh!” Erang Summer karena kepalanya berat sekali. Summer membuka matanya dan perlahan melihat tangannya berada dimana.


Summer langsung kaget melihat Mara topless.


Dan dia tidur di kamar Mara.


“Apa yang terjadi??” Ujarnya menjambak rambut. Summer kemudian buru-buru ingin keluar dari kamar Mara, namun terjatuh saat akan turun kasur.


Mara terbangun mendengar suara gedebuk dan melihat Summer sudah tersungkur di lantai. Dia segera bergerak turun dari kasur untuk membantu Summer bangun.


Lengkap sudah rasa malu yang Summer rasakan. “Gak! Jangan bergerak!” Ujar Summer mencegat Mara untuk mendekatinya.


“Diam, diam di situ.” Ujar Summer kemudian berdiri dan berjalan dengan tenang keluar kamar, lalu langsung berlari ke kamarnya.


Sesampainya di kamarnya, Summer mengingat semua tingkahnya semalam pada Mara.


Saat dja malu setengah mati, dia melihat Nindi masih tertidur pulas mengorok tanpa beban.


“Aarghhh! Malu-maluin aja.” Teriak Summer histeris.


Sejak saat itu Summer berjanji tidak akan pernah lagi minum alkohol.


*****


“Pernikahan akan dilakukan di daratan pasti.” Ujar Rita.


”Buni tak bisa bikin ramuan agar Summer bisa jadi mermaid sehari? Aku berharap pernikahan di lakukan di sini.” Ujar Uma kesal.


Ibu-ibu dua ini sudah sibuk bahas pernikahan sementara anaknya saja masih belum pacaran.


Appa yang bingung harus mendukung siapa akhirnya jadi diam. Dia sebenarnya senang jika dilakukan di daratan, karna dia jadi bisa makan berbagai macam daging.


“Memangnya kakak sudah mau menikah?” Tanya Sara.


Rita dan Uma melarikan pembicaraan dengan menoleh hal lain. Namun nantinya akan kembali lagi ke pembahasan pesta pernikahan. Setelah itu mereka akan saling melengos karna pendapat mereka tetap berbeda.


Kabar tersebut akhirnya tersebar ke semua bangsa Kulum. Sehingga semua rakyat bersuka cita mendengar kabar baik itu.


Karena yang akan menikah adalah anak Appa, tentu seluruh bangsa Kulum akan merayakannya.


Padahal dua sejoli itu di daratan masih saling malu-malu dan canggung gak jelas. Pernikahan masih belum terbayangkan.


*****


Summer berusaha menghindari Mara sejak saat itu. Kini pun Nindi sudah kembali ke kosannya karna sibuk di kampus, membuat Summer jadi sulit menghindar. Mara punya sifat yang terus menempel kemana pun Summer pergi.


Summer pun terus menolak makan siang bersama dengan alibi pekerjaannya sangat banyak. Semua cara dilakukan Summer karena rasa malunya menghadapi Mara.


“Kenapa kau terus menghindariku?” Ujar Mara tiba-tiba muncul di dapur saat Summer menilik makanan di kulkas pelan-pelan.


“Hhhhhah!” Summer kaget sampai jantungnya ingin melompat. Padahal Summer sengaja keluar tengah malam agar tak berpapasan dengan Mara.


“Aku tidak menghindarimu.” Bantah Summer.


“Kamu menghindariku karna malu?” Tanya Mara langsung to-the-point.


“Aku malu kenapa?” Tanya Summer tetap membantah.


“Karna membuka bajuku?”


Summer sontak menutup mulut Mara. Wajahnya kalut dan malu jika mengingat lagi.


Mara akhirnya tutup mulut agar Summer melepas tangannya.


Summer akhirnya tak jadi makan, dia langsung pergi ingin kembali ke kamarnya.


Tangan Mara tiba-tiba di perut Summer lalu memeluknya dari belakang.

__ADS_1


“Jangan begitu. Jangan menghindar. Kamu bikin aku sedih.” Ujar Mara menaruh kepalanya di bahu Summer.


Bersambung…


__ADS_2