
Saat Nindi terbangun, dia sudah ada di kasur dan Richard sudah tak ada di ruangan itu. Nindi melihat sebuah note yang sepertinya ditinggalkan abangnya.
“Kau sudah janji akan menjengukku sering-sering.” Begitu tulisannya.
Nindi akhirnya menangis dengan selimut masih menutupi kakinya. Dia menangis karena abangnya menunjukkan perhatiannya dengan mengangkatnya ke kasur dan menyelimutinya.
“Dia pasti belum sarapan.” Gumam Nindi.
*****
Praman pergi ke kantor dengan mengenakan muka tebalnya. Pengikut-pengikut setianya masih seperti biasa, berjalan di belakangnya.
Summer sudah tau di balik topeng itu siapa. Sudah tak perlu bersikap sopan padanya meski pun dia orang tua. Summer berjalan tanpa menyapa saat mereka berpapasan.
Karyawan yang melihat ketegangan antara keduanya, menebak Praman ada peran di balik kejadian Richard dan Summer.
Dibalik para pengikutnya yang tunduk pada Praman, sebagian dari mereka goyah melihat Summer yang ternyata kuat. Mereka jadi bimbang dan ragu memilih pihak siapa.
Saat itulah yang dinanti oleh Summer. Perlahan-lahan Summer akan menunjukkan kekuatannya dan mengambil satu persatu pengikut Praman.
“Aku akan pulang lebih awal hari ini.” Ujar Summer pada Pak Bagas.
“Apa Ketua punya janji?”
“Iya.”
“Baiklah. Saya akan sortir pekerjaan yang urgent dan yang bisa menunggu.”
“Terima kasih.”
Setelah seminggu berlalu sejak penculikan, bekas lebam di wajah Summer kini sudah menghilang. Dia sudah bisa menunjukkan wajahnya pada ibunya tanpa khawatir.
Mara juga senang mengantarkan Summer bertemu ibunya. Karena mereka akan berduaan pulang pergi, rasanya seperti kencan.
Kehidupan Summer, Pak Bagas dan Mara telah kembali. Mereka seperti biasa makan siang bersama dan tertawa bersama. Bekerja seperti biasanya.
Sementara ini begitu dulu, menunggu mengisi bensin untuk kembali berperang.
*****
Malam itu Mara dan Summer diantarkan ke pelabuhan oleh Damar. Dari situ mereka akan berlayar di kapal berdua. Bulan hanya nampak sedikit, berkali-kali bersembunyi di balik awan.
Mara dan Summer berdiri berdampingan di kokpit.
“Ummm… Summer.” Ujar Mara.
“Hmm?”
“Itu. Aku belum sempat minta maaf.” Ujar Mara canggung.
“Minta maaf kenapa?”
“Waktu itu, waktu aku habis minum. Aku bersikap kurang baik.”
“Kurang baik?”
“Kamu tau lah, aku ummm…menciummu.”
Mendengar itu Summer jadi ikutan canggung.
“Aku minta maaf.” Ujar Mara menyesal.
“Kamu nyesel?”
“Iya. Maksudnya bukan. Maksudnya iya.” Mara bingung mau jawab apa.
“Menyesalnya karena mabuk aja. Selain itu tak perlu minta maaf.” Ujar Summer melemparkan pandangan ke laut lepas.
Mara merasa Summer sedang memprovokasi jantungnya saat ini. Apa maksudnya tak perlu minta maaf.
“Kau tidak marah aku umm cium?” Tanya Mara masih malu mengucapkan kata cium.
Summer menatap mata Mara yang tak tenang. Semakin ditatap semakin Mara tak karuan.
“Jangan mengujiku.” Ujar Mara.
“Menguji?” Summer tak paham.
Tiba-tiba ombak besar datang menggoyang kapal sehingga Mara Dan Summer tak bisa mempertahankan posisi berdirinya.
__ADS_1
Mara dengan sigap memeluk Summer agar tak terjatuh, namun Mara sendiri tak bisa bertahan berdiri akhirnya mereka pun jatuh. Mara terlentang di lantai kapal sedang Summer duduk di perut Mara.
Kapal masih terus berguncang, Summer memegang erat kedua tangan Mara.
Angin sepertinya sedang kencang, namun langit cerah banyak bintang. Seharusnya hujan tidak turun menurut lamaran cuaca.
Summer tidak melepas tangan Mara selama guncangan itu terjadi. Sedangkan Mara menatap terus wajah Summer yang berekspresi sedikit kesal dan takut.
Perlahan-lahan kapal mulai stabil, Summer menatap ke luar jendela, angin sudah berkurang. Saatnya melepas tangan Mara.
Summer melihat wajah Mara yang sedari tadi memandanginya yang duduk di atas badannya.
“A…apa?” Summer jadi grogi.
Mara tersenyum lalu duduk dengan Summer yang masih di perutnya, sehingga saat dia duduk Summer jadi turun duduk di pahanya. Kini wajah mereka jadi berhadapan sangat dekat.
Mata Mara tak lekang dari wajah Summer. Kini Summer yang malah jadi grogi dan salah tingkah. Summer menoleh ke samping agar wajahnya tak berhadapan dengan Mara.
Ketegangan menari bebas diantara mereka berdua.
“Katamu aku tak perlu meminta maaf.” Mara memulai bicara.
“Hmm?” Summer menjawab tanpa melihat Mara.
“Aku boleh melakukannya lagi?” Tanya Mara.
Summer mengigit bibirnya karna merasa sangat tegang. Mara menarik dagunya agar Summer berhenti menggigit bibirnya.
Summer tak menjawab membuat Mara merasa tak diijinkan. Mara kemudian mengangkat Summer dari pangkuannya agar dia bisa berdiri.
“Sepertinya kita mau sam-“ belum selesai Mara bicara, Summer menarik wajah Mara lalu mengecup bibirnya dengan matanya yang tertutup karena berusaha memberanikan diri.
Mara terbelalak, bukan cuma karna Summer menciumnya namun ada Tapa dan Bu Rita di depan kapal. Untuk kaum merman dan mermaid, jarak segitu pasti mereka bisa melihat ke dalam kapal dengan sangat jelas.
Mara segera melepas tangan Summer dari wajahnya, Summer kaget dan ingin menangis karena merasa ditolak. Namun dia lihat Mara terus melihat ke depan.
Ada ibunya yang sedang sudah melotot.
“Aaarrrgggghhhh!!!” Teriak Summer kaget.
Ternyata tak cuma ibunya dan Tapa, saat melihat ke samping ada Uma bersama Appa yang hampir menjatuhkan tombaknya saat ikut menyaksikan dari luar.
Kecanggungan besar pun terjadi.
Summer dan Mara ikut duduk dengan sopan menjaga sikap.
“Kapan kalian akan menikah.” Ujar Uma dan Bu Rita secara bersamaan namun dengan bahasa yang berbeda.
Tapa tertawa terkekeh melihat temannya sedang diadili.
“Menikah?” Ujar Summer dan Mara bersamaan namun dengan ekspresi berbeda. Ekspresi Summer menunjukkan kalau dia kaget, ekspresi Mara menunjukkan dia senang.
“Ah iya ma. Aku bawa burger…”
“Duduk.” Ujar Bu Rita.
Summer yang tadinya ingin bangkit berdiri jadi kembali duduk dengan cepat.
Susana hening pun terjadi, semuanya merasa canggung ingin berkata apa.
“Ya sudah ambil burgernya.” Ujar Bu Rita memecah keheningan.
Summer kemudian berdiri mengambil Burger.
Tinggallah Mara yang harus menghadapi tatapan orang tuanya dan Bu Rita sendiri.
Suasana jadi hening kembali.
Summer datang membawa beberapa burger untuk mereka makan bersama.
Setidaknya mereka bisa menyibukkan diri dengan makan.
“Daging apa ini?” Ujar Appa.
“Sapi.” Sahut Mara.
“Sapi??” Mereka terbelalak karna sedang memakan sapi.
Akhirnya mereka sibuk menikmati daging sapi untuk pertama kalinya.
__ADS_1
“Aku suka sapi.” Ujar Appa.
Uma juga sepertinya menikmati, dia makan dengan anggun dan cantik.
“Maafkan aku telah mencium putra kalian!” Ujar Summer menunduk dengan suara lantang memberanikan diri.
Appa berdehem, Uma terdiam dan Bu Rita menganga. Entah jawaban apa yang harus merepa ucapkan.
Tapa sontak tertawa terbahak bahak sampai air matanya jatuh. Dia memukul-mukul lantai kapal sambil terus tertawa terjungkal-jungkal.
Mara pun tak kuat menahan senyumnya. Uma dan Appa pun jadi ikutan tertawa, dan akhirnya mereka semua tertawa. Summer tertawa canggung karena heran bercampur bingung.
“Boleh aku minta kamu bawa ini lagi saat kau datang berkunjung?” Ujar Uma pada Summer dan diterjemahkan Mara.
Summer langsung ceria, dia jadi lega mereka tidak marah dan kesal padanya.
”Apa saja pasti akan aku bawakan buat Uma.” Ujar Summer semangat.
Malam itu mereka lolos dari pengadilan para tetua. Summer dan Mara pulang dengan menghela nafas lega. Dia bersyukur Uma dan Appa tidak membencinya. Entah kenapa setiap bertemu mereka Summer jadi canggung dan ingin terlihat baik.
*****
Keesokannya berita tentang Richard terbukti bersalah tersebar di segala berita di smeua stasiun TV. Kecelakaan Summer di tahun lalu pun ikut terbongkar bahwa Richard lah pelakunya. Semua pertanyaan yang dilontarkan ke Richard, dijawabnya tanpa melawan sedikit pun. Richard mengakui semua kesalahannya sehingga proses pidana cepat tuntas.
Summer sendiri tak menyangka Richard akan bersikap seperti itu di kantor polisi. Dia bahkan tak perlu membawanya ke pengadilan.
Richard dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena percobaan pembunuhan berencana.
Namun jatuhnya Richard sama sekali tak berpengaruh pada reputasi Praman. Pria paruh baya itu tetap berdiri tegak di posisinya. Seperti pohon besar yang kokoh meskipun tertiup angin.
Tidak ada kesedihan akan kehilangan anaknya.
Summer tau malangnya Richard memiliki ayah seperti itu. Karena didikan yang mengandalkan kekerasan, Richard bertumbuh menjadi anak yang meniru figur ayahnya. Ayahnya kasar, begitu pun anaknya. Richard tak pernah didengar dan hanya jadi bahan pelampiasan emosi Praman.
Tak ada kata terlambat untuk berubah jika mau. Summer berharap Richard bisa sadar dan memperbaiki dirinya. Karna dia juga adalah korban. Korban didikan orang tua.
Malam itu Nindi memutuskan pergi ke rumah Summer, sebelumnya dia sudah mengirim pesan.
Sudah berbulan-bulan Nindi tidak berkomunikasi dengan Summer. Selain karena Summer sibuk, Nindi juga sama.
Nindi membuka pintu rumah Summer dengan penuh tekad untuk meminta maaf. Dia harus melakukan ini agar bisa tenang.
“Hei. Udah nyampe.” Ujar Summer menghampiri Nindi.
“Bagaimana kabarmu? Maaf aku tidak datang menjenguk.” Ujar Nindi.
“Gue baik kok.” Sahut Summer.
Summer hanya akan memakai kata santai pada teman terdekatnya. Tapi dia langsung mengerti kenapa saat ini Nindi berbahasa sopan padanya.
“Ayo duduk.” Ujarnya.
Nindi melihat Mara ada duduk di situ. Mara memasang wajah waspada karna tau Nindi adalah adek Richard.
“Summer, aku datang untuk meminta maaf.” Ujarnya menunduk.
Summer memegang kedua tangan Nindi.
“Apa yang diperbuat abangku padamu, begitu pun orang tuaku. Aku minta maaf.” Ujarnya menitikkan air mata.
“Nindi. Aku tau kamu gak salah. Aku tau kamu gak ikut mencelakai aku.” Ujar Summer.
Mara bangkit dan pergi ke kamarnya memberi ruang untuk mereka nyaman bicara.
“Aku tetap salah. Aku selama ini berpura-pura tak tahu bahwa keluargaku bersikap begitu. Aku memilih sibuk sendiri dan tak peduli. Abangku juga jadi seperti itu karna aku tak ada membantunya setiap dia menderita kesakitan karna di-abuse Papa.”
Summer diam mendengarkan.
“Maafkan aku Summer. Keluargaku menyakitimu, namun aku datang menenangkanmu. Pasti terlihat sangat munafik. Bukan terlihat tapi memang begitu.” Sambung Nindi.
“Setelah aku dengar dengan telingaku sendiri, bahwa mereka yang mencelakaimu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tau mereka salah namun aku tak berlari memberi tahu padamu. Aku ragu, dan itu kesalahanku.”
“Aku ngerti.” Sahut Summer.
Nindi menatap wajah Summer yang tulus mendengarkannya.
“Summer maafkan aku.”
“Iya iya Nindi. Aku tau kamu sulit memilih. Tak apa, aku pun tak akan memintamu membantuku. Aku akan lakukan sendiri karena ini adalah urusanku. Jangan merasa terbebani.” Ujar Summer karna dia tidak ingin menaruh Nindi di posisi yang berat.
__ADS_1
“Summer!!! Kamu lebih baik marah padaku!” Teriak Nindi sambil menangis
Bersambung…