
Di tempat tidur yang terbuat dari batu itu, seekor mermaid yang sudah terbaring lebih dari setahun mulai menggerakkan jarinya.
Perlahan-lahan matanya terbuka. Matanya masih berkunang-kunang. Ditatapnya langit-langit gua, ada rasa asin di lidahnya.
Pandangannya mulai membaik dan dia mencoba melihat sekitarnya, dan menyadari jika dia berada di dalam air.
Rasa air asin laut yang sudah lama tidak dia rasakan.
Dia menyentuh lehernya dan meraba Insang yang kembang kempis, alat nafas itu sudah lama tidak dia pakai. Mungkin muncul sejak dia berada di dalam air.
Dia masih hapal betul rasanya di dalam air. Kini dia kembali ke tempat kelahirannya setelah berpuluh tahun di daratan.
Tiba-tiba dia panik saat setelah mengingat sesuatu. Dia bergerak cepat dan mencoba duduk lalu berenang, namun “Aargh!” dia terjatuh tersungkur, ekornya serasa tak bergerak.
Dia melihat ke bawah, ekor ikan berwarna abu yang cukup panjang namun mengkerut dibagian bawahnya.
Sangat mengkerut hingga bergerak bebas seperti tali di dalam air, ekor itu sudah cacat.
Dia menjamah rambutnya. Rambut itu sudah sangat panjang dan dikepang.
Kini dia sadar, dia sudah sangat lama tertidur sampai rambutnya kini sepanjang itu.
Mendengar ada suara teriakan, Buni seorang penyihir yang selama ini mengobatinya langsung berenang cepat menghampiri.
Dilihatnya mermaid itu sudah tersungkur di bawah tempat tidurnya berusaha bergerak dengan menyeret badan dengan tangannya.
Buni kemudian membantunya mengangkat badan dan didudukkan di batu tempat dia tidur.
“Tidak! Aku harus pergi.” Ujarnya berontak berbahasa manusia. Ini bukan saatnya dia diam. Dia harus segera keluar dari air.
“Kamu tidak bisa kemana-mana dengan keadaan seperti ini.” Sahut Buni berbahasa kulum sambil menatap ekornya.
Mermaid dan Merman umumnya mengerti bahasa manusia. Hanya lidah mereka tidak akan bisa mengucapkannya kecuali mereka sudah upacara pendewasaan.
Umumnya yang memutuskan tinggal di laut tidak akan diberi upacara pendewasaan karna tidak perlu kaki dan tak perlu berbicara bahasa manusia.
“Putriku! Aku harus mencari putriku.” Ujarnya dengan tangan gemetar memegang lengan buni dan matanya berkaca-kaca.
“Dimana putrimu?” Tanya Buni.
“Di daratan.”
“Anakmu manusia?”
“Iya.” Sahut mermaid itu.
Buni menghela nafas.
“Kau tidak akan diijinkan. Lari dari sini pun akan sulit. Karna kau tak bisa berenang lagi.” Ujar Buni.
“Tak apa. Merangkak pun aku bisa!” Teriaknya.
“Kedua kakimu putus. Aku menyelamatkanmu dengan susah payah. Setidaknya meskipun kau tak bisa berenang atau berjalan. Kau masih hidup.” Buni menjelaskan.
Mermaid itu melepas tangisnya mendengar pernyataan penyihir tua itu. Hatinya terasa sangat sakit, namun dia memikirkan perasaan putrinya yang pasti lebih sakit karna tak tahu mamanya ada dimana sekarang.
“Aku ingin bertemu putriku dan suamiku. Tolooongggg.” Wanita itu memohon menangis tersedu-sedu.
“Tolong… tolong…” Dia tak berhenti memohon sampai melipat tangannya.
__ADS_1
“Aku akan tanya pendapat Appa.” Ujar Buni. Karna apapun yang terjadi di situ semuanya harus dengan persetujuan Appa sebagai pemimpin.
“Aku… aku akan bicara langsung. Tolong… tolong bawa aku padanya.” Mermaid itu cepat-cepat menggerakkan badannya agar segera bertemu Appa.
“Baiklah.”
Buni menggotong mermaid itu perlahan. Mermaid itu bahkan masih sulit membawa badannya. Tekanan dalam air membuat badannya semakin berat. Rasanya sangat berat seperti mau tenggelam. Ah begini rasanya jika ekor mermaid cacat.
Mermaid itu semakin menangis seiring dia memukuli ekornya. Perbuatannya itu membuat Buni berhenti bergerak.
Rasanya hidup ini sangat tak berguna, bergerak sedikit saja dia sudah sangat sulit, bagaimana ingin menemui putrinya di daratan sana.
Meskipun air laut adalah tanah kelahirannya, kenyataan dia bahkan sudah tak bisa berenang bebas membuat dia menangis sejadi-jadinya.
Dia terus berpikir bagaimana kabar putri dan suami yang ditinggalkannya.
Dipukulnya ekornya itu sambil berteriak kencang. Para merman dan mermaid yang ada disitu akhirnya melihatnya dan menghampirinya.
Mereka membantunya bergerak,
“Kami ingin ke rumah Appa.” Ujar Buni pada mereka.
Mereka pun membantunya berbondong-bondong sambil tersenyum dan mengusap kepalanya.
“Kami merasakan penderitaanmu.” Ujar mereka bersimpati.
Ekor cacat adalah mimpi buruk bagi semua makhluk yang ada di laut.
Mereka sampai di rumah Appa, ada Uma yang ikut membantu mermaid sakit itu masuk.
“Appa… aku ingin bertemu putriku. Tolong aku… tolong… putri dan suamiku… mereka pasti bingung mencariku kemana.” Wanita itu duduk di bawah memohon dengan putus asa sambil melipat dan menggosok gosok tangannya.
“Mereka di daratan.”
“Manusia?”
“Iya. Aku menikahi manusia dan memiliki anak manusia.” Sahutnya.
“Itu akan sulit. Terlebih kamu sudah sulit bergerak. Kami bisa bantu hanya sampai di pantai. Tapi bagaimana denganmu sendiri di pantai dengan keadaan seperti ini?” Tanya mereka.
“Tak apa-apa! Tolong aku sampai ke pantai tak apa-apa. Itu sudah cukup. Aku bisa merangkak dari situ.” Sahutnya sambil mengangguk.
“Ekormu sudah tidak bisa lagi berubah menjadi kaki.” Buni memberi tahu kenyataan pahit.
Tenggg! Rasanya pernyataan itu seperti pukulan keras di kepala mermaid itu. Itu satu-satunya jalan keluar yang bisa dia pikirkan.
“Lalu? Bagaimana aku bisa bertemu putriku?!” Tangisnya meledak. Suara tangis yang sangat putus asa itu sampai suaranya serak.
Wanita yang dulunya manusia itu tau dia tak bisa memaksa mereka untuk muncul di depan manusia dengan wujud seperti itu.
Karna beberapa kejadian buruk di waktu silam, mermaid dan merman sangat menjaga rahasia keberadaan mereka dari manusia.
“Summmerrrrrrr!!!!!!!” Teriak mermaid itu memanggil nama anaknya sangat kencang dan putus asa.
Uma tahu sekali rasa sakitnya jadi seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Uma memegang tangan mermaid itu dan dapat merasakan betapa menderita rasa itu. Rasanya seperti taring hiu menancap di ulu hatinya.
Mengantarkan anaknya saja ke daratan sudah membuatnya menangis semalaman, terlebih jika tak bisa melihat anaknya dan tak tahu kabar anaknya lebih dari setahun. Uma tak bisa membayangkannya.
“Apa tak ada yang bisa kulakukan untuk bertemu putriku? Tolong lah Uma.”Getirnya terus memohon.
__ADS_1
“Maafkan aku.” Sahut Uma.
Tiada solusi yang lebih baik selain mermaid itu dianggap sudah mati oleh putrinya. Mereka semua yang di situ ikut menangis.
Setelah mermaid itu tenang, Buni dan Uma membawanya kembali ke rumah Buni.
Sejak berhenti menangis. Mermaid itu terus diam dan tatapannya kosong.
“Anakku yang pertama baru saja tinggal di daratan. Jadwalnya masih harus kembali ke sini bulan depan. Aku akan bicara padanya.” Uma memecah kesuraman mermaid itu.
Mendengar itu, matanya yang tadi tak bernyawa langsung hidup dan menatap Uma dengan penuh harapan.
“Nama manusiaku Rita! Rita Wicaksono. Anakku Summer. Dia akan menemukannya dengan mudah, perusahaan kami cukup terkenal.” Wanita itu langsung memberi info yang diperlukan untuk mencari putrinya.
“Baiklah. Tapi maaf kami tidak akan bisa mempertemukan kamu dan putrimu. Anakku hanya bisa memberikan kabar tentang putri dan suamimu padamu.”
Rita menunduk dan berpikir, apa rasanya tak bisa melihat putrinya lagi. Dia sangat sangat merindukan putri semata wayangnya itu.
Entah ingin menyesal atau bersyukur. Menyesal karna dia seorang mermaid dan tak bisa bertemu putrinya karna tak bisa jadi manusia lagi, atau bersyukur karna dia seorang mermaid, dia masih bisa hidup.
“Tak apa. Aku hanya ingin tau kabar putriku. Aku akan lakukan apa pun untuk kalian. Aku akan mengabdi jika itu bisa kulakukan demi bisa mengetahui kabar putriku.” Secercah harapan itu menguatkan Rita.
“Kuatlah. Aku yakin putrimu baik-baik saja.” Uma meneteskan air mata.
“Terima kasih Uma… terima kasih!” Ujarnya berkali kali membungkuk.
*****
Mara mengumpulkan pakaian dan barang-barangnya karna esok hari dia akan ke ibu kota menjalani test melamar menjadi bodyguard Summer.
“Kau membawa semua pakaianmu?” Tanya wawan.
“Tentu saja. Lagi pula aku yang akan menang nanti. Jadi kemungkinan aku akan langsung bekerja” Ujarnya percaya diri sambil memasuk-masukkan pakaiannya ke dalam tas.
“Ck dasar!” Tak bisa dipungkiri kekuatan merman itu luar biasa dibandingkan manusia. Terlebih Mara adalah keturunan Appa.
Kekuatan Appa setara dengan kekuatan sepuluh Bima yang terkuat.
“Aku akan menjual lagi emas ini.” Ujarnya menatap emas yang ada di laci meja. Ada 3 batang lagi.
Emas murni 10kg itu membuatnya bisa bermalam di hotel mewah selama yang dia mau. Bahkan yang terakhir dia jual pun masih banyak sisa uangnya.
“Bukannya yang kemarin masih ada? Jangan menyimpan uang banyak di lingkungan manusia, kau akan dicurigai. Biarkan dalam bentuk emas dulu.” Saran Wawan.
Wawan sama sekali tak tertarik dengan uang dan emas seperti manusia. Tak seperti istrinya yang langsung kaget dan mata bercahaya melihat emas, Wawan merasa itu bukan hal yang penting. Dan umumnya semua bangsa kulum tak terlalu terobsesi dengan harta.
“Tapi restoranku jelas akan berkurang pengunjungnya.” Sesal Wawan.
“Eyyyyy. Masakanmu itu enak sekali. Pasti orang akan terus kembali.”
“Hah! Iya. Masakanku memang luar bisa.” Ujarnya menghibur diri.
“Terima kasih. Kamu memperlakukanku seperti adikmu.” Ujar Mara tiba-tiba melankolis.
“Ah apa sih. Aku tau aku baik. Sama sama terima kasihnya.” Ujarnya malu.
Summer di kamarnya memberanikan diri membuka album fotonya ketika masih kecil, banyak kenangan seberapa bahagianya sebelum kehilangan orang tuanya. Dia tersenyum sambil menitikkan air mata. Rasa rindunya pada orang tuanya setiap hari sangat menyiksa. Dibelainya foto mamanya yang rupa-nya mirip dengannya itu.
“Dimana ma?” Lirihnya.
__ADS_1
Bersambung…