Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Serigala Berbulu Domba


__ADS_3

Berita tentang Richard anak Praman tak berhenti-berhenti ditayangkan. Hal itu membuat Praman paranoid meskipun anaknya tidak pernah menyebut namanya.


Butuh beberapa usaha lagi untuk benar-benar membersihkan sisa remahan yang ada. Siapa pun tau media itu sangat menyeramkan. Jaman kini semua orang bisa jadi reporter gratis. Jika mereka mengulik terus, tidak ada jaminan nama Praman tidak disentuh.


Praman akhirnya diam-diam memakai isu skandal Jenni untuk menutupi berita Richard yang masih beredar. Tidak sulit mencari kartu tersembunyi jika nominal yang berkata.


Banyak orang dengan suka rela memberi rahasia demi finansial yang stabil. Terlebih rahasia orang yang tak ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Mereka akan menganggap itu rejeki nomplok meskipun di bawahnya ada pihak yang dirugikan.


Tak butuh waktu satu jam untuk membuat Jenni jadi pusat perhatian seluruh negri.


“Jenni, apa benar anda tidur dengan sutradara Handoko untuk peran anda di film barunya?”


“Apa benar anda tidur juga dengan sutradara Lee di drama yang baru tamat itu?”


“Bagaimana bisa yang tadinya peran yang seharusnya milik Angel Prasetyo di film X jadi milikmu?”


Begitulah pertanyaan para reporter yag mengikuti Jenni kemana pun dia pergi.


Kemana pun tidak ada ruang kosong untuk Jenni bisa berjalam tanpa reporter. Di depan rumahnya mereka sampai menunggu tak tidur dan makan seadaanya demi mendapat satu informasi pun mengenai Jenni.


Harith selaku ayahnya pun tak luput dari kejaran Reporter. Tidak seperti Praman yang membuang anaknya, Harith menerima semua cemooh padanya. Namun dia hanya tetap diam saat mendapat pertanyaan dari para reporter.


Jenni menerka-nerka siapa yang berani membocorkan rahasianya itu. Selain dia, sutradara dan managernya tidak ada yang tahu. Tidak mungkin itu ulah managernya, karena dia masih bekerja dengan Jenni dan dia yang akan direpotkan di sini, begitu pun sutradara yang akan rugi karena mungkin filmnya tidak akan ditayangkan.


Isu tersebut membuat Jenni mau tak mau harus vakum untuk sementara waktu, karna agensi juga menyuruhnya untuk tidak muncul selama rumor masih berlanjut.


Satu persatu kontrak iklan dan brand ambassador milik Jenni dibatalkan.


Isu tentang Jenni tersebut menjadi isu terbesar di kalangan entertainment. Karena Jenni termasuk artis terkenal yang baru naik daun dan memiliki banyak penggemar.


Kabar tentang Ricard tersapu dan dilupakan, ditimpa oleh skandal Jenni yang melibatkan beberapa sutradara yang dicurigai pernah memiliki hubungan dengannya.


*****


Di kediaman Yura Wicaksono


“Apa itu benar?” Tanya Harith pada putrinya.

__ADS_1


“Pa…” Ujar Jenni tak bisa menjawab pertanyaan Papanya.


“Jawab! Benar atau tidak!” Harith akhirnya melepas emosinya. Seketika Jenni kaget karena Papanya tak pernah semarah itu.


“Pa…” Jenni memohon dengan matanya. Semoga ada belas kasihan.


“Jenni! Kenapa kamu tidak membantah!!” Harith dengan raut wajah yang kecewa, satu-satunya anak yang dia punya bisa seperti itu.


“Kenapa Jenni?” Harith berharap mendapat alasan yang tepat untuk putrinya berkelakuan begitu.


“Aku gak mau jadi orang yang terus tertinggal! Aku juga pengen sukses Pa!” Teriak Jenni.


“Kenapa? Kenapa harus sukses?” Harith tak mengerti namun Jenni hanya diam saja.


Begitupun Yura yang di sebelah Jenni.


“Apa pernah Papa minta kamu jadi artis terkenal? Harus segera sukses?? Untuk apa Papa bekerja sangat keras? Untuk apa semua yang Papa hasilkan? Apa yang kamu cari Jenni? Apa usaha Papa mencukupimu kurang?!”


“Pa…” Jenni hanya bisa memohon dan meraih tangan Papanya yang kaku.


Tiada yang lebih sakit dari pada orang yang paling kau cintai kecewa terhadapmu. Yura yang biasanya bawel pun kini hanya diam saja karena tak tau harus berbicara apa lagi.


Yura tanpa sepatah kata pun langsung masuk ke kamarnya meninggalkan Jenni sendiri menangis di ruang tamu.


*****


Di ruang kerja Summer


“Hmmmm.” Gumam Summer sendiri di ruangannya berpikir tentang skandal Jenni yang beredar. Dia sudah punya firasat saat membaca gosip tersebut, bahwa ada yang memang sengaja melakukannya. Mungkin hal ini bisa dimanfaatkan Summer ke depannya.


Namun karena kejadian yang beruntun bagai kereta api, Summer Sea mendapat dampak yang cukup besar. Tersebar berita sebagaimana tidak kompetennya para petinggi di perusahaan itu. Saham Summer Sea meluncur turun seperti perosotan. Sedangkan dalam hitungan hari seharusnya mereka akan mengenalkan produk baru.


“Ketua, meeting 10 menit lagi akan di mulai.” Ujar Pak Bagas yang memasuki ruangan.


“Okay.” Sahut Summer santai.


Saat memasuki ruangan meeting, suasana ruangan terlihat suram dengan perang diam.

__ADS_1


Dimana ada beberapa oeang yang terlihat kesal terhadap Harith yang membuat Summer Sea jadi terbawa-bawa karena dia tak mengurus anaknya dengan baik.


Sedangkan Praman terlihat tenang seperti tidak punya anak yang masuk penjara. Sedikit pun dari para pengikut Praman tidak ada yang berani mengkritiknya. Tapi tidak terhadap Harith, bagi mereka Harith sama seperti mereka, yaitu di bawah kuasa Praman. Suasana perang dingin terasa sangat intens.


“Kita mulai meetingnya.” Ujar pembawa persentasi.


Kali ini meeting membahas produk terbaru harus diundur atau tidak. Melihat keadaan yang semrawut, mereka tidak akan bisa menjalankannya sesuai tanggal.


“Karena itu punya putri harus diperhatikan dengan benar.” Ketus seorang yang ada di meeting itu.


Harith hanya menyahut dengan diam dan menunduk. Selaku wakil direktur, Harith tidak disegani sebagai mana posisinya. Yang disegani hanya satu orang, yaitu Praman.


“Solusi. Bukan membahas masalah.” Ujar Summer singkat.


Mereka berdehem dan saling bertatapan.


Summer sudah bisa menimbangi dan menelaah masalah yang terjadi. Dia bisa melihat dari sikap dari semua orang yang disana, sangat jelas siapa pelakunya. Namun dia harus bersikap tak ikut campur dulu untuk saat ini.


Dari yang dia nilai, Harith sama sekali tidak punya kecurigaan namun malah merasa bersalah. Entah harus bersyukur atau tidak.


*****


Di ruangan Praman.


“Maaf Direktur.” Ujar Harith pada Praman. Dia merasa bersalah telah membuat keributan dan membuat Summer Sea jadi terbawa akibat skandal Jenni.


Praman tersenyum dan menepuk bahu Harith.


“Tak apa. Aku mengerti. Aku juga mengalaminya.” Ujar Praman menenangkan.


Hal ini membuat Harith merasa lebih lega. Mungkin karena Praman juga mengalami hal yang serupa, dia jadi lebih pengertian bagaimana posisi Harith saat ini.


“Jangan didengarkan mereka.” Ujar Praman.


“Terima kasih Direktur.” Sahut Harith lega.


Orang yang seharusnya tempat Harith meminta maaf adalah Summer. Nyatanya Praman tak peduli dengan perusahaan. Praman hanya peduli dengan dirinya dan kedudukannya. Namun untuk saat ini ambisinya jadi tersendak, dia merasa harus pelan-pelan maju, tak boleh buru-buru. Begitu pun dengan Harith, dia merasa belum waktunya untuk membuang Harith karna dia masih berguna.

__ADS_1


Dia hanya menunggu momen yang pas agar bisa menurunkan Summer dari jabatannya.


Bersambung…


__ADS_2