Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Semuanya Meninggalkanku


__ADS_3

“S…suamiku?” Tanya Rita kemudian.


“Wafat saat kecelakaan terjadi.” Sahut Mara menunduk.


Rita menelan tajamnya kenyataan itu. Dia masih ingat saat suaminya menyuruhnya turun ke laut di ujung hidupnya. Rudi berharap ada mermaid lain bisa melihat Rita dan menyelamatkannya.


Rita menepuk-nepuk dadanya menangis sekuat tenaga. Ternyata selama ini putrinya sendirian.


“Summer masih mencarimu.” Ujar Mara.


Mendengar obrolan itu Uma yang tadi datang menjumpai anaknya karna tak ke rumah dulu akhirnya langsung kembali menunggu Mara datang untuk menjelaskan semuanya di rumah nanti.


“Terima kasih nak. Terima kasih sudah menemani putriku. Terima kasih.” Rita tak henti-hentinya berterima kasih dan bersyukur pada merman muda yang membawa kabar tentang putrinya itu.


“Kemarilah.” Ujar Uma yang sudah duduk bersama Appa. Mara sudah akan masuk ke rumahnya.


“Kau mengenal putrinya?” Tanya Uma.


“Ya. Aku mencintai putrinya.” Sahut Mara menohok. Tidak hanya mengenal tapi mencintai? Jawaban itu tiba-tiba sekali.


Uma tertegun dan menatap suaminya. Sara yang mendengarnya dari kamar langsung keluar dan menatap kakaknya yang gila itu.


“Mara!” Bentak Uma tegas.


“Appa ijinkan Bu Rita bertemu anaknya.” Pinta Mara langsung pada ayahnya.


“Anaknya manusia Mara!” Ujar Uma membelalak.


“Dia tau aku merman.” Sahut Mara siap untuk dimurka ibunya.


“Mmara!!!” Teriak ibunya semakin keras.


“Dia wanita yang aku tolong satu setengah tahun yang lalu Uma. Hanya dia yang tahu aku merman!” Sahut Mara dengan berani.


“Mara! Aku tidak pernah mengajarimu ikut campur dengan nyawa manusia!” Bentak Uma.


“Uma. Jika aku yang sekarat dan bertemu dengan Summer, apa Uma berharap ibu Summer mengajari anaknya untuk tak menolongku?!” Mara meninggikan suara.


Uma terdiam dengan mata yang membendung air mata. Bibirnya mengkerut masam dan matanya berdelik. Tentu dia tak ingin hal itu terjadi pada putranya.


“Uma. Bagaimana perasaan mu jika seandainya tak bisa melihatku yang terluka di daratan?” Tanya Mara menambahkan.


Uma tetap terdiam, kini dari matanya yang membelalak marah, keluar butiran air mata tersapu air laut. Leher dan bibirnya kaku menahan amarah.


“Mara. Kau tahu ibumu tak mungkin begitu. Minta maaf pada ibumu.” Ujar Appa menengahi mereka.


“Uma. Dia gadis yang aku percaya. Sungguh. Uma tahu aku bisa menilai orang kan? Uma juga percaya dengan seleraku terhadap perempuan kan? Dia hanya wanita kuat sepertimu Uma. Wanita yang berusaha kuat. Persis sepertimu.” Ujar Mara menitikkan air mata lalu pergi keluar.


Appa memeluk istrinya yang kaku terdiam mengepal kencang tangannya yang berselaput, menenangkannya dan membiarkannya berpikir. Banyak hal yang harus dijaga termasuk putranya sendiri. Pengalaman pahit membuat mereka harus ekstra hati-hati dalam berhubungan dengan manusia.

__ADS_1


Namun Uma tersadar juga bagaimana rasanya di posisi Rita sebagai ibu. Uma merenung mencoba mengambil keputusan yang suatu saat nanti tak disesalinya.


“Panggil kakakmu.” Ujar Uma pada Sara.


Saat Mara kembali bersama dengan Sara, Uma mengajak Mara duduk.


“Mara. Kali ini kami akan percaya padamu.” Ujar Appa.


Wajah Mara langsung bersyukur namun alisnya mengkerut hendak menangis mengingat orang tuanya yang sangat pengertian dan mendengarkannya.


“Dengan syarat. Kau yang datang bersama gadis itu berdua ke tengah laut mengenakan kapal. Aku, Uma dan Bima akan membantu membawa Rita bertemu putrinya. Kami harus lihat sendiri keadannya nanti.”


“Appa!” Seru Mara langsung meloncat memeluk ayahnya.


Mara kemudian dengan canggung melihat ibunya yang terlihat sama canggung. Diciumnya pipi ibunya itu menghilangkan kecanggungan mereka, lalu Mara tersenyum hangat.


“Terima kasih Uma. Aku selalu berterima kasih karna Uma sangat pengertian.” Ujar Mara menggoda. Kemudian Mara memeluk ibunya yang selalu lemah dengan anaknya itu.


“Dasar anak nakal.” Ujar Uma menepuk kencang punggung putranya itu.


“Uma! Sakit!” Teriak Mara.


“Kamu pantas dipukul!” Ujar Uma yang tetap memeluk anaknya itu.


*****


Sedangkan Summer tiba-tiba terbangun karena suara petir yang sangat keras.


“Kenapa Pak Damar di sini?” Tanya Summer sambil berjalan menuju kamar Mara.


“Mara lagi pergi Non. Dia minta saya untuk jaga Non di sini.” Sahut Damar sambil mengikuti Summer.


Seperti suara petir menggelegar di telinga Summer, kata itu membuatnya takut. Kemana dia pergi semalam ini. Kenapa dia menyuruh orang lain menjaganya. Apa dia pergi jauh?


Summer mulai terkena gangguan kecemasan.


Summer diduk di sofa berniat menunggu Mara pulang.


Dia sudah mencoba menunggu dan menelpon Mara namun handphonenya tak dibawa. Kemana gerangan Mara pergi.


4 jam Summer menunggu namun Mara tak kunjung pulang. Kakinya tak berhenti dihentakkannya, kini dia mulai menggihit jarinya, matanya bergetar seraya menatap pintu rumah.


Summer sudah tak bisa tenang lagi. Dia berdiri dan membuka pintu langsung berjalan menginjak tanah tanpa alas kaki.


“Non. Mau kemana?” Tanya Damar namun tak disahuti.


Damar buru-buru mengambil payung dan sendal untuk Summer.


Summer berjalan di bawah hujan dengan tatapan kosong. Damar mengejarnya dan memberi sendal ditaruhnya di tanah untuk dipakai Summer. Namun Summer melewati sendal itu. Damar kembali menenteng sendal itu dan memayungi Summer.

__ADS_1


“Non ayo masuk. Hujannya deras sekali. Mara pasti pulang.” Bujuk Damar namun Summer seperti tuli tetap berjalan sambil mencari-cari.


Mau berapa kali lagi dia harus ditinggalkan sendiri. Kenapa semuanya harus menghilang. Setidak pantas itu kah dirinya? Pikiran itu terus menenetap di kepala Summer.


Dia berjalan tanpa arah, takut akan ditinggalkan lagi. Dia berniat harus terus mencari sampai menemukan Mara.


Dari kejauhan terlihat sosok Mara berjalan dan kemudian berlari.


Mara kaget kenapa Summer ada di luar basah kehujanan. Dia berlari menghampiri Summer.


“Kenapa kamu di luar?” Tanya Mara memayungi matanya dengan tangannya.


Summer menatap Mara dengan matanya yang sudah basah karna hujan dan air mata. Dia berbalik badan dan berjalan cepat tanpa menyahut. Damar ikut sambil berlari memayungi Summer.


Summer berjalan dengan segala langkahnya yang penuh amarah sehingga tak peduli kakinya berlumpur basah mengenai celana tidurnya.


Summer langsung masuk ke rumah dengan menghentakkan kaki, jejak kakinya yang berlumpur tertinggak di lantai. Mara berlari dan memegang tangan Summer.


“Maafkan aku pergi tanpa ijin.” Ujar Mara namun Summer tak menatapnya.


“Ada yang perlu kuperiksa, dan aku tadinya berencana sampai sebelum kamu bangun. Tapi aku tetap salah tak meminta ijin terlebih dahulu.” Mara menjelaskan.


“Apa yang kau periksa?” Tanya Summer tanpa menatap Mara.


Damar yang melihat perkelahian intens itu tentu langsung mundur dan kembali ke rumahnya.


“Aku menemukan bu Rita.” Ujar Mara mencoba menoleh wajah Summer yang terus menunduk mnghindari tatapan Mara.


Summer terdiam beberapa detik, dan akhirnya menatap ke atas melihat wajah Mara. Tanpa bicara apa-apa air mata mengalir dari matanya yang bergetar.


Mara memeluk Summer yang harus merasakan beberapa emosi secara bersamaan.


“Maaf Summer. Ayo bersihkan kakimu.” Ujarnya Mara menenangkan Summer.


Summer yang terlihat lemas itu tak mau bergerak. Akhirnya Mara menggendong Summer dan mendudukkannya di kamar mandi. Ditampungnya air di gayung lalu menyiram kaki Summer yang berlumpur itu.


“Kamu harus ganti baju. Kamu basah kuyup.” Ujar Mara sambil melap kaki Mara dengan handuk putih.


“Dimana Mamaku?” Tanya Summer pelan.


“Aku akan beritahu. Tapi tolong ganti dulu bajumu.” Ujar Mara.


Summer terlihat takut jika nanti kabar itu tidak sesuai harapannya.


“Bu Rita masih hidup.” Ujar Mara menghalau semua kekhawatiran Summer.


Summer langsung menghela nafas lega. Dia berjalan ke lemari pakaiannya yang berada dalam satu ruangan cukup besar. Digantinya baju itu dan kembali keluar siap mendengarkan cerita Mara.


Di atas kasur, mereka duduk saling berhadapan. Mara kemudian menceritakan semuanya. Bagaimana dia sudah bertemu Mama Summer sejak setahun yang lalu tapi tidak pernah tau jika itu adalah Mama Summer. Jika seandainya Mara mencoba lebih peduli dan mencari foto ibunya Summer mungkin dia bisa langsung menyadari mermaid yang selama ini terbaring itu adalah ibu Summer.

__ADS_1


Summer mendengarkan semua cerita itu tanpa menyela sedikit pun. Dia duduk memeluk kakinya dan memangkukan dagu ke lututnya. Matanya terus melihat ke bawah, “Ibuku yang malang.” Pikirnya.


Bersambung…


__ADS_2