
Seperti janjinya, Sabtu mulai pukul 9 pagi Summer sudah siap dengan segala peralatan divingnya. Dibantu dengan alat divingnya berupa senter di kepalanya. Disitu lah dia bisa melihat dengan jelas banyaknya warna di kedelapan dasar laut. Sinar matahari menembus hanya di batas tertentu, semakin dalam laut akan semakin gelap.
Menyelam sudah jadi hobi tersendiri, bisa menatap habitat orang tersayangnya seperti melihat rumah yang indah. Banyaknya jenis ikan yang hanya bisa ditemukan saat menyelam. Kejar-kejaran dengan ikan, lobster, bahkan gurita. Terumbu karang warna warni bergerak mengikuti gerakan air. Tak disangka di bawah penuh dengan warna.
Dia akan menyelam sedalam mungkin hingga lelah, kembali ke kapalnya untuk istirahat. Saat sore dia akan kembali menyelam. Naik lagi saat lelah hingga hari gelap.
Jam tangannya menunjukkan pukul 10 malam.
"Apa aku menginap di sini aja ya?"
Belum ada tanda-tanda kemunculan Mara.
Summer menatap laut yang luas dan sunyi. Anginnya terasa dingin menusuk tubuh dengan pakaian renang yang masih basah. Jaga-jaga jika Mara muncul, dia tinggal meloncat ke air.
"Baiklah. Aku akan tidur disini dan pulang besok malam." Bermonolog dengan nada semangat, Summer mengganti pakaiannya dan masuk ke kamar.
Dari jendela kecil kamarnya, Summer masih terus menatap air yang sangat tenang.
Seandainya Rita tahu, dia akan ke atas laut setiap sabtu seperti rencana Summer.
Keesokan harinya Summer kembali menyelam, istirahat, menyelam, istirahat. Tidak ada juga kemunculan Pria yang ditunggunya.
"Tak apa. Aku akan tetap datang minggu depan lagi." Ujarnya. Akhirnya memutar haluan kapalnya dan pulang.
*****
"Jenni. Apa kabar?" Suara Manager yang tengah menelpon.
"Ada apa?" Tanya Jenni ketus tak ingin berbasa-basi.
"Summer Sea menelponku. Dia menawarkan kontrak untuk bekerja denganmu untuk model majalah berikutnya."
"Summer Sea?"
__ADS_1
"Iya. Aku juga sama kaget."
"Aku gak kaget, Cuma bingung."
"Bisa kau datang ke kantor?"
"Entahlah." Jenni memutus telpon.
Keluar rumah saja sudah seram, apa lagi bekerja kembali.
Yura keluar dari kamar, tas kecil mewah menggelantung di lengan besarnya. Sasak tinggi adalah ciri khas, dandanan full make up. Pakaian seperti ibu pejabat.
"Ayo." Ajaknya.
"Mama yakin akan berpenampilan begitu?" Jenni mencengut, ke lapas saja harus berpenampilan mewah.
"Memang kenapa?" Yura menatap menunduk dan menilai penampilannya, tidak ada yang salah.
"Lepas itu cincin." Perintah Jenni menajamkan mata pada cincin bermata berlian besar yang melingkar di jari gemuk ibunya.
"Ayo."
Di perjalanan melewati jalan besar pusat kota, terpampang papan iklan besar, hampir memenuhi lebar gedung. Menampilkan seorang aktris memegang parfum.
Tadinya wajahnya lah yang ada di papan iklan itu, memegang parfum sebagai brand ambassador.
Skandalnya menuntut semua perusahaan yang tadinya berkerja sama dengannya, membatalkan kontrak.
Papan iklan segera dikosongkan, produk yang memakai wajahnya segera ditarik dari pasaran untuk digati kemasannya. Semua iklan media yang pernah menunjukkan wajahnya pun begitu.
Dan kini Summer Sea ingin bekerja dengannya? Omong kosong.
Mobil berhenti tepat di depan gedung lapas di ibu kota. Mereka turun, berjalan ke dalam. Jenni menutupi wajahnya dengan masker dan kaca mata. Sia-sia saja, semua orang tetap mengenalinya.
__ADS_1
"Jenni! Jenni!" Berbisik tapi terdengar. Orang-orang mulai memperhatikan.
"Mau jenguk Papanya kali." Ibu-ibu dengan ekspresi penggosip handal. Berbisik satu sama lain hinnga mulutnya maju, matanya menggerling.
Bersyukur antrian tak banyak, tak lama kemudian nama Yura dipanggil untuk masuk ke ruangan jenguk.
"Papa." Panggil Jenni menempelkan tangan ke pembatas putih yang menghalanginya bisa memeluk.
"Jenni. Kamu baik-baik aja kan?"
"Ya. Papa gimana?"
"Papa baik. Teman satu sel Papa juga baik-baik."
"Udah makan, Mas?" Yura bertanya
"Ya sudah. Kami makan teratur kok."
"Jenni sudah sering keluar rumah?”
"Ya… begitulah Pa."
"Tapi masih ketemu terapis kan?"
"Masih kok, Pa."
"Iya. Terus semangat ya nak."
"Entahlah. Aku ingin papa keluar dari situ secepatnya."
"Haha. Papa banyak salah, sudah pasti Papa harus dihukum sebagaimana mestiya. Sekalian intropeksi diri agar bisa jadi Papa yang baik buat kamu."
”Papa selalu baik, kok."
__ADS_1
Bersambung…