
“Kamu udah gak kerja lagi?” Cerocos Bu Ayu pada putranya yang tak kemana mana setiap pulang dari kampus.
“Gak.” Rio menyahut cuek sambil sibuk bermain gim di ponselnya.
“Hah. Udah bisa ditebak kamu gak akan betah.”
Rio tak menyahut dan tetap fokus bermain.
Sejak Praman ditangkap, semua kejahatannya terkuak. Termasuk kenyataan bahwa ayahnya kecelakaan juga ulah Praman. Rio jadi tak ingin bertemu Nindi. Alasan dia untuk bekerja juga sudah tak ada. Berbeda dari sikap biasanya, Rio jadi lebih sering di rumah.
“Rio. Tolong anterin ini ke Summer.” Perintah Bu Ayu menyodorkan tas kotak makanan.
“Males ah Ma. Suruh aja Summer yang ke sini.”
Jitakan mendarat di kepala Rio yang terus menunduk sibuk bermain ponsel.
“Ahh Maaaa!” Rio mengusap kepalanya dengan wajah mengernyit.
“Dia sibuk kerja. Gak kayak kamu di rumah mulu!”
“Aku di rumah mulu salah, aku keluar mulu salah.”
“Ya kamu gak biasanya di rumah mulu begini. Putus cinta kamu? Kan gak punya pacar.”
“Ah Maaaaa. Aku anak tiri mama ya?”
Gerutunya menyambar tas kotak makanan, langsung pergi bermuka masam.
Bu Ayu berdecak pinggang, dia hanya ingin tahu anaknya kenapa, tapi komunikasi mereka selalu begitu.
*****
Rio sampai di rumah Summer, menekan bel rumah. Wajahnya masih merengut, hari minggu begini saja dia tak bisa anteng di rumah.
Pintu terbuka dengan wajah Summer muncul dari balik pintu. Rio tanpa basa basi langsung masuk dengan menghentakkan kaki.
“Kenapa lu?”
Rio tak menyahut. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti melihat Nindi yang duduk menonton TV di sofa. Mereka sempat bertatapan, namun Nindi segera mengalihkan pandangannya menunduk.
Rio memutar matanya kesal.
“Aku cuma pengen nganterin ini.” Ujarnya meletakkan tas makanan itu di dapur.
“Uhhh baik banget sih lo. Bilang makasihku ke Bu Ayu ya.” Summer langsung mengikut untuk melihat masakan apa yang Bu Ayu buat kali ini.
“Next time, lu sendiri deh yang ambil.” Ujar Rio dengan jutek.
“Kenapa lu? Ada masalah lu sama gue?” Summer ikutan jengkel melihat sikap Rio.
Rio berjalan, menatap wajah Nindi tajam lalu berlalu keluar meninggalkan rumah Summer dengan suara motor disengaja digas berkali-kali.
__ADS_1
“Kenapa sih dia.” Gerutu Summer, namun tetap semangat membuka kotak makanan.
Nindi tahu alasan sikap Rio begitu. Bagaimana pun dia adalah putri seorang penjahat, sangatlah wajar. Bukan tak pernah meminta maaf, tapi Rio memang sudah tak ingin berurusan dengannya.
“Ayo makan.” Ajak Summer mengunyah sambal kacang yang tadi dicomotnya.
“Ah makan nanti aja.”
“Kenapa? Bukannya tadi lu laper?”
“Tiba-tiba jadi gak laper aja.”
“Kenapa, kenapa? Tadi Rio sekarang kamu.” Summer menyerah hanya menyomot, dia akhirnya mengambil piring dan makan di sebelah Nindi.
Nindi melirik isi piring Summer, yang pastinya terlihat menggiurkan, bagaimana pun masakan Bu Ayu adalah masakan ternikmat. Dia masih ingat dulu Rio sering membawakan untuknya. Namun dia hanya bisa menelan liur, sadar diri kalau dia tak pantas memakan masakan Bu Ayu.
“Ada apa Nindi?”
“Kamu tau gak? Seharusnya sikap kamu padaku lebih lagi dari Rio. Wajarnya begitu.”
Summer menelan suapannya, berusaha mencerna perkataan itu.
“Karena Papa kamu mencelakai Pak Bagas?” Tanya Summer dengan wajah menerka.
“Iya. Seharusnya memang begitu respon yang wajar. Apalagi kamu…”
Summer mempercepat makannya agar nyaman berbicara. Dia ke dapur menaruh piringnya di wastafel lalu kembali setelah minum.
“Membantumu?”
“Aku tahu kau membawa bukti ke kantor polisi. Itu dirahasiakan dari publik tapi mereka memberi tahuku. Terima kasih.”
“Itu seharusnya yang aku lakukan sejak awal. Maaf aku baru punya keberanian saat itu.”
Summer memeluk temannya yang punya kebiasaan berbicara sopan saat serius begini. Dia pun sama korban, pandangan Rio yang dia anggap wajar, dari situ saja dia adalah korban.
“You are my best friend. Kamu harus ingat itu.” Ujar Summer tersenyum hangat.
“Aku… bener-bener berharap… la… lahir dari orang tua biasa saja. Yang ti… tidak serakah. Tak perlu kaya. Tapi yang biasa, dimana aku bisa bersahabat baik denganmu dan siapapun di dunia ini, tanpa takut mereka akan disakiti Papaku.”
Air mata Nindi jatuh, kata-kata yang dia lontarkan sulit untuk keluar, tapi siapa yang akan mendengarkan kecuali Summer.
Meskipun terdengar egois dan ironis berkeluh kesah pada korban Papanya, Nindi juga sama penatnya. Sendiri diberi beban moral padahal tak berbuat apapun.
“I’m sorry Nindi. Aku juga berharap kamu lahir dari orang tua lain. Agar tak sedih seperti ini, merasa bersalah.”
Tangis mereka pun pecah. Sambil berpelukan menangis seperti anak kecil.
“Dasar bodoh. Kenapa lu baik banget!” Teriak Nindi kembali berbahasa santai.
“Lu juga bodoh laporin bapak sendiri.”
__ADS_1
“Huaaaaaaaaaaa!!!!” Mereka kembali menangis serempak.
Setelah lelah menangis mereka menyeka air mata lalu tertawa tidak jelas hanya dari saling menatap.
“Kalo merasa gak enak makan masakan Bu Ayu, mau pesan makanan lain?”
“Iya. Gue kelaperan.”
“Haha.”
“Tapi Summer, gimana perasaan lo sekarang? biasa kan bareng Mara.”
Summer tersenyum pahit.
“Yah. Gue kangen banget sama Mara, Nin.” Sahut Summer lirih.
“Gue yakin dia pasti akan kembali ke lo.”
“Iya. Gue juga yakin dia bakal kembali dengan sehat. Gue percaya dia kuat.”
“Pasti berat buat lo. Jenguk aja gak tau dimana ya.”
“Iya. Gue gak tau harus jenguk kemana.”
“Lo harus banyak perawatan. Biar pas dia pulang lu makin cantik.” Goda Nindi.
“Iya ya?” Summer tersenyum kecil.
“Oh iya. Lu bukannya ada kursus diving hari ini?”
“Iya. Tapi gapapa. Aku mau libur dulu hari ini. Jarang-jarang lu libur kerja.”
“Beneran?” Nindi tak enak mengganggu aktivitas Summer.
“Iya bener.”
*****
Rio bolak-balik mengganti posisi di kasurnya. Pikirannya tak bisa tenang, padahal sudah memicingkan mata dengan paksa.
“Argh!” Teriaknya menyerah untuk mencoba tidur. Dia duduk kesal melihat jam di atas buffet, masih terlalu dini untuk tidur malam. Berharap bisa rileks dengan tidur, yang ada malah makin gelisah.
“Lagian kenapa dia makin kurus begitu sih!” Keluhnya menendang selimut.
Tidak bisa begini. Dia tidak bisa tenang. Melihat sosok Nindi tadi menimbulkan kegelisahan yang entah kenapa. Dia butuh pendapat yang membuat dirinya teguh menjauhkan diri dari Nindi. Dan orang yang paling bisa berbicara tegas dan semena-mena adalah ibunya. Untuk pertama kalinya, Rio butuh omelan ibunya.
Dia menendang kembali selimut yang tak salah apa-apa itu. Turun dari kasurnya dan berjalan memanggil ibunya.
“Ma… dimana???” Pura-pura bertanya padahal sudah tau ibunya menonton di kamar.
Bersambung…
__ADS_1