Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Elusan Kepala


__ADS_3

"Apa sih?" Jawab Summer sambil menyengir.


Mara menarik tangan itu sampai tubuh terduduk di kasur. Dipeluknya perlahan dari belakang, perut yang sangat kecil dengan lengan besar yang terlingkar. Wajahnya mendekat dan menghirup aroma softener dari kain yang menempel di kulit Summer. Seperti itu untuk beberapa menit hingga suasana menjadi hening kecuali gesekan wajah Mara di punggung Summer.


"Kamu kucing ya? Ndusel-ndusel." Ditilik Summer wajah yang tak terlihat terbenam di punggungnya. Hanya terlihat lengan yang memenuhi perutnya.


Summer meraih lengan itu, perlahan menyentuhnya mengikuti garis pembuluh darah hingga ke daun tangan. Dilepaskannya telapak untuk ditempalkan ke telapak tangannya.


Bibirnya menyungging, memang benar ukuran telapak tangan mereka sangat berbeda. Itu kenapa Mara terus menertawakan mengatakan tangannya kecil. Kini jari-jari mereka saling terjalin, Summer merasa sepeti sedang menggandeng tangan ayahnya saat dia kecil.


"Mara. Tidur?" Tanya Summer karena Mara terlihat diam.


Mara menyahut dengan menggelengkan kepalanya yang masih menempel di punggung Summer sehingga terasa geli. Summer tertawa.


"Geli." Ujarnya meloloskan diri.


Mendengar itu Mara jadi termotivasi, kini hidungnya bergerak lebih luas hingga ke pinggang Summer, semakin besar tawa itu semakin gigih dia.


Tangannya pun ikut serta berperan menggelitiki. Rasanya sangat lucu melihat tubuh itu bereaksi kaget dan sontak menjauh setiap Mara ingin menyentuhnya.


Summer bergerak menjauh merontakan badannya, tapi tangan Mara sungguh besar, tidak ada ruang untuk lolos.


"Mara udah! Capek." Summer tertawa sampai ngos-ngosan.


Mara terkekeh menikmati kejailannya. Namun dia berhenti setelah Summer terbatuk karena tertawa banyak.


Kini Summer bernafas kelelahan sambil tersenyum. Badannya yang tadi duduk, telah terlentang sebab banyaknya gerakan meloloskan diri. Dipukulnya tangan Mara yang menjadi pelaku.


"Mau tidur di sini?" Tanya Mara.


Mulutnya tepat di depan telinga Summer, sebisa mungkin dia bicara dengan suara pelan.


Summer langsung mengubah ekspresinya.


"Aku akan tidur di kamarku."


"Sudah ku bilang, Masuk ke kamar pria itu berbahaya." Ujar Mara.


Summer menelan liurnya, dia tahu bahwa dia yang lancang memasuki kamar pria. Namun selama ini Mara tak pernah lancang untuk memulai apa pun, seharusnya aman. Jika membahas hal lancang, julukan itu cocok untuk Summer.


*"Kalau aku harus tidur di sini, kita harus pillow*-talk." Ujar Summer menghilangkan kecanggungan.


"Baiklah."


"Wuuu. Kamu tau istilah itu?" Tanya Summer salut.


"Di drama mereka sering bahas itu."

__ADS_1


Seperti biasa Summer akan mengapresiasi pengetahuan Mara dengan mengelus kepala. Dia meraih kepala itu namun sulit, maka mengganti posisi hingga kini berhadapan dengan Mara.


Posisi itu sangat berbahaya, Mara merasa Summer terus mengujinya. Summer mengangkat tangannya dan mendarat lembut kepala Mara.


Mara hanya fokus pada wajah Summer yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.


Mau pikirannya dikendalikan bagaimana pun, tubuhnya lah yang berkuasa.


Mara menggerakkan kepalanya dan mendekati wajah Summer yang tengah melihat kepalanya dan mengelusnya. Sangat tiba-tiba hingga Summer melihatnya dengan terbelalak.


Mara sudah tak peduli dengan Mata Summer yang butuh penyesuaian diri menghadapi situasi. Yang dia tau bibir itu sangat lembut dan kecil.


Banyak hal yang mendorong Mara ingin menggerakkan bibirnya agar tak hanya berkecupan seperti yang pernah mereka lakukan beberapa kali.


Mara telah menyerap banyak ilmu dari adegan kissing di drama.


Summer kini menutup matanya karna malu, membiarkan Mara yang memegang kendali. Wajah Summer telah memerah karena suhu dari nafas mereka beradu.


Mereka berdua adalah perpaduan orang yang belum pernah mengalami sentuhan fisik. Hal tersebut membuat secuil gerakan, menghentakkan nafas.


Beberapa detik menempelkan bibir, Mara menarik nafasnya seperti manusia yang ingin menyelam dalam ke dasar laut. Matanya tak berhenti menatap mata Summer yang sesekali tertutup.


Setelah memastikan dia siap, seraya tarikan nafas itu, tangan Mara yang tadi memeluk pinggang, kini berpindah menggenggam leher kecil Summer, sentuhan itu terasa lebih kasar karena bersemangat.


Summer kaget dan menarik nafas ingin bersiap. Mara menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan agar merasa lebih puas menelan bibir kecil itu.


Membuat wajah Summer menengadah, nafasnya sulit namun ingin mengikuti ritme. Nafas Mara terasa lebih panas dan terdengar jelas.


Tangan satunya menyentuh dari bahu dan berjalan terus menelisik tangan. Summer belajar cukup sigap, merasa harus mengimbangi dipegangnya wajah Mara yang terasa panas seperti orang demam.


Kini mara bergerak ke atas Summer seperti posisi merangkak, perlahan-lahan tanpa menindih tubuh kecil itu. Dilihatnya wajah Summer yang terengah dan menatap Mara seperti mengisyaratkan belum cukup. Summer yang berada di antara kedua paha Mara, merasa leluasa memegang kedua pipi pria itu untuk mengendalikannya mendempetkan bibir mereka lebih dalam.


Mara terengah-engah, dilepaskannya ciuman itu. Mara menatap leher jenjang yang akan jadi santapan selanjutnya. dibenamkannya wajah ke leher berwarka kuning langsat itu.


Dikecupnya perlahan setiap inci. Tubuh Summer terhentak setiap bibir itu berpindah mengecup inci yang lain, namun tangannya masih memegang kepala Mara. Kini apapun yang terjadi seharusnya adalah natural dan keinginan bersama.


Namun saat Mara mencium turun dari leher, dia tersentak menarik nafas. Terdiam lalu mengangkat kakinya dari sisi Summer, dan duduk diam. Summer bingung mengatur nafas karena seharusnya ini ada kelanjutannya. Mara tiba-tiba turun dari kasur dan menggaruk keningnya.


"Um aku rasa kamu harus tidur di kamarmu." Ujarnya mengalihkan pandangan, lalu berlari ke kamar mandi.


Summer membelalak keheranan, tapi merasa aneh juga dengan dirinya yang mengharapkan lebih. Ditinggalkan sendiri di kasur, Summer tersenyum sinis. Dia berdiri dan keluar dari kamar Summer.


"Tak apa. Memang semuanya butuh proses." Ujar Summer menyemangati dirinya, dan memukul-mukul wajahnya agar kembali sadar.


Sedangkan Mara di kamar mandi menyelesaikan kebutuhannya sendiri. Dia merasa bersalah karena telah membayangkan akan melakukannya pada Summer.


"Aku memang brengsek." Ujarnya namun tetap membayangkan ekspresi Summer tadi untuk membantu melepaskan hal yang terdesak saat ini.

__ADS_1


*****


"Lama-lama Bu Ayu jadi kayak punya 2 anak." Ujar Nindi sambil mengunyah makanan yang dibawa oleh Rio.


Akhir-akhir ini Rio selalu datang dengan totebag berisi masakan ibunya. Lalu mereka akan makan bersama di ruangan kecil itu.


"Seneng ya punya temen kayak gue?" Ujar Rio bangga.


"U'um." Sahut Nindi tersenyum mengkerut dengan mulut penuh makanan.


"Masakan Bu Ayu emang The Best!" Ujarnya setelah menelan makanannya.


Rio memasang wajah bangga menyungging bibir, padahal bukan dia yang dipuji.


"Lu gak perlu jemput gue entar. Kasian lu capek." Ujar Nindi.


"Gak. Gak capek." Rio menggelengkan kepalanya.


"Uuuhh baik banget sih." Ujar Nindi megelus kepala Rio memberi apresiasi.


Rio terbengong, "Apa ini?" Pikirnya dalam hati.


Rasa baru apa ini? Rio terpaku dan tangannya lemah. ditaruhnya sendok di piringnya, menyerah untuk menyuap.


"Kenapa?" Tanya Nindi.


"Coba lakuin lagi."


"Apa?"


"Yang di kepalaku tadi."


Nindi kembali mengelus kepala Rio ingin tahu juga kenapa.


"Hahhhh!!! Jangan lakukan itu lagi" Teriaknya dengan mendesikkan tangannya merasa merinding.


Nindi tertawa terbahak-bahak semakin ingin melakukannya, diraihnya kembali kepala itu hingga Rio melompatkan pantatnya ke belakang untuk menghidar.


Nindi kemudian membereskan piring dan bersiap akan berangkat bekerja.


Nindi akan berangkat sendiri, namun pulangnya dia selalu dijemput oleh Rio.


"Gue berangkat ya." Ujar Nindi dari depan pintu namun Rio tampak tak peduli dengan gayanya bersantai di depan TV.


Nindi perlahan melangkah dan mengelus kepala Rio lalu berlari secepat mungkin keluar dari ruangan itu. Sepanjang perjalanan dia tertawa sendiri seperti orang gila membayangkan ekspresi Rio saat ini.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2